Halaman

18 Mar 2012

Alangkah Lucunya Negeri Ini (Bukan Resensi Film)


Meski sudah lolos, tapi lihat demikian seriusnya Iran bertanding. Padahal memainkan pemain muda demi mendapatkan pengalaman, mengistirahatkan para bintang yang rentan cedera dan memarkir para pemain penting yang rawan sanksi kartu adalah alasan wajar dalam posisi seperti itu. Apalagi mereka bermain di kandang sendiri. Akibatnya Qatar terpaksa bekerja lebih keras menghadapi mereka.

Bahrain ternyata tak kalah serius menghadapi Indonesia. Meski hanya bisa lolos jika menang 10 gol, dan itupun masih harus berharap Iran ‘mau’ mengalahkan Qatar, mereka ternyata tak sepesimis itu. Masih di awal2 babak pertama dan sudah unggul 4 gol pun, pelatihnya sudah mencak-mencak setiap pemainnya melakukan kesalahan atau wasit keliru merugikan timnya. Dan ketika mereka tau di saat bersamaan Qatar masih belum sanggup menandingi Iran, mereka bermain makin serius, dan sukses mencetak 10 gol, sebagai syarat buat lolos.

Qatar yang menyadari Bahrain sudah mengungguli Indonesia sedemikian telak berusaha keras mengimbangi Iran. Usaha keras yang baru membuahkan hasil 4 menit sebelum pertandingan berakhir, skor: 2-2.

Indonesia ???

Qatar bahkan sampai harus menghiba ke FIFA agar Indonesia mau jadi pahlawan mereka. Syaratnya sepele: cukup jangan kalah sampai 10 gol, itu saja. Artinya Indonesia harus bermain dengan kekuatan terbaik mereka.
Apa lacur. Menurunkan para pemain ‘asing’ yang melarat pengalaman bukan saja mempermalukan diri sendiri, tapi juga melecehkan keseriusan Iran, menghina kengototan Qatar dan meledek kemampuan Bahrain serta mencederai semangat sportivitas.

Deretan fakta di atas membuktikan bahwa sepakbola bukanlah sekedar permaianan. Sepakbola adalah pekerjaan. Keseriusan Iran yang sudah lolos, perjuangan Qatar dan optimisme Bahrain menegaskan semuanya. Hanya para profesional yang tetap bekerja demikian serius, meski peluang untuk bersantai-santai demikian terbuka seperti Iran. Profesional seperti Qatar yang tetap bekerja keras menghadapi kesulitan pribadi ataupun masalah yang didapat dari luar. Profesional seperti Bahrain yang tetap optimis bekerja keras meski menyadari kesempatan berhasil teramat kecil.

10-0 bukan skor yang main-main. Hanya sesuatu yang serius yang bisa melakukannya.

Indonesia ???

Sepakbola hanya sebuah permaianan. Hanya ajang senda gurau. Dan memang, Indonesia adalah negeri yang lucu. Bahkan kemiskinan saja bisa jadi objek yang menghibur. Tangis si miskin yang tiba-tiba diberi 10 juta untuk kemudian dalam sekejab harus dihabiskan lagi adalah hiburan yang punya rating tinggi. Gubuk yang bisa disulap jadi ‘rumah’ hanya dalam sehari adalah hiburan, bukan hanya bagi si empunya, tapi juga bagi seluruh pemirsa TV. Hidung yang pesek dan gigi yang mancung adalah property yang menjanjikan di dunia hiburan. Pekak dan gagap bukanlah kekurangan, justru kelebihan. Intinya banyak hal yang bisa diangkat sebagai materi lelucon di Indonesia. Dan skor 0-10 itu benar-benar lelucon abad ini. Dan Indonesia berhasil membuat seluruh dunia tertawa.

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...