Halaman

6 Jan 2013

Buku dan Garut (yang) Dodol

Alam Indonesia begitu ramah pada tuannya. Batu saja bisa jadi tanaman. Tak heran kalau Indonesia disebut negara kaya yang memiliki hampir segalanya. Anehnya, meski punya segala, Indonesia malah dikenal sebagai negara yang konsumtif. Memiliki, tapi melulu membeli. Punya tapi masih beli itu bodoh. 

“Jangan melihat buku dari sampulnya,” kata nasehat. 

Tapi bagi orang bodoh, nasehat itu percuma. Selalu saja ada salah pilih. Karena berpasangan dengan artis, maka jadilah dia yang dipilih. Celakanya, artis ini juga keliru dalam memilih pasangan. Sadar telah keliru tak lama artis ini pun memilih mengundurkan diri. Eee … sang pasangan pun tak kalah. Jangankan berpasangan dengan artis, dengan istrinya yang muda lagi cantik pun dia cuma tahan empat hari saja. Cerai.

“Spek-nya tak sesuai, jadi tak apa-apa donk, dikembalikan?" Kira-kira begitu kilahnya.

Benar-benar dodol ya, Garut ? 

Bahkan bagi kebodohan, aneka pilihanpun tak meningkatkan peluang, justru makin membingungkan. Sudah bodoh, bingung pula. Benar-benar ruwet.

Nasehat soal buku itu jadi percuma. karena kita cuma suka belanja, tapi soal membeli buku kita tak suka. Karena tak akrab dengan dengan buku, kebodohanlah kemudian yang jadi pasangannya. Berpasangan dengan kebodohan bukanlah status yang membanggakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cobalah Berbeda!

Kenapa marak cerita perselingkuhan, drama rumah tangga atau roman berkedok religi dengan setting asrama atau pesantren? Yaa, karena yang dib...