21 Jul 2013

Lihatlah Bulu Hidungmu Sendiri


Saya betul-betul kecewa dengan perlakuan manajer saya. Padahal semua sudah saya buktikan. Saya bahkan teramat yakin, saya adalah rekrutan terbaik perusahaan, setidaknya selama 3 atau 4 tahun terkahir.

Saya yang mengajari karyawan-karyawan senior untuk mengoperasikan ini itu, yang sebelumnya cuma bisa dikerjakan oleh supervisor saya. Artinya: level saya, setidaknya sudah mendekati kemampuan supervisor saya. Teman-teman senior pun juga menghormati saya. Mereka banyak bertanya tentang berbagai hal terkait pekerjaan. Apalagi supervisor saya. Saya adalah orang pertama yang dimintainya pendapat terhadap banyak hal. Mulai dari solusi masalah pekerjaan atau berbagai inovasi kreatif demi peningkatan kualitas dan efektifitas kerja.

Teman-teman senior juga merasakan banyak perubahan sejak saya bergabung dengan mereka. Saya punya banyak joke yang tidak saja segar (karena kreasi saya sendiri, hahaha…*bangga), tapi juga cerdas. Saya juga punya banyak cara mengkreasi kegembiraan yang entah bagaimana, tapi pasti lewat cara yang tak bisa diduga. Semuanya pasti sangat membantu demi kegembiraan dalam bekerja. Lebih jauhnya lagi, pasti juga amat bermanfaat bagi peningkatan kualitas kerja. Sebagai seorang sarjana dan lulusan UGM pula, manejer saya pasti tau donk, korelasinya….?

Lha wong, supervisor saya saja pasti menyadarinya, kenapa manejer tidak? Itulah kenapa baru dalam 6 bulan saya sudah direkomendasikannya untuk promosi naik grade, level selanjutnya.

“Ini rekor. Belum pernah ada di perusahaan ini yang dipromosikan secepat ini. Biasanya sih, paling cepat 1.5 tahun”, katanya saat memberi tahu bahwa saya telah direkomendasikannya.

Tapi, kenapa mentok di keputusan manejer, bahkan sampai setahun kemudian…???

Saya sebenarnya iri sama teman-teman yang lain. Gaji saya paling rendah. Grade saya paling rendah. Eee,,, si Anu dan si Anu malah dipermanen? HAAAAH…? Padahal ketimbang saya, mereka itu kan ga’ ada istimewa-istimewanyanya?

Meski kerap membangkang, kontrak saya selalu diperpanjang Meski karyawan paling baru, mestinya kan saya yang dipermanen, gaji dan grade paling tinggi karena kan saya yang mengajari teman-teman saya begini begitu. Meski absent saya amburadul, supervisor telah merekomendasikan saya untuk dipromosi. itu berarti dia mengerti pentingnya kontribusi saya.

Begitulah…!

Saya merasa layak mendapat lebih, sementara manajer berpikir sebaliknya. Sudut pandang kami berdua ternyata berbeda. Cara pandang kami yang tak sama itu menghasilkan penglihatan yang berbeda. Celakanya perbedaan itu amat bertolak belakang. Saya melihat semua yang positifnya, sementara manejer melihat semua yang negatifnya. Yaa…absent saya yang amburadul. Raul yang tak mau disuruh lembur karena alasan yang dibuat-buat

            “Saya ga’ bisa lembur malam ini, Pak! Saya ada acara Pelantikan Pengurus Harian Komunitas Pemirsa Hallo Selebriti DPC Kota Batam Periode 2013-2017, Pak!”, begitu alasan saya, hahahaha….!

Manejer malah melihat bahwa Siraul Nan Ebat itu pembangkang dan suka memprovokasi. Dan tak tahu dirinya masih karyawan baru pula.

Mestinya saya juga bisa melihat dengan cara pandang yang lain. Tapi karena tidak pernah berkaca, maka saya tidak bisa melihat bulu hidung saya sendiri, dan malah cuma bisa melihat bulu hidung orang (teman-teman saya) yang lain.

Astagfirullahaladzim…!

Related Posts

Lihatlah Bulu Hidungmu Sendiri
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.