24 Mei 2021

Duo Pengangguran

Duo Pengangguran

 

Walau sudah dipecat sebagai pelatih, namun Jose Mourinho tetap mengikuti perkembangan mantan timnya, termasuk Manchester United. Tadi pagi selepas menonton langsung aksi comeback MU di kandang PSG, beliau bertemu dengan Arsene Wenger, mantan pelatih Arsenal. Dua orang ini memang musuh bebuyutan, terutama sejak Mourinho melatih klub sesama London, Chelsea. Kedua gaek pengangguran ini akhirnya sarapan bareng, sembari ngobrol banyak soal banyak hal.

Wenger         :  Selamat ya, Bro! Comeback apik, di kandang lawan! MU ternyata bisa juga seperti          Arsenal jamanku. Ahlinya comeback, jagonya leg ke-2, hahaha...!

Mourinho     :  Hehehe, nyindir aku, Pak Tua? Ehh, apa kabar? Gimana bisnis racun kalajengkingnya?

Wenger      :  Sialan Kau, Anak Muda! Payah rupanya bisnis itu! Bukannya enak nyari, apalagi   ngumpulin racunnya. Kemaren nangkap udang aja aku dipatilnya. Kapok aku. Bisa-bisanya aku percaya omongan yang bilang bisnis racun kalajengking bikin cepat kaya.

Mourinho     : Gelar Profesor, tapi gituan aja bisa dikibulin, wkwkwkwk...!

Wenger         : Kau sendiri sekarang apa kegiatanmu? Banyak tuh potensi lowongan kerja. Manajemen PSG bisa ribut gegara kekalahan malam tadi. Atau bahkan Real Madrid, mantan klub lamamu.

Mourinho     : Ga ahhh! Walau belum setua kamu, aku dah capek kerja berat-berat. Tadi aku ditelpon Michael Essien. Dia ngajak aku ke Indonesia.

Wenger         : Emang mantan anggotamu itu sekarang main di mana?

Mourinho     : Dia masih di Indonesia katanya. Tapi udah ga punya klub sekarang.

Wenger         : Lah, ngapain kau ikut dia ke Indonesia? Mau numpang hidup? Sesama pengangguran kok saling merepotkan? Atau ada klub sana yang minat pakai jasamu?

Mourinho     : Kan sudah kubilang, aku sudah capek kerja yang berat-berat!

Wenger         : Jadi?

Mourinho     : Aku fokus mau nganggur saja! Essien bilang, di sana yang menganggur akan digaji. Nah, karena sudah menganggur lebih dari 3 bulan, ada kemungkinan juga bakal dikasih THR.

Wenger         : Oowh... (pusing) 

 ***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Upload

Upload

 

Pagi-pagi sekali Slash sudah bertamu ke rumah temannya sesama gitaris, Richie Sambora.

Slash                      :  Hi, selamat pagi! Apa kabarmu, Bro?

Richie Sambora   :  Owh, pagi juga! Kabar baik! Ada apa nih, pagi-pagi begini kau datang? Mau minjam duit? Lagi? Hahaha...!

Slash                      :  Sialan! Bisa saja, Kau!

Richie Sambora    :  Sudah lama ya, kita ga pernah ketemu? Aku turut senang, akhirnya Kau dan Axl baikan lagi. Bahkan sampai bikin tur reuni Guns N Roses segala. Malah kudengar kalian sudah bersiap rekaman album baru ya? Ceritain, donk!

Slash                 :  Yaaa, biasa aja! Kita ini sudah tua-tua. Apalagi kita publik figur pula, yang diharapkan sebagai panutan bagi orang-orang. Terutama bagi fans, penggemar kita yang masih muda-muda. Tak elok juga musuhan terus. Mestinya kau dan Jon (Bon Jovi) begitu pula, kan? Kudengar kalian juga sudah punya rencana bikin tur reunian juga?

Richie Sambora     :  Bukan tur, tapi konser! Sudah kami lakukan. Kecil-kecilan saja. Aku sudah tua. Ingin lebih banyak waktu istirahat bersama keluarga. Lagipula, dunia politik sedang panas, hahaha...!

Slash                    :  Kau benar! Kudengar waktu itu kau batal ikut Bon Jovi ke Indonesia karena politik ya? Hahaha...!

Richie Sambora    :  Hahaha...! Ehhh, tapi bagaimana kau bisa tahu?

Slash                    :  Aku kenal seorang di Indonesia yang menyebalkan betul. Katanya Kau tak ikut ke Indonesia karena anti Jokowi, kan? Hahaha...!

Richie Sambora    :  HAH...!? Sepertinya aku tahu siapa yang Kau maksud. Bocor aluih sakaliliang juo kiro e paja tu. Baserak-serak kecek den dibuek e. Hati-hati Kau sama dia! Aku pernah diomelin habis-habisan sama Jon gegara mulut embernya itu.

Slash                  :  Tapi sama aku mana berkutik dia, hahaha...! Jadi berarti benar, Kau batal ke Indonesia karena politik?

Richie Sambora    :  Aku yakinnya begitu. Musisi-musisi pendukung oposisi sulit mendapat panggung. Kau lihat saja band-nya si Babang Tamvan, Andhika! Kapan Kangen Band terakhir manggung? Bahkan teman kita Ahmad Dhani sekarang dipenjara karena berseberangan dengan pemerintah.

Slash                     :  Aku ga ngerti politik, Bro! Emang Jokowi itu sebetulnya siapa, sih?

Richie Sambora    :  Kalau ingin kenal upload aja Jokowi Apps, Bro!

Slash                     :  Upload? Download maksudnya?

Richie Sambora    :  Loh, dia sendiri yang bilang begitu!

Slash                     :  Dia siapa?

Richie Sambora    :  Yaa, Jokowi lah!

Slash                     :  Yaa, salaaaaam! Jokowi itu memangnya siapaaaaa? Arrrggghhh....

Richie Sambora    :  Seorang calon sekaligus presiden di negara teman kita yang kau sebut tadi.

Slash                     :  Calon Presiden? Presiden ga paham apa itu upload? Apa itu download?

Richie Sambora    :  Kau tahu, dia bahkan ingin membawa Indonesia maju, menuju era industri 4.0?

Slash                     :  HAH....!?

Richie Sambora    :  Biasa aja kali, Bro! Kalau sudah upload itu apps, Kau bakal kenal lebih dekat siapa itu Jokowi.

Slash                      :  Download, bukan upload! Ahh, Kau! Ogah!

Richie Sambora    : Yaa, terserah! Kau tadi yang ngotot mau tahu siapa itu Jokowi, kan?

Slash                     :  Aku sudah tau!

Richie Sambora    :  Trus kalau sudah tahu kenapa tadi ngotot mau tahuuuu, arrrrrrgh...!?

Slash                  :  Cuma mau memastikan. Kemaren itu kan ada hestek yang jadi TTWW, Uninstall Jokowi? Berarti beneran donk, Jokowi itu virus? Jadi kenapa harus download? Uninstall ajaaaa...!

Tamat.

***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Harga Buku Rekreasi Hati Naik, Jokowi Salahkan Pendukungnya

Harga Buku Rekreasi Hati Naik, Jokowi Salahkan Pendukungnya

Hari pertama September 2019 ini, Indonesia dikejutkan dengan naiknya harga buku Rekreasi Hati. Setelah berkali-kali tertunda, Siraul Nan Ebat, sang penulis ternyata benar-benar membuktikan ancamannya. Ancaman, sebagaimana yang tertulis pada postingan Facebooknya sesaat sebelum Pilpres, pertengahan April lalu. Jika Jokowi terpilih lagi sebagai presiden, harga buku Rekreasi Hati dipastikannya akan naik. Postingan itu sendiri telah hilang, seiring di-suspend-nya akun penulis, pertengahan Juli lalu.

Kepastian naiknya harga buku tersebut dibenarkan oleh seorang Para Penggaruk (Nama Fans Base-nya: red) calon pembelinya.

"Iya, Mas! Naiknya diam-diam. Tengah malam tadi. Sebelumnya cuma lima puluh, sekarang naik jadi lima lima," kata Para Penggaruk yang enggan disebut namanya tersebut.

Sementara sang penulis sendiri belum bisa dihubungi. Awak Halo Selebriti yang mencoba menghubunginya melalui WA, sampai saat ini belum menerima balasannya. "Masih centang satu," kata reporternya.

Berita naiknya harga buku calon terkenal tersebut tak luput dari perhatian presiden Jokowi. Dicecar wartawan karena namanya dikait-kaitkan dengan kenaikan harga tersebut, beliau menanggapinya dengan santai.

"Kenapa nanya saya? Salah kalian dong, kenapa kemaren nyoblos saya, hehehe...!" jawabnya seperti biasa, tanpa beban.

"Tapi, Pak! Dalam situasi seperti ini, menaikkan harga buku keren seperti itu bukanlah hal yang bijaksana!" desak para wartawan yang mengerumuninya.

"Itu kan, anu! Harganya masih ... masih ... masih sangat anu sekali. Sudah ya! Itu bukan urusan saya. Coba tanya itu, Pak Menteri!" elaknya sambil menjauh dari kerumunan.

"Yang gaji kamu siapa?" Pak Menteri balik bertanya, kemudian kabur.

End.

***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Lihatlah Ibumu, Indonesia!



Aku tak tahu Sukmawati itu siapa.
Yang kutahu Sinto Gendeng adalah bekas gendak Tua Gila Dari Andalas yang gagal move on.
Nenek genit si tukang ngompol.
Matanya lamur, kebayanya bau pesing.
Kondenya sangatlah seram.
Menancap langsung di batok kepala.
Hiiii...!
Ngeriii...!

Lihatlah!
Itukah ibumu, Indonesia?

Aku tak tahu Sukmawati itu siapa.
Tapi kutahu Bung Tomo iti siapa.
Dua Jendral Inggris mati di Surabaya mendengar takbirnya.
Belum pernah terjadi dalan sejarah perang sebelumnya.

Aku tak tahu Sukmawati itu siapa.
Tapi aku tahu Bilal bin Rabah.
Manusia di jamannya menggigil mendengar suaranya.
Kumandang adzannya terdengar di seluruh dunia.
Lafadz adzannya dicover dimana-mana.
Termasuk oleh Bapakku,
yang jadi gharim di Mesjid Al-Ihsan Ampang Gadang.
Kenal?
Bahkan di kampung sendiri aku kalah ngetop ketimbang sepedanya.
Entahlah, sama sepeda Pak Jokowi.

Puisi Gagal

***


 

 NB: Repost dari akun lama yang hangus




 

 


Naga Bonar : Ustadz Favorit

Naga Bonar : Ustadz Favorit

 

Naga Bonar :  Lukman, kenapa ustadz favoritku tak Kau masukkan dalam daftar? Kecewa! Betul-betul aku kecewa. Padahal kalau bukan karena aku sama si Bujang, mulut Kau itu dulu tidak berasap.

Lukman         :  Ini bukan soal favorit atau tidak, Bang! Nama-nama itu semua berdasar masukan dari tokoh agama, ormas agama dan tokoh masyarakat.

Naga Bonar :  Hey Lukman, Kau kenal Naga Bonar kan? Aku ini Jendral. Aku minta, Kau masukkan ustadz favoritku itu dalam daftar. Dia orang kampung kita juga!

Lukman         :  Aku kan sudah bilang, ini bukan soal favorit atau tidak! Ada ketentuan-ketentuannya. Tak semua bisa dimasukkan, Bang! Harus yang kompetensi keilmuwannya tinggi, reputasinya baik dan...

Naga Bonar :  Yang namanya ulama itu sudah pasti berilmu tinggi, Lukmaaaan! Bahhh!

Lukman         :  Makanya dengerin dulu aku selesai ngomong, Bang! Juga harus yang punya komitmen kebangsaan yang tinggi. Bukan yang anti NKRI.

Naga Bonar :  Hey Lukman, Kau percaya aku cinta NKRI, kan?

Lukman         :  Yaa, percayalah, Bang! Karena itulah Abang dulu aku kasih pangkat Marsekal Medan, tapi abang ga mau, makanya cuma dapat yang lebih rendah, Jendral.

Naga Bonar :  Nah, itu dia! Aku ini sekolah bambu pun tak tamat. Melihat peta saja aku tak bisa. Itulah kenapa si Mayooor....

Lukman         :  Jam tangan.

Naga Bonar :  Ya, itulah kenapa si Mayor jam tangan itu pusing waktu kutunjuk dapur Maknya! Pokoknya begitulah! Aku, si Bengak Bujang yang sudah dimakan cacing itu, bahkan si Maryam yang di kantor polisi dijuluki si dompet itu juga cinta NKRI, padahal kami semua pencopet. Lalu kenapa bisa Kau bilang ada ulama yang anti NKRI? Apa menurut Kau kami ini lebih baik daripada ulama-ulama yang tak Kau tulis itu? Pencopet lebih baik daripada ulama? Apa kata dunia?

Lukman         :  Yaa, tidak begitu juga lah, Bang! Tak masuk daftar bukan berarti tak layak jadi ulama.

Naga Bonar :  Hati-hati Kau, Lukman! Kau ini sudah macam Belanda-Belanda itu kutengok. Tukang adu domba!

Lukman         :  Tak ada maksud mengadu domba ulama, Bang! Ini cuma menjawab permintaan banyak masyarakat yang minta muballigh rekomendasi dari Kemenag.

Naga Bonar :  Macam alasan, Kau! Sudahlah, berhenti sajalah Kau jadi Menteri. Baiknya Kau dagang beras aja, macam dulu lagi. Ada mantan Menteri yang dagang beras omsetnya mencapai 400 Triliunan tak tau, Kau?

Lukman         :  Bang, jabatan Menteri ini amanah rakyat, Bang!

Naga Bonar :  Maka itu kusuruh Kau mundur, sebelum dipecat. Kau takkan kuat Lukman! Diturunkan pangkat jadi Sersan Mayor saja Kau pingsan, padahal biar turun pangkat Kau tetap Mayor. Nah bagaimana pula bila kau dipecat? Kau mau mati suri?

Lukman         :  (hening)

Naga Bonar :  Kau dengar aku, Lukman?

Lukman         :  Akan kupikirkan, Bang!

Naga Bonar :  Kau kuperintahkan mundur, bukan berpikir! Paham!

Lukman         :  Iya, Bang! Akan kupertimbangkan.

Naga Bonar :  Apalagi yang akan Kau pertimbangkan, Lukmaaaaaan?

Lukman         :  Memasukkan ustadz favorit Abang dalam daftar.

Naga Bonar :  Arrrrrgh...!

Tamat.

 ***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

Dialog Jainuddin dan Abu Garuk

Dialog Jainuddin dan Abu Garuk

Dengan senang hati seperti biasanya, Jainuddin menyambut kedatangan Abu Garuk. "Terima kasih, Pak Abu! Pak Abu bersedia berjumpa dengan saya. Saya mengikuti Pak Abu sudah lama. Apa yang Pak Abu lihat, soal Indonesia akhir-akhir ini?"

"Susah saya update status kadang-kadang, Pak! Setiap kali saya posting misalnya, selalu dikomen 'Ratna' atau 'tol'. Sepertinya itulah template komen hasil briefing dari kakak pembina mereka, Pak! Saya sering bilang, 'kenapa kalian komen selalu begitu, padahal kan banyak ide-ide lainnya?' Tapi begitulah memang mereka, Pak!" jawab Abu Garuk.

"Itu di mana-mana, Pak Abu?" selidik Jainuddin.

"Di mana-mana, Pak! Bapak bisa lihat postingan saya selama ini, kan?" Abu Garuk balik bertanya.

"Rata-rata di mana-mana ya, Pak Abu?" Seolah tak percaya Jainuddin bertanya lagi.

"Mereka panik melihat banyaknya tokoh-tokoh, artis, pejabat, mulai dari menteri, kepala daerah sampai kepala desa mendukung Bapak. Dari ujung Aceh sampai Madura, sampai ujung Sorong. Jadi saya lihat semuanya mendukung dan berharap sama Bapak. Itu yang saya lihat, Pak!" Abu Garuk menjelaskan dengan berapi-api.

Hening sesaat....

"Jadi begini, Pak! Kadang kita merasa gatal. Boleh saja digaruk sekadar dan pada tempatnya. Gatal itu bisa menular, Pak! Jadi kalau menggaruk tidak pada tempatnya, gatalnya bisa menjalar ke mana-mana, Pak! Dan harus kita ingat, sehebat-hebatnya Superman, bila gatal dia menggaruk juga." Abu Garuk melanjutkan penjelasannya.

"Jadi saran Pak Abu, apa yang harus saya lakukan?" Jainuddin bertanya dengan hati-hati.

"Bapak harus jaga diri. Terutama, Bapak harus jaga omongan. Makin tinggi monyet memanjat, makin terang pula bokongnya terlihat. Jadi kalau ada misalnya yang berjanji membawa kita maju menuju era 4.0, tapi tak tahu beda upload dengan download, pasti kita tahu. Dia sedang membual." Dengan gamblang Abu Garuk memberikan petuahnya.

Sementara itu mata Jainuddin mulai berkaca-kaca. "Mungkin ada lagi pesan, atau harapan-harapan dalam perjuangan kita?"

Panjang lebar kemudian Abu Garuk menyampaikan pandangannya. "Tapi kita kan tahu, bahwa kadang-kadang mata kita ini tertipu. Saya pernah dapat nasi bungkus, Pak! Saya pikir rendang, setelah digigit ternyata lengkuas. Jadi saya masih berpikir, jangan-jangan saya juga tertipu sama Bapak.

Akhirnya saya datangi para pejabat yang saya yakini orang baik. Sebab orang baik pasti dukung orang baik juga kan, Pak? Tapi setiap kali nama Pak Sono disebut, selalu dia koreksi dan bisiki saya. 'Jainuddin,' katanya, Pak!

Dua kali dia bisiki saya, Pak! Kalau satu kali saya masih belum yakin. Bisa jadi saya salah dengar. Tapi sekali lagi dia bisikkan koreksinya ke telinga saya. 'Jainuddin,' katanya.

Saya masih belum yakin kan, Pak! Di akhir pertemuan, sebelum pulang saya diajak ke kamarnya. Dan di situ jelas-jelas dia mengatakan. 'Jainuddin,' katanya, Pak!"

"Dia bilang begitu?" Dengan terisak Jainuddin bertanya.

Entah mendengar atau tidak, Abu Garuk terus melanjutkan. "Lama saya berpikir. Setiap malam saya sulit tidur, kenapa dia begitu? Akhirnya saya berpikir bahwa ini harus saya sampaikan. Seumur hidup, saya akan mati dalam penyesalan. Hai Abu Garuk, kenapa tidak kau sampaikan?

Nah, jadi setelah ini, selesai. Saya telah sampaikan. Plong. Malam ini saya bisa tidur lelap."

Jainuddin terlihat beberapa kali mengusap matanya yang berkaca-kaca.

Sementara Abu Garuk terus melanjutkan. "Fitnah tentu banyak. Kalau Bapak nanti memang terpilih, terkait pribadi saya, dua saja. Pertama, tolong nanti acara syukurannya, artis-artis Bollywood juga diundang. Kedua, minta Facebook memulihkan akun saya!

"Saya bukan orang kaya, Pak! Akun Facebook saya di-banned. Padahal itu sumber mata pencarian saya. Saya hanya bisa kasih Bapak rantai sepeda. Dan karena nama Bapak sudah harum, seperti kata Ucup Mankur, saya pikir Bapak tak butuh lagi minyak wangi. Bapak lebih butuh oli kotor, agar rantai sepedanya awet dan tak mudah putus lagi."

Jainuddin menatapnya dengan banjir air mata.

Tamat.

 ***

NB: Repost dari akun lama yang hangus

5 Mar 2021

Naga Bonar : Pesta Nobita

Naga Bonar : Pesta Nobita


Resepsi pernikahan Nobita dengan Sizuka berlangsung amat meriah. Selain kerabat terdekat, kru, pesta tersebut juga dihadiri para legenda film dari berbagai negara. Juga ada tamu-tamu undangan yang mewakili para pemerintah dari berbagai negara. 

Tapi, entah apa yang sedang terjadi dengan suasana hati panglima copet Indonesia, Naga Bonar. Baru saja dia sempat membentak Captain Amerika, "Hai bengak! Kau pikir negara kau bakal aman pakai penggorengan itu? Senjata kok mainan emak-emak?" Captain Amerika yang tengah asyik ngerumpi bareng Superman hanya bisa melongo. 

Sekarang Naga Bonar tengah asyik mengamati Supergirl dan Wonder Woman, dua superhero asal Amerika. Tak habis pikir dia melihat mereka. "Tampangnya saja yang cantik. Pakai kolor kok di luar?" gumamnya mengamati Supergirl. "Nah, temannya itu juga bodoh. Mau-maunya berteman dengan dia!" 

Laki dan perempuannya sama saja. Apa tak ada yang berisi kepalanya orang-orang Amerika ini? Katanya negara hebat. Negara maju. Punya banyak universitas terbaik, destinasi favorit para mahasiswa luar negeri. Namanya Superman, Supergirl, Wonder Woman, Captain Amerika. Cuih, lebaynya! Naga Bonar heran dan takjub sendiri. 

Tengah asyik melamun dan mengoceh sendiri, dia dikejutkan oleh sebuah tepukan cukup keras namun hangat, dari belakang. "Jaga mata tua kau itu, Naga! Mereka itu takkan mau sama kau."

"Ehhhh, kau ada di sini juga, Mariam?Siapa lagi yang mau kau copet di sini?"

"Enak saja kau bicara! Aku ini tamu resmi. Mewakili pemerintah kita. Sedang kau? Kenapa kau ada di sini? Tak ada yang bisa kau copet di sini, Naga! Mati kau nanti! Para tamu ini orang-orang super semua." 

"Aku di sini bersama Bonaga, anakku. Dia ada urusan bisnis dengan Jepang, salah satu kerabat Nobita. Kami juga undangan resmi di sini."

"Anak kau kerjasama dengan Jepang? Pengkhianat negara kau ini, Naga! Hahaha...!"

"Persoalan kita dengan Jepang sudah lama berlalu, Mariam! Jepang sudah lama kalah perang. Kau sendiri, bagaimana ceritanya bisa sampai ke sini?"

"Seperti yang kubilang tadi. Aku mewakili pemerintah Indonesia. Kau kan juga tahu,  aku sekarang menjadi staff ahli di kementrian...."

"Yang kutahu, keahlian kau itu cuma mencopet, Mariam! Apa kau mau mencopet uang negara juga?"

"Kayak anak buah kau itu?"

"Anak buahku? Siapa?"

"Si Lukman. Kau pikir dia sudah ga jadi menteri itu kenapa? Namanya sudah berkali-kali disebut KPK, Naga! Kau yang mengajari dia mencopet, kan?"

"Itu karena dia mempekerjakan para pencopet seperti kau ini sebagai staff ahlinya, Mariam! Sejak bergaul dengan orang macam kau, rusak dia."

"Pekerjaan aku ini halal, Naga! Dan sekarang aku sudah haji. HAJI! H-A-J-I."

"Nah itu lagi! Kau tahu, Mariam! Harusnya dari tahun kemaren aku juga sudah haji. Tapi karena dana haji sudah habis digarong oleh orang-orang macam kalian, aku tak jadi berangkat!"

"Haji ditiadakan karena corona, Naga!"

"Hallah! Itu alasan pemerintah saja! Arab Saudi tak mau terima jamaah kita, karena akomodasi haji belum dibayar. Pemerintah mau utang dulu, mereka menolak. Haji kok pakai ngutang?"

"Jangan sembarang bicara kau, Naga! Bisa ditangkap kau nanti!"

"Aku batal naik haji. Sementara dana hajinya habis untuk membayar orang-orang seperti kau ini jalan-jalan. Jangan-jangan kau ke sini ini juga pakai dana haji ya, Mariam!"

"Yang mengurus haji itu anak buah kau itu, Si Lukman! Kenapa kau marah-marah sama aku? Kenapa kau tak tanya langsung sama dia?"

Naga Bonar terdiam. Si Mariam juga. Kedua veteran copet itu asyik dalam lamunannya masing-masing, ketika muncul Giant, yang dalam pesta itu bertugas membersihkan meja dan mengumpulkan piring-piring kotor. 

"Piringnya sudah, Oom?" Giant bertanya dengan gestur yang ramah dan sangat sopan. 

"Diam, kau!" jawab Naga Bonar dan Mariam nyaris serentak. "Merebut Sizuka dari Nobita yang tiap ulangan dapat nol saja kau tak bisa. Badan kau saja besar!" lanjut Naga Bonar. 

Giant terdiam. Mariam melongo. Sementara Naga Bonar kaget dengan omongannya sendiri. 

*Tamat
***

29 Jun 2020

Fitnah Corona

Fitnah Corona


Pemerintah tak berniat menghentikan corona, itu sudah sangat telanjang di depan mata. Sebagai muslim saya hanya tau, corona adalah fitnah yang nyata. Terornya membuat kesadaran beribadah meningkat, tapi sekaligus membuat kesolidan berjamaah kita ambyar. Padahal Islam memerintahkan kita agar menjadi muslim yang kuat. 

Kita berangkat ke masjid, berjamaah, untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah. Kita satu di jalan Allah SWT. Masuk ke masjid, bukan saja dengan hati yang bersih, tapi juga dengan badan dan pakaian yang suci. Bersih dan suci lahir batin. 

Tapi corona membuatnya jadi fitnah. Begitupun, kita masih saling curiga satu dengan yang lainnya. Ini orang mana? Datangnya dari mana? Kapan pulangnya dari rantau? Membawa corona atau tidak? Bagaimana kita menjadi muslimin yang kuat, kalau sesama jemaah dalam kebaikan saja masih saling mencurigai? 

Masjid sebagai tempat menjalin ukhuwah, berubah menjadi lokasi saling fitnah. Tempat yang mestinya paling suci berganti jadi tempat yang paling kotor. Setan masuk masjid. Pindah mereka dari pasar. 

Salah satu hikmah shalat berjamaah adalah agar terbentuk barisan muslim yang rapat dan kuat. Barisan yang sulit ditembus jin dan manusia. Itulah pentingnya melurus dan merapatkan sajadah. Kalau shalatnya di atas sajadah masing-masing juga, kenapa pula harus ke masjid? 

Demi mentaati imbauan physical distancing, shaf dan barisan shalat pun dibuat berjarak. Apakah itu salah? Saya tak tahu. Ada yang bilang boleh, tapi ada pula yang mengatakan salah. 

Saya bingung. Tapi ternyata tidak cuma saya. Ulama sendiri banyak pula yang bingung mengambil sikap. Kalau ulama saja bingung, bagaimana pula dengan umat jelata seperti saya? 

Tapi benarkah ulama, para ustadz dan guru-guru agama kita bingung? Belum tentu juga! Bisa jadi hanya karena mereka tak berani bersuara? Kalaupun berbicara, normatif saja. Intinya, saling menghormati saja. 

Akhirnya masing-masing kita sibuk dengan surga sendiri. Yang berpendapat begini melakukan begini. Yang pendapatnya begitu, melakukannya begitu. Bagaimana mungkin persatuan terwujud, bila kita bahkan tidak satu visi. Bagaimana bisa kompak, bila arahannya saja tidak dari satu komando. 

"Itu cuma soal khilafiyah kecil. Tak perlu dibesar-besarkan!"

Ya! Itu cuma soal khilafiyah. Kecil pula. Saat inipun kita cuma menghadapi corona, yang saking kecilnya, bahkan tak terlihat oleh mata. Tapi bila yang kecil ini saja sudah buat kita bingung, entah bagaimana kelak, bila kita berhadapan dengan Dajjal yang sesungguhnya. 

Astaghfirullahaladziim...!

30 Apr 2020

Rumah Kita

Rumah Kita

Assalamu'alaikum....

Apa kabar, Para Penggaruk semuanya? Mudah-mudahan selalu dalam lindunganNYA, aamiin...!

Sudah lama sekali ya, kita tak bertegur sapa? Banyak hal terjadi dalam kurun waktu itu. Terlalu banyak malah, sampai saya bingung untuk memulai ceritanya. Tapi Insya Allah, blog ini akun selalu menjadi rumah kita ... selamanya, aamiin...!

Terkait dunia tulis menulis, insya Allah saya masih setia larut di dalamnya. Saya masih dan akan tetap menulis. Selama absen di sini, saya memang kebanyakan menulis di Facebook. Lebih tepatnya mungkin di KBM. Bukan karena melupakan rumah ini. Ada beberapa alasannya. Yang pasti, sama sekali bukan karena suatu masalah. Rekreasi Hati tetap nomor 1 di hati.

Sejak kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok, yang kemudian terus berlanjut dengan episode-episode serupa lainnya, saya memang lebih sering menulis politik. Kita memang harus peduli, karena politik lah yang mengatur naik turunnya eksistensi kita dalam kehidupan. Apalagi, penulislah sebetulnya yang mesti menjadi ujung tombak perubahan dan perbaikan nasib bangsa. Itu salah satu sebab kenapa saya jarang update di sini. Saya tak ingin mengotori rumah kita dengan politik yang memang kotor. Tentu di sini juga ada tulisan politik. Tapi itu tetap dalam kerangka Rekreasi Hati.

Berikutnya lagi, saya ingin mencoba menulis sesuatu yang berbeda. Saya ingin menulis buku yang dari jenis yang lain. Saya ingin menulis satire, politik dan sebagainya. Insya Allah, salah satunya segera akan terbit. Do'akan yaa, Teman-teman!

Hari ini, KBM, komunitas menulis terbesar di Indonesia (membernya hampir 1 juta orang) rencananya akan me-launching applikasi dan platform menulis digital sendiri. Saya sendiri cukup PeDe untuk mengklaim telah menjadi satu diantara beberapa penulis yang punya nama di sana. Tapi hari ini pula, saya ingin menyapa teman-teman di sini untuk mengabarkan bahwa rumah saya adalah di sini. Bukan di sana, apalagi di situ. Saya takkan menjadi bagian dari KBM app, karena rumah saya, rumah Para Penggaruk dan Rumah Kita adalah Rekreasi Hati.

❤❤

30 Mar 2019

Naga Bonar : Lukman dan KPK

Naga Bonar : Lukman dan KPK

Naga Bonar     : Naaaah! Apa kubilang? Kena juga Kau akhirnya kan, Lukman? Bengak, Kau!

Lukman           : Bang, jangan keras-keras! Nanti didengar orang. Malulah aku, Bang!

Naga Bonar     : Lukman! Aku dulu juga pencopet. Tapi aku tak mencopet milik rakyat. Yang kucopet                             itu dompet atau arloji punya Jepang. Sudah lupa Kau pesan Bang Pohan, hah? Jangan                              Kau curi uang rakyat! Rakyat ini sudah susah, masih Kau copet juga!

Lukman           : Aku tak korupsi macam yang Abang pikir. Kalau memang ada, yaa laporkan saja!

Naga Bonar     : Lah, itu yang dalam amplop di laci kantor, Kau?

Lukman           : Itu honor selama Aku jadi menteri, Bang! Halal semua itu uangnya!

Naga Bonar     : Aku tidak bodoh, Lukman! Sejak kapan gaji menteri dibayar pakai Dollar, hah?

Lukman           : (diam)

Naga Bonar     : Kau ini memang bengak, Lukman! Sudah berapa kali kuperintahkan Kau mundur? Tapi                           Kau bilang jabatan itu amanah. Kusuruh Kau dagang beras lagi, Kau malah dagang                                  jabatan. Sekarang, mati lah, Kau!

Lukman            : Aku belum tersangka, Bang! Masih sebagai saksi. Diperiksa juga belum!

Naga Bonar      : Kalau sudah hamil, itu tandanya mau beranak, Lukman! Paham, Kau? Bahhh...!

Lukman            : Ehh, sudah pandai cakapnya, Abang sekarang?

Naga Bonar      : Aku serius, Lukman! Bangkit nanti malaria Kau dalam penjara, Bengak!

Hening sesaat ....

Naga Bonar      : Sudah Kau siapkan tempat tidurnya?

Lukman             : Hah? Tempat tidur? Abang mau menikah? Jadi pengganti kak Kirana sudah ada,                                     Bang?    Siapa?

Naga Bonar      : Bukan tempat tidur buat aku, Lukmaaaan! Tak ada yang bisa menggantikan Mak Si                                  Bonaga itu di hatiku.

Lukman             : Jadi, tempat tidurnya buat apa?

Naga Bonar      : Yaa, buat Kau tidur dalam penjara lah, Bahhh! Ya Allah, bengak kali lah kawan kau                                 ini, Bujaaaaaaang! Haaaaah!

*tamat
***

12 Feb 2019

ILC : Potret Hukum Indonesia

ILC : Potret Hukum Indonesia

Begini, Bang Karni! 

Nyata atau tidaknya intervensi politik terhadap hukum kita tidak tahu. Tapi melihat prakteknya, kita melihat betapa kacaunya logika hukum akhir-akhir ini. Suka atau tidak, terima atau tidak kita bisa melihat dan merasakannya. Dan wajar saja bila ada, malah banyak dugaan bahwa hukum kita telah diintervensi kepentingan politik. 

Sulit menolak persepsi publik bahwa hukum ikut berpolitik. Celakanya, media justru ikut-ikutan pula. Bukannya mengontrol dan mengawal proses hukum, tak jarang malah media sendiri yang menjadi hakimnya. 

Kita bisa melihat misalnya ketika politisi dari oposisi tersandung perkara, tanpa tedeng aling-aling media sebut nama lengkap dan partai asalnya. Bila perlu lengkap dengan segala 'kisah kelam masa silam' dan persoalan pribadi rumah tangganya. 

Sebaliknya bila hal yang terjadi pada pihak pemerintah. Media mati-matian membelokkan opini, bila itu terkait pihak pro pemerintah. Kepada pihak yang bersuara membela misalnya akan disematkan cap: pakar hukum. 

Publik dipaksa menerima logika hukum yang jungkir balik. Perkara Ahmad Dhani misalnya, langsung diproses tanpa banyak urusan administrasi yang rumit. Atas perkara yang mirip, laporan penghinaan terhadap Alumni 212 yang dilakukan Ebenezer, pendukung pemerintah ditolak. 

Polisi menerapkan standar ganda. Polisi minta surat kuasa dari Presidium 212. Apakah polisi juga minta surat kuasa pendukung penista agama pada laporan kasus Ahmad Dhani. Menarik juga itu untuk kita ketahui, siapa yang menandatanganinya. 

Seorang Jack yang entah siapa, begitu melaporkan seseorang langsung diproses. Sebaliknya, laporan-laporan seorang Wakil Ketua DPR seperti Fadli Zon, tak satupun yang ditindaklanjuti. Clue yang ditangkap publik adalah, yang satu pendukung, sedang seorang lagi oposisi pemerintah. 

Dan logika hukum yang jungkir balik tersebut terus berulang. Saya ingin membuat simulasi logika hukum polisi dalam menegakkan hukum. Jika logikanya seperti yang terjadi dengan kasus chat Habib Rizieq, siapa yang akan ditangkap polisi bila kejadiannya seperti di bawah ini? 

Saya membuat cerita mesum dengan istri Kapolri dalam laptop pribadi. Cerita tersebut diupload teman saya ke Facebook. Nah, siapa yang akan ditangkap polisi? 

A. Saya
B. Teman saya
C. Istri Kapolri

Dah, segitu aja Bang Karni! 

"Jangan banyak bicara tak penting, apalagi ngomong ayam ... ayam ... ehh, ayam," kata fans buku Rekreasi Hati. 

Kita rehat sejenak! 

***




30 Jan 2019

Udang Yang Marah

Udang Yang Marah

Di Twitter tadi malam ada 2 berita yang cukup menarik perhatian saya. Ketika mengetik tanda pagar dan huruf 'S', dua hestek yang muncul di peringkat paling atas adalah 'Save Rocky Gerung', disusul 'Save Udang'. Keduanya masuk list trending topic. 

Saya tertarik pada dua objek utamanya, Rocky Gerung dan Udang. Pertama Rocky Gerung, yang saat ini bagi sebagian orang dianggap sebagai ikon akal sehat. Sebagai liberalis beliau mampu menerjemahkan dengan baik apa itu kebebasan. Bukan seperti kaum yang mengklaim liberal, tapi melarang yang lain mendengar pengajian. Rocky Gerung adalah 'deklarator' Monas sebagai Monumen Akal Sehat.

Berikutnya udang, yang selama ini kita sepakati sebagai ikon kedunguan. Udang itu dungu. Dia sedang marah. Dan begitulah memang kalau si dungu marah. 

"Yang waras ngalah," kata stiker angkot. 

Tapi yang dimarah rupanya tak waras. Bukannya mengalah, malah membesar-besarkannya. Semua orang diberitahu, bahwa dia sedang dimarahi si dungu. Sampai pendarahan segala, walau memang tak sampai benjol-benjol macam bakpau. 

Bagi saya ini sangat menyentil situasi yang sedang kita hadapi hari-hari ini. Perang akal sehat melawan kedunguan. Rocky Gerung sebagai pejuang akal sehat sedang dihadapkan pada sebuah delik yang membangkitkan nalar publik. 

Di saat bersamaan ada seekor udang yang sedang marah. Sangat menggelikan dan menggelitik. Sebab bagaimanapun, walau udang, dia masih punya otak. Tapi walau punya otak, tetap saja namanya otak udang. Karena otak udang, makan marahnya pun pada otak kosong. Sebab hanya otak kosong yang membesar-besarkan kemarahan seekor udang. 

Jadi saya ingin bertanya, diantara mereka semua itu, siapa yang paling ingin anda selamatkan? Ga usah jawab, kasih kisi-kisinya aja! 

***

 

22 Jan 2019

ILC : Siapa Menang Debat Capres

ILC : Siapa Menang Debat Capres


Begini, Bang Karni!

Seperti yang saya katakan di ILC 2 minggu lalu, negara diberi amanat oleh UUD45 salah satunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka wajib hukumnya bagi penyelenggara negara untuk taat dan menunaikannya. Tidak saja karena mereka diberi amanat, tapi juga karena untuk tugas itu mereka telah dibayar oleh rakyat. Dan melihat debat kemaren, sebagai rakyat kita layak cemas, malu bahkan merasa jijik.

Kita layak cemas melihat bagaimana penyelenggaranya mengurus negara. Dan akan makin cemas bila melihat kualitas calon pengurus berikutnya.

Saya sendiri heran kenapa KPU tidak bersedia transparan, membuka hasil test kesehatan para kandidat. Rakyat berhak tahu bukan saja soal wawasan, tapi juga soal kesiapan dan kemampuan calon pemimpinnya.

Sebelum debat saya melihat beredarnya poto seorang kandidat sholat Maghrib berjamaah, namun beliau menggunakan kursi. Pesan logisnya, diantara seluruh jemaah, secara fisik beliau adalah yang paling lemah. Saya membayangkan bagaimana nanti beliau bicara, berpidato dalam forum internasional yang durasinya sudah pasti jauh lebih panjang.

Kecemasan berikutnya terhadap kemampuan para kandidat memahami konteks. Pertanyaan soal kebangsaan, tapi jawabannya bicara persoalan satu partai. Jika 5 tahun lalu seluruh persoalan negara dijanjikan beres dengan kartu, maka kali ini akan dibereskan dengan Tol. Apapun soalnya, jawabnya TOL ... LOL

Calon lainnya tak kalah buruk. Bahkan saya menyangsikan apakah yang bersangkutan tahu atau tidak apa itu debat. Ogah berbicara karena tak tega? Hey, debat itu adu kepala, bukan adu perasaan, Jendraaaaal, arrrrrrgh!

Ini mencemaskan. Jangan sampai bila terpilih kelak, penjahat dan para koruptor mendatanginya membawa bekal butuh dikasihani. Apa jadinya hukum dan independensi presiden bila para penjual dan pengkhianat negara menghadapnya menawarkan rasa iba?

Padahal melalui debat inilah sebetulnya kita ingin meraba isi kepala para kandidat. Rakyat butuh melihat ide dan solusi mereka menangani persoalan bangsa. Kita pernah jadi bangsa besar, dihormati dan disegani. Gerakan Non-Blok Blok, Konferensi Asia-Afrika, ASEAN dan lainnya lahir dari ide dan pikiran besar para pemimpin pendahulu kita. Kita ingin tahu bagaimana cara calon penerusnya mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai pemimpin dunia.

Dunia luar sibuk dengan riset perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Bagaimana pemimpin mereka bersikap dan bersiap menghadapi tantangan global. Dan alangkah menjijikkannya ketika kita di Indonesia masih saja diberi suguhan seorang calon pemimpin potong rambut, atau memanjat pagar yang ada tangganya. Perdebatan ilmiah seperti apa yang akan dihasilkan bila pelajaran yang diberikan calon pemimpin adalah tentang nama-nama ikan?

Bangsa ini takkan pernah cerdas bila dalam memilih pemimpin pedomannya adalah siapa yang didukung Iwan Fals, Slank, Rhoma Irama atau Andhika Kangen Band. Tak penting siapa yang didukung TGB, UAS, Yusuf Mansyur atau Habieb Rizieq. Pendidikan politik mestinya mengajarkan rakyat agar memilih berdasar program kerja, bukan karena siapa mendukung siapa.

Pilpres dengan segenap rangkaiannya adalah hajatan besar bangsa. Hajatan besar sebuah negara besar lagi penting yang tentu saja akan menjadi perhatian dunia. Lalu perhelatan seperti apa yang kita dan dunia lihat dalam sesi debat kemaren?

Sangat memalukan! Bagaimana mungkin kompetisi adu pikiran calon pemimpin soalnya diberikan dulu? Sudah begitu boleh mencontek pula. Sudah boleh mencontek ketahuan pula. Sudah mencontek dan ketahuan, disiarin dan dipamerkan pula ke seluruh dunia.

Maka bila kepada saya ditanya siapa yang menang debat Capres, saya tidak tahu. Tapi bila pertanyaannya adalah siapa yang dipermalukan dalam debat Capres? Jawabnya jelas: Indonesia.

Walau begitu, sebagai rakyat kita mesti tetap berupaya memperbaiki nasib bangsa. Setidaknya dengan akal sehat dan kewarasan yang kita punya, jangan sampai yang bodoh berkuasa karena dipilih oleh orang-orang gila.

Dah, segitu aja, Bang Karni!

"Seperti e'ek kucingku, meresahkan dan melulu termaafkan," kata Siraul Nan Ebat dalam bukunya Rekreasi Hati.

Kita rehat sejenak!

8 Jan 2019

ILC : Menguji Netralitas KPU

ILC : Menguji Netralitas KPU

Begini, Bang Karni!

Dagelan Pilpres (khususnya) ini sebetulnya telah menjelaskan pada kita bahwa negara telah gagal. Pameran kebodohan melulu dipertontonkan para penyelenggara negara. Padahal tegas sekali, bahwa salah satu tugas negara yang diamanatkan oleh UUD45 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ajaibnya, presiden selaku kepala negara seperti tak berbuat apa-apa. Padahal mestinya, presiden lah ujung tombak pelaksana amanat tersebut, sebab beliau kepala negaranya.

Selama 4 tahun ini Jokowi bertindak bukan sebagai presiden, tapi sebagai calon presiden. Itulah kenapa saat negara ribut karena penistaan agama, persekusi ulama dan intoleransi beragama, dia malah main tebakan nama-nama ikan. Ketika orang-orang bicara soal narkoba, pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, dia asyik buat vlog nyanyi, sulap, latihan tinju atau adu panco. Harusnya dia bicara soal ekonomi, ehh malah sibuk bagi-bagi sepeda.

Itulah yang ditampilkan kepada publik. Media tak lagi berfungsi sebagai mulut rakyat, tapi sebagai juru kampanye sang petahana. Pameran kebodohan dipelintir sebagai wujud merakyat dan kesederhanaan. Aparat negara dikerahkan menjadi tim pemenangan. Maka aparat seperti Polri, bahkan Bawaslu dan KPU dengan tak sungkan-sungkan berpose mesra bersama petahana.

Kemaren kita dipaksa percaya bahwa kotak kardus sama kuatnya dengan alumunium. Hari-hari ini kita dipaksa memahami bahwa uji kompetisi bagi calon kepala negara tak lebih penting ketimbang ujian bagi anak SD. Segala daya diupayakan agar petahana mulus melanjutkan kekuasaannya.

Maka saya takkan heran bila beberapa hari ke depan kita kembali melihat aturan konyol lainnya. Misalnya, berhubung kedua pasang calon tak mungkin dipaksa test baca Al-Qur'an, ogah pula ikut debat visi-misi, acaranya akan diganti jadi lomba menyanyi. Bisa nyanyi lagu Indonesia Raya. Tapi bisa juga salah satu hit terkini: Jainuddin Ngacir Bro.

Tapi jika KPU memang serius ingin memenangkan petahana, saya punya usul yang lebih menarik. Debatnya diganti jadi lomba menyanyi, tapi cukup diwakilkan pada tim pendukung masing-masing Capres. Maka rakyat akan bisa menyaksikan pertunjukan spektakuler 5 tahunan. Pertarungan para legenda musik Indonesia. Tim Jokowi mungkin bisa diwakili oleh Iwan Fals, Slank dan Anggun C. Sasmi. Sementara Tim Prabowo akan diwakili oleh Ahmad Dhani dan Andhika Kangen Band.

Dah, segitu aja, Bang Karni!

"Tak perlu mengajari monyet menggaruk. Dia tahu caranya," kata Siram Nan Saat dalam bukunya Rekreasi Hati.

Kita rehat sejenak! 
 
***

6 Jan 2019

Penulis Terkenal

Penulis Terkenal

Agar dikira penulis keren, maka rajinlah saya memberi kritik dan saran di komunitas tersebut. Agar dikira keren beneran, saya juga posting tips menulis. Agar dikira benar-benar keren, maka tips tersebut juga harus temuan saya sendiri. 

Maka saya posting lah trik bagaimana membuat 'tulisan anti copas'. Semacam memberi automark pada tulisan sendiri agar tak bisa diklaim pihak lain. Karena temuan sendiri, maka yang saya bedah tentu tulisan sendiri pula. Apalagi ditambah pula dengan profil yang menampilkan poto buku karya sendiri, maka sempurnalah pencitraan saya sebagai penulis keren yang benar-benar keren beneran. 

Maka mulailah banyak permintaan pertemanan  dari lingkup sesama pecinta literasi. Mulai ada inbox pertanyaan seputar kepenulisan. Bahkan banyak yang mulai memanggil saya dengan sebutan 'Kak', layaknya panggilan fans terhadap idola. 

Yaa, saya sudah jadi idola. Penulis terkenal. T-E-R-K-E-N-A-L. Dan tahukah kamu siapa penulis terkenal itu? Yaitu: orang-orang seperti Tere Liye, Andrea Hirata dan tentu termasuk pula saya sendiri. 

Banyak yang mengira Tere Liye itu seorang cewek. Pasha Ungu juga tahunya Andrea Hirata seorang cewek. Jangankan 'orang lain', bahkan teman di friend list sendiri banyak yang memanggil saya, 'Mbak'. Sebab begitulah memang penulis terkenal, hahaha...! 

Di awal-awal saya masih rajin mengklarifikasi. "Saya ini cowok, Nisanak!"

Tapi begitulah takdirnya terkenal, sering direpotkan oleh berbagai kerepotan yang sebetulnya tak perlu direpotkan. Di Amerika atau Rusia orang-orang sedang sibuk seminar tentang bagaimana caranya hidup di bulan. Kenapa kita di Indonesia masih saja memperdebatkan seorang Siraul Nan (mengaku) Ebat? Maka akhirnya saya biarkan saja, walau ternyata karena memang terkenal ada saja yang mengenali saya. 

"Capek! Masa' tiap komentar saya mesti klarifikasi?", jawab saya ketika seorang teman mempertanyakannya. 

Entah di mana letak kekeliruan saya. Bahkan seluruh info di profil Facebook seluruhnya saya setting publik. Lengkap, seluruh postingan, data jenis kelamin, tempat, tanggal, bulan dan tahun lahir, domisili, sekolah, tempat kerja bahkan nomor telpon seluruhnya jelas. Kecuali e-mail, itupun karena saya menggunakan milik teman yang juga dipakainya untuk keperluan sosmed yang lain. 

Meski jarang, tapi saya juga pernah posting poto sendiri. Poto kiriman teman, yang menandai saya juga diset untuk publik. Postingan saya selama karir di Facebook rasanya juga LAKI BANGET. 

Entahlah! Dunia maya memang maya. Sebaliknya, dunia nyata itu memang nyata. Yang jelas saya nyata hidupnya di dunia nyata, dan nyata laki-lakinya. Dunia maya? Bodo' amat! Saya pamit off sebentar, ya! Halo Selebriti sudah mau mulai. Mohon do'a restunya🙏🙏

1 Jan 2019

Kompetisi Merebut Karya Sendiri

Kompetisi Merebut Karya Sendiri

Beberapa hari yang lalu saya ikut event menulis yang diselenggarakan seorang teman. Benar, selama ini saya ogah ikut-ikutan event menulis, yang biasanya berujung dengan diterbitkannya naskah-naskah terbaik menjadi buku fisik. Teman-teman tentu telah mengerti alasannya, bukan? 

Tapi yang sekali ini beda. Ini cuma event for having fun, tanpa ada maksud untuk dibukukan. Apalagi tujuannya juga mulia, dakwah. Bukan dakwah biasa, sebab temanya terkait dengan momen spesial, Reuni Aksi Bela Islam 212 jilid II. Dan yang paling istimewanya lagi, saya berkesempatan memenangkan hadiah utama yang salah satunya adalah sepaket buku karya saya sendiri, hahaha.... 

Awalnya sekedar ingin berbagi buku Rekreasi Hati. Euforia (Reuni) Aksi Bela Islam benar-benar menggugah ghirah. Semua orang berlomba posting moment-moment yang mengetarkan jiwa seputaran peristiwa tersebut. Rugi sekali rasanya bila saya tak punya kontribusi apa-apa dalam mensyiarkannya. 

Paket buku Rekreasi Hati saya sumbangkan sebagai salah satu hadiahnya. Tapi Mak, ehh Mbak Panitia meminta lebih. Saya diminta ikut sekalian sebagai peserta lomba. Okelah, hitung-hitung mencoba tantangan serius. Kali ini tulisan saya akan dinilai oleh juri. Oleh juri, sodara-sodara! Juri yang tentunya bukan orang sembarangan, yeeeeey! 

Jujur saya gentar sebetulnya. Mbak penyelenggaranya terbilang cukup dihormati sebagai penulis. Kumpulan penulis keren ada dalam daftar dan jaringan pertemanannya. Langganan juara berbagai kompetisi menulis, primadonanya para penerbit dan sejenisnya. Bisa-bisa saya cuma hadir sebagai pelengkap kegembiraan mereka belaka. 

Itu pun masih ditambah pula dengan kengerian pribadi. Seminggu sebelumnya keponakan saya, siswi kelas IX berhasil naik podium sebagai juara 3 kompetisi menulis remaja tingkat nasional. Apa jadinya bila saya, oom atau mamaknya (istilah Minang) ini ikutan kompetisi menulis iseng, cuma hadir sebagai juru sorak para kampiun belaka. 

Tapi baiknya, itu pula yang menyemangati saya. Ini peluang unjuk pamer bahwa tulisan saya juga setara dengan karya mereka. Ini kesempatan untuk membuktikan koar-koar saya selama ini bahwa Rekreasi Hati saya terbitkan sendiri bukan karena tak layak terbit. Tulisan, ide dan pikiran saya terlalu berharga untuk diberi harga. Dan percaya atau tidak, sebelum pengumuman pemenang di grup keluarga saya sudah berani berkoar. Saya akan menang dan berhasil merebut hadiahnya, yakni buku karya saya sendiri, hahaha... 

25 Des 2018

Naga Bonar : Rahmat Natal

Naga Bonar : Rahmat Natal


Naga Bonar         :Beginilah jadinya, kalau segala sesuatu diserahkan pada yang bukan ahlinya.

Lukman                :Maksud, Abang?

Naga Bonar         :Si Maryam itu pencopet, kan?

Lukman                :Mantan, Bang! Mantan pencopet! Macam Abang juga!

Naga Bonar         :Iya, mantan pencopet! Nah, kenapa mantan pencopet bisa diangkat jadi staff ahli Menteri Peridustrian dan Perdagangan? Keahlian si Maryam itu kan mencopet, bukan berdagang?

Lukman                :Mungkin karena dia jago diplomasi, Bang! Jago melobi, maka dipercaya sebagai staff ahli menteri.

Naga Bonar         :Staff ahli! Ahli, cuiiiih! Ahli apaan yang bisa menyimpulkan harga telor naik karena Piala Dunia? Ahli apaan yang solusi mengatasi jatuhnya harga kelapa sawit adalah dengan menggantinya jadi perkebunan petai dan jengkol? Jengkel saya!

Lukman                :Abang iri ya, sama si Maryam?

Naga Bonar         :Iri? Kenapa aku harus iri? Aku tersinggung. Aku marah, Lukman! Aku marah karena pemimpin seenaknya saja menyuruh mengganti kebun kelapa sawitku jadi kebun jengkol atau kebun petai. Padahal kau sendiri kan tahu, bagaimana berharganya kebun kelapa sawit itu buatku.

Lukman                :Kelapa sawit harganya jatuh, Bang!

Naga Bonar         :Bukan soal harga yang kupermasalahkan, Lukmaaaan! Bahhhh! Tapi nilai kebun itu sendiri. Di kebun kelapa sawit itu Bonaga, anakku kubesarkan sendirian karena Kirana emaknya mati waktu melahirkannya. Di kebun itu dia menghabiskan masa kanak-kanaknya, menemani aku, bapaknya, alumni copet yang mencoba jadi manusia yang lebih baik dengan berkebun. Kelapa sawit itu pula yang menyekolahkan Bonaga sampai ke Inggris, agar dia juga jadi lebih baik ketimbang aku bapaknya, kau, si Maryam atau si bengak Bujang itu. Nahhhh, kini bisa-bisanya mereka menyuruh kebun kelapa sawit diganti jadi kebun petai atau jengkol?

Lukman                :Bang, kita ini sahabatan sejak kecil. Karena kesibukan pribadi, kita jadi jarang bertemu. Apa tak bisa, kesempatan langka ini kita gunakan untuk ngobrol yang ringan-ringan saja? Perasaan, tiap ketemu abang aku dapat omelan melulu? Ini aku bisa pulang kampung juga karena kebetulan libur, Bang! Alhamdulillah, rahmat Natal!

Naga Bonar         :Astagfirullah! Ngucap, Kau, Lukman! Rahmat Natal katamu?

Lukman                :Loh, emang salah? Natal itu bukan semata soal kelahiran, tapi juga mengenai kehidupan Yesus yang penuh hikmat. Ia datang membawa rahmat. Kata-katanya tak membakar kesumat, tapi mendatangkan selamat. Nasehatnya tidak.... (keburu dipotong Naga Bonar)

Naga Bonar         :Sersan Mayor Lukman Hakim Syaifuddiiin....!

Lukman                :Siap, Jendral!

Naga Bonar         :Kalau kau masih mengoceh juga, kuturunkan pangkat kau jadi Prajurit. Paham, KAAAAAUUUUUUU....! Bahhhh!

Lukman                : (diam)


***