3 Mar 2014

Untukmu, Bu Guru...! Part 1

-->
Sambil keren saya pernah galau dalam waktu yang bersamaan. Cerita ini tentang seorang guru… (: . Eits, jangan keliru sangka dulu. Ini bukan soal Dian waktu itu, kok, hahaha…!

Kurang lebih 15 bulan, sekitar 2 Minggu sebelum Natal 2012 yang lalu saya ditelpon oleh seorang guru MTs (saya bukan lulusan SMP, hehehe…) saat masih sekolah di kampung dulu. Tak banyak yang kami bicarakan saat itu. Say Hello, saling tanya kabar dan sedikit bullshit dan selesai. Meski cuma bicara sekitar 3 menitan, sensasinya masih saya rasakan sampai sekarang ini. Sungguh, mengingatnya saya benar-benar merasa keren. *Ini apa sik…?

“Hallo, Ini Asrul Khairi, kan? Saya Bu xXx, masih ingat, kan? Gimana kabarnya sekarang, bla…bla..bla…!”

“Yaa ingat lah Bu’. Ibu gimana kabarnya? Sehat-sehat saja kan? Masih ngajar di sana, Bu’? bla…bla…bla…!”

Lalu kerennya di mana? Apa yang membuat saya berhak keren? Agar lebih mudah memahaminya, saya ceritakan sedikit sejarah akademis saya.

Tahun 1988 saya lulus TK dengan prestasi memuaskan, hahaha…! Ga penting ya? Saat itu Dian belum lahir, wkwkwk…! Ga penting juga ya…? Lulus TK saya masuk SD dan tamat tahun 1994, juga dengan prestasi memuaskan, hahaha…! Ga penting juga ya? Oh ya, saat itu Dian sudah berumur 1 tahun, dan lagi-lagi ga penting untuk saya kasih tau (: Lulus SD, saya sekolah di sebuah sekolah agama, MTs dan lulus pada tahun 1997. Tetap donk, dengan prestasi yang Insya Allah tidak mengecewakan. Dan setelah itu barulah saya merantau ke Batam, melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah teknik (SMK) di Batu Aji, sekolah 3 tahun dengan prestasi yang amburadul, hahaha…! Oh ya, bagi yang menganggap saya lulusan UPI YPTK Padang Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak itu seperti yang terpajang di Facebook, abaikan saja. Itu HOAX. Seorang teman yang entah kenapa menganggap saya sebagai teman almamaternya memasukkan saya sebagai anggota di situ. Sebagai teman yang baik, yaa saya tentu tak ingin mengecewakannya, donk! Makanya saya accept saja permintaannya tersebut, hehehe…!

Bagaimana dan dengan siapa saya tinggal di Batam rasanya tak terlalu penting saya ceritakan. Intinya, tak mudah hidup di Batam. Prestasi terbaik saya selama dirantau ini adalah punya ongkos mudik sebanyak 2X, hahaha…! Dan itu sungguh bahaya.

Prestasi masa kecil yang tak perlu saya umbar di sini banyak meninggalkan warisan kenangan indah bagi kampung saya. Saya jadi ikon kebanggaan kampung. Saya jadi rule standart pendidikan anak. Bahwa jadi anak ideal itu seperti Siraul. Saya jadi terkenal, selebriti di kampung sendiri.

Sekarang, setelah sekitar 15 tahun berlalu tanpa pernah ketemu sama sekali, guru saya ini menelpon, memanggil dengan nama asli tanpa keliru lafal sama sekali. Woow…! Ditelpon seorang guru setelah begitu lama tak bertemu saja sudah buat saya merasa megah. Apalagi dia memanggil dengan sebutan layaknya absensi kelas: Asrul Khairi.
Nama saya memang bagus, tapi pasti tak mudah mengingatnya, menghapalnya. SANGAT BANYAK teman yang sudah lupa nama KTP saya itu. Bukan karena mereka sengaja untuk lupa. Mereka lupa tanpa sengaja. Jangankan untuk mengingatnya, untuk mengucapkannya saja terkadang mereka keseleo lidah.

 Jadi wajar donk, jika saya merasa keren. Untuk hal beginian, level Dian jelas jauh di bawah saya, hahaha…! Baru tamat 2 tahun saja, sang guru sudah lupa namanya, wkwkwk…! Suerrr…! Ga’ ngintip kok! Ga sengaja aja liat. Makanya, untuk yang beginian, jangan di status, via inbox aja, hahaha…!

”Ibu sekarang lagi di Batam, tempat anak Ibu. Kalau sempat main-mainlah ke sini! Ibu pengen ketemu”, katanya.

Saya senang bukan kepalang. Tentu saja pintanya itu saya iyakan, meski kemudian jadi galau berkepanjangan.

Kenapa galau? Di post berikutnya saja, ya… (:

Related Posts

Untukmu, Bu Guru...! Part 1
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.