26 Mar 2014

Ribas Magical Art Part 1


Setidaknya sudah 2X Dian menghina idola saya, Ribas. Saya tak terima donk! Tapi walau begitu saya tetap suka kok, sama Dian, wkwkw…! Nah tulisan ini akhirnya terpaksa juga saya post, agar Dian juga tau siapa orang yang jadi saingannya itu (: Setidaknya bermanfaat sebagai pencerahan bahwa musik Indonesia itu idealnya adalah seperti apa yang telah dihasilkan Ribas, hehehe…!

Ribas bukanlah sebuah grup Band. Kalaupun misalnya suatu saat dia bikin grup, saya orang pertama yang akan protes. Sebab Band dan solo itu sungguh beda. Band butuh penyatuan konsep dan visi masing-masing personel untuk kemudian membentuk satu konsep baru. Tak banyak band yang besar, dan legend sekalipun yang mampu mempertahankan cita-cita awal pembentukan bandnya. Sebab, pasti tak mudah karena masing-masing personel tetap punya idealisme sendiri-sendiri. Band sekelas Bon Jovi pun terakhir sudah ditinggal gitaris yang telah mendampinginya hampir sekitar 30 tahun. Di Indonesia, Slank generasi pertama adalah musisi-musisi besar yang akhirnya malah berkarir sendiri-sendiri.

Ribas, adalah asset musit terbaik di Indonesia. Kenapa tidak terkenal, sebab dia banyak menghabiskan waktunya di luar negeri, kuliah. Sekarang dia sudah jadi Doctor, Phd…WOW… (: Jurusan: filsafat. Bayangkan saja kualitas lirik dari seorang doctor filsafat! Gila…Keren beud, hehehe…!

Masalahnya, lirik yang tak biasa itu justru tak ramah dalam industri musik kita yang orientasinya melulu soal uang. Saya sendiri sungguh kecewa kenapa lagu ‘Sebelah Hati’ dan ‘Kekasih Buat Kekasihku’ yang dipilih untuk dijadikan single andalan di album 1 dan 2-nya. Bukan karena lagu atau liriknya tak bagus. Khususnya lagu ‘Kekasih Buat Kekasihku’, lagu apa yang bisa menandingi kualitas kegalauan liriknya? Saya belum melihat tandingannya kecuali ‘Butiran Debu’ dan ‘Lelaki Yang Menangis’, atau malah ‘Simphoni Hati’ yang semuanya juga adalah lagu ciptaanya sendiri.

Ditunjang lagi oleh kesempurnaan ‘soul’ musik dan vokalnya, ini lagu sungguh menghanyutkan perasaan.  Hanya saja ‘terlalu biasa’ bagi seorang doctor filsafat seperti Ribas. Saya yakin pasti jika punya kuasa, Ribas akan memilih ‘Seseorang Yang Lain’ atau ‘Tak Bisa Berhenti’ untuk dijadikan single andalan. Atau jika bisa negosiasikan ‘Aku Rindu Padamu’ dengan produsernya, jika ingin tetap ada unsur komersialnya.

Untuk album pertama, lagu ‘Bandara’ bolehlah. Tapi jika saya yang berkuasa, lagu pilihan saya adalah ‘Lelaki Yang Menangis’, sebagai single pertama. Karena Cuma 2 lagu yang dibuatkan vidklip, ‘Menunggu Ternyata Menyakitkan’ lebih bisa menarik perhatian, tanpa mesti kehilangan idealisme liriknya. ‘Sebelah Hati’ terlalu biasa, Ribs…! (mudah2an aja dia nyasar ke blog ini, hehehe…!)

Ribas adalah lirikus terbaik di Indonesia. Maestronya lagi galau, hahaha…! Sejak berhenti nyanyi (konon karena produser menganggapnya tak bisa nyanyi, ngiik), dia beralih jadi produser sendiri. Lihat saja betapa hebohnya ‘Butiran Debu’. Walau Cuma beredar 2 bulan sebab bermasalah dengan penyanyinya, satu albumnya keseluruhan terbilang sangat sukses. Butiran Debu adalah lagu Indonesia yang terbanyak di cover version, versi Youtube. Butiran Debu adalah lagu terbanyak yang pernah dijadikan sebagai soundtrack FTV dan sinetron di Indonesia. Terakhir info dari Ribasnya langsung, sekitar 16 judul.

Sayang, rilis Maret, awal Juni semua albumnya ditarik lagi dari pasaran dan radio-radio, termasuk menghapus semua file yang ada di 4shared, hihihi…! Saya sendiri sebagai penikmat gratisan sempat mengamankan 6 dari keseluruhan 10 lagu di album Rumor tersebut. Ribas tenggelam? Tidak. Rata-rata lagu album Rumor tersebut langsung dipakai oleh banyak penyanyi lainnya. ‘Butiran Debu’ dipakai Terry. Studi banding dipakai Derbi Romero. Wow dipakai XOIX. Lagu-lagu lainnya juga sedang dalam proses rekam oleh penyanyi lain.
 Kepanjangan, ahh…! Sambung nanti lagi yaa… (:


Related Posts

Ribas Magical Art Part 1
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.