26 Feb 2014

Murtad? Biarkan Saja!

Banyak penggemarnya yang menyayangkan murtadnya Asmirandah. Tak sedikit yang menyalahkan suaminya, si Judas Rivano, ehh... Saya sendiri, biasa aja tuh! Soalnya saya emang tak punya perasaan apa-apa tuh, sama dia, hahaha…! Etapi, siapa juga yang mau peduli sama perasaan saya, yak… 

Ada banyak yang bersuara, bahwa Asmirandah mesti disuruh, jika perlu dipaksa bertobat. Suara itu bukan berasal dari penggemarnya saja, pun juga termasuk kalangan ulama dan kyai dari beberapa organisasi. Saya sendiri berpendapat sebaliknya. Itu semua tak perlu. Ini bukan karena saya tak punya perasaan apa-apa sama Asmirandah. Tapi jika kita mau menggunakan logika, saya yakin pendapat saya bias diterima. Referensi saya langsung merujuk kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu poin dalam Perjanjian Hudaibiyah dulu, saat kaum Muslimin bergerak menaklukkan Mekah adalah bahwa jika ada kaum Muslim yang berbalik bergabung dengan kaum kafir Qurays, maka tidak boleh dikembalikan ke pihak Muslim. Banyak sahabat yang tidak menyetujui poin ini, dianggap merugikan sebab pada butir yang lain justru berbunyi sebaliknya: jika ada pihak Qurays yang menyeberang ke pihak Rasulullah, maka mesti dikembalikan kepada mereka.

Sepintas, 2 poin perjanjian ini memang terlihat merugikan pihak Muslimin. Tapi Rasulullah punya alas an tersendiri kenapa beliau bersedia menerima butir-butir perjanjjian tersebut. Dan pendapatnya terbukti tepat dan visioner. Kaum Quraiys yang memutuskan bergabung ke pihak Muslim tak mungkin mau kembali ke pihak Quraiys. Sebaliknya, tak mungkin ada muslim yang murtad, gabung ke pihak Quraiys. Kalaupun ada, berarti dia bukan muslim sejati, jadi apa pentingnya?, begitu kira-kira alasan Rasulullah.

Inti dari ajaran Islam adalah 2 kalimat syahadat. Barangsiapa yang mengucapkan 2 kalimat sakti tersebut Allah SWT sudah menjanjikan syurga buatnya, meski akibat dosa-dosa dalam hidupnya mungkin akan menyebabkan mampir dulu di neraka. Intinya, 2 kalimat syahadat itulah kunci sorga yang telah dijanjikan Allah. Ibadah 100% pun akan MUSNAH, jika 2 kalimat tersebut tidak dijaga baik. Sebaliknya, jika kuat menjaganya, ibadah kitapun akan disempurnakan olehnya.

Soal ibadah dan segala filosopi yang terkandung di dalamnya adalah ritual yang diperintahkan Allah terhadap hamba-hambaNYA, sama seperti yang juga dilakukan oleh pemeluk agama/kepercayaan lain seperti yang diperintahkan oleh ‘Tuhan Mereka’.

Ibadah adalah perintah Allah yang jika tidak dilakukan akan mendapat ganjaran dosa. Tapi Allah Maha Pengampun. Semua dosa akan diampuni, jika sang pendosa benar-benar taubat. Satu-satunya dosa yang tak diampuni oleh Allah adalah dosa syirik, mempersekutukanNYA. Lebih percaya kepada dukun, dokter, pohon, binatang atau penguasa laut, batu, gunung dan bahkan termasuk kepada air zam-zam dan lain sebagainya. Mudah memahami kenapa Allah tidak mengampuni perbuatan syirik, sebab syirik berarti melecehkanNYA. Dan syirik dalam bentuk yang resmi adalah murtad. Kenapa resmi? Sebab semua yang murtad pasti telah bersaksi, dan mengakui 2 kalimat syahadat tersebut. Dan keputusan murtad itu adalah penegasan bahwa dia telah ingkar terhadap kesaksiannya tersebut. Nah. Jika syirik saja, yang kebanyakan kita lakukan secara ‘tidak sengaja atau sadar’ tidak diampuni oleh Allah, bagaimana lagi dengan murtad…?

Jadi kenapa mesti ngotot untuk menyuruh dan memaksa Asmirandah tobat. Tuhan saja tidak mengampuninya, kenapa kita mesti repot-repot untuk ‘memaafkannya’?

*Selamat Siang…! Masih bersambung…

Related Posts

Murtad? Biarkan Saja!
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.