Halaman

22 Feb 2015

Gatal Yang Tak Perlu Digaruk



Panasnya situasi politik di Negara kita mestinya tak perlu membuat kita ikut-ikutan panas pula. Tak semua gatal butuh digaruk. Persoalan kita sendiri sudah banyak, jadi potensi masalah sebetulnya tak perlulah pula dijadikan masalah baru.

Sahabat-sahabat saya yang cuma segelintir itu SEMUAnya menganggap remeh buku saya, bahkan tanpa merasa perlu membacanya sama sekali. Menganggap remeh buku saya berarti meremehkan saya juga. Rumus sodorkan bukti jika diremehkan, lawan bila dilecehkan yang saya terapkan pun tak berarti apa-apa sebab mereka juga tak berniat terhadapnya.

Ini sungguh berpotensi jadi masalah. Bukan saja soal hubungan harmonis yang mungkin terganggu, semangat saya pun bisa begitu. Tapi seperti biasa, dengan memandang dari sisi yang lain saya malah makin bersemangat karenanya.

“Everyone want to beat you, Winner!”, motivasi keren dari Ribas, penyanyi idola tetap membesarkan jiwa dan semangat saya.

Banyak yang mengenal saya sebagai si cuek pengguna ilmu besi. Bodoh amat dengan pandangan orang lain. Pandangan orang tidak akan menjelaskan tentang kita sesungguhnya. Justru sebaliknya, pandangan mereka itulah yang akan mempertegas siapa mereka sebetulnya.



“Jika kamu gagal, sahabatmu akan sedih. Jika kamu sukses, dia akan makin sedih”, saya pahami betul kalimat yang saya kutip sembarangan dari film Three Idiots ini.

Itulah kenapa, walau si Unda Mifta sudah kembali jadi Sari Octavia, Lia Summersun balik jadi Yulia Mustika dan bahkan Dian Bolobolo, ehh…! Tuh, kan Dian lagi L Saya sampai saat ini tetap PeDe sebagai Siraul Nan Ebat. Toh, pada kenyataannya, walau tak dapat dukungan sahabat, saya punya banyak ‘teman-teman asing’ yang mengapresiasi karya saya. Buat apa meladeni mereka yang maunya dapat gratis, sementara banyak diluar sana yang bersedia membayar, bahkan walau sebetulnya berhak pula dapat secara percuma karena berbagai hal. Misalnya mereka yang pengikut, pembaca dan pelanggan tulisan-tulisan elektronik saya. Mereka berhak donk, dapat versi cetaknya? 

Saya bangga sebagai orang Indonesia. Persoalan serius seperti hukuman mati saja bisa ditanggapi dengan penuh rasa humor. Protes Australia terhadap hukuman mati warganya dengan mengungkit-ungkit bantuan tsunami Aceh ditanggapi penuh dengan rasa humor berjamaah. Maka lahirlah Gerakan Koin Untuk Australia. Maka ada pula yang mengusulkan diadakannya Istora Jilid II versi pejabat, antara Tony Abbot melawan Jokowi sebagai sequel dari Istora pertama Panca vs Redin Paris.

Apa yang lucu dari kalimat ‘Di situ kadang saya merasa sedih’? ‘Bukan Urusan Saya’? ‘Salam Gigit Jari’ dan sebagainya. Kalimat biasa yang sungguh jauh dari unsur humor itu ternyata bisa demikian menggembirakan kita, orang-orang Indonesia. Kenapa? Karena kita mampu mengelola potensi persoalan menjadi property kegembiraan. Apa jadinya, jika kita tanggapi serius protes dari Australia tersebut? Perang? Sangat mungkin. Mengembalikan bantuannya? Bisa saja. Tapi tentu saja itu akan jadi persoalan baru yang takkan mudah mengatasinya. Pertama, dan langsung saja kita sepakati bahwa hutang budi tak bisa dibalas. Hutang materi, tentu saja mesti dikalkulasikan lagi berapa total sesungguhnya bantuan yang mesti kita kembalikan tersebut. Begitu, kan?

Ujian berat yang diberikan Tuhan tidak melulu untuk kita bereskan. Bisa jadi itu cuma agar kita makin kuat dalam kesabaran. Masalah yang mematikan itu menghidupkan, asal kamu tidak mati. Jadi jika kamu masih hidup, maka masalah itulah yang akan menumbuhkan, menguatkan dan membuatmu jadi lebih hidup.

*Selamat Siang….!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...