Halaman

26 Jun 2013

Pembangkang Sampah


 “Mengeluh itu dekat dengan kekufuran”, sabda Raul.

Nyatanya, bukan manusia saja yang bosan terhadap curhat dengan tema mengeluh. Bahkan Tuhan saja muak terhadap manusia yang mengeluh melulu.

Mengeluh berarti tidak bersyukur. Tidak bersyukur berarti kufur nikmat.

“Yang kufur nikmat itu adalah termasuk orang-orang yang merugi”, begitulah kira-kira kutipan bebas dari Al-Qur’an.

Kemudahan hidup adalah rejeki. Jadi jika ingin kemudahan itu, yaaa…mestinya kita selalu bersyukur. Kan Tuhan sendiri yang sudah menetapkan rumusnya. Bahwa orang-orang yang ditambah rezekinya adalah orang-orang yang selalu bersyukur.

“Tiap hari saya dimarahi atasan saya. Marahnya pun soal itu-itu melulu. Bagaimana targetmu hari ini?”, begitulah kira-kira ‘curhat’ seorang teman yang (baru) berprofesi sebagai sales terhadap calon nasabahnya.

“Bosan saya, tiap hari ditanya begitu selalu. Saya jadi malas ngapa-ngapain. Mau berhasil atau tidak, selalu ditanyain begitu”, lanjutnya.

“Yaah, kalau kau bekerja dengan hati kesal begitu, bagaimana mungkin bisa berhasil”, kata calon nasabah yang membuatnya langsung JLEB.

Persoalan yang dihadapi si teman ini mungkin (menurutnya) sudah keterlaluan. Saking keterlaluannya, dia butuh curhat kepada semua orang, termasuk kepada calon nasabahnya sendiri. Curhatnya pun soal kerjaan, dengan tema keluhan pula, hahahaha…!

“Sebenarnya sejak awal saya sudah tak mau kerja beginian. Cuma karena tak enak sama orang yang menolong saya saja. Gara-gara nama dia maka saya diterima kerja di sini”, curhatnya sama saya.

“Ceritanya gimana?”, Tanya saya pura-pura tak tau. Kalau bagian ini demi kepentingan tulisan ini saja. Karena saya tahu persis gimana kronologisnya…;)

“Karena saya menganggur, dan dia mau menolong saya makanya ketika ada kenalannya yang butuh karyawan, maka saya direkomendasikan. Saya orang baik, dan dia orang yang saya hormati. Jadi demi menghormatinya, saya terima tawaran itu. Maka jadilah, saya diterima bekerja”, jelasnya.

“Kalau begitu, jangan lihat persoalan marahnya. Ingat saja soal tanggungjawab menjaga nama baikorang itu! Beres", nasihat saya sok bijak.

Tak ada yang aneh soal dimarah atasan. Atasan yaa, marahnya pada bawahan. Marahnya atasan itu sehat lagi menyehatkan, lho ! Atasan marah demi melepaskan tekanan dari atasannya lagi. Bagi bawahan, dimarah itu juga untuk melepaskan ketegangan dan kegelisahan hati. Karena sebelum dimarah, tapi kita sudah paham akan dimarah normalnya, kita tegang dan gelisah. Kita baru lega biasanya justru setelah kita dimarah. Jadi apanya yang keliru soal dimarah itu?

???

“Mengeluh itu menghambat karir”, kata Prie GS.

Karena saya karyawan baru dan sebagai bawahan pula, saya melulu yang disuruh Boss mengangkat sampah dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di luar. Sudah berat, lumayan jauh pula.

Apa boleh buat, terpaksa saya taati. Pertimbangan saya banyak. Pertama tentu soal sampahnya. Yang pasti, dia mesti dibuang segera. Berikutnya soal keberatan, kenapa saya melulu yang disuruh, padahal masih banyak teman-teman yang lain. Saya punya alasan yang sah untuk itu. Ini soal keadilan. Diberlakukan dengan tidak adil membuat saya jadi tidak nyaman dalam bekerja, itu alasan berikutnya.

Tapi saya juga mengerti konsekwensi jika saya menolak melakukannya. Yang pertama tentu saja, sampah itu masih di situ saja letaknya. Tapi berikutnya, saya juga akan dilabeli sebagai pembangkang. Di-cap sebagai pembangkang pasti tidak baik demi karir saya.  Apalagi kata ‘Pembangkang’ itu juga dilengkapi dengan kata ‘Sampah’nya. Adalah prestasi memalukan di-cap sebagai pembangkang dan cuma oleh soal sampah pula, hahaha…;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...