6 Jan 2013

Sepakbola & Haji Romli

Dihina itu sakit. Bersabar itu berat. Jadi jika kita tetap sabar sambil dihina berarti kita adalah orang kuat. Karena hanya orang kuat yang sanggup mengatasi berat, meski sedang sakit sekalipun.

Hinaan itu menguji kesabaran. Tak banyak manusia yang mampu lulus dari 3 soal itu sekaligus: dihina, diuji dan bersabar. Sudah begitu, 3 bedebah itu kompak pula mengeroyok sekaligus.

Pertama soal hinaan. Hinaan itu unik. Makin diabaikan, dia makin membesar. Pertama-tama mungkin cuma soal sepakbola. Terus berkembang jadi adu gengsi antar Negara. Adu gengsi belum cukup meningkat jadi soal kehormatan dan harga diri bangsa. Masih kurang, seluruh dunia musti tahu, upload di Youtube. Terasa masih kurang, bahkan binatang seperti ‘anjing’-pun kalau perlu dilibatkan.

Itu baru soal hinaan. Ada lagi ujian. Untuk lulus dari ujian itu sungguh soal tak mudah Sebelum lulus mesti diuji dulu. Sebelum diuji, mesti layak uji dulu. Padahal untuk jadi manusia layak uji saja itu juga tak sepele. Mata saya sering berkunang-kunang melihat seribu perak berpindah tangan ke tukang parkir. Meski sudah dihibur, batin saya perih pada pengamen di warung2 makan tenda kaki lima di pinggir jalan. Bukan soal pengamennya, tapi soal seribuan yang keluar dari dompet saya. Jadi, jika ada orang yang layak uji dan lulus pula, maka saya amat menaruh hormat padanya.

Kesabaran? Ini yang terberat. Sejatinya kesabaran itu tak terbatas. Ia mungkin menipis, tapi tak bisa habis. Di titik inilah biasanya hukum alam bekerja. Si penghina mungkin akan frustasi, capek, dan berhenti sendiri. Teman saya sampai 9 kali (katanya) mengikuti ujian untuk proses pembuatan SIM, tak lulus-lulus.

“Entah karena bosan atau karena kasihan, Pak Polisi itu akhirnya ‘meluluskan’ juga” katanya.

Si Fandy di Film Kiamat Sudah Dekat akhirnya diterima jadi mantu oleh Pak Haji Romli. Jika saya adalah si Haji Romli, sedari awal itu anak sudah saya tolak. Tapi demi mengetahui kualitasnya, Haji Romli malah memilih untuk mengujinya, dan celakanya anak itu lulus, pas di titik kritis antara pasrah atau kalah. Rela atau pasrah, anak itu jadi menantunya. Hukum alam bekerja dengan sendirinya. Kita sendiri tahu hukum yang terkuat adalah hukum alam. Yang kuat akan bertahan. Dan orang yang kuat adalah orang yang lulus dari ujian hinaan dan kesabaran.

*Go Indonesia ! Hancurkan Malaysia, hahaha…!

Related Posts

Sepakbola & Haji Romli
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.