28 Okt 2013

Syarat dan Ketentuan Berlaku (?)

-->
Posting Ke-19

Balik lagi ke post soal bahwa saya orang baik, hehehe…!

Sebulan belakangan ada seorang yang menumpang tinggal di tempat saya. Karena saya orang baik, maka saya tumpangi saja. Banyak teman yang bertanya-tanya kenapa saya berani menerima orang tak dikenal itu untuk tinggal di tempat saya. Lagipula salah seorang dari mereka rupanya ada yang ‘sedikit’ kenal dan tau sejarah ‘gelap’nya.

“Dia anak tak beres tuh”, katanya mengingatkan (lebih tepatnya: memprovokasi) saya.

Selama ini setidaknya ada 2 syarat yang kita tetapkan dalam memberi bantuan. Pertama, si penerima bantuan adalah pihak yang memang harus dibantu. Tapi ada lagi syarat berikutnya: si penerima mestilah pihak yang memang boleh dibantu.

 Tiba-tiba saja ketika pulang kerja malam itu (habis lembur) dia nongol di depan tempat tinggal saya. Ringkas cerita, dia ingin numpang tidur untuk malam itu dan seterusnya (entah sampai kapan, hahaha…!) Bagi saya sih tak masalah, sebab seperti yang pernah saya ceritakan di post terdahulu, bahwa saya sering sekali dititipi Allah orang-orang yang butuh dibantu. Jadi meski kenal atau tidak, yaa…saya bantu.

Persoalannya tak mudah teori saya ini diterima begitu saja oleh banyak kerabat dan teman dekat saya. Intinya menurut mereka, syarat memberi bantuan adalah si penerima memenuhi SEMUA syaratnya, bukan cuma salah satunya. Teman yang menumpang ini sudah memenuhi syarat sah yang pertama, tapi gagal di syarat kedua. Beda tafsir ini soal syarat ini cukup berbahaya. Intelektual saya terancam dilecehkan. Saya sering sekali mengalaminya. Saya sering dikatai ‘BODOH’ dan ‘TERLALU BODOH’ gegara terlalu gampang memberi pinjaman misalnya pada seorang teman.

“Ahh, bodohnya kau! Tak bakal dibalikin tuh, uangmu!”

Mestinya ini teman mendoakan yang baik-baik bagi saya, bukan? Tidak malah sebaliknya. Tapi saya orangnya ikhlas, kok. Tak masalah dikatakan bodoh oleh manusia, yang penting Tuhan lebih tahu niat baik saya. Lagipula versi saya, jika mau menolong yaa, lakukan saja. Jika mau menyumbang yaa, menyumbang saja. Tak perlu diselidiki siapa dan apa latar belakang si penerima (peminta) sumbangan tersebut. Dalam memberi pahala Allah juga tak pernah mengkaitkannya dengan dosa-dosa yang pernah dilakukan hambaNYA, bukan? Apa jatah pahala bersedekah seseorang dibatalkan gara-gara dosa bergunjing dan suka fitnah yang dilakukannya? Tidak, bukan?

Saya ikhlas dalam beramal baik. Saya tak ingin keikhlasan saya berbuat baik ‘gugur’ hanya karena suka menelisik latar belakang pihak yang saya bantu. Teman ini cuma butuh tempat tinggal. Karena bisa maka saya bantu. Begitu saja. Soal bahwa dia ‘orang hitam’, itu soal lain. Tak ada urusannya dengan saya. Toh, tentara musuh sekalipun dalam peperangan mesti dibantu dan diobati jika mengalami luka-luka, bukan?

Urusan kita cuma soal amal baik. Urusan ganjaran pahala atau dosa, serahkan saja pada Tuhan. Apalagi soal dosa orang lain, pasti bukan urusan kita. Itulah kenapa kita dilarang bergunjing, apalagi memfitnah. Mengurus dosa orang lain sama saja dengan menyalip kehendak Tuhan.

Related Posts

Syarat dan Ketentuan Berlaku (?)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.