Halaman

19 Nov 2014

Mungkinkah Membasmi Rokok?



Seorang teman update status yang kira2 intinya berharap, agar kenaikan BBM juga diikuti dengan naiknya harga rokok. Lebih jauh lagi harapannya tentu agar orang-orang berhenti merokok.

Saya memang merokok dan juga ingin berhenti merokok. Walau ingin berhenti, nyatanya sampai saat ini saya masih merokok. Tak mampu saya prediksi kapan saya bisa menghentikannya. Mungkin cuma terwujud jika Dian yang minta. Itupun mungkin butuh sambil mengancam saya,  hahaha….! *galau maning.

Tapi sekitar sebulan yang lalu saya sempat berdiskusi SERIUS dengan seorang teman yang juga perokok. Sambil merokok kami membahas, kenapa rokok tak bisa dibasmi, setidaknya di Indonesia. Kesimpulan diskusi kami ternyata sungguh mencengangkan. Diskusi tak biasa antara 2 sahabat yang awam agama ternyata mampu menjangkau hikmah2 mendalam soal rokok, hahaha…!

Rokok tak bisa dibasmi karena dia ‘menghidupkan’. Sulit kan, memahaminya? Yaa… karena memang disukusi kami sekali ini sungguh tak biasa. Pabrik rokok tak mungkin ditutup karena dia telah ‘menghidupkan’ banyak nyawa selama ini. Betapa banyak karyawan pabrik itu yang muslim? Keluarganya. Belum lagi, rokok adalah property utama para pedagang kaki lima. Penjual pampers, shampoo, sabun, pisau silet, pena dan lain2 butuh rokok sebagai identitas warungnya.

Kami tidak bicara dan membela para perokok dan pabriknya. Keuntungan besar dari penjualan rokok tentu bukan bagi karyawan atau pihak terkait lainnya. Profit terbesar dan yang besar tentu dimiliki oleh para pemilik pabrik, distributor dan pengusaha2 terkait dengannya yang rata2 non muslim. Bagi mereka tentu saja untung besar, walau tentu tidak berkah.

Lain halnya dengan karyawan, keluarga dan pengusaha2 kecil rokok yang muslim. Rokok adalah ‘berkah’ dari usaha mereka dalam memperjuangkan hidup. Harap diingat juga, walau masih kontroversi, tapi sampai saat ini belum ada seorangpun ulama yang 100% berani mengharamkan rokok. Padahal sudah tugas ulama untuk beristijma’ soal-soal yang menyangkut umat, kan?

Saat dulu Ajinomoto diminta tutup karena komposisi ramuannya mengandung minyak babi, ulama besar sekelas Zainuddin MZ saja tak mengamininya. Revisi ramuaanya, tanpa perlu menutup pabriknya. Bakal banyak pengangguran jika pabriknya ditutup, serta efek2 domino lainnya. Padahal sudah jelas dan tegas unsur haram yang termuat di dalamnya.

Islam itu agama yang hikmah. Butuh tinjauan lebih jauh dan mendalam untuk menemukannya. Islam agama social,  bukan agama yang tertutup. Itulah kenapa jenis usaha terbaik yang dianjurkan Islam adalah berdagang. Sebab di dalamnya ada proses sosial, transaksi jual beli yang saling menghidupkan. 

Islam agama yang fair. Karena itu, walau bukan negara Islam, kita malah diperintahkan untuk belajar sampai ke negeri Cina, sebab memang merekalah ‘guru’ yang tepat untuk berdagang.
Islam adalah agama yang rahmatal lilalamiin. Rahmat, tidak saja bagi manusia, tapi juga bagi alam seutuhnya. Perusahaan2 raksasa di dunia, Indonesia dan juga di banyak Negara Muslim lainnya rata2 dikuasai oleh pihak non muslim, walau pekerjanya muslim. Usaha mereka, maju, bertahan dan berkembang karena itu ‘menghidupkan’ banyak umat muslim sebagai karyawannya. 

Allah Tuhan semesta Alam. Allah Maha Adil terhadap semua makhluknya. Jadi, tak peduli Islam atau bukan, rejekiNYA selalu akan tercurah bagi siapa saja. Jadi soal pabrik rokok dan sejenisnya itu cuma soal berkah dan tidaknya usaha manusia dalam memperjuangkan hidupnya. Ada yang usahanya diberkahi Tuhan dan ada juga yang tidak. Itu soal hikmah. Dan bicara soal hikmah memang butuh kajian yang mendalam. Apakah usaha kaki lima kita jadi usaha yang berkah karena di dalamnya juga ikut menjual rokok? Apakah pakaian yang kita pakai berkah, sebab diproduksi di negara2 Barat, yang lalu lintas ekspor-impornya bisa saja diselingi dengan aneka transaksi korupsi? Wallahualam….!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...