Halaman

26 Jun 2013

Mobil-mobil Tetangga Saya


Hidup ini cuma soal sudut pandang. Baiknya, sudut pandang itu bisa digeser, sesuka hati kita pula. Boleh saja marah-marah terhadap tetangga yang mobilnya diparkir sedemikian rupa hingga sedikit menganggu bagi calon-calon tamumu yang juga punya mobil dan butuh diparkir. Apalagi jika itu adalah di depan tempat usahamu. Pasti kamu butuh ruang buat para tamu dan pelangganmu, bukan?

Hal begitulah yang juga menimpa saya. Saya bertetangga dengan bengkel mobil yang sama sekali hampir tak punya ruang untuk meladeni semua mobil-mobil yang diservisnya itu. Celakanya, bengkel ini pasiennya banyak sekali. Akibatnya, bukan saja halaman saya, tapi juga milik tetangga-tetangga yang lain ikut terjajah.

Sebagai sesama pengusaha tentu saja saya ikut terganggu. Saya punya banyak alasan yang sah untuk keberatan terhadap tetangga saya itu. Tapi dengan menggeser sudut pandang, saya bisa bersikap beda.

Ini bukan persoalan yang perlu dibesar-besarkan. Ini romantika hidup bertetangga saja. Hidup bukan cuma soal saling menolong, tapi juga saling merepotkan. Dengan restu untuk memarkirkan mobil dia tentu bisa jadi tetangga yang baik. Setidaknya jika ditinggal, dia akan ikut menjaganya tempat usaha saya, 

Selain itu, para pelanggannya pun potensial jadi pelanggan saya. Dia pasti akan selalu promo usaha saya pada para pelanggannya. Bukan promosi asal-asalan, karena dampaknya bisa besar sekali. Kamu tahu, kan? Para pelanggannya adalah para pemilik mobil.

Selainnya lagi, jika butuh, saya juga bisa pinjam berbagai peralatan bengkelnya tanpa repot akan dicurigai sebagai peminjam yang tak bertanggungjawab. Selebihnya tentu soal romantisme saya dengan Tuhan. Janji pahala dari Tuhan jika berbaik-baik dengan tetangga, tentu tidak sekadar janji kosong, bukan?

*Selamat Siang…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...