Halaman

14 Mar 2014

Jokowi Menghina Pencari Kerja


Jokowi resmi jadi CAPRES…?

Akhirnya, tadi siang Jokowi resmi ditetapkan oleh Megawati sebagai Capres dari partai PDIP untuk Pemilu mendatang. Saya takkan bahas soal politik. Meski saya sepakat dengan tweet2-nya Trio Macan tentang pencitraan, konspirasi global dan segala hal busuk lain yang berhubungan dengan Jokowi, tapi saya punya alasan tersendiri, kenapa saya tak setuju Jokowi nyapres, dan ini tak ada hubungannya sama sekali dengan politik. Saya hanya ingin bicara soal keteladanan dan empati dari para pemimpin.

Begitu banyak pengangguran di negara kita. Di Batam, ribuan calon pekerja berjubel tiap hari di dalam kawasan industri dalam rangka mencari lowongan kerja. Padahal jangankan lowongan, karyawan permanent pun sudah banyak yang di-PHK, disebabkan banyak hal. Intinya, banyak sekali yang butuh pekerjaan sekarang ini. Saya sendiri, 2 minggu lalu baru saja ‘dipecat’ dari perusahaan tempat saya bekerja. Saya sangat sedih, sebab itu artinya saya takkan pernah lagi lewat di depan kamar Dian, wkwkwkw…!

Apa hubungannya dengan Jokowi nyapres? Kalau dikait-kaitkan yaa…ada aja, hahahk…! Saat Jokowi dulu nekad ikut di Pilkada DKI, saya sebenarnya sudah tak senang. Enak betul! Dia sudah punya kerjaan yang enak, jabatan yang bagus, sebagai Walikota. Tapi begitu ada tawaran yang lebih bagus lagi, sebagai Gubernur, seenaknya saja diterima. Tugasnya belum rampung sebagai Walikota, pindah kerjaan jadi Gubernur.

Nah, sekarang dia sudah mau nyapres pula. Padahal, kerjaannya sebagai Gubernur baru saja dimulai. Apa yang bisa kita teladani dari pemimpin seperti itu? Bekerja suka-suka. Ada tawaran pekerjaan baru yang lebih bagus, kerjaan lama ditinggal begitu saja. Ini menghina semua orang yang sekarang sulit mencari pekerjaan, termasuk saya sendiri.

Okelah, saya bias pahami kenapa waktu itu Solo dia tinggalkan. Masa jabatannya saat itu memang tinggal ‘beberapa saat lagi’. Tapi Jakarta? Belum juga 2 tahun. Hasil kerja-pun bias dibilang masih minus. Macet belum teratasi. Banjir malah seolah-olah meledek janji kampanye dan kemampuannya dalam memimpin Jakarta. Saat daerah lain butuh hujan, bahkan sampai melakukan sholat istisqo’ segala, Jakarta malah berharap tidak hujan. Hujan itu rahmat Allah. Itulah kenapa ada namanya sholat minta hujan, yaa…istisqo’ itu.

Hujan itu dambaan manusia dari segala jenjang usia. Mulai dari pelajar yang malas ke sekolah, pasti berharap hujan. Pasangan sejoli, baik yang resmi maupun yang tak resmi, juga selalu berharap hujan yang akan menemani syahdunya romantisme mereka. Begitu pula dengan yang tidak punya pasangan, berharap hujan mampu melelapkan mereka dalam tidur. Saya sendiri sekarang sungguh berharap bakalan hujan lebat, biar Dian ga bisa jalan sama cowoknya, hahaha...! Apa yang membuat kita bisa tidur nyenyak? Yaa…tidur di saat hujan.

Ehh…kok larinya ke hujan yak, haha..!

Maju sebagai Capres berarti Jokowi telah menghina dan melecehkan semua para pencari kerja se-Indonesia. Mereka  berpanas hujan memperbaiki nasib, sementara Jokowi seenaknya saja pindah-pindah kerja. Jangan2 nanti setelah jadi Presiden nanti, Indonesia juga akan dia tinggalkan. Ingat, tahun 2016 nanti di Amerika juga akan ada Pilpres-nya. Bisa aja kan, Jokowi minat ikut Nyapres di sana, hahaha…!

*Selamat Pagi…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...