10 Okt 2013

Galau Itu Perlu


Posting Hari Ke-10

Satu yang paling ingin dirubah dari prilaku saya adalah sombong. Soal sombong ini saya jagonya. Saya adalah orang yang paling ini dan paling itu. Semuanya berpusat pada pribadi saya sendiri, dan tadi saya kena batunya.

Brieffing mendadak berselang sejam setelah briefing pagi. Semua karyawan (di section kami saja) dikumpulkan gegara saya. Saya yang sok bossy, sok hebat dan aneka sok lainnya.

”Suruh saja, tak usah pake ngotot”, begitu kata anak-anak baru.

”Bukannya diajari, malah saya dijatuhkan”, kata yang lainnya dengan isak tertahan. Jujur, ga tega saya melihatnya.

“Masalah di luar jangan dibawa-bawa ke tempat kerja”, kata atasan saya.

“Tak usah gontok-gontokan. Kita semua ini sama-sama makan gaji”, kata teman yang lain.

“Jangan merasa yang paling hebat. Tidak jengkol saja yang bau, petai juga. Dan masih banyak yang lebih bau dari keduanya”, kata supervisor.

“Iyyya. Saya minta maaf. Saya salah!”, itu saja komentar saya.

Suasana lagi panas. Saya tak ingin memperkeruhnya. Permasalahannya, tak semua bisa berbesar hati terima permintaan maaf saya. Okeh, sip, tak apa-apa. Saya mengalah saja. Makanya itu saya pilih pulang, agar tak menganggu suasana kerja.

Eee tapi saya juga berhak donk, membela diri. Terpidana saja butuh dibela hak-haknya. Jadi sori, di sini saja yaa…!

*Allamaaak, curhat rupanya… :D

Soal bercanda saya memang keterlaluan. Tapi candaan saya itu kan cerdas. Saya belagak boss itu kan mestinya dilihat pake logika. Tahu kan, bahwa saya bukan Boss? Jadi kalau sudah tahu, kenapa dianggap serius. Mestinya tahu donk, kalau saya lagi becanda?

“Hey kau, siapa nama kau?” begitulah salah satu gaya saya dalam menciptakan kegembiraan di tempat kerja. Tidak terhadap anak baru saja, bahkan terhadap banyak senior lainnya pun galau jika saya sudah sok ‘bossy’ begitu.

“Hey anak baru, kau bilang ya sama Supervisor saya masuknya siang nanti. ‘Hallo Selebriti’ lagi seru ini”, begitu bunyi sms saya kepada karyawan baru agar disampaikan pada atasan untuk dimintakan ijin terlambat.

“Ehh, jangan mentang-mentang abangmu supervisor kau menolak disuruh-suruh ya! Coba dulu, buat kopi!, hahaha…!”

“Kau tu anak STM. Anak teknik! Masa begitu saja tak bisa? Think smart, donk!. Heran, sekian lama bergaul tak nular-nular juga kepintaran saya”, bakalan galau deh kalau saya sudah ngomong begituan.

“Hey, lancang sekali kau! Pikir2 dulu siapa yang kau ajak main catur!”

“Duit gopek aja ribut. Cemana mo ngajak kalian ngomongin soal bisnis, obligasi, bursa saham, atau investasi yaa…?”

“Ngitung begitu aja pake kalkulator. Pake otak donk! Ini rumus kan bisa diringkas. Itulah, kalau jadi orang text book. Think out of the box! Garuk juga yang tidak gatal. Jangan cuma tengok rumusnya, tapi pelajari juga maksudnya. Itu rumus dibuat begitu, agar mudah dipahami. Apanya yang paham, kalau itu saja kalian masih begitu?”

”Iyya,Bang! Saya ngerti. Saya memang bodoh. Memang abang yang paling hebat di sini!”, akunya.

”Yaah, jangan ngiri donk, kalau situ ga’ hebat”, jawab saya, hahaha…!

Galau ga’ kalau ada orang yang ngomongnya begitu terhadapmu? Pedih dan menyakitkan memang, tapi begitulah pula mestinya pelajaran. Tujuan saya begitu kan biar ilmunya lengket. Tak mudah lupa karena untuk mendapatkannya butuh proses yang menyakitkan hati. Tak mudah lho, melupakan sakit hati. Demi cintanya kepada Ayya Azzahra, si Azzam butuh 4x melamar karena terlalu sulit buat Ayya melupakan sakit hati yang telah dipendamnya sejak kelas 6 SD cuma gegara pernah dikatain ‘GOBLOK!”. Itulah, makanya sinetron itu Para Pencari Tuhan, bukan Monyet Cantik 2, hahaha…! FYI, saya punya lho file-nya dari tahun pertama sampai tahun ke-6. Mauuu…?

Saya bukan guru. Yang guru itu Dian, hahaha…! Tapi bisa kok belajar dari saya. Dan kalian pasti tau bahwa saya bukan pelit ilmu, termasuk buat kalian anak-anak baru. Tak ada dalam kamus saya takut bersaing. Saya sudah akrab dengan kompetisi.

Marah karena diperlakukan tidak adil itu sah. Sabar terhadap perlakuan yang tidak adil juga boleh. Dianjurkan malah. Tapi tersinggung gegara kalah argument itu BODOH. Dan saya tak bangga berteman dengan kebodohan.

*Makin kacau ya, postingannya? Malah jadi curhat? Eee tapi kan sudah bilang kemaren, saya sudah kehabisan ide, hahaha…:D

Related Posts

Galau Itu Perlu
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.