Halaman

4 Jun 2013

Saya Keren Maka Saya Galau (Tamat)


Kecewa mestinya saya karena Chua, bassist Kotak yang Masya Allah cantiknya itu tak kunjung mengapruv permintaan pertemanan saya di Facebook. Apalagi si Sheila, keponakan si Barong dalam sinetron Para Pencari Tuhan juga tak menerimanya. Begitu pula ketika saya gagal menemukan di mana Ayu Pratiwi yang asli. Tapi saat Ribas, penyanyi sekaligus pencipta lagu idola saya mengapruvnya, begitu gempita perasaan saya. Apalagi dia juga selalu membalas setiap email yang saya kirim. Malah ketika dia memuji saya sebagai TEMAN yang paling baik, karena kelakuan bodoh saya, tak terkira perasaan saya saat itu. Saya memang pernah sedemikian konyol bilang padanya, kalau sudah 2 tahun lebih saya menggunakan NSP lagunya dan selalu memaksa teman yang lain untuk menggunakannya pula. Saya bilang padanya saya berhasil memaksa 12 orang teman untuk menggunakannya juga. Dia selalu membalas setiap email yang saya kirim, meski isinya amat menggalaukan buatnya.

“Dear Ribs, penggemarmu di Batam cuma 3 orang. Saya, seorang teman yang telinganya sudah saya jajah dengan lagu-lagumu dan keponakannya yang masih kelas 6 SD. Ayoo, donk ! Promo ke Batam!” email-ku.

Meski jawabnya cuma ‘Insya Allah’, itu amat menggembirakan saya.

Jadi ketimbang menangisi Chua atau Sheila, saya lebih memilih gembira karena Ribas. Apalagi kemudian banyak juga seleb2 idola lainnya yang bersedia mengapruv proposal permintaan pertemanan dari saya.

Tak mudah lho, mengajukan permintaan pertemanan dengan selebritis. Mereka tak punya pertalian apapun dengan kita di dunia nyata. Ada kuota jumlah teman yang mesti ditaati agar akun kita tidak dianggap spam dan diblok oleh Facebook. Jadi sebagai selebritis dengan banyak penggemar pasti butuh seleksi ketat untuk lulus dan lolos jadi temannya. Pasti butuh suatu yang special hingga mereka bersedia mengapruvnya. Jadi saya merasa amat keren saat itu terjadi.

Puncaknya, ketika ada seorang (cewek donk, pastinya, hahaha…) yang  sepertinya menyukai apdetan-apdetan status saya. Dia memasukkan saya ke dalam Grup yang juga diikutinya. Bukan grup yang sembarangan tentunya, karena dia mesti cocok dengan gaya apdetan status-status saya. Artinya: dia paham siapa saya. Dia (pasti) menikmati apdetan-apdetan status saya.

Saat di apruv para selebritis saya CUMA MERASA keren. Merasa keren kan belum tentu beneran keren, bukan? Oke, apdetan status-status saya berkelas. RATUSAN malah yang di copas mentah-mentah oleh seorang teman saya (via email, jika pengen tau orangnya, hahaha…;). Juga saya temukan diposting di beberapa blog. Ada yang punya teman, tapi ada juga blog orang yang tak saya kenal (tapi eloknya dia bagi link akun saya).

Saking narsis karena merasa keren, saya sempat posting bahwa saya adalah kandidat serius RI 1 periode 2014-2019, hahaha….! Tapi keren kan butuh bukti, bukan?

Semua yang di atas belum membuktikan apapun betapa kerennya saya. Saya memang merasa keren, karena berteman dengan banyak selebritis (meski cuma di Facebook, hahaha…!). Saya memang merasa keren, karena banyak status Facebook saya di-copas. Tapi semua itu tak menjelaskan apapun, sepanjang yang mengakuinya cuma teman-teman saya. Juara sejati adalah juara yang mendapat pengakuan dari pesaingnya. Kamu tau kan, apa artinya pesaing itu. Dia adalah orang yang mesti dikalahkan. Makin berkualitas pesaingmu, makin banyak cara yang mesti kau gunakan untuk menaklukkannya. Jika perlu segala cara.

Jadi paham kan, kenapa saya merasa gembira saat di-remove oleh (pacar) Dian? Dia tahu saya keren. Dia mengakui bahwa saya keren. Me-remove saya berarti dia memastikan betapa keren saya memang nyata adanya, hahaha…! Celaka baginya, karena ini juga mengabarkan sekaligus bahwa dialah sang pecundangnya (bagian ini saya sama sekali tak tega nulisnya. Kasihan Dian…;). Sebabnya cuma satu: dia memilih cara yang keliru, mengakuinya dengan me-remove saya. Kebijakannya itu malah bisa jadi blunder. Apa jadinya bila Dian tahu saya, seorang penggemarnya dikorbankan. Simpati pada saya pasti. Tapi jika cuma begitu tak mengapalah. Tapi bagaimana jika Dian simpati pada saya, tapi sekaligus sebal pada kebijakan yang diambil sang pecundang ( Eeh..maap…!). Masih tak mengapalah jika cuma sebal terhadap kebijakannya. Yang bahaya, dia simpati sama saya, sebal pada kebijakan itu, sekaligus terhadap si pembuat kebijakan tak perlu itu. Gawat, kan? Bukan gawat buat saya, tapi buat hubungan mereka.

Menegaskan keunggulan saya sekaligus memamerkan kekalahannya. Penonton akan tahu bahwa kemenangannya cuma satu: punya password akun Dian. Padahal dalam sebuah kompetisi, menang sekali takkan berarti jika kalahnya berkali-kali. Sebaliknya kekalahan sekali tak jarang malah jadi terapi penyembuhan yang mujarab. Pentas EURO 1988 di Jerman adalah salah satu contoh kasus terbaiknya. Belanda kalah 0-1 di babak penyisihan dari Uni Sovyet, tapi menang 2-0 atas lawan yang sama di final. JUARA.

Skenario yang semestinya adalah begini. Dia tahu bahwa saya keren, karenanya dia mesti menghormati saya, demi restu dan respek dari saya. Sikap saya. Sebagai orang keren, tentu saja saya akan balas menghormatinya. Saya takkan mencederai ke-kerenan saya dengan memusuhinya, misalnya. Toh selama ini, meski sering menulis tentang Dian, tapi tak sekalipun saya me-mention nama Dian semata demi hubungan mereka. Saya tak mau jika apdetan saya malah muncul di dinding Dian yang bakal mengacaukan romantisme mereka. Dian buat saya cuma property (hahaha…!) tulisan saya buat teman-teman saya (termasuk Dian tentunya), bukan bagi teman-temannya.

*Intinya postingan sebanyak ini menegaskan bahwa saya sedang galau, dan Dian memang top. Semakin saya kecewa karenanya, semakin bertubi tulisan-tulisan saya tentangnya. Selamat Ulang Tahun, deh...!

2 komentar:

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...