Halaman

3 Feb 2012

Kelirumologi Twitter ???

Selain ilmu dan hal2 baru, twitter juga menyumbang banyak kekeliruan, setidaknya dalam pemakaian Bahasa Indonesia. Pembatasan jumlah karakter (huruf/angka) yang disediakan Twitter bagi penggunanya untuk ber-ekspresi turut andil dalam hal ini. Maka kata-kata ‘Anak Baru Gede Labil’-pun tidak cukup dipendek menjadi ‘ABG Labil’ saja. Masih harus disunat lagi menjadi ‘Ababil’. Bahkan kata yang hanya 3 huruf-pun seperti ‘aku’ juga butuh dikebiri menjadi ‘ak’ saja. ‘Gue’ menjadi ‘gw’, dan lain sebagainya.

Poconggg mempopulerkan istilah ‘bershower’. Sebagai ikon ‘penggalau’ dia  ingin men-pergalau followers-nya yang galau. Jika orang galau disuruh mandi terdengar terlalu biasa. Tapi jika sudah galau dan disuruh ‘bershower’ pula tentulah mereka akan makin bertambah galau, yak kan, Conggg ? Lagipula 'bershower' itu dari Bahasa Inggris.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Follower dan orang2 lain yang terinspirasi ternyata ‘sukses’ membuat kata- baru seperti ‘bershampo’ atau ‘bersabun’ (aihh, Mak Jang…!). Celakanya, kata2 yang digunakan adalah dari kata2 Bahasa Indonesia yang sudah mempunyai makna yang baku. Apa jadinya nanti kalau ada orang asing bertamu ke rumah kita, terus mereka kita persilahkan duduk dengan berkata,'berkursilah', hahaha....!

Padahal, di luar negeri sana (di Australia konon bahasa Indonesia sudah menjadi salah satu mata pelajaran resmi mulai dari tingkat SD sampai SMA. Salah satu perguruan tinggi di sana juga menjadikannya mata kuliah wajib, lho...! )

Oke, kembali ke Twitter...

Tapi, sudahlah. Toh, saya rasa memang masih banyak diantara kita yang memang (masih) tidak tau Twitter. Saya sendiri sampai sekarang masih berusaha menemukan asal-usul, sebab-musabab penulisan ‘RT’ diakhir setiap tweet yang kita balas. Saya juga mem-follow beberapa tweeple ‘bule’, dan belum pernah saya lihat mereka menulis ‘RT’ di akhir setiap tweet yang dibalasnya. Saya malah lebih sering melihat mereka menggunakan tanda kutip (“) saat mengakhiri balasan tweetnya.

Ada yang bilang ‘RT’ itu berarti ‘retweet’. Loh, bukannya ‘retweet’ sudah disediakan tombolnya tersendiri oleh Twitter, yang artinya bisa lansung diklik tanpa perlu menulis apa-apa lagi? Pada prakteknya, setiap kita menulis ‘RT’ itu kita sedang melakukan proses ‘Reply Tweet’, bukan proses ‘Retweet’. Dan saya pun sampai sekarang juga belum menemukan cara menulis ‘RT’ setiap ingin melakukan ‘retweet’. Kan memang tak bisa, ya ? LOL.

Dulu saya malah lebih suka menulis ‘Rp’ setiap membalas tweet, karena sepertinya lebih cocok untuk 'Reply Tweet'. Tapi demi kenyamanan dan agar yang lain bisa paham (kata seorang teman yang saya hormati) saya putuskan saja mengikut kebiasaan yang lain.

“Membenar-benarkan bahasa juga bisa merusak rasa bahasa”, kata seorang teman  pengasuh Grup Kelirumologi di Facebook juga menjadi pertimbangan.
            
“Biar keliru asal nyaman”, kata Kelirumolog, Jaya Suprana ikut mempengaruhi keputusan saya.
           
 “Kekeliruan yang disepakati sebagai sesuatu yang benar bisa menjadi kebenaran”, kata Budayawan idola saya, Prie GS.
           
 “Tapi saya tetap cinta ‘Rp’”, kata saya ngotot.
            
“SAYA JUGA”, kata yang lain, hahaha…!

*Postingan ini karena saya marah. Saya dendam pada Twitter. Dah 3 taun umat saya ga' nambah2. Saat ini diposting baru 14 orang. Itupun ga' sampai separoh yang aktif ngetwit. Kayak Facebook kek Twit..! Promosiin akun GUEEEEeee...! Lu juga, Blog ! Lu promosiin ga' blog gue. Masa followernya cuman satu orang ? Itupun gue sendiri. Awas, nanti kubuat juga postingan tentang lu..! Siap-siap aja lu...!

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...