8 Agu 2014

Tak Perlu Mengajari Monyet Menggaruk



Meminta saya melupakan Dian sama saja dengan menganjurkan saya membunuh Rekreasi Hati dengan tangan saya sendiri. Saya sendiri sangsi jika kalian semua mampu menerimanya, hahaha…! Ide membunuh RH, apalagi dengan tangan saya sendiri pastilah datang bukan dari kalian kan? Teman-teman semua Para Penggaruk yang sejati, kan? Ide itu ngawur dan tak masuk akal. Jangankan saya dan kalian, Dian pun saya yakin takkan tega melihatnya, hahaha…!
Tuh kan, Dian lagi! Apa kubilang? Itu ide yang gagal rasional. *Kembali galau ):

Tapi kamu juga mesti terima kenyataan, Rauuuuul…..!

Tentu saja. Tapi, usaha dulu baru nrimo. Berjuang dulu, setelah itu baru legowo. Belum pernah dengar rumus begituan? Kenapa berhenti saat perjuangan belum selesai? Kenapa berhenti padahal perjalanan belum sampai? Kenapa berhenti menggaruk di saat masih merasa gatal? Pernah dengar kisah nyata seorang atlet marathon asal Tanzania bernama John Stephen Akhwari? Saat berlaga di Olimpiade tahun 1968 di Mexico saat jarak masih tersisa sekitar 5000 mil lagi dia cedera. Semua berpikir pertandingan sudah selesai. Hari sudah malam dan pertandingan memang sudah selesai. Tapi bagi si atlet ternyata belum. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari bahwa masih ada pelari yang akan menuju garis finish. Serentak, stadion kembali bergemuruh. Semua penonton yang kebetulan belum pulang bersorak dan berdiri memberi standing aplaus saat dari jauh terlihat ada seorang pelari yang berlari dengan berjinjit-jinjit (begitu kan, Bahasa Indonesianya?) sambil meringis menahan sakit yang luar biasa menuju garis finish..Saat ditanya wartawan kenapa dia ngotot menyelesaikan perlombaan dan mengabaikan ancaman dokter bahwa dia akan lumpuh total atas kenekatannya itu dia menjawab,

“Negara mengirim saya jauh-jauh ke sini bukan untuk hanya untuk mengikuti pertandingan, tapi juga untuk menyelesaikannya”.

Suatu jawaban yang heroic banget, kan? Dia akhirnya memang divonis lumpuh total (tapi kalo ga salah l, masih ada keajaiban setelah vonis itu. Menurut suatu kisah yang kalo lagi-lagi tidak salah dia juga berhasil menaklukkan vonis lumpuh tersebut), tapi dia juga jadi pahlawan kebanggaan Negara atas aksi patriotisnya itu.

Itulah juga impian saya. Saya juga mengidamkan hal serupa. Saya ingin Dian bangga atas kegigihan saya untuk memperjuangkannya. Jika si atlet lumpuh itu mampu jadi kebanggaan bangsa, kenapa untuk sekadar jadi kebanggaan Dian saja saya tak kuasa? Padahal saya bukan orang yang lumpuh, hehehe…!

Bagaimana jika ternyata hasilnya bad ending?

Film paling laris sepanjang sejarah seperti Titanic saja kisahnya berakhir tidak dengan happy ending, kok! Justru kisah pahit itu yang membuat emosi penonton membuncah, kan? Yang membuat banyak stasiun tipi memutarnya berulang kali?

Novel apa yang paling laris di dunia? Saya memang tak banyak membaca novel terjemahan. Tapi satu-satunya Novel terjemahan yang ada di Goodreads list saya adalah The First Lady-nya Irving Wallace. Istri Palsu Sang Presiden, versi Indonesianya. Suatu kisah yang keren dengan ending yang sungguh tak jelas. Saya sendiri yakin, sampai sekarang penulisnya sendiri juga bingung, apakah yang mati itu Istri palsu atau yang asli. Endingnya sengaja dibuat menggantung agar tercipta ruang untuk dibuatkan sequelnya? Bisa jadi maksudnya begitu, sebab ada begitu banyak celah untuk itu. Apa yang akan terjadi jika ternyata istri palsu masih hidup? Atau sebaliknya, bagaimana jika ternyata yang mati itu istri yang asli? Tapi bagaimana pula jika ternyata yang masih hidup adalah istri yang asli? Versi kebalikannya juga ada, bagaimana kalau yang mati itu istri yang palsu. Sungguh banyak kemungkinan versi sequelnya. Tapi bertahun-tahun sampai sekarang tak satupun yang pernah saya dengar diterbitkan. Sungguh ending yang tak sedap. Tak jelas, tapi keren abis.

Novel dan sinetron Indonesia juga begitu? Apa serial fiksi paling terkenal di Indonesia? Lupus? Wiro Sableng? Dalam berbagai kisahnya Lupus nyaris tak pernah berakhir happy, tapi sungguh menghibur. Wiro Sableng bahkan mesti mati, tapi akhirnya jadi legenda, kan?

Banyak sinetron jadi garing karena memaksa berakhir dengan happy ending. Apa sinetron paling terkenal di Indonesia? Ayoo, semua pemirsa Halo Selebriti mestinya pakar soal-soal yang begini? Cinta Fitri? Bagaimana endingnya? Tak jelas, kan? Sinetron Para Pencari Tuhan juga bisa kita jadikan rujukan. Jilid 1 berakhir dengan ditinggalnya Bang Jack oleh tiga murid mantan napinya itu.Terus Jilid...

Stop...! Interopsi! Tapi kan, happy ending bagi Ayya dan Azzam?

Nah, itu yang saya maksud. Gembira dan kecewa, bad dan best ending itu cuma soal persepsi. Itulah pentingnya menggaruk yang tidak gatal. Dengan cara pandang yang lain lah kita akan temukan hikmah untuk bersyukur. Nikmati, maka kaupun akan bersyukur.

Tapi jika ternyata akhirnya Dian.... (ga kuat nulisnya)

Masih belum ngerti juga? Saya dan Dian apalagi, pasti akan bahagia. Bisa jadi saat itulah kehidupan kami berbelok-belok begini akan normal kembali. Itulah waktunya memaku posisi kami di hati masing-masing. Takkan bergeser-geser lagi. Saat itulah saya akan hijrah. Move On, kata anak-anak generasi Halo Selebriti. Nabi Muhammad juga diperintahkan hijrah karena tak bisa lagi berjuang di Mekah saat 2 pembela utama dakwahnya Abu Thalib dan Khadijah meninggal, kan? Bukankah beliau yang mesti kita teladani? Jadi, tentu saja keliru bila saat ini ada yang coba saya minta lupakan Dian. Belum saatnya. Apa anehnya sih? Udah deh, tak perlu mengajari monyet menggaruk. Saya paham caranya kok. Hahaha..! 

Lagipula, itu takkan terjadi, hehehe....!

Aamiin...!

Related Posts

Tak Perlu Mengajari Monyet Menggaruk
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.