Halaman

18 Mar 2014

Membeli Dosa


Butuh biaya besar untuk berjanji, tapi kenapa tak berniat untuk menepati?

Tak mudah untuk mengumbar janji di Indonesia. Jangankan untuk menepatinya, untuk sekedar mengucapkannya saja tak sedikit biayanya. Butuh uang banyak agar ada yang mau mendengarkan janji kita. Padahal kita ingin sebanyak-banyaknya orang yang mau mendengar. Padahal itu baru untuk sekedar agar mereka mau mendengar janji kita. Itulah dia kampanye, hehehe… (:

Ratusan juta mesti digelontorkan kepada massa, agar mereka bersedia mendengar janji-janji yang akan diumbar. Itu pun masih jauh dari cukup, sebab yang bersedia mendengar janji itu juga ingin agar selain mendengar politisi berjanji, mereka juga ingin mendengar artis dangdut bernyanyi. Juga tak remeh, karena mustahil mengajak ‘penyanyi kawinan’ yang dibayar murah. Mereka butuh penyanyi beneran plus dengan goyangnya sekalian, wkwkwk…! Cukup? Belum, karena itu baru ongkos untuk kampanye di satu lokasi. Padahal ada ratusan titik kampanye di seluruh Indonesia selama 2 minggu ini. Sumpah, saya sendiri bingung mengkalkulasi biayanya (:

Ternyata belum selesai teman-teman. Janji yang diucapkan itu, selain butuh didengar dia juga butuh dipercaya. Dan agar dipercaya itu juga tak mudah. Apalagi percaya terhadap politisi. Kepercayaan timbul dari integritas yang dijaga secara konsisten. Padahal sudah rahasia umum pula bahwa banyak politisi yang diragukan integritasnya. Jadi normal saja jika mereka sulit untuk dipercayai.

Karena tak mudah untuk mendapatkannya, maka kepercayaan itu mesti dibeli. Setiap yang dibeli juga ada harganya. Setiap yang berharga mesti dikaitkan dengan uang. Itulah kenapa ada yang namanya serangan fajar. Agar orang percaya dengan janji, mereka juga mesti diberi uang.

Selesai? Oooh, masih berat perjuangannya, teman! Meski sudah dibeli, ternyata kepercayaan itu belum tentu dimiliki. Sebab selain kampanye janji-janji manis, ada juga yang meyerukan penipuan.

“Ambil uangnya, jangan pilih orangnya…!

Inilah kampanye yang paling aneh dan unik. Cuma di Indonesia ada penipuan yang dikampanyekan, hahaha…! Kampanye ini sungguh menghasut, sebab diserukan langsung oleh artis, selebritis dan tokoh-tokoh terkenal.

Apa jadinya Indonesia, jika pemimpin dan yang dipimpin sama-sama berniat menipu. Pemimpin menawarkan uang demi proyek jangka panjangnya. Rakyat mengambil uangnya demi solusi sesaatnya. Yang lebih gawatnya, penipuan berencana itu malah dikampanyekan oleh para aktivis, yang mestinya berperan aktif dalam mendidik kecerdasan pemilih.

Sungguh tak mudah dan tak murah biaya untuk mengumbar janji itu. Anehnya, meski ongkos janjinya besar, tapi tak berniat pula untuk menepatinya. Bodoh itu atau bukan? Dosa kok dibeli…?

*Selamat Pagi…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...