Halaman

11 Nov 2013

Pahlawan vs Idola Part 1

-->
‘Pahlawanku Idolaku’, begitu tema Perayaan Hari Pahlawan Tahun ini yang dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Banyak paradoks dan kekeliruan dalam tema ini. Dari susunan saja mestinya kalimat itu gagal taat terhadap EYD. Mestinya ada kata hubung antara kata pertama dan berikutnya. Entah itu kata ‘dan’, ‘atau’ , atau ‘adalah’ dan sebagainya. Sebagai tokoh salah satu tokoh yang dianggap pemakai bahasa Indonesia yang baik dan benar mestinya Presiden sadar bahwa penggunaan kalimat untuk tema tersebut keliru.

Tapi sebenarnya saya tak ingin membahas kekeliruan kalimat tersebut, sebab saya sendiri juga bukanlah pengguna bahasa Indonesia yang baik, apalagi benar. Saya ingin bicara soal ketidaksesuaian yang lain berhubungan dengan tema tersebut. Pahlawan dan idola itu mestinya berbeda.

Pahlawan adalah sosok unik yang muncul dari suatu persoalan. Unik, karena dia tak seperti kebanyakan yang lainnya. Indikasinya, semakin banyak pahlawan pasti beriringan lurus dengan semakin banyaknya persoalan Semakin luas suatu tempat semakin komplek pula persoalannya. Jadi jika di suatu negara ada demikian banyak pahlawan, aneka keruwetannya pun pasti banyak pula.

Pahlawan tidak melulu soal keberhasilan. Jika dia pahlawan kemerdekaan, dia baru akan dianggap pahlawan jika sudah mati, itupun jika dia memang layak mendapatkannya. Bahkan layak saja terkadang belum cukup. Ahli warisnya kadang butuh bertahun untuk berjuang demi gelar pahlawan itu semata. Itulah seperti yang dialami Bung Tomo. Setiap 10 November namanya disebut, tapi gelar sebagai pahlawan tak kunjung diperoleh sebab ahli waris tak memperjuangkannya. Itulah pula yang dialami oleh Sentot Alibasya, sosok yang strategi perangnya dipelajari demikian detil oleh bangsa luar, gagal jadi pahlawan di negaranya sendiri karena konon meninggal masih dalam keadaan jomblo… :D

Pahlawan adalah soal perjuangan. Jika cuma bicara hasil, barangkali Pahlwan Nasional kita tak punya, sebab hampir di setiap peperangan kita kalah selalu. Dalam proses perjuangan itulah sosok pahlawan tampil.

Dalam berjuang mengatasi merosotnya keteladanan pejabat muncullah Arifinto yang begitu ketangkap basah nonton video porno saat sidang paripurna, besoknya langsung mengundurkan diri dari DPR. Jadi dia pahlawan sebagai sosok pejabat teladan. Ironis sekali dengan nasib Sentot Alibasya yang menunggu berabad-abad dan entah sampai kapan, yaaa…!

Dalam perjuangan memberantas mafia kasus, Susno Duadji yang ketangkap disuap muncul sebagai pahlawan. Tak ingin sendirian dihukum, diapun bernyanyi yang membuat pusing para petinggi POLRI.

 Dalam berjuang mengatasi mafia pajak, muncul Gayus Tambunan. Begitu ditangkap karena menggelapkan uang negara dari pajak, dia langsung berjanji. Tak tanggung-tanggung,

“Angkat saya sebagai KAPOLRI, maka dalam 2 tahun Indonesia bebas dari korupsi”, katanya.


Tak perlu diragukan sebetulnya keahlian orang ini. Dari dalam penjara saja dia bisa mengurus passport, membeli tiket pesawat dan bahkan sampai bisa nonton tennis segala. Tak mudah sebab untuk mengurusnya dia mesti juga punya setumpuk berkas lainnya. Dan semuanya bisa dia dapatkan dengan berkas2 yang palsu saja. Bisa dibayangkan, semua orang bisa diperintahnya cuma dari balik penjara saja. Presiden kita saja dengan aneka kekuasaannya saja bisa sedemikian paniknya cuma buat mengurus surat kaleng….? Hahahaha…!

Sambung lagi nanti ya…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...