26 Jan 2013

Paradoks Sampah


Orang Indonesia itu ramah-ramah dan bersahabat, asal tidak berhadapan dengan tukang sampah. Di radio dan koran saya sering dengar dan baca soal tukang sampah yang lalai dalam tugasnya. Kelalaian yang terkadang amat menyebalkan sehingga mesti diadukan kepada atasannya.

”Tolonglah Pak Dinas Kebersihan! Sudah 2 minggu lebih sampah di komplek perumahan kami tidak diangkat. Baunya itu lho, Pak ! WOW…! Padahal kami selalu taat bayar iuran kebersihan. Ga’ pernah telat. Tolong yaa, Pak!”, begitu kira-kira sering saya dengar pengaduan warga di radio atau saya baca di rubric ‘keluhan warga’ di Harian Kota saya. Itu versi yang tergolong masih sopan. Ada juga yang agak kasar.

“Tolong yaa, Pak! Kami kan sudah bayar. Jadi tolong lakukan kewajiban Bapak….!”

“Gimana, sih? Giliran mungut iuran lancar! Giliran ngangkatnya, macet….!”, Udah kasar nih.

“Duitnya cepat, kerja lambat. Makan gaji buta. Bla…bla…bla…!”

Yang kasar benar juga ada. Tak enak saja nulisnya. Intinya beragam perasaan kami terhadap tukang sampah yang (kami anggap) lalai itu. Dari yang sabar, kecewa dan jengkel sampai kepada marah dan geram. Tapi alhamdulillah, akhirnya mereka datang juga.

Tapi..

Jika sebelumnya beragam perasaan kami terhadap mereka, setelah datang dan mereka mulai bekerja, nyaris seragam belaka reaksi kami: MENUTUP HIDUNG.

Ada dua sebab kenapa kita menutup hidung. Pertama, karena bau. Kedua karena jijik. Tapi yang saya yakini, karena alasan kedualah kami menutup hidung saat itu. Jika karena aromanya, itu adalah bau yang dengannya kami telah akrab. Mustahil kita tak suka sama bau yang telah akrab dengan kita. Itulah makanya saya yakin bahwa kami menutup hidung karena jijik.

Jijik ini juga ada 2. Pertama jijik kepada sampahnya. Kedua, jijik kepada tukang sampahnya. Jijik kepada sampahnya juga tak mungkin, karena alasan yang sama dengan yang di atas. Sampah itu sudah berhari-hari berdampingan dengan kami. Jadi kesimpulan saya, kami jijik kepada tukang sampahnya.

Mereka tersinggung dan terhina itu pasti. Tapi saya tak hendak membela para tukang sampah itu. Juga tak hendak mencari sebab, kenapa mereka lalai terhadap kewajibannya, (meski saya curigai juga, bisa jadi karena melulu tersinggung dan dihina itulah penyebabnya). Saya jadi ingin melihat ‘kelucuan’ pada diri saya sendiri terlebih dulu. Saya butuh mereka, tapi saya jijik sama mereka. Butuh tapi jijik. Jijik tapi butuh. Menyuruh datang tapi tak suka saat mereka dating. Tolong carikan padanan kata yang lebih halus ketimbang kata MUNAFIK yaa, Friends…!

Nabi Muhammad SAW mestinya meninjau ulang ciri-ciri orang munafik seperti yang telah disabdakannya selama ini. Bukan karena salah. Cuma kurang lengkap. Mestinya ditambahkan lagi. Yakni ciri ke-4:

“Orang yang munafik adalah orang yang butuh tukang sampah, mengundang mereka untuk mengangkat sampah, tapi menutup hidung ketika mereka telah memenuhi undangannya”.

Related Posts

Paradoks Sampah
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.