29 Apr 2013

Buruk Rupa Menang Nama


Secara geografis, letak kampung ini sungguh mengharukan. Di bawah tebing, tapi di bawahnya rawa. Bingung ? Maksudnya: Mau maju terhalang tebing, mau mundur dihadang rawa.. Di situnya tebing, tapi di sananya rawa. Agak ke situnya lagi komplek Industri dan perusahaan-perusahaan Elektronik. Sementaranya agak ke sananya lagi area perusahaan galangan kapal. Kampung itu dibelah dua oleh sebuah jalan tempat lalu lalang karyawan dan kendaraan proyek yang becek jika hujan dan berdebu di kala kering. Beberapa bulan belakangan di tengah jalan itu terletak sebuah kotak sumbangan yang mempertegaskan kemiskinan mereka, tepatnya sejak sebuah kebakaran menimpa kampung itu. Kebakaran yang (saya yakini) amat mengintimidasi kemerdekaan mereka. Rawa yang sebelumnya berupa sungai sekarang nyaris sudah jadi daratan karena penimbunan demi perluasan wilayah perusahaan. Sesaat demi sesaat pemekaran areal itu menginvasi kampung mereka.

Setiap hari saya melewati kampung ini karena perusahaan tempat saya bekerja juga berlokasi di sana, bertetangga dengan mereka. Sebagai karyawan perusahaan itu, otomatis mereka adalah juga tetangga mereka. Jadi saya pun mesti bersikap layaknya sebagai tetangga yang baik. Mengendurkan gas motor jika memasuki kampung mereka. Semata bukan karena takut akan menabrak ayam, kucing atau anjing peliharaan mereka. Juga bukan karena banyak anak-anak yang bermain di tengah jalan. Tapi demi kesopanan dan penghormatan terhadap mereka. Selalu saya sempatkan berbagi senyum dan tegur sapa. Apalagi, siapa tahu suatu saat saya juga jadi bagian dari mereka. Kan, Dian tinggal di sana, hahaha…;)

Setiap Jumatan saya jalan kaki ke masjid kecil kampung itu. Puluhan kali sholat di sana, baru saya sadari bahwa masjid kecil itu bernama: Masjid Raya Rawa Sari. Hahaha…! Pilihan nama yang cerdas, optimis dan berselera humor. Nama bukan sekadar doa. Nama adalah mandat bagi penyandangnya. Memikul nama ‘raya’ bagi masjid yang kecil itu sungguh bukan lagi sekedar doa, tapi mesti diupayakan. Itulah kenapa sampai sekarang mesjid kecil itu terus membangun dan membesarkan fisiknya. Sampai tulisan ini dimuat, sepertinya pemasangan keramik akan dimulai. Nama yang sekadar doa tanpa upaya menjadikannya nyata adalah doa gagal makbul paling abadi sepanjang masa. Itulah kenapa ada Bupati yang meski bernama Fikri, bukan saja gagal memikul amanat rakyatnya juga gagal terhadap mandat nama yang disandangnya. Tentu karena tak ada upaya menjadikannya nyata. Nama itu berakhir sekadar data semata. Kita sendiri paham, bahwa ada banyak data mengaburkan, bukan mengabarkan fakta.

Meski merupakan nama sebenarnya, Rawa Sari sebagai nama kampung tentu bukan nama sebagai doa. Ini serupa nama panggung yang bernilai komersil. Semua yang sifatnya komersil tentu mesti menarik. Ia bak nama panggung bagi artis dan selebritis. Sebagai kampung, ‘rawa’ itu buruk rupa.Tapi sebagai nama, ‘sari’ bisa membuatnya menarik. Itulah yang nama yang menghias si buruk rupa menjadi.lebih artistic. Karena jika sudah buruk rupa dan gagal artistic pula itu adalah musibah sempurna bagi gairah hidup. Hidup yang tak bergairah bukanlah hidup yang bermutu, bukan…? Jadi biarlah buruk rupa, paling tidak menang nama.

Eeh, suer…! Saya betul-betul penasaran. Namanya Dian Ermi Sari atau Dian Rawa Sari, sih…?
Hahahaha…;)

Related Posts

Buruk Rupa Menang Nama
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.