Halaman

23 Nov 2014

Anarkis? Pikir Lagi, Deh...!



Bagi teman-teman buruh yang sering demo anarkis, silahkan renungkankan lagi tindakan kalian. Sebagai wartawan imajiner, saya berkesempatan untuk ikut meliput perundingan membahas nilai UMK bersama asosiasi pengusaha, wakil pemerintah dan 10 orang wakil buruh.  Di dalam ternyata suasana sangat adem, bertolak belakang dengan situasi panas dan anarkis di luar. Berikut transkip sidang yang sempat saya rekam.

Wakil Pengusaha              :Santai saja! Tak usah tegang! Ayo dimakan cemilannya, hehehe...!

Wakil Buruh 1                    :Siap, Pak!

Wakil Pengusaha              :Jadi begini adik2. Kita semua tahu bahwa sekarang situasi sedang sulit. Bahkan beberapa negara malah sudah bangkrut. Jadi saya harap kalian mengerti keberatan kami.

Wakil Buruh 1                 :Justru itu, Pak! Kami minta kenaikan yang wajar. Pertumbuhan ekonomi tak sebanding dengan upah buruh.

Wakil Pengusaha              :Jika kalian memaksakan, apa boleh buat! Banyak perusahaan yang akan tutup dan kami pindah ke luar negeri.

Wakil Buruh 1                    :Kami tak bisa diancam dengan itu, Pak! Kami bukan orang2 bodoh. Apa bapak pikir kami tak mengerti bahwa soal pindah itu bukan perkara remeh. Soal lahan,  perijinan, pemindahan aset dan sebagainya.

Wakil Pengusaha              :Tak perlu mengajari monyet menggaruk. Kami mengerti apa yang harus kami lakukan. Di negara anu birokrasi tak berbelit-belit seperti di Indonesia. Soal lahan dan perpindahan aset itu bukan perkara sulit.

Wakil Buruh 1                    :Kami pun juga tahu, Pak! Tapi tetap butuh waktu yang tak pendek. Apalagi, perusahaan2 di sini hampir semua cuma perusahaan suplier/jasa. Misal ada perusahaan yang cuma mengerjakan packing saja. Bahkan di perusahaan tempat saya, hari-hari pekerjaan kami cuma memotong kabel saja. Apa Bapak pikir gampang mencari rekanan dan mitra baru nanti di tempat baru? 

Wakil Pengusaha              :Nama kau siapa?

Wakil Buruh 1                    :Anu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Kerja di PT mana?

Wakil Buruh 1                    :PT Anu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Sekretarissss.....! (memanggil sekretaris)

Sekretaris                            :Ya, Pak!

Wakil Pengusaha              :Telpon segera PT Anu. Katakan bahwa asosiasi ingin agar si Anu segera di PHK. Kalau mereka keberatan, tak mampu bayar pesangon, asosiasi yang akan membayarnya.

Sekretaris                            :Ya, Pak!

Wakil-wakil buruh saling berpandangan.

Wakil Pengusaha              :Oke, kita lanjutkan! Kau, nama kau siapa?

Wakil Buruh 2                    :Benu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Tak mau bernasib seperti itu, kan?

Wakil Buruh 2                    :Tentu saja saya tak mau, Pak! Tapi perusahaan tak bisa memperlakukan kami begitu saja. Mana bisa kami di-PHK sembarangan.

Wakil Pengusaha              :Justru itu, makanya kita berunding di sini. Silakan sampaikan tuntutanmu. Kau ingin gaji berapa?

Wakil Buruh 2                    :Sesuai tuntutan kami semua, tiga setengah juta
.
Wakil Pengusaha              :Yang saya tanya, kau ingin gaji berapa?

Wakil Buruh 2                    :Pokoknya segitulah, Pak! Sesuai UMK

Wakil Pengusaha              :Gaji kau sekarang berapa?

Wakil Buruh 2                    :Dua setengah juta, Pak!

Wakil Pengusaha              :Oke, gaji kau akan dinaikkan jadi empat juta. Tapi silahkan setujui nilai UMK sesuai permintaan kami! Bagaimana?

Wakil Buruh 2                    :Tapi, saya kan jadi tak enak sama teman2 yang lain, Pak?

Wakil Pengusaha              :Kalian semua yang di dalam sini akan dinaikkan gajinya sesuai permintaan kalian, plus, masing2 dari kalian kami beri 10juta, bagaimana?

Wakil Buruh 2                    :Tapi, Pak! Perundingan ini disaksikan oleh banyak wartawan, Pak!

Wakil Pengusaha              :Kalian tenang saja! Semua wartawan juga sudah ada jatahnya masing2.  Pokoknya, ini semua takkan bocor. Saya jamin. Yang penting, kalian setujui nilainya.

Wakil Buruh 2                    :Tapi bagaimana dengan orang2 yang di luar, Pak! Mereka tetap takkan setuju.

Wakil Pengusaha              :Yang penting kan, kalian sudah setuju! Kalian kan wakil mereka? Tenang saja, kalian boleh kok tetap pura2 menolak, kesal dan pura2 ikut berunding lagi. Kan kita di sini asyik2 aja. Makan sambil ngopi2? Ya, kan? Bodo amat sama yang lain. Silahkan aja mereka berpanas-panasan, teriak-teriak, saling lempar, bakar2an! Kan sudah ada aparat yang akan mengurusnya. Bagaimana? Oke....?

Wakil Buruh 2                    :Bagaimana ini, Pak? (berbisik kepada wakil pemerintah yang duduk di sebelahnya)

Wakil Pemerintah            :Setujui saja, agar masalah tidak berlarut-larut.

Wakil Buruh                        :Bapak dapat bagian juga, ya?

Wakil Pemerintah            :Yaa, iyya, donk! Hehehe (menyeringai)

Wakil Buruh                        :OK, Pak! Kami setuju.

*Maka nilai UMK pun disepakati sambil kedua belah pihak tetap pura-pura menolak, hahaha....!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...