Halaman

20 Agu 2014

UN Versi Saya



SALAH BESAR jika pemerintah merasa bangga dan senang dengan banyak pihak swasta yang peduli pendidikan anak dengan mendirikan banyak tempat-tempat Bimbel. Pemerintah mestinya prihatin dan tersinggung karena itu mengabarkan bahwa pemerintah gagal dalam memberdayakan sekolah. Para pemilik bimbel itu layak diragukan ketulusannya, sebab mereka justru memanfaatkan rendahnya tingkat kesejahteraan para guru. Rendahnya tingkat kesejahteraan guru berakibat nyata pada kontribusi mereka yang tidak optimal dalam mengajar. Dan lembaga-lembaga Bimbel jeli melihatnya sebagai peluang.

Ohya, kenapa saya sering posting soal dunia pendidikan. Ini tak ada hubungannya sama sekali dengan Dian, hahaha….! Saya suka belajar dan peduli dengan dunia pendidikan. Saya tak bangga berteman dengan kebodohan. Jadi jika ada yang berniat hapuskan UN, saya orang pertama yang akan menghadangnya.

Betapa cemennya generasi Halo Selebriti ini. Diwajibkan mendapat nilai 5 saja sudah mengancam akan mendemo dan membakar sekolah. Saya dulu jika ada saja yang nilainya di bawah 8 berarti bencana. Tak mungkin lagi membaca lanjutan Wiro Sableng. Komik Petruk juga tak mungkin lagi diupdate. Malah yang ada dan gagal saya sembunyikan terancam akan dibakar jika sampai ketahuan sama orangtua saya.

UN itu misinya bagus, meski formatnya tidak tepat. UN versi saya adalah semua mata pelajaran, termasuk yang sekunder seperti Olahraga, Kesenian dan Keterampilan diujikan dan siswa diwajibkan mencapai nilai 9, tapi di satu mata pelajaran saja. Outputnya akan menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi di bidangnya masing-masing. Lebih focus. Bakat dan kemampuan merekapun lebih mudah diarahkan.

Format selama ini malah meneror siswa. Tak heran, meski sejatinya termasuk anak pintar, ketika UN justru menjadi anti klimak, sebab gagal lepas dari belitan terror UN. Format versi saya malah sebaliknya. Siswa pasti akan terangsang dan terpacu untuk menjadi yang terbaik di mata pelajaran favoritnya. Mustahil jika seorang siswa tak punya satu saja mata pelajaran favorit, sebadung apapun dia.

Sebadung dan senakal apapun seorang siswa dia pasti punya satu mata pelajaran favorit. Minimalnya dia pasti memiliki suatu keunggulan di satu mata pelajaran tertentu. Dengan format UN versi saya ini semua bakat-bakat dari tiap siswa akan terlihat. Guru dan orangtua tinggal mengarahkannya saja agar bakat itu terus terasah dan berkembang.
Bakat yang sudah terendus sejak SD itu mesti terus dikembangkan di tingkat berikutnya. Sekolah setingkat SMP dirombak menjadi sekolah khusus, misalnya sekolah khusus Olahraga, sekolah seni, sekolah IPA atau IPS dan sebagainya. MTs, sekolah khusus agama adalah contoh sukses sekolah seperti ini.

Sulitkah mewujudkannya? Saya yakin tidak. Batam sebagai satu Kabupaten/Kota memiliki puluhan sekolah negeri setingkat SMP. Bisa jadi lebih dari 100 jika sekolah swasta ikut dihitung. Tinggal dirombak saja. SMP sekian menjadi sekolah Olahraga. Yang itu menjadi sekolah Seni Budaya sedang yang di sana jadi sekolah agama, misalnya. Apa sulitnya…?
Tingkat SMA pematangan. Semua dirombak menjadi sekolah kejuruan. Apa bedanya dengan SMP kalau begitu? Tentu saja ada. Jika MAN sukses sebagai sekolah lanjutan MTs, mestinya yang lain juga bisa, donk! Misalnya lulusan sekolah Olahraga yang nilai domino-nya 9 saat UN melanjutkan di SMK ambil jurusan main gaple. Anak sekolah Kesenian dan Keterampilan yang nilai memasaknya di UN mencapai nilai 9, lanjut di SMK jurusan masak-memasak.

Begitu tamat SMK mereka sudah matang. Umur juga sudah masuk di usia yang mestinya produktif, 19 tahun. Di Indonesia kita sudah mesti punya KTP di usia 17 tahun atau sudah menikah. Jika program pendidikan kita masih begini melulu, di usia 19 tahun saja mereka masih bingung, apa sebenarnya potensi mereka. Bagaimana bisa produktif, jika seseorang justru tak mengerti kelebihannya sendiri.

Tamat di usia 19 tahun, Indonesia sudah punya bibit-bibit unggul di seluruh bidang. Piala AFF tinggal ambil wakil dari SMK jurusan Sepakbola. SEA Games, Asian Games dan Olimpiade kita tak bakal kekurangan atlet. Festifal film atau music, pameran budaya dan olimpiade seni dan sains dan sebagainya, kita takkan pernah kekurangan talenta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...