Halaman

5 Jul 2022

Meet Up

Teman online kedua yang pernah saya temui adalah Buset. Para aktifis sosmed pendukung Prabowo pada Pilpres 2019 lalu, mustahil rasanya tak kenal nama orang ini. Berkali-kali tulisannya nangkring di Portal Islam, salah satu portal berita yang banyak menjadi rujukan kaum oposisi. Dia adalah salah satu influencer utama tim pemenangan Prabowo.

Saya mengenalnya memang dari tulisan-tulisan yang kerap dimuat di Portal Islam. Sebaliknya, dia mengaku kenal dari postingan-postingan saya di KBM. Waktu itu Siraul Nan Ebat termasuk salah satu top akun, 'kan?🤣

Suatu kali saya berkomentar di lapak seorang teman oposisi yang juga jadi temannya. Dari bahasa saya, dia coba menebak dan tebakannya benar.  Kami berasal dari kampung yang sama. Jarak tempat tinggal kami berdekatan. Lima menitan lah, bila motoran. Janjian ketemu, donk! Di satu tempat ngopi di daerah Dangung-dangung. 

Ternyata usia kami pun, sebaya. Alhasil, dari saling cerita itu kami menemukan beberapa teman duta yang kita saling kenal satu sama lain. Dia bahkan mengaku, saat kuliah di Padang, satu kamar kost dengan teman sekaligus tetangga saya. Ketika saya menyebut sebuah nama--teman satu MTs dulu--dengan antusias dia mengaku masih ada hubungan kekerabatan dengannya.

Satu-satunya yang kurang mungkin, walau sebaya, kami hidup di masa yang berbeda. Maksudnya, saya dari kecil tinggal di kampung. Lepas MTs, lanjutkan sekolah di rantau. Sementara dia sebaliknya. Sedari kecil tinggal di rantau. Barulah saat kuliah pulang dan tinggal di kampung. Itulah kenapa saya tahu si A, dia ga kenal. Sementara dia mengenal si B, sedang sayas sudahlupa, hahaha....

Dengannya saya pernah dua kali bertemu. Janjian di tempat yang sama. Alasannya, bila saat pertama saya dianggap sebagai tuan rumah, maka di pertemuan kedua, dialah yang menjamu saya. Gantian membayar minumannya.

Durasi pertemuan juga cukup lama. Dari selepas Isya, sampai hampir jam 1 dini hari, menjelang cafe itu tutup. Walau berdua saja, tapi obrolan lancar. Banyak topik dan isu yang bisa kami diskusikan. Tapi off the record ajalah, ya! 

Tapi kini kami sedang pisah. Dinamika politik memutus komunikasi. Kami ada di pihak yang saat ini saling berseberangan. Seorang dianggap sebagai Kalengers (pendukung Prabowo anti rekonsiliasi), sementara yang lainnya seorang Panglima Koved (loyalis sejati Bapaaaaaaaak).🤣🤣

Tapi kalem aja, sih! Gelaran pilpres berikutnya tak lama lagi. Bakalan ada moment yang meminta kita untuk kembali bersilaturahim. Saya masih menyimpan nomornya. Pun tentu begitu sebaliknya? Yang jelas apapun itu, bagi saya kardus sudah digembok, remuk dan terpuruk dalam kolam.

3 Jul 2022

Ingin ke Jawa

Kota yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia? Suatu saat tentu saya ingin kembali bernostalgia mengunjungi Batam. Tapi saya sangat ingin main-main ke pulau Jawa. Tak ada kota khusus. Semata ingin berkeliling dan mengenal Jawa. Sembari tentu saja untuk bersilaturahim dengan Para Penggaruk, fans Rekreasi Hati semuanya, hahaha...! 


Akhir 2018 lalu saya pernah untuk pertama kalinya menginjak pulau Jawa. Lebih tepatnya sih, Jakarta. Hahaha...! Waktu itu ikutan acara Reuni 212, donk! Sayangnya dengan waktu yang mepet dan keharusan segera pulang membuat saya tak sempat kemana-mana. 


Adik saya bekerja di daerah Pondok Kelapa. Demi kepentingan sejarah, sempatlah saya pinjam motornya untuk menginjakkan kaki di tanah Jawa Barat, yakni Bekasi. Kurang lebih 15-an menit naik motor dari tempat kerja adik saya. Ga berani jauh-jauh, donk! Yang penting saya sudah pernah ke Jawa Barat, hahaha...! Alhamdulillah, di salah satu hari liburnya, saya pernah juga diajaknya sampai ke Cibinong, ke rumah seorang teman lama. Tapi di luar itu, saya belum tahu apa-apa tentang pulau Jawa.


Apa yang saya ingin lakukan nanti di sana? Ingin ke mana saja? Lagi-lagi tak ada yang khusus. Saya sudah cukup puas menikmati indah dan sejuknya alam Sumatera. Kalaulah kelak ada yang berkenan menemani, saya hanya butuh diajak berkeliling ke mana saja. Tapi sebelum itu, saya mau cari ongkosnya dulu lah, hahahaha...!


Kota Rindu

 Tempat paling berkesan? Apa ya? Dua puluh tahunan tinggal di Batam yang cuma seupil itu tentu saja saya punya banyak kenangan yang sangat berkesan. Di Bengkong misalnya, saya punya banyak teman, saudara dan orangtua angkat yang sudah pasti menyayangi saya. Saya dianggap sebagai anak atau saudara sendiri. Walau sebetulnya saya cuma orang asing yang kebetulan tinggal di sana. Wahhh, Bengkong adalah rindu terbesar saya. Semoga kalian sehat-sehat saja ya, semuanya.


Kemudian, sebuah rumah di belakang Hotel Seruni, Seraya Bawah. Saya juga punya Abang, kakak atau orangtua angkat di sini. Mereka adalah rindu terbesar saya juga.


Terakhir, tentu saja Labtech. Kurang dari empat tahun bekerja di perusahaan ini sungguh masa-masa yang tak terlupakan. Segenap sayang, cinta, benci dan dendam saya kumpul semua di sini. 


Di Labtech ini saya merasa benar-benar menjadi seorang yang bernilai. Bahkan ada satu tempat duduk di sana yang telah dianggap sebagai singgasana milik saya. Tiap jam istirahat, tak seorang pun berani mendudukinya. Di situlah saya jadi pusat segala diskusi, bual-bualan dan omong kosong semasa jam istirahat. Tepat di bawah sebuah batang pohon besar. Di sana saya bak raja, dengan dikelilingi teman-teman yang setia mendengar oceh dan bualan saya.


Labtech adalah sejarah abadi kehidupan saya. Ada teman yang berakhir jadi saudara, karena dinikahi sepupu saya. Ada manajer yang menjadi musuh sejati saya. Dan tentu saja karena Dian dan Rani-nya. Rekreasi Hati mungkin takkan pernah ada, tanpa Labtech sebagai perusahaan tempat saya bekerja. Rindu kalian semuanya.💖💕

2 Jul 2022

Payakumbuh

Kota kelahiran? Saya ini anak kampung. Tapi jika maksudnya daerah kabupaten/kota, saya bisa menyebut kabupaten 50 Kota. Walau namanya 50 Kota, tapi satu-satunya kota di kabupaten tersebut adalah Payakumbuh, yang sekaligus sebagai ibukotanya.

Dulu, Payakumbuh dikenal dengan julukan Kota Batiah, atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai rengginang. Tapi belakangan ini Payakumbuh dikenal sebagai kota rendang, masakan yang beberapa kali dinobatkan sebagai makanan terenak sedunia oleh berbagai lembaga survey atau riset.

Kabupaten 50 Kota sendiri sebetulnya termasuk salah satu kota di Indonesia dalam kategori miskin. Bila saya perhatikan, itu lebih disebabkan karena gagalnya pemerintah (kabupaten) mengeksplorasi sumber dayanya sendiri. Padahal daerah ini potensial menjadi salah satu yang terkaya sumber alamnya. Di sini bahkan ada nama daerahnya Gunuang Omeh (Gunung Emas), karena memang bumimya kaya dengan emas. Tapi entah kenapa gagal dieksplore pemerintahnya?

Di luar itu, daerah ini punya keunggulan objek pariwisata yang komplet, yang layak membuat iri daerah lainnya. Benar-benar lengkap. Mulai dari wisata kuliner, wisata alam, budaya dan wisata sejarahnya.

Selain rendang, ini adalah daerah produsen berbagai jenis keripik dan kerupuk. Mulai dari sanjai, upuak lento sampai batiah dan ganepo. Beragam keripik berbahan ubi, talas atau kentang. Bermacam kerupuk, mulai dari yang bahannya beras, tepung sampai daging atau ikan.

Kekayaan wisata kuliner itu dilengkapi pula dengan produksi berbagai macam jenis galamai dan wajik, mulai dari yang selunak dodol, sampai yang sekeras batu. Dari yang makannya dikunyah, sampai dengan yang diemut. Ada yang cukup dicuil, tapi ada pula yang butuh kapak untuk hanya untuk mencicipinya, hahaha...!

Wisatawan juga bisa pula menikmati wisata kebun teh atau kebun jeruk, nun jauh ke atas, lingkup Bukit Barisan. Ada pula objek wisata sejarah seperti beragam monumen dan musem PDRI. Dan sebagainya.

Wisata alam adalah kekayaan terbesarnya. Dalam kerimbunan hutan Bukit Barisan itu ada puluhan goa atau air terjun yang bahkan belum pernah terjamah kotor dan jahilnya tangan manusia. Alami. Masih perawan dan sangat khas alam Sumatera ya. Itulah kenapa saya sangat kecewa, kenapa kawasan Harau malah dibuat ala-ala Korea, Jepang atau Eropa? Dengan begitu banyaknya objek alami yang tak terurus, dengan ganjennya Pemkab masih saja membuat taman-taman ciptaan yang malah sama sekali tak ada khas daerahnya?

Andai punya kewenangan? Dengan sedikit memperbaiki infrasturktur jalan, saya akan pindahkan Tour de Singkarak ke 50 Kota. Start misalnya di Maek, naik ke Baruah Gunuang, Koto Tinggi dan turun lagi ke Suliki untuk berakhir di Harau atau Kelok Sembilan. Para peserta akan dimanjakan dengan objek alam seperti yang ada di kalender-kalender. Aneka jenis kuliner daerah akan masyur sampai ke mancanegara. UMKM akan berjaya. Ribuan lapangan kerja dan usaha akan terbuka. Ekonomi masyarakat pun akan naik dengan sendirinya. 

23 Mei 2022

Cobalah Berbeda!

Kenapa marak cerita perselingkuhan, drama rumah tangga atau roman berkedok religi dengan setting asrama atau pesantren? Yaa, karena yang dibaca, ditonton, dilihat atau didengar penulis melulu kisah-kisah serupa ... titik.

Sudah ada, dan banyak banget yang menyukai Sheila on 7, Ungu atau Peter Pan. Maka cobalah nikmati karya-karya Ribas atau Velocity. Terbiasa mendengar Guns N Roses atau Bon Jovi? Padahal lagu-lagu Snakepit dan Def Leppard tak kalah asyiknya. Duet Per Gessle bersama Helena Josefsson dalam album-album solonya buat saya ga kalah syahdu dengan duo Roxette-nya bersama Marie Frediksson.

Lupus-nya Hilman sungguh ikonik. Tapi ada Ipung-nya Prie GS yang tak kalah inspiratif. Kisah Wiro Sableng yang sarat konflik keluarga juga tak lebih hebat ternyata ketimbang roman sejarah Si Bungsu dalam Tikam Samurai-nya Makmur Hendrik. Begitu terasa hebatnya Sherlock Holmes atau Hercule Poirot misalnya, karena ternyata belum kenal si jenius Detektif Monk. Ohya, penggemar Jane Austin jangan pula gagal mengenal Georgette Heyer, si penulis multigenre. Sampai saat ini saya masih menganggap A Lady in Disguise adalah sebuah karya fiksi dengan alur dan plot terbaik yang pernah ada. 

Tempat wisata jangan cuma tahunya Bali atau Lombok. Ke Payakumbuh jangan melulu ke Harau doank. Dalam kerimbunan hutan Bukit Barisan itu sangat banyak spot wisata alam yang masih sangat alami. Masih perawan. Ada puluhan goa dan air terjun yang masih belum terjamah tangan kotor dan ulah jahil para pengunjung.

Bergaul dan belajar dari guru dan lingkungan yang berbeda akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan yang beragam pula. Selamat berkarya!



18 Okt 2021

Siraul Nan Ebat Sebut Menpora Tak Dikenal Publik Sebelum Indonesia Juara Piala Thomas

Penulis buku calon terkenal Rekreasi Hati  viral di internet. Siraul Nan Ebat, sang penulis, menyebut Menpora tak dikenal publik sebelum Indonesia juara Piala Thomas. Postingan di Facebooknya tersebut membuat netijen murka.

"Bukannya memberi dukungan, support, pujian, eh malah komennya cenderung nyinyir mencibir," kata pemilik akun Facebook Anton YR.

"Berkoar-koar bicara ide dan konsep bernegara, nama Menpora saja tak tahu," komentar menohok Wak Kanda, seorang peternak akun yang juga pegiat anti mesum.

"Penulis calon terkenal? Begini nih, caranya jadi terkenal?" Tak ketinggalan, seorang alumnus kolam yang tak ingin disebutkan namanya turut memberi komentar sengit.

"Dasar pansos!"

"Jangan ada yang beli bukunya!"

"Boikot!"

Dan puluhan komentar sengit netijen lainnya membanjiri lini masa Twitter tadi malam.

Sebelumnya, penulis buku calon terkemal tersebut mengomentari keberhasilan Indonesia merebut kembali Piala Thomas setelah hampir dua dekade lepas dari jangkauan. "Sebelum Indonesia juara (Thomas Cup), siapa yang kenal dengan Menpora? Padahal di jaman dialah Indonesia kembali berhasil merebut Piala Thomas. Indonesia dipercaya menyelenggarakan Formula E. Bahkan Indonesia juga dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia U-23 dua tahun lagi. Selamat! Keren, Pak Jainudin Ngaciro!" tulisnya di lini masa Facebook.

Postingannya tersebutlah yang memancing amukan netijen. Sampai artikel ini diturunkan, awak HAlo Selebriti masih belum berhasil menghubunginya. Akunnya mungkin sedang di-maintenance ... karena kegagalan Arsenal mengalahkan Crystal Palace barusan. 

13 Sep 2021

The Convenient Marriage


Gambar nyomot di Goodreads

Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Charlotte, juga cantik, walau tak secantik sang kakak. Sebaliknya, Horry, si bungsu yang baru berumur 17 tahun adalah anti tesis keduanya. Sudahlah tak cantik, alisnya tak bisa melengkung, pendek dan gagap pula. 

Tibalah saat Lord Rule, seorang bangsawan kaya melamar si sulung. Lamaran yang harus diterima, demi menyelamatkan keluarga mereka yang terancam bangkrut, karena hutang kakak laki-laki mereka yang hobi berjudi. Sayangnya, Lizzy sudah punya seorang pacar yang masa depannya masih abu-abu. Walau begitu dia siap berkorban. Siap putus dengan pacar, dan berencana menerima lamaran sang bangsawan. 

Tapi, Horatia Winwood, si bungsu mengobrak-abrik kesepakatan mereka. Karena sangat menyayangi kakaknya, Lizzy dan iba terhadap pacarnya. Plus, karena sadar Carlotta, si tengah yang tak sudi berkorban, si bungsu bermanuver. Diam-diam anak bau kencur itu mendatangi sang bangsawan dan meminta dilamar. Bukan itu saja. Dengan tak tahu malunya, minta dilunasi utang judi sang kakak. Sudah begitu minta tolong pula agar pacar Lizzy dibantu keuangan dan promosi dalam karirnya. Yang ajaib, ternyata sang bangsawan menyanggupi dan menyetujui semuanya.   Termasuk tentu saja, menerima permintaan si bungsu agar menikahinya.

Tamat? Ehhh, ini bahkan belum sampai halaman 40, dari total 373 halaman bukunya. Baru opening. Saya bahkan tak sanggup meraba-raba konflik seperti apa yang ditulis Mrs. Heyer dalam bukunya kali ini. Sekali lagi, dia terkenal sebagai penulis multi genre. Siapa tahu? Bisa saja ini malah bukan buku romance, tapi misteri atau petualangan? Sekali lagi, Mrs. Heyer pamer keahliannya. Kali ini soal opening yang menggemaskan. 


12 Sep 2021

Lady of Quality

Gambar comot di Goodreads

Saya pertama mengenal Georgette Heyer pertengahan Juni lalu. Tak diragukan lagi, saya pun menobatkannya sebagai idola baru. Karya-karyanya sungguh menginspirasi. "Kok bisa ya? Kenapa saya tak bisa menulis seperti dia?" Dan hasilnya pun langsung terlihat. Blog yang sudah terbengkalai hampir 3 tahunan semarak lagi. 

Dia jelas bersalah, karena selalu mengintervensi setiap saya membaca bukunya. Setiap baca satu halaman, saya berhenti karena mendapat satu ide. Baca lagi, nemu ide baru lagi. Dan begitu seterusnya. 

Beberapa referensi mengatakan  Mrs. Heyer adalah penulis multi genre. Dalam A Lady in Disguise dia pamer kemampuannya menciptakan konflik yang ruwet, tapi tetap alami. Tak ada plot penting atau menegangkan yang dibuat dengan mengandalkan faktor kebetulan, layaknya plot di sinetron-sinetron lokal kita. Semuanya sangat natural ... tapi ruwet. Bayangkan, dalam satu novelnya saja satu tokoh bisa terlibat dalam berbagai konflik. Kabur dari sebuah usaha perjodohan, terjebak peristiwa pencurian berlian, kasus pembunuhan dan sambil membantu sebuah usaha kawin lari. Saking menghiburnya, begitu tamat saya langsung ulang baca. Keren abis. 

Buku berikutnya Lady of Quality. Mrs. Heyer pamer skill modus dan nge-bucin. Tentu saja tetap sambil menghadirkan konflik asmara yang unik. Lagi-lagi saya teringat konflik asmara Bang Uyan dan Mak Juki dalam sinetron Para Pencari Tuhan-nya Wahyu HS. Saking yakinnya akan mampu mendapatkan Mak Juki yang terus menolak, Bang Uyan menebar undangan, memanggil penghulu, bahkan sampai memasang tenda resepsi untuk pernikahan mereka. Dan tentu saja dengan rayu dan gombalan yang meneror keteguhan hati Mak Juki. 

"Tiap hari kau mondar-mandir di hadapanku, sampai aku jatuh cinta. Lalu seenaknya saja kau menolakku. Mana bisa begitu!" protes Bang Uyan. 

Dalam Lady of Quality pun begitu. Mr. Carleton yang dikenal seantero London sebagai playboy ulung, kasar, tak punya sopan santun. Bahkan tak satupun ada jenis yang baik dalam dirinya. Tak seorangpun, baik keluarga, para pelayan dan kenalan Miss Wychwood yang setuju mereka berhubungan. Setiap pertemuan keduanya juga selalu saling mencaci dan mencela. Ajaibnya, juga tak seorang pun mereka yang sanggup mengatakan ketidaksetujuannya saat Mr. Carleton menyampaikan maksudnya melamar Miss Wychwood. Semua setuju, walau sambil bingung, kenapa mereka setuju. Mr. Wychwood sang kakak bahkan setuju sambil memaki sang pelamar. "Aku harus memperjelasnya kepadamu, Carleton! Bayangan tentang pernikahan adikku dengan seorang pria bereputasi sepertimu sungguh menjijikkan bagiku."

Pun begitu dengan Miss Wychwood sendiri. Dia menerima dalam kebingungannya. 

"Kau telah sangat terbiasa dengan keadaan lajangmu, sehingga mengubah keadaan itu kelihatannya tak terpikirkan olehmu. Tapi kau sedang memikirkannya. Itulah kenapa pikiranmu kacau. Kalau kau merasa tetap melajang akan lebih baik dibanding hidup bersamaku, kau harusnya menolak tanpa sedikitpun keraguan. 

Apakah pikiranmu kacau ketika Beckenham meminangmu? Sudah pasti tidak. Karena kau selalu bersikap acuh tak acuh. Tapi kau tidak memberiku perhatian dengan acuh tak acuh. Aku mengejutkanmu. Aku mengancam akan menjungkirbalikkan kehidupanmu yang yang sangat teratur. Dan kau tak tahu apakah akan menyukai atau membencinya." Dan terbukti, sambil bingung Miss Wychwood menerima lamaran Mr. Carleton. 

Review ini saya tulis sambil membaca The Convenience Marriage-nya. Lagi-lagi Georgette Heyer memaksa saya menulis. Karena, setiap tulisannya memang memancing minat saya untuk selalu menulis. Keren! 


4 Sep 2021

Tema

Sinetron Para Pencari Tuhan mempunyai ciri dan keistimewaan yang tak dimiliki oleh sinetron (juga karya tulis yang lainnya) yaitu soal tema cerita. Sinetron ini, tiap episodenya seperti antologi cerpen dari beberapa penulis dengan tema yang sama, lalu dikumpulkan menjadi sebuah novel. Sulit,  tapi istimewa. 

PPT mempunyai ide utama, kisah panjang perjalanan hidup para tokohnya selama 14 tahun. Atau 15, karena sempat absen pada tahun 2019. Ada kisah perjalanan hidup Bang Jack dan Trio Chelsea-Barong-Juki. Ada kisah jatuh bangun keluarga Pak Jalal, Udin dan Asrul. Dan tentu saja kisah roman Azzam, Ayya dan Kalila. Kisah Trio Pak RW, RT dan bendahara. Plus, kisah seputar rumah tangga Ustadz Ferry. Semakin tahun berjalan, semakin banyak pula mengisahkan karakter-karakter yang lainnya. 

Berikutnya ada juga kisah jangka menengah. Kisah ini konfliknya tuntas setiap tahun. Ada pula kisah pendek yang tuntas setiap episodenya. Dan di sinilah letak istimewanya PPT. Tiap kisah pendek tersebut dibarengi pula beberapa kisah mini, TAPI DENGAN TEMA YANG SAMA. Misal hari ini temanya tentang ikhlas, maka semua kisah yang dialami setiap tokohnya seputaran soal keikhlasan. Hebatnya, sama sekali tak merusak plot cerita panjang dan menengahnya. Adegan dan kisah mini sebagai tempelan dibuat alami. Tak ada plot hole, malah makin menguatkan ide ceritanya. 

Salah satu contoh terbaik, episode 10 PPT jilid satu, temanya tentang sabar. Terdapat 28 scene. Kerennya, keseluruhan scene menggambarkan situasi yang menuntut sikap sabar. 28 scene itu menyatu dan membangun beberapa kisah utama. 

Pertama kisah jangka panjang pendek antara tokoh Ayya dan Azzam. Episode kali ini diakhiri (sementara) dengan kegagalan Azzam mempraktekkan ajaran menjadi seorang laki-laki yang romantis. 

Berikutnya kisah jangka pendek, perjalanan trio Juki-Barong-Chelsea mengunjungi Mak Juki. 

Berikutnya lagi, kisah jangka pendek Udin dan Asrul. Asrul dalam rangka mencari uang untuk makan keluarganya. Sementara Udin berjuang mencari uang sewa kontrakan. 

Kisah mini? Ada! Misalnya pertengkaran Pak Ustadz dan Bu Ustadz. Pak Ustadz yang (masih) ngambek karena tak diberi ijin syuting. Sebaliknya Bu Ustadz marah karena mendengar suaminya menyebut kata poligami. Sebagai tempelan? Tidak! Karena adegan tersebut berlanjut dengan kedatangan Azzam. Maka sekarang nyambung dan bergeser menjadi kisah Azzam. Dan lagi, scene tersebut juga masih berkaitan langsung dengan kisah episode terdahulu. Artinya, kisah mini tersebut adalah puzzle dari kisah panjang bertahun tokoh Ayya dan Azzam, juga Pak Ustadz dan istrinya. 

Selain scene, juga tak ada tokoh tempelan. Mulai dari Bonte, Bang Uyan atau Pak Jalal. Semuanya menampilkan pesan tema episode ini. Satu scene yang menampilkan tokoh Maulana sebagai tukang es keliling misalnya. Selain sabar, satu kata penting dalam episode ini adalah romantis. Dan itulah peran Maulana. Maulana lah yang mengatakan bahwa Azzam harus menjadi seorang yang romantis, untuk merebut hati Ayya. 

Bahkan di ujung episode, juga tampil seorang wanita. Tampil doang, tak berkata apa-apa. Tapi tanpa kata bukan berarti diam tanpa arti. Ayya sedang melayani pembeli kolaknya. Azzam datang dan melanjutkan pertengkaran mereka. Dan diamnya si pembeli kolak itu adalah salah satu penting dalam episode ini. Sabar. 


Dialog

Rata-rata setiap tahun sinetron Para Pencari menampilkan 25-27 episode saja ... tayang selama Ramadhan. Tak pernah benar-benar full. Salah satu sebabnya adalah soal skrip cerita yang belum kelar? 

Untuk menyelesaikan konflik di PPT jilid pertama misalnya. Dalam blog pribadi penulisnya, Wahyu HS, menceritakan bahwa sudah nyaris frustasi. Plot cerita sudah rampung. Ayya harus memaafkan Azzam, agar konflik asmara mereka tuntas. Tapi butuh satu dialog yang pas, agar kisah mereka selesai dengan elegan. Dialog ini yang harus ditemukan. 

Kedua tokoh sudah terlanjur kuat karakternya. Keduanya seimbang, baik dari level agama, pun begitu dengan kecerdasan intelektualnya. Setiap yang satu berargumen, yang lain mampu membalas dengan argumen yang tak kalah cerdasnya. Penulis bahkan mengaku hampir tak bisa mengendalikan (karakter) keduanya. Tak mungkin diselesaikan dengan sekedarnya, bila tak ingin terlihat sebagai penulis tolol. 

Membaca dan menonton ulang, Ayya sudah terlanjur sering menangis karena Azzam. Kalau dikumpulkan, air matanya mungkin sudah seember. "Bisa untuk mandi," pikirnya iseng. 

Ehhh, ketemu. Itu dia dialognya. Tapi hanya cocok diucapkan oleh Bang Udin Hansip. Maka apa yang harus diucapkan oleh orang seperti Azzam. Apa yang akan dipikirkan Azzam untuk memanfaatkan seember air? Menyiram bunga? Memberi minum anjing yang kehausan? Berwudhu'? 

Nah, itu jawabannya. "Apalagi yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku? Bahkan andai syari'at membolehkan, akan kupakai airmatamu untuk berwudhu'." Ucapan Azzam itu memukul Ayya secara telak. Konflik antara keduanya berakhir secara elegan. 

Begitu pentingnya dialog dalam dunia kepenulisan. Bahkan sebuah sinetron stripping saja bisa diundur hari tayangnya, hanya gara-gara menunggu munculnya sepotong dialog? Betapa banyaknya pihak yang harus me-rescedhule jadwalnya, gara-gara sepotong dialog tersebut? Pihak televisi, produser, kru dan artis-artis sinetron, yang bahkan kesibukan mereka saja mungkin tak kuasa kita bayangkan. 

Lalu bagaimana dengan kita? Kenapa dengan segala kemerdekaan waktu yang dimiliki tak mampu menghadirkan dialog-dialog yang bermutu dalam setiap tulisan kita? 

Sepotong dialog indah, sebagai awal dari kisah panjang sukses serial Para Pencari Tuhan. Bahkan ketika sinetron ini dihentikan (2019) tuntutan penggemar memaksa sinetron ini hadir lagi sampai tahun lalu. Untuk yang terakhir kalinya? Karena hari ini sangat maestro, Wahyu HS, penulisnya telah berpulang ke hadapanNYA. 

Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu, aamiin...! 

2 Sep 2021

Orang Asing

Salah satu buku terbaik yang pernah kubaca (versi terjemahan) adalah karya Albert Camus berjudul Orang Asing. Hard recommended! 

Pict nyomot di Goodreads

Hanya karena karakternya sebagai orang cuek dan apa adanya, dia akhirnya divonis hukum mati. Vonis pembunuhan berencana yang sangat kejam. Padahal kejadiannya sederhana saja. 

Dia melerai temannya yang sedang cekcok. Waktu temannya mengeluarkan pistol, dia minta, agar tak terjadi pembunuhan karena soal sepele. Pertikaian yang berawal karena persoalan cewek. 

Kejadian berikutnya karena dia reflek. Pantulan sinar matahari yang mengenai pisau, membuatnya menembak musuh temannya. Dia amati sejenak. Ketika si musuh terlihat bergerak (dia melihatnya sebagai bahaya), dia ulang menembak empat kali lagi. 

Dalam sidang, kepolosan, keluguan dan kecuekannya sama sekali tak berguna. 

Dia dituding tak berperasaan, karena sempat-sempatnya tidur waktu ibunya meninggal. Padahal itu karena dia capek, setelah perjalanan pulang dari tempatnya bekerja. Dianggap tak punya hati, hanya karena merasa tak perlu melihat wajah ibunya. "Toh, sudah mati juga." katanya. 

Capek mengikuti proses pemakaman dia pergi ke kolam renang. Ketemu cewek yang berusaha menghiburnya dengan mengajak pergi nonton bioskop. Jaksa menilainya benar-benar tak punya hati, karena bisa-bisanya dalam suasana masih berduka itu dia nonton bersama cewek, yang baru dikenalnya pula.

Dianggap berencana karena terlibat sejak awal. Padahal dia cuma membantu temannya menulis surat, karena tulisan temannya jelek.

Nasibnya benar-benar apes waktu ditanya apakah dia menyesal atau tidak. Dengan jujur dia bilang, "Aku gelisah!" 

Kalau Hercule Poirot mengungkap kasus pembunuhan dengan mengulik sisi psikologis, ini mungkin anti teorinya. Hanya karena merasa cuek, tak penting, jujur, polos dan lugu, dia akhirnya divonis mati... sebagai pelaku pembunuhan berencana yang kejam dan tak punya hati.  Sebabnya sepele pula, masalah cewek. 

9 Jul 2021

Karma Corona

Sebelas negara yang menjadi tuan rumah Piala Eropa edisi terkini. Selain Eropa, di Brasil juga sedang berlangsung Piala Amerika Latin. Sementara itu, bulan depan, di Jepang juga akan digelar ajang olahraga multicabang terbesar, Olimpiade. Diakui atau tidak, terbukti negara-negara tersebut mampu menghadapi corona. 

Tahun ini pula, bulan Mei kemaren mestinya Indonesia juga menjadi host Piala Dunia U20. Akan jadi sejarah, karena kitalah yang bertindak sebagai host-nya. Event akbar yang sebetulnya bisa menjadi momentum Indonesia maju, dalam banyak hal. 

Khusus sepakbola sendiri, ini sebetulnya peluang emas. Timnas kita sedang berada memiliki generasi emas, mungkin terbaik yang pernah ada. Waktu yang tepat bagi para pemain seperti Witan, Bryliant, Supriadi atau si kembar Bagas-Bagus untuk unjuk kemampuan. Tidak saja di hadapan jutaan mata penonton, tapi juga di depan para tokoh, pemilik klub, pelatih dan para pencari bakat dari seluruh penjuru dunia. Belum lagi potensi prestasi yang diharapkan mampu diraih, dengan dukungan besar suporter, sebab kitalah tuan rumahnya. 

Di luar sepakbola, ini juga sebetulnya momen paling sempurna untuk mewujudkan Indonesia maju. Ekonomi meroket? Merata? Tentu saja! Semua pelaku usaha bakal meraih manfaatnya. Mulai dari pedagang jersey dan aneka merchandise, sampai kepada penjual cilok, siomay atau mie ayam. 

Jasa angkutan dan transportasi, lengkap dari semua jalur darat, laut dan udara, karena pertandingan akan digelar pada 8 tempat yang berbeda. Para pengusaha travel, sampai kepada pengusaha restoran dan hotel akan merasakan dampak hebatnya. Pun jenis usaha jasa lainnya seperti guide, penterjemah, jasa pengaman, centeng, kang parkir, atau calo karcis dan tiket. 

Itu belum termasuk dampak sosial, budaya dan pariwisatanya. Inilah kesempatan Indonesia menunjukkan wajah ramah, gotong royong dan toleransinya. Saat terbaik memperkenalkan segala macam jenis wisata dan rekreasi. Mulai dari wisata kebun, kuliner, sejarah dan tentu saja wisata alamnya. 

Inilah saatnya bagi para bule itu untuk mencicipi langsung bagaimana rasanya mie lendir-nya Riau Kepulauan, segala macam jenis kerupuk dan keripik ala Sumatera Barat. Mulai dari upuak kuah, upuak lento, ganepo sampai dengan upuak jariang, sanjai dan ubik lado🤣

Bisa pula dibuatkan misalnya jenis tour melihat proses pembuatan dodol, galamai, rendang atau bipang, ehhhh🤣 Jangan lupa, ajak mereka melihat langsung, seperti apa itu Terowongan Silaturrahmi Katedral-Istiqlal. Lengkap dengan guide yang kompeten mampu menceritakan sejarah pembuatannya. 

Wisata kebun. Mereka bisa kunjungi misalnya perkebunan teh di Bogor, Solok, Alahan Panjang atau Baruah Gunuang. Memetik langsung jeruk manis Koto Tinggi. Mengetahui bagaimana hebatnya sensasi mengupas salak pondoh. Dan sebagainya. 

Dan banyak jenis lagi jenis kampanye wisata lainnya. Intinya, pelaksanaan gelaran Piala Dunia U20 di Indonesia adalah momen emas untuk mewujudkan nawacita Indonesia Maju-nya duo Jokowi-Ma'ruf Amin. 

Tapi, apa lacur? Indonesia tak lagi dianggap ada. Dulu saat masih bayi, Indonesia pernah memimpin dunia. Kita pernah jadi pemimpin Non Blok, salah satu dari 3 blok kekuatan besar dunia. Artinya, kita setara dengan dua negara adikuasa seperti Amerika dan Rusia. 

Dulu karena tegasnya sikap politik luar negeri kita, Indonesia pernah memboikot Piala Dunia dan Olimpiade. Sekarang, bahkan atlet bulutangkis kita saja misalnya, dilarang bertanding di All England? Dipaksa resign dari Tomas dan Uber Cup? Terakhir, jangankan Piala Dunia, bahkan sekadar menyelengarakan kompetisi dalam negeri saja kita tak berdaya? 

Bebalnya pemerintah, yang mengabaikan berbagai saran para ahli, dokter atau epidemiologi dan sejenisnya, membuat kesempatan itu musnah sudah. Dunia tak lagi percaya. Kelak, walaupun ajang tersebut tersebut tetap dilaksanakan pada tahun 2023, usia calon bintang Indonesia tersebut sudah limit. Sementara ekonomi negara mungkin sudah ambruk ... kalau tak mau dibilang kolaps. 

Merajalelanya wabah ini bisa jadi adalah buah dari sikap pemerintah yang pada pikiran? Sudah berapa banyak ulama yang dipenjara? Berapa banyak ilmuwan yang ditangkap? Bahkan, kampus yang mestinya menjadi ajang adu dalil dalam dialog, malah menjadi tempat yang horor bagi sebuah pikiran? Dalil dilawan dengan delik. Otak dihadapi dengan otot. Maka, kebaikan dan berkah apa yang bisa kita harapkan pada pemerintah memusuhi pikiran, ulama dan ilmuwan begini? Masihkah bisa berharap kepada mereka, yang bahkan lebih akrab dengan orang gila, ketimbang mendekati ulama dan para ilmuwan? 

Wallahu 'alam! 😭😭

8 Jul 2021

White Lightnin'

Sebetulnya bukan tentang narkoba. Def Leppard menulis lagu ini sebagai tribut untuk Steve Clark, salah seorang gitaris mereka yang meninggal karena kecanduan alkohol. Saya sangat menyukai lagu ini. Layaknya lirik-lirik lagu mereka yang lain berkelas. 

Ada banyak hal menarik dari lagu ini, khususnya buat saya sebagai penulis. Pertama dari judulnya sendiri, White Lightnin'. Memang banyak lagu lain berjudul sama. Tapi Def Leppard menulisnya sebagai frasa khusus. White Lightnin' adalah penyebab Steve meninggal. Maka bagi penulis seperti saya, ini cukup ikonis. Bahwa siapapun yang mati karena over dosis, akan disebut sebagai korban (lebih tepatnya dampak) White Lightnin'. Ini seperti Sephia-nya Sheila on Seven. Bahkan sampai saat ini masih banyak yang menggunakan Sephia sebagai istilah bagi pacar gelap atau simpanan seseorang. 

Menulis puisi atau lirik lagu adalah sesuatu yang sulit, karena terbatasnya ruang menyampaikan sebuah pesan. Tapi hanya dalam beberapa kalimat, berpuluh tahun kemudian orang-orang akan tetap tahu siapa itu Sephia, dan apa itu White Lightnin'. Apa yang akan muncul di kepala kita, misalnya bila ada yang menyebut Tommy dan Gina? Atau, siapa itu Nurhayati, Nurhalimah, Camelia, Yolanda atau Juminten? Hahaha...! 

Tulisan kita akan berumur panjang, bila kita berhasil menciptakan karakter yang ikonik. Itulah yang terjadi pada nama-nama seperti Sherlock Holmes atau Hercule Poirot. Dalam negeri sendiri, kita pasti tahu siapa itu Wiro Sableng, Lupus atau Naga Bonar. Bagaimana dengan karakter ciptaan kita? Kayaknya sih orang-orang masih ingat siapa Dian dan Rani, deh, hahaha...! 

Oke, balik lagi ke White Lightnin'. 

No promises, no guarantees

When you come down here

You're already on your knees

You want to ride White Lightnin'

Then sign your name

If you want to dance with the devil

You gotta play his way, play the game

Tak ada nego, tak ada jaminan. Sekali mencoba, kau sudah takluk. Kau telah ikut, dan menandatangani persetujuanmu. Kalau kau ingin berdansa dengan setan, kau harus ikut permainannya. 

Keren ga, liriknya?  

You gotta taste that sweetness

Cause you can't say no

But are you ready for the nightmare

When you can't let go

Like a soldier of fortune

When the money runs dry

You got rivers of bitter tears, in your eyes

Kau menikmatinya karena tak mampu mengatakan tidak. Tapi kau telah siap menghadapinya. Kau tak bisa berhenti, karena merasa seperti seorang tentara bayaran. Ketika uang tak ada, kau banjir tangis air mata. 

You want to leave but you can't let go

You want to stop but you can't say no

You'll never laugh about it

You just can't live without it

You had enough but you just want more

You never get what you're lookin' for

You'll never laugh about it, never

Kau ingin tinggalkan, tapi tak bisa pergi. Kau ingin berhenti, tapi tak mampu berkata tidak. Kau takkan pernah tertawa. Kau hanya tak bisa hidup tanpanya. Kau merasa cukup, tapi ingin lagi. Kau tak pernah mendapatkan yang kau cari. Kau takkan pernah tertawa. Takkan pernah. 

You got both ends burning

You're like a moth to a flame

You're going off the rails

Like a runaway train

It's a no-win situation

And there's no way out

And no one will ever hear you, scream and shout

Ujung dan pangkal memerangkapmu, seperti sarang tawon yang dibakar, seperti larinya kereta api. Itu bukan situasi yang menguntungkan. Tak ada jalan keluar. Tak seorangpun akan mendengarmu ketakutan dan berteriak. 

Run, he's coming to claim you

Run, nowhere to hide away

Run, oh, you dance with danger

Run, oh, you gotta ride the

Larilah, dia datang untuk mengikatmu. Larilah, tak ada tempat untuk bersembunyi. Larilah, kau berdansa dengan bahaya. Larilah, kau sedang mengendarai White Lightnin'. 

White Lightnin'

On a dead end street

White Lightnin'

Where the deadbeats meet

White Lightnin'

It's a one-way ride

White Lightnin'

Oh, there's nowhere to hide

Such a lonely road you ride

It's not easy when you don't know why

Such a heavy load you hide

You never leave no matter how you try

White Lightnin', di ujung jalan kematian. White Lightnin', tempat bertemunya kematian. White Lightnin', jalan satu arah. Tak ada tempat bersembunyi. Kau sendirian di sana. Tak mudah ketika kau tak mengerti. Bagaimanapun usahamu bersembunyi, kau takkan pernah meninggalkannya, bagaimanapun caranya. 

White Lightning

Can you feel it, can you feel it?

White Lightning

It's so dangerous

White Lightning

No promises, no guarantees

White Lightning

When you come down here

You're already on your knees

White Lightnin'. Tidakkah kau merasakannya? Tidakkah kau merasakannya? Sangat berbahaya. Tak ada nego, tak ada jaminan. Sekali mencoba, kau sudah takluk

Saya beberapa kali menjadi juri dalam kompetisi menulis. Tulisan normal terbaik akan saya beri nilai 8. Nilainya akan 10, bila mengandung empat unsur penting. Tokoh yang ikonik, dialog yang memorable, quote dan frasa unik yang menarik. 

Soal lirik, White Lightnin' bagi saya bernilai 10. Kecuali dialog (yang memang tidak ada), seluruh unsur lainnya sempurna. White Lightnin' sebagai karakter yang ikonik, malah sekaligus sebagai frasa unik yang menarik. Ada frasa-frasa menarik lainnya. Misalnya, dance with the devil. Ada lagi coming to claim you

Berikutnya, quotes, kalimat layak kutip. Hampir seluruhnya malah layak kutip. Favoritku, if you dance with the devil, you gotta play his way. Dan satu lagi, run, he's coming to claim you

Keren, kan? Bahkan sebagai seni, lirik itu menjadi sempurna dengan adanya 'callback' di bagian penutup.

26 Jun 2021

Tipu Daya

Teman-teman muslim dalam friendlist ini rata-rata percaya, kriminalisasi yang dialami The Big L adalah hasil tipu daya pihak-pihak Islamophobia. Bahkan mereka bisa memaksa Facebook untuk membuat skrip khusus untuk membaca segala postingan tentangnya. Siapa yang menyangka, seorang anak muda pedagang martabak bisa menjadi walikota Solo? Kenyataannya, itu kejadian. Dan tidak ada yang berani memastikan bahwa ke depannya dia tidak akan jadi gubernur, atau presiden? Kita semua percaya, bahwa itu adalah hasil tipu daya para oligarki dan pemilik kepentingan. Bahkan kita juga percaya bahwa Jokowi presiden adalah hasil tipu daya besar para konglomerat hitam dan politisi busuk.

Kita semua percaya bahwa segala hal di atas adalah hasil tipu daya. Percaya ... dan tak kuasa mencegah, apalagi menolaknya. 
 
Sekarang ada soal vaksin corona. Bahkan sudah dibuatkan aturan yang memaksa kita untuk melakukan vaksinasi... tanpa tahu bagaimana kita akan meresponnya. Ikuti atau tidak?
 
Pada saat eksisnya Dajjal kelak, umat manusia hanya punya dua pilihan, mengikuti atau mengingkarinya. Islam sendiri sudah memastikan bahwa pilihan tersebut adalah penuh dengan tipu daya.
 
Dengan kekuatan dan tipu dayanya, dalam masa huru-hara akhir jaman nanti, kelak Dajjal akan menawarkan solusi. Bila kelaparan, kepada kita akan disodorkan makanan. Saat haus, kita ditawari minuman. Jika sakit, kepada kita dia akan menawarkan obat. Sanggupkah keimanan kita menghadapi tipu dayanya?
 
Soal vaksin corona ini mungkin bisa kita jadikan sebagai simulasi. Sampai di mana keyakinan kita sanggup bertahan? Karena terhadapnya kita juga cuma diberi dua pilihan, mengikuti atau menolak.

15 Jun 2021

A Lady in Disguise


Gambar nyomot di Goodreads

Pernah baca buku, dan setelah tamat langsung mengulang membacanya? Bukan karena ingin lebih memahami, tapi karena saking suka dan berkesannya? Saya pernah. Cobalah baca A Lady in Disguise karya Georgette Heyer ini. 

Dalam bahasa Indonesia, mungkin buku ini harusnya berjudul Kapan Nikah. Ya! Kisahnya tentang perjalanan seru seorang bangsawan jomblo bernama Richard Wyndham, bersama seorang remaja 17 tahun bernama Penelope Creed, yang juga seorang calon miliarder.   Pusing karena diuber melulu oleh keluarganya dengan pertanyaan kapan nikah, Mr. Wyndam pergi ke bar, dan pulang dini hari dalam keadaan teler. Dalam perjalanan pulang, dia terpaksa membantu Pen, yang meloncat dari jendela, berusaha kabur karena dijodohkan dengan sepupu yang tak disukainya. "Tampangnya mirip ikan," begitu alasan Pen. Bibinya ingin mereka menikah, demi kekayaan yang akan didapatnya dari Pen, calon menantunya tersebut. Pen memang masih di bawah umur, dan berada dalam perwalian bibinya. 

Dalam keadaan mabuk, Mr. Wyndham memaksa menemani gadis di bawah umur itu. Si gadis ingin pergi ke kampungnya, dan menjumpai pacar masa kecilnya, Piers Luttrell. Usia mereka terpaut empat tahun. Dan mereka telah berpisah selama lima tahun. Saat remaja, katanya mereka telah saling bersumpah, menyatukan darah, sebagai ikatan pertunangan. 

Perjalanan kabur itu akhirnya menjadi petualangan seru. Agar tak menimbulkan skandal, Pen disamarkan sebagai seorang anak laki-laki. Cocok, karena sifatnya yang memang tomboy. Tak seorang pun mencurigainya dan mengenalinya sebagai laki-laki. Dan akibatnya pun menjadi konyol. 

Petualangan dimulai saat kereta ekonomi yang mereka tumpangi nyungsep masuk parit. Mereka akhirnya terlibat dalam berbagai intrik dan konflik yang ruwet ... ruwet ... ruwet. Mulai dari pencurian berlian, kasus pembunuhan dan membantu sebuah usaha kawin lari. 

Sejak awal saya sudah dibuat penasaran, apa sebetulnya yang ingin ditonjolkan penulisnya. Dari beberapa referensi saya mengetahui bahwa Mrs. Heyer memang dikenal sebagai penulis multi genre. Bukan soal pencurian berlian atau kasus pembunuhan. Bukan pula soal ruwetnya petualangan cinta para tokoh yang ingin ditonjolkannya. Flat? Jelas tidak! Petualangan ruwet, alur yang penuh kejutan dan menggemaskan membuktikan kualitas buku ini. Hard recommended! 

24 Mei 2021

Duo Pengangguran

 Walau sudah dipecat sebagai pelatih, namun Jose Mourinho tetap mengikuti perkembangan mantan timnya, termasuk Manchester United. Tadi pagi selepas menonton langsung aksi comeback MU di kandang PSG, beliau bertemu dengan Arsene Wenger, mantan pelatih Arsenal. Dua orang ini memang musuh bebuyutan, terutama sejak Mourinho melatih klub sesama London, Chelsea. Kedua gaek pengangguran ini akhirnya sarapan bareng, sembari ngobrol banyak soal banyak hal.

Wenger         :  Selamat ya, Bro! Comeback apik, di kandang lawan! MU ternyata bisa juga seperti          Arsenal jamanku. Ahlinya comeback, jagonya leg ke-2, hahaha...!

Mourinho     :  Hehehe, nyindir aku, Pak Tua? Ehh, apa kabar? Gimana bisnis racun kalajengkingnya?

Wenger      :  Sialan Kau, Anak Muda! Payah rupanya bisnis itu! Bukannya enak nyari, apalagi   ngumpulin racunnya. Kemaren nangkap udang aja aku dipatilnya. Kapok aku. Bisa-bisanya aku percaya omongan yang bilang bisnis racun kalajengking bikin cepat kaya.

Mourinho     : Gelar Profesor, tapi gituan aja bisa dikibulin, wkwkwkwk...!

Wenger         : Kau sendiri sekarang apa kegiatanmu? Banyak tuh potensi lowongan kerja. Manajemen PSG bisa ribut gegara kekalahan malam tadi. Atau bahkan Real Madrid, mantan klub lamamu.

Mourinho     : Ga ahhh! Walau belum setua kamu, aku dah capek kerja berat-berat. Tadi aku ditelpon Michael Essien. Dia ngajak aku ke Indonesia.

Wenger         : Emang mantan anggotamu itu sekarang main di mana?

Mourinho     : Dia masih di Indonesia katanya. Tapi udah ga punya klub sekarang.

Wenger         : Lah, ngapain kau ikut dia ke Indonesia? Mau numpang hidup? Sesama pengangguran kok saling merepotkan? Atau ada klub sana yang minat pakai jasamu?

Mourinho     : Kan sudah kubilang, aku sudah capek kerja yang berat-berat!

Wenger         : Jadi?

Mourinho     : Aku fokus mau nganggur saja! Essien bilang, di sana yang menganggur akan digaji. Nah, karena sudah menganggur lebih dari 3 bulan, ada kemungkinan juga bakal dikasih THR.

Wenger         : Oowh... (pusing) 

 ***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Upload

 Pagi-pagi sekali Slash sudah bertamu ke rumah temannya sesama gitaris, Richie Sambora.

Slash                      :  Hi, selamat pagi! Apa kabarmu, Bro?

Richie Sambora   :  Owh, pagi juga! Kabar baik! Ada apa nih, pagi-pagi begini kau datang? Mau minjam duit? Lagi? Hahaha...!

Slash                      :  Sialan! Bisa saja, Kau!

Richie Sambora    :  Sudah lama ya, kita ga pernah ketemu? Aku turut senang, akhirnya Kau dan Axl baikan lagi. Bahkan sampai bikin tur reuni Guns N Roses segala. Malah kudengar kalian sudah bersiap rekaman album baru ya? Ceritain, donk!

Slash                 :  Yaaa, biasa aja! Kita ini sudah tua-tua. Apalagi kita publik figur pula, yang diharapkan sebagai panutan bagi orang-orang. Terutama bagi fans, penggemar kita yang masih muda-muda. Tak elok juga musuhan terus. Mestinya kau dan Jon (Bon Jovi) begitu pula, kan? Kudengar kalian juga sudah punya rencana bikin tur reunian juga?

Richie Sambora     :  Bukan tur, tapi konser! Sudah kami lakukan. Kecil-kecilan saja. Aku sudah tua. Ingin lebih banyak waktu istirahat bersama keluarga. Lagipula, dunia politik sedang panas, hahaha...!

Slash                    :  Kau benar! Kudengar waktu itu kau batal ikut Bon Jovi ke Indonesia karena politik ya? Hahaha...!

Richie Sambora    :  Hahaha...! Ehhh, tapi bagaimana kau bisa tahu?

Slash                    :  Aku kenal seorang di Indonesia yang menyebalkan betul. Katanya Kau tak ikut ke Indonesia karena anti Jokowi, kan? Hahaha...!

Richie Sambora    :  HAH...!? Sepertinya aku tahu siapa yang Kau maksud. Bocor aluih sakaliliang juo kiro e paja tu. Baserak-serak kecek den dibuek e. Hati-hati Kau sama dia! Aku pernah diomelin habis-habisan sama Jon gegara mulut embernya itu.

Slash                  :  Tapi sama aku mana berkutik dia, hahaha...! Jadi berarti benar, Kau batal ke Indonesia karena politik?

Richie Sambora    :  Aku yakinnya begitu. Musisi-musisi pendukung oposisi sulit mendapat panggung. Kau lihat saja band-nya si Babang Tamvan, Andhika! Kapan Kangen Band terakhir manggung? Bahkan teman kita Ahmad Dhani sekarang dipenjara karena berseberangan dengan pemerintah.

Slash                     :  Aku ga ngerti politik, Bro! Emang Jokowi itu sebetulnya siapa, sih?

Richie Sambora    :  Kalau ingin kenal upload aja Jokowi Apps, Bro!

Slash                     :  Upload? Download maksudnya?

Richie Sambora    :  Loh, dia sendiri yang bilang begitu!

Slash                     :  Dia siapa?

Richie Sambora    :  Yaa, Jokowi lah!

Slash                     :  Yaa, salaaaaam! Jokowi itu memangnya siapaaaaa? Arrrggghhh....

Richie Sambora    :  Seorang calon sekaligus presiden di negara teman kita yang kau sebut tadi.

Slash                     :  Calon Presiden? Presiden ga paham apa itu upload? Apa itu download?

Richie Sambora    :  Kau tahu, dia bahkan ingin membawa Indonesia maju, menuju era industri 4.0?

Slash                     :  HAH....!?

Richie Sambora    :  Biasa aja kali, Bro! Kalau sudah upload itu apps, Kau bakal kenal lebih dekat siapa itu Jokowi.

Slash                      :  Download, bukan upload! Ahh, Kau! Ogah!

Richie Sambora    : Yaa, terserah! Kau tadi yang ngotot mau tahu siapa itu Jokowi, kan?

Slash                     :  Aku sudah tau!

Richie Sambora    :  Trus kalau sudah tahu kenapa tadi ngotot mau tahuuuu, arrrrrrgh...!?

Slash                  :  Cuma mau memastikan. Kemaren itu kan ada hestek yang jadi TTWW, Uninstall Jokowi? Berarti beneran donk, Jokowi itu virus? Jadi kenapa harus download? Uninstall ajaaaa...!

Tamat.

***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Harga Buku Rekreasi Hati Naik, Jokowi Salahkan Pendukungnya

Hari pertama September 2019 ini, Indonesia dikejutkan dengan naiknya harga buku Rekreasi Hati. Setelah berkali-kali tertunda, Siraul Nan Ebat, sang penulis ternyata benar-benar membuktikan ancamannya. Ancaman, sebagaimana yang tertulis pada postingan Facebooknya sesaat sebelum Pilpres, pertengahan April lalu. Jika Jokowi terpilih lagi sebagai presiden, harga buku Rekreasi Hati dipastikannya akan naik. Postingan itu sendiri telah hilang, seiring di-suspend-nya akun penulis, pertengahan Juli lalu.

Kepastian naiknya harga buku tersebut dibenarkan oleh seorang Para Penggaruk (Nama Fans Base-nya: red) calon pembelinya.

"Iya, Mas! Naiknya diam-diam. Tengah malam tadi. Sebelumnya cuma lima puluh, sekarang naik jadi lima lima," kata Para Penggaruk yang enggan disebut namanya tersebut.

Sementara sang penulis sendiri belum bisa dihubungi. Awak Halo Selebriti yang mencoba menghubunginya melalui WA, sampai saat ini belum menerima balasannya. "Masih centang satu," kata reporternya.

Berita naiknya harga buku calon terkenal tersebut tak luput dari perhatian presiden Jokowi. Dicecar wartawan karena namanya dikait-kaitkan dengan kenaikan harga tersebut, beliau menanggapinya dengan santai.

"Kenapa nanya saya? Salah kalian dong, kenapa kemaren nyoblos saya, hehehe...!" jawabnya seperti biasa, tanpa beban.

"Tapi, Pak! Dalam situasi seperti ini, menaikkan harga buku keren seperti itu bukanlah hal yang bijaksana!" desak para wartawan yang mengerumuninya.

"Itu kan, anu! Harganya masih ... masih ... masih sangat anu sekali. Sudah ya! Itu bukan urusan saya. Coba tanya itu, Pak Menteri!" elaknya sambil menjauh dari kerumunan.

"Yang gaji kamu siapa?" Pak Menteri balik bertanya, kemudian kabur.

End.

***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Lihatlah Ibumu, Indonesia!

Aku tak tahu Sukmawati itu siapa.
Yang kutahu Sinto Gendeng adalah bekas gendak Tua Gila Dari Andalas yang gagal move on.
Nenek genit si tukang ngompol.
Matanya lamur, kebayanya bau pesing.
Kondenya sangatlah seram.
Menancap langsung di batok kepala.
Hiiii...!
Ngeriii...!

Lihatlah!
Itukah ibumu, Indonesia?

Aku tak tahu Sukmawati itu siapa.
Tapi kutahu Bung Tomo iti siapa.
Dua Jendral Inggris mati di Surabaya mendengar takbirnya.
Belum pernah terjadi dalan sejarah perang sebelumnya.

Aku tak tahu Sukmawati itu siapa.
Tapi aku tahu Bilal bin Rabah.
Manusia di jamannya menggigil mendengar suaranya.
Kumandang adzannya terdengar di seluruh dunia.
Lafadz adzannya dicover dimana-mana.
Termasuk oleh Bapakku,
yang jadi gharim di Mesjid Al-Ihsan Ampang Gadang.
Kenal?
Bahkan di kampung sendiri aku kalah ngetop ketimbang sepedanya.
Entahlah, sama sepeda Pak Jokowi.

Puisi Gagal

***

  NB: Repost dari akun lama yang hangus

Naga Bonar : Ustadz Favorit

Naga Bonar :  Lukman, kenapa ustadz favoritku tak Kau masukkan dalam daftar? Kecewa! Betul-betul aku kecewa. Padahal kalau bukan karena aku sama si Bujang, mulut Kau itu dulu tidak berasap.

Lukman         :  Ini bukan soal favorit atau tidak, Bang! Nama-nama itu semua berdasar masukan dari tokoh agama, ormas agama dan tokoh masyarakat.

Naga Bonar :  Hey Lukman, Kau kenal Naga Bonar kan? Aku ini Jendral. Aku minta, Kau masukkan ustadz favoritku itu dalam daftar. Dia orang kampung kita juga!

Lukman         :  Aku kan sudah bilang, ini bukan soal favorit atau tidak! Ada ketentuan-ketentuannya. Tak semua bisa dimasukkan, Bang! Harus yang kompetensi keilmuwannya tinggi, reputasinya baik dan...

Naga Bonar :  Yang namanya ulama itu sudah pasti berilmu tinggi, Lukmaaaan! Bahhh!

Lukman         :  Makanya dengerin dulu aku selesai ngomong, Bang! Juga harus yang punya komitmen kebangsaan yang tinggi. Bukan yang anti NKRI.

Naga Bonar :  Hey Lukman, Kau percaya aku cinta NKRI, kan?

Lukman         :  Yaa, percayalah, Bang! Karena itulah Abang dulu aku kasih pangkat Marsekal Medan, tapi abang ga mau, makanya cuma dapat yang lebih rendah, Jendral.

Naga Bonar :  Nah, itu dia! Aku ini sekolah bambu pun tak tamat. Melihat peta saja aku tak bisa. Itulah kenapa si Mayooor....

Lukman         :  Jam tangan.

Naga Bonar :  Ya, itulah kenapa si Mayor jam tangan itu pusing waktu kutunjuk dapur Maknya! Pokoknya begitulah! Aku, si Bengak Bujang yang sudah dimakan cacing itu, bahkan si Maryam yang di kantor polisi dijuluki si dompet itu juga cinta NKRI, padahal kami semua pencopet. Lalu kenapa bisa Kau bilang ada ulama yang anti NKRI? Apa menurut Kau kami ini lebih baik daripada ulama-ulama yang tak Kau tulis itu? Pencopet lebih baik daripada ulama? Apa kata dunia?

Lukman         :  Yaa, tidak begitu juga lah, Bang! Tak masuk daftar bukan berarti tak layak jadi ulama.

Naga Bonar :  Hati-hati Kau, Lukman! Kau ini sudah macam Belanda-Belanda itu kutengok. Tukang adu domba!

Lukman         :  Tak ada maksud mengadu domba ulama, Bang! Ini cuma menjawab permintaan banyak masyarakat yang minta muballigh rekomendasi dari Kemenag.

Naga Bonar :  Macam alasan, Kau! Sudahlah, berhenti sajalah Kau jadi Menteri. Baiknya Kau dagang beras aja, macam dulu lagi. Ada mantan Menteri yang dagang beras omsetnya mencapai 400 Triliunan tak tau, Kau?

Lukman         :  Bang, jabatan Menteri ini amanah rakyat, Bang!

Naga Bonar :  Maka itu kusuruh Kau mundur, sebelum dipecat. Kau takkan kuat Lukman! Diturunkan pangkat jadi Sersan Mayor saja Kau pingsan, padahal biar turun pangkat Kau tetap Mayor. Nah bagaimana pula bila kau dipecat? Kau mau mati suri?

Lukman         :  (hening)

Naga Bonar :  Kau dengar aku, Lukman?

Lukman         :  Akan kupikirkan, Bang!

Naga Bonar :  Kau kuperintahkan mundur, bukan berpikir! Paham!

Lukman         :  Iya, Bang! Akan kupertimbangkan.

Naga Bonar :  Apalagi yang akan Kau pertimbangkan, Lukmaaaaaan?

Lukman         :  Memasukkan ustadz favorit Abang dalam daftar.

Naga Bonar :  Arrrrrgh...!

Tamat.

 ***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Dialog Jainuddin dan Abu Garuk

Dengan senang hati seperti biasanya, Jainuddin menyambut kedatangan Abu Garuk. "Terima kasih, Pak Abu! Pak Abu bersedia berjumpa dengan saya. Saya mengikuti Pak Abu sudah lama. Apa yang Pak Abu lihat, soal Indonesia akhir-akhir ini?"

"Susah saya update status kadang-kadang, Pak! Setiap kali saya posting misalnya, selalu dikomen 'Ratna' atau 'tol'. Sepertinya itulah template komen hasil briefing dari kakak pembina mereka, Pak! Saya sering bilang, 'kenapa kalian komen selalu begitu, padahal kan banyak ide-ide lainnya?' Tapi begitulah memang mereka, Pak!" jawab Abu Garuk.

"Itu di mana-mana, Pak Abu?" selidik Jainuddin.

"Di mana-mana, Pak! Bapak bisa lihat postingan saya selama ini, kan?" Abu Garuk balik bertanya.

"Rata-rata di mana-mana ya, Pak Abu?" Seolah tak percaya Jainuddin bertanya lagi.

"Mereka panik melihat banyaknya tokoh-tokoh, artis, pejabat, mulai dari menteri, kepala daerah sampai kepala desa mendukung Bapak. Dari ujung Aceh sampai Madura, sampai ujung Sorong. Jadi saya lihat semuanya mendukung dan berharap sama Bapak. Itu yang saya lihat, Pak!" Abu Garuk menjelaskan dengan berapi-api.

Hening sesaat....

"Jadi begini, Pak! Kadang kita merasa gatal. Boleh saja digaruk sekadar dan pada tempatnya. Gatal itu bisa menular, Pak! Jadi kalau menggaruk tidak pada tempatnya, gatalnya bisa menjalar ke mana-mana, Pak! Dan harus kita ingat, sehebat-hebatnya Superman, bila gatal dia menggaruk juga." Abu Garuk melanjutkan penjelasannya.

"Jadi saran Pak Abu, apa yang harus saya lakukan?" Jainuddin bertanya dengan hati-hati.

"Bapak harus jaga diri. Terutama, Bapak harus jaga omongan. Makin tinggi monyet memanjat, makin terang pula bokongnya terlihat. Jadi kalau ada misalnya yang berjanji membawa kita maju menuju era 4.0, tapi tak tahu beda upload dengan download, pasti kita tahu. Dia sedang membual." Dengan gamblang Abu Garuk memberikan petuahnya.

Sementara itu mata Jainuddin mulai berkaca-kaca. "Mungkin ada lagi pesan, atau harapan-harapan dalam perjuangan kita?"

Panjang lebar kemudian Abu Garuk menyampaikan pandangannya. "Tapi kita kan tahu, bahwa kadang-kadang mata kita ini tertipu. Saya pernah dapat nasi bungkus, Pak! Saya pikir rendang, setelah digigit ternyata lengkuas. Jadi saya masih berpikir, jangan-jangan saya juga tertipu sama Bapak.

Akhirnya saya datangi para pejabat yang saya yakini orang baik. Sebab orang baik pasti dukung orang baik juga kan, Pak? Tapi setiap kali nama Pak Sono disebut, selalu dia koreksi dan bisiki saya. 'Jainuddin,' katanya, Pak!

Dua kali dia bisiki saya, Pak! Kalau satu kali saya masih belum yakin. Bisa jadi saya salah dengar. Tapi sekali lagi dia bisikkan koreksinya ke telinga saya. 'Jainuddin,' katanya.

Saya masih belum yakin kan, Pak! Di akhir pertemuan, sebelum pulang saya diajak ke kamarnya. Dan di situ jelas-jelas dia mengatakan. 'Jainuddin,' katanya, Pak!"

"Dia bilang begitu?" Dengan terisak Jainuddin bertanya.

Entah mendengar atau tidak, Abu Garuk terus melanjutkan. "Lama saya berpikir. Setiap malam saya sulit tidur, kenapa dia begitu? Akhirnya saya berpikir bahwa ini harus saya sampaikan. Seumur hidup, saya akan mati dalam penyesalan. Hai Abu Garuk, kenapa tidak kau sampaikan?

Nah, jadi setelah ini, selesai. Saya telah sampaikan. Plong. Malam ini saya bisa tidur lelap."

Jainuddin terlihat beberapa kali mengusap matanya yang berkaca-kaca.

Sementara Abu Garuk terus melanjutkan. "Fitnah tentu banyak. Kalau Bapak nanti memang terpilih, terkait pribadi saya, dua saja. Pertama, tolong nanti acara syukurannya, artis-artis Bollywood juga diundang. Kedua, minta Facebook memulihkan akun saya!

"Saya bukan orang kaya, Pak! Akun Facebook saya di-banned. Padahal itu sumber mata pencarian saya. Saya hanya bisa kasih Bapak rantai sepeda. Dan karena nama Bapak sudah harum, seperti kata Ucup Mankur, saya pikir Bapak tak butuh lagi minyak wangi. Bapak lebih butuh oli kotor, agar rantai sepedanya awet dan tak mudah putus lagi."

Jainuddin menatapnya dengan banjir air mata.

Tamat.

 ***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Meet Up

Teman online kedua yang pernah saya temui adalah Buset. Para aktifis sosmed pendukung Prabowo pada Pilpres 2019 lalu, mustahil rasanya tak k...