26 Mar 2013

Sir Alex Ferguson, Saya dan PR Matematka

Sir Alex Ferguson, Saya dan PR Matematka



“Raul, tolongin donk! PR Matematika anakku ini. Kan kabarnya kau ini dulu jagonya Matematika!”, pinta temanku.

“Sori ya! Sekarang saya lebih suka menggunakan otak untuk berpikir masa depan. Bukan untuk mengingat-ingat kejayaan silam”, elakku.

Sebenarnya saya ingin sekali membantu. Apalagi bagi orang yang sudah meninggikan saya serupa itu. Masalahnya, saya ternyata sama sekali tak sanggup melakukannya. Semua hal yang dulunya saya begitu jago, sekarang malah cuma menegaskan bahwa saya ini bego’. Saya merasa sudah keburu tua, jadi soal-soal begitu semua sudah di luar kepala (lupa, maksudnya…!)

Jawaban saya versi aslinya sebenarnya begini,

“Saya ini sudah tua. Sudah lupa semua pelajaran-pelajaran sekolah dulu”

Begitu jawab saya yang sebenarnya. Belakangan saya menyadari, jawaban sebenarnya itu juga masih keliru.. Karena saya merasa sudah keburu tua, saya menolak untuk bisa. Padahal matematika adalah ilmu pasti (kata orang…?). Bagaimana mungkin untuk hal-hal yang sudah pasti itu saya yang sudah dianggap sebagai pakarnya tak bisa berbuat apa-apa.

            Saya jadi teringat sama Sir. Alex Ferguson, pelatih klub sepakbola Manchester United. Saya tak habis pikir, bagaimana mungkin kakek (umurnya sudah di atas 70 tahunan) setua itu masih sanggup berpikir cara mengalahkan klub Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions musim ini, 2012/2013. Padahal sepakbola bukanlah matematika. Lawannya Real Madrid pula.

Siapa saja yang mesti dijadikan starter. Van Persie dan Rooney, atau Cicharito? Siapa pengganti Kagawa yang lagi cedera. Kipernya, De Gea yang labil tapi main bagus di leg 1, atau Lindgard yang lebih senior tapi minim jam terbang? Itu baru soal starting line-up. Belum soal strategi. Harus menang atau cukup ngincar hasil imbang? Tapi bagaimana jika Madrid cetak gol duluan?

Itu juga masih strategi coret-coretan di atas kertas. Padahal intinya di lapangan. Bagaimana jika ternyata salah satu pemainnya terkena kartu merah? Apa yang mesti dilakukan? Siapa yang mesti diganti dan siapa penggantinya.

Itu baru soal strategi. Kakek tua itu juga mesti tahu soal-soal kejiwaan. Masalah beban mental dan psikologi. Manchester United adalah harapan Negara. Chelsea yang juara bertahan sudah keok duluan. Demikian juga si ‘Tetangga Berisik’ Manchester City bahkan di babak penyisihan saja sudah tak berdaya. Arsenal yang diharapkan juga lagi kembang-kempis menyusul kekalahan di kandang sendiri, telak 1-3 dari Muenchen (sebagai Gonners, sebenarnya saya ga tega nulis beginian). Jadi MU satu-satunya harapan Inggris.

Itu soal mental. Soal-soal kedokteran dia juga mesti menguasainya. Sanggup ga Si Evra yang sudah 35an beradu sprint sama Ronaldo yang sedang di usia emasnya, misalnya? Berapa menit Van Persie yang baru sembuh dari cedera ‘takilia’ bisa berada di lapangan?

Itu semua baru soal 1 pertandingan. Padahal setiap minggunya kadang sampai ada 3 pertandingan, dengan lawan, strategi dan kondisi yang juga berbeda. Bagaimana mungkin si Kakek ini bisa menghadapi itu semua. Otak seperti apa yang dia punya?

Memang pada akhirnya timnya gagal menghadapi Real Madrid. Tapi pasti tak mengurang kebesaran seorang Alex Ferguson. Toh sampai tulisan ini di posting MU masih memuncaki klasemen Liga Inggris dengan keunggulan yang masih cukup besar ketimbang para pesaingnya.

Saya membayangkan jika saja si Kakek Tua itu memilih pensiun dan hidup ‘sendirian’ di kampungnya karena merasa sudah tua, dia akan segera ‘mati’. Mati tanda kutip karena dia bisa jadi mati beneran atau cuma mati jiwa. Jauh dari sepakbola yang dicintainya tentu membuat jiwanya amat menderita. Itulah kenapa banyak orang2tua sederhana yang tetap memilih tinggal di kampong ketimbang ikut sama anaka menantunya di kota yang memang jauh dari jiwanya. Berpisah dari kebun dan cangkul itu membuatnya kehilangan jiwa. Bukan kehilangan yang remeh, karena ditinggal kekasih saja seorang pemuda gagah perkasa bisa jadi Cuma seonggok mayat yang tergantung di tali raffia. Itu banyak ditemukan di Negara saya. (Oh ya, kebetulan I’m an Indonesian, hahaha…!). Apalagi kehilangan jiwa, bagi kakek setua itu.

Ternyata semua cuma soal sederhana. Kakek ini menolak pensiun karena merasa masih muda. Tak tau diri memang. Tapi narsis itulah yang membuatnya tetap eksis sampai sekarang. Tua itu pasti. Tapi menjadi Tua Keren itu pilihan.

*Postingan ini untuk menjawab komentar seorang teman di Facebook kenapa saya masih suka update status (dan nonton ‘Hallo Selebriti’, hahaha…!)