Halaman

25 Mar 2014

Dian is My Miss PKL Part 1


Berhubung sedari awal bulan sudah terlalu banyak cerita serius (terlalu serius malah), sekarang saya ceritakan hal-hal yang tak jelas saja, ya? Kisahnya masih tetap tentang Dian. Memang tak bias saya jauh-jauh dari Dian, ya? Hahaha…! Tapi kali ini tentang ‘Dian’ yang lain. Tapi tenang saja, ini inspirasinya masih Dian yang Rawa Sari itu kok, cuma dengan tokoh yang berbeda. Apa sih maksudnya?

Dian lah sebab pertama kenapa saya sampai dijuluki ‘Spesialis Anak PKL’ di sana, hahaha…! Sungguh saya amat kecewa saat tiba-tiba tahu bahwa Dian sudah habis masa PKL-nya di sana. Kenapa kecewa? Sebab saya tidak tahu, hahaha…! Jujur saja, andai saja satu hari sebelumnya saya sudah tahu, saya ingin memberinya sesuatu. Yah, setidaknya sebagai ujud rasa terimakasih saya terhadapnya karena telah menjaga semangat saya dalam bekerja. Sudah tahu, kan betapa bencinya manejer terhadap saya?

Satu-satunya alasan saya mampu bertahan yaa, karena Dian. Dian memang tak berbuat apa-apa. Tapi segalanya tentang Dian adalah semangat saya. Membayangkan bakal bertemu dengannya saja sudah menggairahkan saya, kok (:

Jadi, tentu saja saya syok begitu sadar takkan pernah lagi bertemu dengannya. Memikirkan itu sungguh merontokkan gairah saya. Facebooknya saya tak punya. Diminta nomor HP, dia beri senyuman. Saya pun langsung takluk, hahaha…! Bisa saja saya minta lewat orang lain, tapi begitu bukan gaya saya. Saya mesti usahakan sendiri, minta langsung ke orangnya. Tapi begitulah hasilnya.

Gagal mendapatkan nomornya, saya incar nama Facebook-nya. Sungguh satu perjuangan sulit yang layak diacungi jempol (meski lebay). Search: Dhyan. Tanpa ada hasil. Ketik: Dian, ribuan pula hasilnya. Rawa Sari? Juga tak ada, hahaha…! Dugaan saya, saat itu dia belum punya Facebook…?

Tapi mustahil saya menyerah. Saya tak percaya dia tak punya Facebook. “Anak IT kok tak punya Facebook”, pikir saya? *Emang kapan sih, Dian bikin Facebooknya? Karena itulah saya cari terus. Modal saya bukan tak ada. Saya tau di mana dia sekolah. Nah yang paling mungkin amat menolong adalah bahwa Kepala Sekolahnya adalah mantan guru saya juga dulu, dan kami berteman di Facebook. Itu pasti sungguh menolong. Benar saja, akhirnya setelah berbulan kemudian muncullah penampakan… Ada satu nama yang mencurigakan saya, sekaligus membuat saya sungguh geli mengingatnya, hahaha…! Tenang saja, Dian! Ga bakal dikasih tau, kok (: Tapi keren kan, perjuangan saya menemukan ‘cahaya’ saya yang hilang itu?

Oke, kita tinggalkan sebentar Dian yang itu. Kita balik ke ‘Dian-Dian’ lainnya seperti yang telah saya beritakan di awal.

Ditinggal Dian buat saya galau. Solusinya apa? Saya mesti cari Dian baru, yang bisa bantu semangat saya oke lagi. Kebetulan sekali, begitu Dian ditarik pulang ke sekolah, dikirim lah pula 2 orang penggantinya. Dian mestinya kenal dengan 2 orang juniornya ini…?

Dalam masa-masa galau itu saya mesti berusaha move on. Tapi karena saya beraninya Cuma sama anak kecil, wkwkwk…! 2 orang itulah incaran saya selanjutnya.

*Hasilnya bagaimana? Di post berikutnya saja, yaa…(:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...