20 Agu 2014

Mereka Guru, Bukan Pembantu



Tahun ajaran baru di Indonesia nyaris tak pernah sepi dari konflik. Mulai dari akal-akalan pihak sekolah yang menarik iuran ini itu sampai kepada orangtua yang ngotot anaknya diterima di SD, walau belum cukup umur. Ini mengusik minat saya untuk membahasnya dari sudut pandang saya saja.

Secara kemampuan anak-anak yang lahir di era Crayon Sinchan ini memang tumbuh sangat cepat. Pesatnya kemajuan teknologi informasi ikut berperan membantu perkembangan kemampuan anak. Banyak mainan anak diciptakan khusus untuk membantu cara belajar anak di usia Balita. Boneka saja sekarang banyak yang sudah pintar berhitung dan bercakap Inggris. Sungguh saya merasa begitu inferior di hadapan boneka mainan keponakan saya itu.
Itulah salah satu sebab kenapa banyak orangtua yang ngotot agar anaknya diterima di SD, meski umurnya masih jauh dari cukup. Padahal itu sungguh keliru. Secara mental, mereka justru jauh tertinggal di banding kita-kita yang lahir di jaman komik Petruk dulu. Mereka dididik oleh tivi-tivi berbayar, sedang tontonan anak jadul hanyalah satu stasiun tivi milik pemerintah, TVRI. Tuntunan mereka adalah Halo Selebriti, sedang kita dulu dibesarkan dengan MDA, dan didikan Subuh. Mereka tumbuh dengan belaian kasih sayang semu bermotif uang oleh baby sitter , sedang kita dengan pukulan rotan dan sapu lidi rasa kasih sayang dari orangtua.

Jika anak-anak sekarang mainannya game perang di gadget atau perangkat komputer, jaman kita dulu malah perangnya betulan dengan peluru yang juga betulan, meski terbuat dari biji-bijian. Anak-anak sekarang jika terkena tembakan dan mati, tinggal klik new game. Jaman kami dulu, jika terkena tembakan walau tidak mati, tapi tak jarang bikin heboh kampung karena jerit tangisan. Tapi kesakitan itulah yang membuat mental kita jadi tangguh. Tangis reda, ulang lagi main perang-perangannya, hahaha…!

Alasan karena sang anak sudah mampu berhitung dan berbahasa Inggris itu salah kaprah. Apalagi jika maksudnya agar si anak tetap terpantau karena orangtuanya sibuk dalam karir. Kasihan guru-guru SD (seperti Dian juga, hiiik…hiiiks….*nangis, masih galau)mesti mendidik, mengajar dan mengasuh anak sekaligus. Meski  Inggrisnya lancar, tapi saat ngompol tangisnya lah yang keluar. Meski pintar berhitung, godaan remeh dari teman saja akan buat mereka meraung. Sekolah mestinya tempat anak-anak belajar, bukan tempat penitipan anak. Dian itu guru, bukan pembantu, hah…!
*Tuh kan, Dian lagi…. *nangis lagi.

Related Posts

Mereka Guru, Bukan Pembantu
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.