Halaman

30 Nov 2014

Manusia vs Serigala

Berbagai ajang kompetisi telah saya saksikan. Berbagai bidang dan cabang. Dari yang kelas festival sampai yang professional. Dari yg berskala nasional dan international.  Piala Dunia, Olimpiade, sampai kepada American Idol dan KDI, hahaha…! Dan kemaren malamlah saya benar-benar merasakan kepuasan tersendiri, saat menyaksikan SCTV Award. 

Walau sedih dan merasa gagal karena sebagai Ketua Tim Pemenangan Halo Selebriti di SCTV Award 2014, kami gagal meraih penghargaan walau satu, tapi saya bahagia karena bertahun menyaksikan aneka kontes dan kompetisi, menurut saya SCTV Award kemaren malam adalah yang terbaik. Terbaik, karena inilah kompetisi yang paling fair, jujur dan dinilai secara objektif. Bayangkan saja, panitia dan penyelenggaranya adalah manusia. Juri dan wasitnya pun manusia. Dipilih oleh manusia, dan pemenangnya adalah serigala, walau ganteng, hahaha….!

Saya bangga dan bahagia bahwa kontes ini adalah milik Indonesia. Kita layak bahagia dan berbangga bahwa ternyata bangsa Indonesia begitu jujur sportif dan objektif. Jika memang srigala itu lebih baik ketimbang manusia, maka dialah yang akan jadi pemenangnya. Kejujuran akan menampilkan fakta. Dan fakta bahwa ada srigala yang lebih baik ketimbang manusia itu mestinya layak kita terima dengan lapang dada. Sistim penjurian yang tertutup mestinya punya sangat banyak celah untuk kecurangan. Misalnya, karena saya ogah manusia kalah sama srigala, maka saya akan pilih manusia, walau sebenarnya saya tahu bahwa srigala lebih layak jadi pemenangnya. Sebab mustahil saya bisa objektif jika ditanya siapa yang lebih baik manusia atau srigala. Saya pasti akan pilih manusia, kan? Toh, siapapun yang akan saya pilih kan tak ada yang mengetahuinya., Maka, jika hasilnya bahwa srigala mengalahkan manusia, itu pastilah suatu fakta yang sebenarnya, hasil penilaian paling jujur dan objektif dari para pemilihnya

Jokowi dan timnya ternyata berhasil melaksanakan program Revolusi Mentalnya, bahkan saat dia baru 40 hari menjalani tugasnya selaku Presiden Pilihan Kita. Inilah Indonesia Hebat yang sebenarnya. Manusia Indonesia yang jujur dan objektif, walau itu akan membeberkan fakta yang ironis dan memalukan, manusia Indonesia ternyata kalah baik ketimbang srigala yang ganteng, hahaha….!

Saya sendiri sepakat dengan faktanya. Jujur saja, Serigala Yang Ganteng itu memang lebih baik ketimbang si Ocid dan kawan-kawan. Bagaimana tidak, Ocid cs malah mengajarkan si Wakwaw dan teman-teman kecilnya bahwa jika ada berita dukacita kita mesti bilang, ‘HAAAAAH….?’, bukan ‘Innalillah’.
 
*Ckckckck….! Ayo, Pak! Lanjutkan Revolusi Mentalnya J



23 Nov 2014

Anarkis? Pikir Lagi, Deh!

Bagi teman-teman buruh yang sering demo anarkis, silahkan renungkankan lagi tindakan kalian. Sebagai wartawan imajiner, saya berkesempatan untuk ikut meliput perundingan membahas nilai UMK bersama asosiasi pengusaha, wakil pemerintah dan 10 orang wakil buruh.  Di dalam ternyata suasana sangat adem, bertolak belakang dengan situasi panas dan anarkis di luar. Berikut transkip sidang yang sempat saya rekam.

Wakil Pengusaha              :Santai saja! Tak usah tegang! Ayo dimakan cemilannya, hehehe...!

Wakil Buruh 1                    :Siap, Pak!

Wakil Pengusaha              :Jadi begini adik2. Kita semua tahu bahwa sekarang situasi sedang sulit. Bahkan beberapa negara malah sudah bangkrut. Jadi saya harap kalian mengerti keberatan kami.

Wakil Buruh 1                 :Justru itu, Pak! Kami minta kenaikan yang wajar. Pertumbuhan ekonomi tak sebanding dengan upah buruh.

Wakil Pengusaha              :Jika kalian memaksakan, apa boleh buat! Banyak perusahaan yang akan tutup dan kami pindah ke luar negeri.

Wakil Buruh 1                    :Kami tak bisa diancam dengan itu, Pak! Kami bukan orang2 bodoh. Apa bapak pikir kami tak mengerti bahwa soal pindah itu bukan perkara remeh. Soal lahan,  perijinan, pemindahan aset dan sebagainya.

Wakil Pengusaha              :Tak perlu mengajari monyet menggaruk. Kami mengerti apa yang harus kami lakukan. Di negara anu birokrasi tak berbelit-belit seperti di Indonesia. Soal lahan dan perpindahan aset itu bukan perkara sulit.

Wakil Buruh 1                    :Kami pun juga tahu, Pak! Tapi tetap butuh waktu yang tak pendek. Apalagi, perusahaan2 di sini hampir semua cuma perusahaan suplier/jasa. Misal ada perusahaan yang cuma mengerjakan packing saja. Bahkan di perusahaan tempat saya, hari-hari pekerjaan kami cuma memotong kabel saja. Apa Bapak pikir gampang mencari rekanan dan mitra baru nanti di tempat baru? 

Wakil Pengusaha              :Nama kau siapa?

Wakil Buruh 1                    :Anu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Kerja di PT mana?

Wakil Buruh 1                    :PT Anu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Sekretarissss.....! (memanggil sekretaris)

Sekretaris                            :Ya, Pak!

Wakil Pengusaha              :Telpon segera PT Anu. Katakan bahwa asosiasi ingin agar si Anu segera di PHK. Kalau mereka keberatan, tak mampu bayar pesangon, asosiasi yang akan membayarnya.

Sekretaris                            :Ya, Pak!

Wakil-wakil buruh saling berpandangan.

Wakil Pengusaha              :Oke, kita lanjutkan! Kau, nama kau siapa?

Wakil Buruh 2                    :Benu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Tak mau bernasib seperti itu, kan?

Wakil Buruh 2                    :Tentu saja saya tak mau, Pak! Tapi perusahaan tak bisa memperlakukan kami begitu saja. Mana bisa kami di-PHK sembarangan.

Wakil Pengusaha              :Justru itu, makanya kita berunding di sini. Silakan sampaikan tuntutanmu. Kau ingin gaji berapa?

Wakil Buruh 2                    :Sesuai tuntutan kami semua, tiga setengah juta
.
Wakil Pengusaha              :Yang saya tanya, kau ingin gaji berapa?

Wakil Buruh 2                    :Pokoknya segitulah, Pak! Sesuai UMK

Wakil Pengusaha              :Gaji kau sekarang berapa?

Wakil Buruh 2                    :Dua setengah juta, Pak!

Wakil Pengusaha              :Oke, gaji kau akan dinaikkan jadi empat juta. Tapi silahkan setujui nilai UMK sesuai permintaan kami! Bagaimana?

Wakil Buruh 2                    :Tapi, saya kan jadi tak enak sama teman2 yang lain, Pak?

Wakil Pengusaha              :Kalian semua yang di dalam sini akan dinaikkan gajinya sesuai permintaan kalian, plus, masing2 dari kalian kami beri 10juta, bagaimana?

Wakil Buruh 2                    :Tapi, Pak! Perundingan ini disaksikan oleh banyak wartawan, Pak!

Wakil Pengusaha              :Kalian tenang saja! Semua wartawan juga sudah ada jatahnya masing2.  Pokoknya, ini semua takkan bocor. Saya jamin. Yang penting, kalian setujui nilainya.

Wakil Buruh 2                    :Tapi bagaimana dengan orang2 yang di luar, Pak! Mereka tetap takkan setuju.

Wakil Pengusaha              :Yang penting kan, kalian sudah setuju! Kalian kan wakil mereka? Tenang saja, kalian boleh kok tetap pura2 menolak, kesal dan pura2 ikut berunding lagi. Kan kita di sini asyik2 aja. Makan sambil ngopi2? Ya, kan? Bodo amat sama yang lain. Silahkan aja mereka berpanas-panasan, teriak-teriak, saling lempar, bakar2an! Kan sudah ada aparat yang akan mengurusnya. Bagaimana? Oke....?

Wakil Buruh 2                    :Bagaimana ini, Pak? (berbisik kepada wakil pemerintah yang duduk di sebelahnya)

Wakil Pemerintah            :Setujui saja, agar masalah tidak berlarut-larut.

Wakil Buruh                        :Bapak dapat bagian juga, ya?

Wakil Pemerintah            :Yaa, iyya, donk! Hehehe (menyeringai)

Wakil Buruh                        :OK, Pak! Kami setuju.

*Maka nilai UMK pun disepakati sambil kedua belah pihak tetap pura-pura menolak, hahaha....!


19 Nov 2014

Mungkinkah Membasmi Rokok?



Seorang teman update status yang kira2 intinya berharap, agar kenaikan BBM juga diikuti dengan naiknya harga rokok. Lebih jauh lagi harapannya tentu agar orang-orang berhenti merokok.

Saya memang merokok dan juga ingin berhenti merokok. Walau ingin berhenti, nyatanya sampai saat ini saya masih merokok. Tak mampu saya prediksi kapan saya bisa menghentikannya. Mungkin cuma terwujud jika Dian yang minta. Itupun mungkin butuh sambil mengancam saya,  hahaha….! *galau maning.

Tapi sekitar sebulan yang lalu saya sempat berdiskusi SERIUS dengan seorang teman yang juga perokok. Sambil merokok kami membahas, kenapa rokok tak bisa dibasmi, setidaknya di Indonesia. Kesimpulan diskusi kami ternyata sungguh mencengangkan. Diskusi tak biasa antara 2 sahabat yang awam agama ternyata mampu menjangkau hikmah2 mendalam soal rokok, hahaha…!

Rokok tak bisa dibasmi karena dia ‘menghidupkan’. Sulit kan, memahaminya? Yaa… karena memang disukusi kami sekali ini sungguh tak biasa. Pabrik rokok tak mungkin ditutup karena dia telah ‘menghidupkan’ banyak nyawa selama ini. Betapa banyak karyawan pabrik itu yang muslim? Keluarganya. Belum lagi, rokok adalah property utama para pedagang kaki lima. Penjual pampers, shampoo, sabun, pisau silet, pena dan lain2 butuh rokok sebagai identitas warungnya.

Kami tidak bicara dan membela para perokok dan pabriknya. Keuntungan besar dari penjualan rokok tentu bukan bagi karyawan atau pihak terkait lainnya. Profit terbesar dan yang besar tentu dimiliki oleh para pemilik pabrik, distributor dan pengusaha2 terkait dengannya yang rata2 non muslim. Bagi mereka tentu saja untung besar, walau tentu tidak berkah.

Lain halnya dengan karyawan, keluarga dan pengusaha2 kecil rokok yang muslim. Rokok adalah ‘berkah’ dari usaha mereka dalam memperjuangkan hidup. Harap diingat juga, walau masih kontroversi, tapi sampai saat ini belum ada seorangpun ulama yang 100% berani mengharamkan rokok. Padahal sudah tugas ulama untuk beristijma’ soal-soal yang menyangkut umat, kan?

Saat dulu Ajinomoto diminta tutup karena komposisi ramuannya mengandung minyak babi, ulama besar sekelas Zainuddin MZ saja tak mengamininya. Revisi ramuaanya, tanpa perlu menutup pabriknya. Bakal banyak pengangguran jika pabriknya ditutup, serta efek2 domino lainnya. Padahal sudah jelas dan tegas unsur haram yang termuat di dalamnya.

Islam itu agama yang hikmah. Butuh tinjauan lebih jauh dan mendalam untuk menemukannya. Islam agama social,  bukan agama yang tertutup. Itulah kenapa jenis usaha terbaik yang dianjurkan Islam adalah berdagang. Sebab di dalamnya ada proses sosial, transaksi jual beli yang saling menghidupkan. 

Islam agama yang fair. Karena itu, walau bukan negara Islam, kita malah diperintahkan untuk belajar sampai ke negeri Cina, sebab memang merekalah ‘guru’ yang tepat untuk berdagang.
Islam adalah agama yang rahmatal lilalamiin. Rahmat, tidak saja bagi manusia, tapi juga bagi alam seutuhnya. Perusahaan2 raksasa di dunia, Indonesia dan juga di banyak Negara Muslim lainnya rata2 dikuasai oleh pihak non muslim, walau pekerjanya muslim. Usaha mereka, maju, bertahan dan berkembang karena itu ‘menghidupkan’ banyak umat muslim sebagai karyawannya. 

Allah Tuhan semesta Alam. Allah Maha Adil terhadap semua makhluknya. Jadi, tak peduli Islam atau bukan, rejekiNYA selalu akan tercurah bagi siapa saja. Jadi soal pabrik rokok dan sejenisnya itu cuma soal berkah dan tidaknya usaha manusia dalam memperjuangkan hidupnya. Ada yang usahanya diberkahi Tuhan dan ada juga yang tidak. Itu soal hikmah. Dan bicara soal hikmah memang butuh kajian yang mendalam. Apakah usaha kaki lima kita jadi usaha yang berkah karena di dalamnya juga ikut menjual rokok? Apakah pakaian yang kita pakai berkah, sebab diproduksi di negara2 Barat, yang lalu lintas ekspor-impornya bisa saja diselingi dengan aneka transaksi korupsi? Wallahualam….!

Sense of Issue

Imajinasi tentang perkara kerak timah solder itu memang mengerikan saya. Tapi apakah saya tak bisa mengkreasi kegembiraan karena kasus itu? Uupps, jangan salah! Saya adalah ahlinya, hahaha…!

Kebiasaan nonton ‘Halo Selebriti’  membuat saya peka terhadap isu. Di lingkup kecil seperti di perusahaan tempat saya bekerja, perkara itu terhitung besar. Jadi mana mungkin saya dan juga kami semua bisa melewatkan hal2 itu begitu saja. Setidaknya demi kegembiraan bersama.

Dengan lagak bak detektif ulung saya beberkan analisa saya. Maka saya tuduhlah seorang teman, hahaha….!

“Hilangnya hari apa? Minggu, kan? Kenapa Cak Nur hari Minggu itu tiba2 bertugas di bagian sablon? Padahal hari sebelumnya dan juga  hari ini, Senin tidak?”, kata saya memancing kegembiraan.

“Waaah, iyyya juga! Cak Nur layak dicurigai nih!”, teman2 yang lain mulai terhasut. Sementara Cak Nur yang tahu persis kelakuan saya cuma mbrengut, hahaha…!

“Kalian lihat deh! Darimana Cak Nur bisa beli sepatu baru? Padahal sekarang kan bulan tua?”, tambah saya makin meyakinkan, hahaha….!

“Orang gila kalian dengerin”, Cak Nur protes dan kabur, hahaha…!

Intinya adalah, saya, kami dan kita biasanya peka  dengan gosip termasuk juga tentunya dengan isu-isu hukum. Jika kita tertarik demi kegembiraan, adalah aneh kenapa aparat hukum malah tak mau tahu dan malah abai terhadap isu2 hukum, bahkan saat banyak bukti sudah terpapar di depan mereka. Lihat saja kasus Trio Macan, misalnya!

Berkali-kali akun ini membeberkan data2 hukum dan sampai mengajukannya kepada aparat KPK, Kejaksaan dan Kepolisian semua cuek. Tak ada yang diusut lebih lanjut. Mana kepekaan mereka? Sebaliknya, demi satu pesanan kepentingan, malah si Macan yang ditangkap?

Saya bela si Macan? Terserah mau bilang apa. Saya sangat sadar bahwa mereka sudah disusupi dan terkontaminasi pihak2 korup itu sangat mungkin. Bahwa cuap2 mereka tak layak dipercaya 100% saya juga sadari. Tapi selama apa yang mereka sampaikan layak dipercaya, mereka adalah inspirasi, pejuang yang sangat layak untuk kita bela. 

Saya melihat berita penangkapan mantan adminnya itu, termasuk juga blow-up besar2an kasus status Facebook Ervani Handayani, atau M Arsyad si tukang sate itu adalah untuk tujuan politik semata. 100% kepentingan politik. Bahkan kasus si tukang sate adalah kasus basi berbulan yang lewat, kenapa kok tiba2 diupdate lagi? Tujuannya apalagi kalau bukan untuk meneror akun2 kritis lainnya, selain untuk pengalihan isu2 kebijakan hitam pemerintah yang lain.

Mungkin tak ada yang sadar, kenapa saya posting hal2 basi kayak perkara kerak timah solder ini? Nah begitulah pula cara kerja media2 milik dan bayaran politisi itu menghipnotis pemirsa. Saya juga cuma sekadar mengalihkan isu bahwa saya sedang galau dan kangen Dian, hahahaha….! *Galau Lagi 

Kerak Timah dan Koruptor

Perusahaan kecolongan maling. Sekitar 2kg kerak timah solder hilang. Saat didata ulang ternyata 2 kotak lagi yang masih utuh juga raib. Total kerugian mencapai 30-an kg timah solder, baik yang utuh atau yang sekedar remah2nya saja.

Section kami, yang kebetulan punya akses langsung dengan pintu belakang ikut dimintai keterangan. Malah kami adalah pihak pertama yang paling dicurigai. Baut engsel pintu yang agak longgar sebiji (hahaha….!) membuat security merasa bahwa kami sah untuk dicurigai. Satu-persatu kami dipanggil. Alangkah memalukan dan tak bergengsinya.

Jujur saja, ketimbang kesandung kasus kerak timah, lebih baik tersangkut kasus korupsi. Pejabat yang walau korup, jika berkunjung ke daerah selalu dielu-elukan warganya. Bahkan jika dia merupakan pejabat besar, persiapan untuk menyambut kedatangan ‘Yang Mulia’ itu akan dilakukan dengan gempita. Semua warga dikerahkan untuk dimintai sumbangan dan gotong royong untuk perbaikan jalan, gapura membersihkan parit dan sebagainya. Itulah kenapa andai ketangkap basah pun sembari diborgol mereka tetap PeDe berdadah-dadah dan dihapan kamera pula. Jadi jika cuma dituduh mencuri timah, dan cuma keraknya pula alangkah bikin malunya, hahaha…!

Terkait perkara criminal saya belum pernah berurusan dengan hukum. Tapi saya sangat tahu banyak berita tentang kasus2 hukum. Dan itu buat saya horror. Betapa mengerikannya dampak jika rakyat kecil sudah berurusan dengan hukum criminal.

Bersalah atau tidak urusan di masa depan. Yang penting hukum mesti dijalankan. Itulah kenapa banyak kasus yang terbukti direkayasa cuma berakhir dengan vonis bebas saja. Kasus Edih, contohnya. Bertahun dipenjara atas tuduhan yang dibuat-buat aparat hukum dia akhirnya dibebaskan. Sementara semua aparatur hukum yang merekayasa kasusnya tetap bertugas dan kita gaji seperti biasa. Mestinya semua yang terlibat dalam rekayasa kasusnya itu, mulai dari polisi, tim penyidik, jaksa penuntut sampai kepada tim mejelis hakim dipecat. PECAT. P-E-C-A-T, kaaaaaan…..?

Jika ikut dikriminalisasi, apa jadinya saya. Apalagi banyak hal mendukung. Manejer yang begitu bencinya terhadap saya jadi punya waktu dan alasan yang sah untuk membuang saya. Bisa jadi dia tak tega membuat saya dipenjara, tapi inilah momen yang tepat baginya untuk menyingkirkan saya.

Imajinasi saya makin tinggi dan ngawur. Sungguh tak mudah menghentikan perkara jika sudah sampai di kepolisian. Uang, tenaga, waktu, keluarga semua mesti dikorbankan. Belum lagi jika kasusnya sudah sampai di media pula. Inisial nama saya yang mana saja sudah begitu menghasut pembaca untuk meyakini kasusnya. SNE, AK atau AS semua sama saja. Semua itu inisial umum tokoh2 kriminal. Apalagi jika kemudian ditambahkan pula dengan foto tampang saya yang komposisinya kriminil sejati, hahaha….!

Imajinasi saya belum berhenti. Okelah untuk kasus ‘kecil’ begitu saya cuma dikenai beberapa bulan penjara. Tapi apakah semuanya jadi mudah? 

Sejarah mengabarkan betapa banyak alumni penjara yang kesulitan untuk normal melanjutkan hidup. Jangankan untuk memperoleh rekomendasi Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari Kepolisian, sebagai bekal mencari dan memperoleh pekerjaan baru, sekedar diterima kembali di masyarakatnya saja sudah syukur. Inilah bedanya dengan mantan narapidana korupsi yang tetap boleh jadi anggota DPR. Bahkan sambil dipenjara pun juga tetap terima gaji.

*Naaaaaah, kan?

18 Nov 2014

2000-an dan Kedudukannya

Sudah 3 mingguan saya tak akrab dengan motor itu. Dan entah kapan kami bisa rujuk lagi, hahaha….! Sejak tak bersamanya, kemana-mana belakangan ini saya lebih suka naik bis. Yaa… Busway, milik Pemko Batam itu. Bukan cuma karena harganya yang lebih ramah ketimbang menggunakan jasa taxi, tapi kok rasanya saya lebih suka saja ya?

Bisa jadi karena suasana hati saya yang masih mellow ini ya, hehehe…! Saya sudah lama tak bepergian naik taxi. Saya tak tahu berapa tarifnya jika misalnya saya ingin pergi ke satu tempat dan ini bisa memicu pertengkaran yang memalukan.

Saya ogah bertengkar, apalagi jika persoalannya cuma karena uang seribu dua ribuan. Seribu atau dua ribu itu sedikit saja. Tapi yang sedikit itu punya kuasa untuk menetapkan derajat kemuliaan seseorang. Apakah orang itu layak dipanggil Boss, Tuan dan lainnya, atau malah setara dengan aneka binatang haram seperti (maaf) babi, anjing, monyet dan bahkan (sekali lagi maaf), pantat.

Sesekali, saat sedang punya rejeki lebih cobalah melakukan simulasi  kecil seperti misalnya melebihkan bayaran tukang parkir, pengamen, tukang ojek atau malah terhadap pengemis. Rasakan saja sensasinya. Kita tidak saja akan dianggap sebagai Boss, Raden, Tuan tapi biasanya mereka juga akan mendoakan kita dunia akhirat.

“Makasih yaa, Boss!”, katanya sambil menghentikan kendaraan lain demi melapangkan jalan saya.

“Makasih banyak yaa, Tuan! Mudah2mudahan Allah selalu melapangkan rejeki Tuan, aamiin!”, doa yang diaminkannya sekaligus.

“Makasih yaa, Den! Semoga selamat sampai tujuan!” 

Untuk menyempurnakan rekreasi hati tersebut cobalah juga melakukan yang sebaliknya. Misal tarif parkir biasanya 1000, kasih 500 saja. Agar lebih seru dan dramatic, tambahkan juga omel-omelan seperlunya. Dan lihat sendiri bagaimana sungguh besarnya arti limaratus, seribu atau dua ribu itu.

Saya sering praktekkan hal2 begitu,  jika sedang punya sedikit lebih, termasuk saat saya bepergian menggunakan jasa taxi.   Nah persoalannya sekarang, saya sedang kekurangan. Itulah kenapa saya lebih suka naik bis, semata demi menghindari perdebatan yang tak perlu dengan supir taksi Batam yang terkadang memang seenaknya mematok harga.

Pengalaman naik bis juga seru. Saya merasa jadi lebih merakyat, hahaha…! Maksudnya begini, ada banyak kesempatan bagi kita untuk lebih bersosialisasi, saling bantu dan merepotkan dengan yang lainnya.

Hari itu saya dapat duduk di bangku kosong terakhir, di deretan paling belakang. Di sebelah saya seorang anak SMP. Di depan kiri saya seorang bapak pegawai Pemko (kelihatan dari baju dinasnya, hehehe….!) yang sedang asyik dengan Hpnya.

Di halte berikutnya penumpang turun naik. Tapi lebih banyak yang naik ketimbang yang turun. Bangku sudah terisi penuh dan beberapa penumpang yang baru naik terpaksa berdiri, termasuk seorang ibu yang walau belum terlalu tua, tapi tetap saja seorang wanita. Layak didahulukan. Saya berdiri, dan mempersilahkan ibu itu untuk duduk. Normal saja, tak ada istimewanya.

Di perhentian berikutnya ibu itu turun dan saya berkesempatan untuk kembali duduk, sampai di halte berikutnya lagi. Di situ naik pula seorang ibu yang menggendong putra (putrinya?). Saya kembali berdiri, hendak memberikan tempat duduk padanya, tapi dicegah, oleh anak SMP yang duduk di sebelah saya itu.

“Biar aku aja, Bang!”, katanya kemudian berdiri dan mempersilahkan saya untuk tetap duduk.

Apa yang saya rasakan saat itu. Merasa Ge-eR karena ‘berhasil’ memberi teladan pada anak SMP itu? Bukan! Sama sekali bukan? Saya malah sedih, menyadari kenapa pegawai Pemko yang duduk di kiri depan saya itu seperti tak merasakan apa2 melihat proses social begitu. Mestinya dialah yang pertama kali berdiri, bukan saya apalagi anak SMP itu. Ibu itu berdiri tepat di sampingnya, sedang saya dan anak SMP itu agak jauh di belakang. Bukankah mereka yang seharusnya memberi tauladan? Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso. Tut Wuri Handayani. 

Kita marah saat Adinda mengomel di Path, memaki-maki seorang ibu hamil yang mesti diberinya tempat duduk di kereta. Tapi dia mengomel cuma di dunia maya. Di jejaring social, Path. Sementara di kehidupan nyata, tak bisa kita pungkiri bahwa mereka2 yang mestinya memberi teladan juga tak lebih baik dari itu. Ekspektasi kita yang terlalu tinggi, berharap mereka jadi pelayan rakyat. Padahal, jangankan untuk melayani, sekadar bisa diteladani saja mereka tidak layak.

*Moral kisah: bahwa jika ingin bisa tetap duduk saat naik bis, sibukkan saja diri dengan gadget anda, hahaha….!

Beriman Kepada Uang

Prilaku buruk dan menjadi penyebab yang buruk tak ada bedanya. Sama-sama buruk, hahaha…! Walau begitu, prilaku buruk masih lebih baik ketimbang menjadi penyebab yang buruk. Prilaku yang buruk, walau bisa saja memberikan akibat yang buruk bagi yang lain, tapi ganjaran dosa yang didapat cuma oleh pribadi yang berlaku buruk itu sendiri. Lain halnya jika menjadi penyebab yang buruk. Dosa yang mungkin saja tak disadarinya, tapi menyebabkan orang lain menjadi buruk dan berdosa akibat prilakunya.

Apa yang salah dari profesi presenter, pelawak, penyanyi, pencipta lagu, artis dan dunia glamour selebriti lainnya? Itu ibadah, jika tujuannya untuk mencari nafkah baik bagi diri sendiri, keluarga apalagi jika juga mempu menghidupi orang2 sekitar yang terkait dalam profesinya juga. Tapi lain soalnya, jika profesi tersebut malah menghasilkan akibat yang buruk bagi orang lain, masyarakat atau public atau penonton.

Presenter, host, pembawa acara yang mencuci opini public karena pesanan kepentingan pemilik dan pembayar media. Lawakan yang melecehkan agama dan atau bermotif SARA. Musisi yang memperkenalkan lirik2 kotor dan menyesatkan. Atau artis yang memainkan peran yang membawa pesan merusakkan moral dan aqidah umat.

Selain untuk nonton bola dan Halo Selebriti, saya memang tak suka nonton tivi, haha…! Musim Pemilu sudah lewat, dan siaran tivi kembali pada kepentingannya masing-masing. Media cetak dan tipi yang dikuasai kaum Yahudi kembali pada misi abadinya, merusak Islam. Lihat saja program2 tivi yang ada sekarang.

Sekarang serigala yang ganteng pun lebih laku dan menarik pengiklan ketimbang manusia normal, walau tak ganteng, hahaha…! Menurut teori sinetron, serigala ternyata berasal dari manusia. Lebih menarik memang hidup di dunia khayal ketimbang di dunia nyata. Alangkah asyiknya memang jika bisa terbang, menghilang, punya teman ibu peri yang baik hati serta punya kekuatan sihir. 

Apa yang lucu dari si Ocid dan kawan-kawan? Terbahak2 saat takziah? Saling menghina di samping jenazah. Lucu? Saling hina sih iyyyyaaaa….! 

“Jangan banyak tanya. Ikuti saja, pahaaam!”, kata ustadnya. “Ini syarat!”, lanjutnya sambil menabur sesajian sepanjang jalan menuju pemakaman.

“Iyyyyyaaaaa, ustaaaaadz!”, jawab rombongan serempak. 

Keren amat brain washing-nya yak…?

Sutradara2, sineas2 yang sebenarnya berpotensi, setelah didik, ‘disekolahkan’ produser2 Yahudi menjadi pelacur karena beriman terhadap uang, rating dan popularitas.

“Elu lahir aja udah salah!”, itu lucu ya?

Itu pelecehan terhadap terhadap Tuhan yang Maha Berkehendak. Melecehkan orangtua. Kafir terhadap takdir. 

Kemana perginya ulama, KPI, MUI, KPAI dan pihak-pihak yang mestinya sensitive terhadap pelecehan agama dan perilaku yang mengeksploitasi anak. Lagu apa yang dinyanyikan peserta La Academia Junior? Lagu anak? Dengar deh, lirirknya….!

Ada produser yang menjual agama sebagai judul sinetronnya, kemana para ulama? Ada orang-orang berjilbab yang menyampaikan dialog-dialog dari sutradara2 dan sineas2 didikan dan ciptaan Yahudi, kemana MUI? Indonesia dan Islam berikutnya dalam bahaya. Islam Indonesia adalah target Yahudi karena Indonesia adalah Islam yang terbesar di dunia. Akankah kita diam saja?

25 Okt 2014

PHP

Dialog imajinatif saya dan Dian, beberapa waktu nanti, haha...!

“Abang mesti ngaca, Bang! Lihat juga bulu hidung abang sendiri!”

“Maksudnya?

“Bulu di hidung orang lain nampak, bulu di hidung sendiri tak kelihatan. Kan abang yang sering ngomong gituan. Abang mestinya praktekkan juga apa yang suka abang tulis itu. Penulis mesti bertanggungjawab terhadap apa yang ditulisnya, kan?”

“Pinteeeer! Dah nular nih, kepintaran abang sama Dian. Tapi maksud Dian apa? Abang ga ngerti?”

“Bukan Dian aja yang PHP. Abang juga!” 

“Maksudnya?”

“Abang juga pernah janji sama Dian, kan? Dan tak abang tepati”
 
“Janji apaan?”
 
“Janji abang mau ngasih Dian pesawat”
 
“Pesawat?”
 
“Iya”
 
“Kapan pula abang janji kasih Dian pesawat. Jangankan pesawat betulan, yang mainan aja abang ga sanggup beli buat Dian. Kan abang lagi nganggur sekarang?
 
“Jadi yang katanya mau ngasih pesawat MH370 itu apa? Bukan janji?”
 
“Ooo… yang itu!”
 
“Iya”
 
“Lah, pesawatnya kan belum ditemukan juga sampai sekarang?”
 
“Tapi abang kan udah janji mau ngasih ke Dian?”
 
“Walau cuma rongsokannya?”
 
“Ya, walau cuma rongsokannya”
 
“Ya deh. Nanti abang usahakan lagi mencarinya”
 
“Makanya, jangan cuma nuduh Dian yang suka ingkar janji!”
 
“Tapi Dian kan tau itu janji abang itu cuma gombal aja. Mana mungkin abang bisa temukan itu pesawat, kan?”
 
“Oke. Tapi janji yang lebih realistis sama Dian juga ga abang tepati?
 
“Janji yang mana lagi?”
 
“Ingat abang dulu juga janji akan beri Dian kado ulang tahun. Abang mau traktir Dian ke Brasil nonton final Piala Dunia antara Brasil dan Belanda. Abang juga harap Belanda yang menang. Dian amini doa abang dan Belanda akhirnya menang 3-0 kan?”
 
“Lho, yang final kan Jerman vs Argentina? Otomatis janji abang batal, donk!”
 
“Final perebutan tempat ke-3 siapa lawan siapa?”
 
“Brasil lawan Belanda. Tapi itu kan cuma final merebut tempat ke-3?”
 
“Tapi kan final juga”
 
“Lagian pemain favorit abang kan ga ikut ke Brasil karena cedera”
 
“Siapa?”
 
“Rafael Van Der Vaart”
 
“Tapi kan itu ga ada dalam point perjanjian abang?”
 
“Yaa… percuma, donk! Abang nonton bola kalo pemain idola ga main suka ngantuk, ketiduran. Jadi mubazir, kan? Jauh-jauh ke Brasil cuma untuk tidur?
 
“Jadi abang lebih suka ke Brasil karena laki-laki bule itu ketimbang Dian? Kalau gitu yaa udah. Aku tak mau mengenalmu lagi. BYE…!”
 
“Lho…lho… Diaaaaaan….!”

*Tamat. Begitulah ceritanya kenapa Dian saya pergi, hahaha.... *Nangis

Cobalah Berbeda!

Kenapa marak cerita perselingkuhan, drama rumah tangga atau roman berkedok religi dengan setting asrama atau pesantren? Yaa, karena yang dib...