Halaman

6 Jan 2013

Kentut-pun Hormat Padanya

”Raul, kamu bisa kan Corel Draw? Tolong dulu buatkan ini!”, kata atasan saya. 
Saya langsung merasa dilecehkan. Mestinya langsung disuruh saja, tak perlu ditanya dulu. Toh tanpa ditanya pun dia sudah tau kalau saya bisa mengerjakannya.

”Raul, kamu kan bisa Corel Draw. Tolong dulu buatkan ini!”

Mestinya begitulah susunan kalimatnya jika menyuruh saya. Lebih ramah terasa di hati. Bahkan saya merasa diapresiasi. Tapi karena atasan saya itu keliru menempatkan kata, saya jadi terluka. Merasa disepelekan. Soal remeh sebenarnya. Tapi bagi pribadi kecil (seperti saya), besar dampaknya. Mood langsung drop. Bekerja dalam keadaan begitu tak usah berharap akan hasil yang bermutu. Padahal ini Cuma soal keliru menempatkan kata ‘kan’ saja. Tapi itulah yang membuat batin saya terluka, merasa dihina.

Hidup ini rumit, jika dibuat rumit. Jika hidup hanya untuk meladeni soal-soal remeh, dunia akan terasa menyempit. Dunia mungkin takkan mengenal Einstein, jika hidupnya melulu memikirkan soal rambutnya yang berantakan. Padahal saya jamin, di jamannya belum ada tukang cukur, apalagi salon tempatnya bisa rebonding rambut.

Untuk jadi orang besar memang butuh melakukan hal-hal kecil. Tapi orang besar hanya melakukan yang besar-besar. Mereka tak perlu melakukan hal-hal remeh. Apalagi jika Cuma untuk untuk berpikir soal-soal remeh. Apalagi membesar-besarkan yang kecil. Karena yang kecil mesti hormat sama yang besar. Terhadap orang besar, kentut pun bahkan menaruh hormat. Kentut hanya akan memperdengarkan bunyinya, tapi tidak mengedarkan baunya. Karena bahkan kentutpun tahu cara menghormati tuannya, Si Orang Besar.

Jika meladeni hinaan terhadap Pak Habibie, bisa jadi kita sudah perang sama Malaysia. Badannya memang kecil, tapi Pak Habibie itu orang besar. Tubuhnya memang kecil, tapi otak semua. Baginya hinaan itu malah bisa jadi kegembiraan.

”Karena tiap hari mereka memperhatikan kita, tapi kita tak pernah memperhatikan mereka”, begitu tanggapannya. Sambil tersenyum pasti.

Gus Dur juga orang besar. Saya yakin, jika beliau masih hidup, menanggapi hinaan yang juga diperolehnya dia paling bilang,

”Gitu aja kok repot”


*Selamat Tahun Baru 2013, bagi yang membaca tulisan ini Selasa kemaren…;)

2 komentar:

  1. saya suka post ini, terutama pada kalimat2 ini :

    ”Raul, kamu bisa kan Corel Draw? Tolong dulu buatkan ini!”, kata atasan saya.
    Saya langsung merasa dilecehkan. Mestinya langsung disuruh saja, tak perlu ditanya dulu. Toh tanpa ditanya pun dia sudah tau kalau saya bisa mengerjakannya.

    ”Raul, kamu kan bisa Corel Draw. Tolong dulu buatkan ini!”

    Mestinya begitulah susunan kalimatnya jika menyuruh saya. Lebih ramah terasa di hati. Bahkan saya merasa diapresiasi. Tapi karena atasan saya itu keliru menempatkan kata, saya jadi terluka. Merasa disepelekan. Soal remeh sebenarnya. Tapi bagi pribadi kecil (seperti saya), besar dampaknya. Mood langsung drop. Bekerja dalam keadaan begitu tak usah berharap akan hasil yang bermutu. Padahal ini Cuma soal keliru menempatkan kata ‘kan’ saja. Tapi itulah yang membuat batin saya terluka, merasa dihina.


    saya juga pernah merasa begini hahahhaa....

    BalasHapus
  2. Mendingan situ, saya ga cuma pernah. Sering malah, hehehe...!

    BalasHapus

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...