22 Jun 2015

Goyang Biji

Goyang Biji

“Bijinya digoyang, panas dalam hilang”, begitu bunyi iklannya.

Iklan yang kurang lebih sama pernah pula dibuat oleh Segar Sari yang dibintangi Julia Perez.

“Mantap sodanyaaa, Baaang! Segar susunya, aahhh…!”.

Sama-sama mengaku sebagai minuman penyegar, pereda tenggorokan, panas dalam dan sebagainya. Tapi benarkah panas dalam bisa hilang karena susunya yang segar atau dengan goyang biji tersebut? Saya sungguh sangsi

Membayangkan seorang Julia Perez sudah membuat saya panas di dalam. Apalagi bila melihatnya menyanyi dan bergoyang. Apalagi dia tak cuma bernyanyi dan bergoyang saja. Karena sambil bernyanyi dia juga merintih dan mendesah. Sebab sambil bergoyang dia juga bergetar dan menggeletar, hahaha….! 

Pun demikian dengan Goyang Biji. Terbukti sudah bahwa Goyang Dumang tak mampu menghilangkan semua masalah seperti yang selama ini mereka kampanyekan, karena tak mampu meredakan sariawan, bibir pecah-pecah dan atau panas dalam. Maka Goyang Dumang yang sebetulnya full khasiat dan sudah keren itu mesti direvisi lagi jadi Goyang Biji, agar panas dalam bisa hilang juga. Membayangkan Julia Perez atau Cita Citata yang menggoyang biji malah membuat tubuh saya mengering kepanasan, tenggorokan yang sesak turun naik.

Saya bukan penggemar penyakit. Saya tak ingin hidup yang sudah ruwet begini malah dibuat jadi makin ruwet dengan penyakit-penyakit remeh namun menyebalkan seperti panas dalam itu. Kampanye yang sungguh tak sehat bagi mental, jiwa dan fisik saya. Jadi harapan saya mohon iklannya diperbaiki lagi yaa, pleaseee….!

Ga lucu, tauuuuk….!

18 Jun 2015

Kenapa Angeline Mesti Disholatkan...???

Kenapa Angeline Mesti Disholatkan...???



Beberapa hari belakangan Indonesia disibukkan dengan kematian tragis bocah 8 tahun bernama Angeline. Seluruh Indonesia berkabung. Tapi simpati dan empati yang kebablasan membuat kita lupa diri. Saya ingin bertanya, kenapa Angelinemesti disholatkan….?

Dirinya seorang muslimah? Saya sudah browsing banyak situs dan saya tak temukan sama sekali indikasi bahwa bocah itu seorang Muslim. Walau mungkin terlahir dari keluarga muslim, tapi sejak berumur 3 hari dia sudah diadopsi oleh keluarga ibu angkatnya yang non muslim, (Kristen).

“Tidak selayaknya bagi Nabi (Muhammad Saw) dan orang-orang yang beriman (ummat Muslim) untuk memintakan ampunan (berdoa) kepada Allah bagi orang-orang yang Musyrik (Orang-orang Kafir / orang-orang non Muslim), walaupun mereka itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang yang Musyrik (Orang-orang Kafir / orang non Muslim) itu adalah penghuni Neraka Jahannam!”. (QS At-Taubah: 113).

Inilah akibatnya jika iman tanpa ilmu. Dan media-media sekuler sungguh jeli melihat hal-hal rawan begini. Melihat betapa harunya seorang janda baru sholat di samping peti jenazah suaminya yang non muslim, berita itu mereka ekspos besar-besaran. Bahwa ada keluarga ‘gado-gado’ yang demikian harmonisnya menjalani hidup. Akibatnya apa? Umat Islam jadi makin bias terhadap ajaran agamanya sendiri. 

Masalah kemanusiaan dan keagamaan itu soal yang mestinya bisa dipisahkan dengan tegas. Mencampur aduk keduanya bukan saja tidak ada manfaatnya, malah bias jadi menimbulkan konflik keagamaan. Italia yang Negara Khatolik bersedia menampung pengungsi muslim Suriah sebab mereka mampu membedakan bahwa pengungsian adalah persoalan kemanusiaan, bukan lagi isu keagamaan.

Persoalannya, banyak umat Islam malah justru bersikap sebaliknya. Etnis Rohingnya yang terpinggirkan dari Myanmar itu jelas persoalan kemanusiaan. Negara mana saja yang ber-prikemanusiaan mestinya tunjukkan sikap pedulinya. Gazza Palestina takkan pernah bias menarik simpati Negara lain, selagi umat Islam masih saja membawa-bawa isu agama di dalamnya. Kita berharap PBB dan lainnya mendukung Palestina sambil tetap mengatasnamakan Islam. Satu hal yang mustahil, sebab kekuatan PBB sendiri justru didominasi oleh Negara-negara kafir.
Selamat Malam…!

13 Jun 2015

Review Ngawur Indonesia vs Thailand

Review Ngawur Indonesia vs Thailand



Beberapa saat setelah pertandingan tadi malam saya bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan pihak SCTV Sport. Berikut transkip dialog ngawur kami…

Raul     :Keputusan memasang Bung Towel sebagai komentator di babak kedua saat lawan Singapura terbukti membawa perubahan besar pada permainan tim U-23 kita. Baru 3 menit Evan Dimas sudah membobol gawang lawan dan Indonesia melaju ke semifinal. Nah, kenapa tadi SCTV malah memasang Bung UK (Yusuf Kurniawan) sebagai komentator?

SCTV    :Biasa saja. Rotasi demi kebaikan tim. Ingat,anak-anak bermain tiap 2 hari sekali. Sangat menguras stamina. Bung Towel butuh diberi istirahat.

Raul     :Tapi begitu ketinggalan 0 -2 di babak pertama tadi mestinya Bung Towel juga bisa dipasang lagi,kan? Seperti 2 hari lalu saat lawan Singapura?

SCTV    :Ketinggalan 2 gol membuat kita harus perkuat lini depan. Kita lebih butuh pencetak gol ketimbang komentator. Itu makanya tadi Muchlis Hadi yang dimasukkan.

Raul     :Tapi kenyataannya penampilan tim malah makin memburuk. Kebobolan 3 gol lagi. Pergantian yang dilakukan tak efektif. 

SCTV    :Pertahanan kita tadi sungguh buruk. 

Raul     :Padahal kita punya posisi bek kita diisi oleh legenda bola asal Brasil Vava dan Mario Zagalo.

SCTV    :Entahlah. Justru mainnya jelek. Makanya tadi diganti sama Zalnando.

Raul     :Ngomong2 tentang Vava Mario Zagalo kenapa mereka bisa perkuat Indonesia? Bukankah mereka sebelumnya sudah pernah memperkuat Brasil? Jadi legenda malahan…?

SCTV    :Aturan FIFA kan membolehkan. Jika mainnya masih di kelompok umur pemain boleh memperkuat tim senior untuk Negara lainnya.

Raul     :Tapi kan ini kasusnya terbalik? Mereka sudah jadi legenda tim senior Brasil, kenapa malah sekarang main untuk tim muda Indonesia?

SCTV    :Malah bagus, kan? Hahaha…! Ngaco saja kau ini!

Raul     :Balik lagi ke pertandingan tadi. Saya masih curiga, kenapa Bung Towel tidak dipasang? Ada konflik?

SCTV    :Konflik? Tak ada. Tim kita tetap solid.

Raul     :Barangkali karena tindakan indiplinernya kemaren dia diberi sanksi, mungkin?

SCTV    :Tindakan indisipliner yang mana?

Raul     :Karena dia datang terlambat saat pertandingan lawan Singapura. Makanya dia diberi sanksi. Tak dipasang saat lawan Thailand?

SCTV    :Isu itu tak benar sama sekali. Honornya saja yang dipotong, hahaha…! Bung Towel tetap penting bagi tim. Pada pertandingan ke depannya bisa saja dia dipanggil lagi, kan? Who knows?

Raul     :Kekalahan tadi memupus harapan kita meraih medali emas. Menurut Mas, ke depannya apa mestinya yang harus kita perbuat?

SCTV    :Kalah menang dalam bertanding itu biasa. Tak perlu disesali. Soal medali emas itu sebenarnya urusan orang-orang pintar.

Raul     :Maksudnya? (bingung maksimal)

SCTV    :Kita ini sudah salah dari awal. Kita sendiri sebetulnya kan punya tambang emas terbesar di dunia. Bayangkan misalnya, Tibo, Boaz, Wanggai dan atlet-atlet asal Papua lainnya ditugaskan dapat medali emas. Padahal tambang emas yang dikampungnya malah diberikan pada Freeport Amerika. Kasihan mereka. Usia mereka masih panjang. Bayangkan, anak-anak muda itu kita tugaskan merebut medali emas satu persatu. Sedang sarjana-sarjana, orang-orang pintar yang duduk di pemerintah malah menyerahkan tambangnya pada Amerika. Mestinya mereka itulah yang ditugaskan merebut tambang emas kita yang terbesar di dunia itu lagi. Bukan malah menyuruh anak-anak muda itu. 

Raul     :… (hening)

*Tamat

10 Jun 2015

Yang Jualan Pakaian Dalam Tutup Juga Donk, hahaha...!

Yang Jualan Pakaian Dalam Tutup Juga Donk, hahaha...!

Bagi pembaca Rekreasi Hati mungkin bisa menduga pendapat saya tentang kontroversi Menteri Agama soal toleransi selama Ramadhan. Yak, saya sependapat dengan Pak Menteri walau banyak yang lain tak setuju. Dulu walau secuil saya sempat bahas betapa tak ada perlunya aturan tutup bagi rumah makan, tempat hiburan dan sejenisnya selama Ramadhan. Kenapa?

Perang Badar terjadi saat bulan puasa. Bayangkan betapa beratnya berperang sambil puasa. Musuhnya bukan cuma kaum kafir, tapi juga setan laknatullah. Sambil tahan nafsu, mereka juga mesti jaga hati. Beratnya jaga hati bisa dilihat dari pengalaman Umar bin Khatab ra.
Sebelum dibunuh sang musuh ternyata meludahinya. Umar batal membunuhnya. Orang itu malah disuruhnya pergi menjauh. Karena Umar takut bila niatnya membunuh rusak, bukan lagi karena membela nama agama Allah, tapi justru karena marah telah diludahi.

Salah niat dalam perang betapa bahayanya. Bayangkan bila mereka bunuh musuh karena lapar. Bukannya dapat pahala, justru malah berdosa. Membunuh saat bulan Ramadhan? Iihh…ngeriik….!

Islam adalah agama yang kuat. Keren abis. Dengan jumlah personel yang tak seimbang, umat Islam malah mampu memenangkan perang. 317 melawan 1000 orang. Perang Uhud, apa benar umat Islam kalah? 700 melawan 3000 orang? Islam tak pernah kalah dalam perang.

Jadi jika begitu kuatnya, kenapa umat Islam Indonesia kini malah begitu cengengnya minta dihormati kala berpuasa. Itu mencederai Islam sendiri. Saya 100% yakin dan jamin bahwa muslim yang tak puasa itu sama sekali bukan karena rumah makan terlihat begitu seksinya. Saya juga percaya bahwa mereka berjualan juga bukan bagi orang-orang yang berpuasa. Lalu di mana salahnya? Kenapa mereka mesti dilarang buka saat puasa? 

Perintah berpuasa adalah bagi setiap orang beriman. Jika tak puasa berarti mereka tak beriman, bukan? Jika ingin berdakwah, mestinya mereka itulah yang diingatkan. Diancampun tak masalah, bahwa setiap muslim yang tak puasa akan dihukum. Saya sangat setuju bila begitu.

Islam agama yang toleran. Rahmatallilalamiin, termasuk bagi bukan umat Islam sekalipun. Umar bin Khatab ra pernah ‘mengancam’ Amru bin Ash yang saat itu menjadi Gubernur di Damaskus atas laporan seorang Yahudi yang merasa diperlakukan tidak adil.

Islam agama yang punya wibawa dan berkharisma. Muslimah yang berkarakter mustahil mengalami tindakan pelecehan seksual. Saya ‘terpaksa’ ikutan, saat seorang teman ambil wudhu begitu mendengar suara adzan.

Tokoh2 dan pemimpin Islam disegani di mana-mana. Gazza yang begitu kecilnya ternyata tak pernah mampu ditaklukkan Israel dan Amerika sekalipun. Di jaman kekhalifahan, negara dan kekuatan mana yang mampu menaklukkan Islam. Konstantin? Romawi? 

Nah kenapa terhadap mereka yang tak ada urusannya dengan Islam dan puasa kita protes? Meminta mereka tutup selama berpuasa tidak saja mencederai kekerenan Islam, malah sebaliknya. Islam akan terlihat begitu lemahnya. Lebih jauhnya lagi, bertolak belakang dengan prinsip Islam yang rahmatallilalamin. Mengangkangi hak asasi manusia. Mereka kan berhak cari nafkah untuk mendapatkan hak hidup yang layak? Rejeki yang mereka dapat juga halal. 

Jika alasannya demi kenyamanan berpuasa? Rentan godaan terhadap yang lemah iman? Kalau begitu, tolong minta juga tutup toko dan warung yang jualan rokok atau makanan ringan. Bahkan bila perlu yang jualan baju sekalian. Sebab, saat lihat pakaian dalam saja pikiran saya sudah kemana-kemana, hahaha…!

8 Jun 2015

Sejarah Presiden dan Gajah

Sejarah Presiden dan Gajah

Bahwa sejarah itu sangat penting telah dikabarkan dengan sangat telak oleh insiden Blitar bergetar beberapa waktu lalu. Tak tanggung-tanggung seorang Presiden dari negara sebesar Indonesia jadi ‘korbannya’ sebab abai terhadap sejarah. Lalu mestikah kita menyalahkan, apalagi sampai mem-bully pemimpin sendiri?

Tahan dulu, sebab beliau sendiri adalah salah seorang korban. Salah seorang, sebab faktanya sangat banyak ternyata yang pernah telah, sedang dan akan jadi korban dari sejarah yang diabaikan. Korbannya bisa siapa saja, tanpa pandang bulu status social, jabatan dan gelar akademis. Bahkan konon, gajah saja ogah terpeleset pada lobang yang sama untuk kedua kalinya. 

“Pengalaman adalah guru terbaik”, kata orang-orang bijak.

Itu tentang sejarah. Acuh terhadap pengalaman, abai terhadap sejarah sama saja dengan mengundang kebodohan. Padahal perintah pertama bagi umat Islam adalah perintah untuk belajar. Tiga kali seruan ‘Iqra’ adalah bentuk penegasan  bahwa umat Islam mesti jauh dari kebodohan. Kata sindiran semacam ‘afala ta’qilun’ atau afala tatafakkarun adalah termasuk yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an. Perintah untuk berfikir dan menggunakan akal.

Kemerdekaan pers yang diproklamirkan aktivis reformasi tahun 1998 silam sebenarnya sangat membuka peluang bangsa untuk maju dan menjauh dari kebodohan. Sayangnya begitu pers merdeka, mereka malah berkhianat dan balik menjajah rakyat. Berita-berita plastic dan informasi menyesatkan melulu mereka sodorkan ke telinga dan mata audiensnya yang tentu saja memperparah level kebodohan masyarakat. 

Padahal beberapa waktu sebelumnya, beberapa saksi sejarah mulai gerah dan berani beberkan  fakta yang disembunyikan dan dibelokkan penguasa dan yang punya kepentingan. Mulai terdengar suara sumbang tentang Supersemar atau peristiwa percobaan kudeta G30S/PKI. Aksi heroic Soeharto di Serangan Umum 1 Maret 1949 pun mulai disebut-sebut sebagai pencitraan belaka yang pada puncaknya kegerahan massa akhirnya timbullah peristiwa reformasi itu.

Reformasinya memang berjalan, tapi jangan kira pihak-pihak yang berkepentingan tak bersiap sebelum dan sesudahnya. Itulah kenapa pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dihapuskan. Berlanjut kemudian pada pelajaran PMP dan PPKn. Akibatnya apa? Bangsa tetap terbelenggu oleh kebodohan akibat sejarah yang tak pernah coba diluruskan. Sebaliknya, media-media penguasa dan kepentingan terus tebarkan kebencian terhadap pihak-pihak dan sosok yang masih peduli terhadap nasib sejarah bangsa. Lihatlah apa yang dialami FPI misalnya, terus diberitan dengan citra buruk. Padahal sesungguhnya, merekalah sosok pahlawan penting reformasi. FPI adalah salah satu unsur PAMSWAKARSA, pasukan sipil yang bertugas mengamankan Sidang Istimewa MPR saat reformasi kejatuhan Soeharto silam. 

Aturan internasional, militer tak boleh perang dengan sipil. 1 peluru yang dilepaskan aparat terhadap massa demonstran adalah akses bagi masuknya intervensi asing. Indonesia akan jadi seperti Mesir atau Irak sekarang. Pemerintahannya dibentuk asing yang dipimpin Amerika, dan rakyat-rakyat yang kritis akan dituding sebagai pemberontak dengan bantuan media-media besar milik mereka. 

Beruntunglah kita masih punya tokoh2 yang tulus membela NKRI, yang paham gelagat asing yang sudah bersiap di Australia. Bersama TNI/POLRI mereka susun rencana, bentuk pasukan sipil yang terdiri dari santri-santri pesantren dan ormas Islam lainnya, termasuk FPI. Jadi kalaupun terjadi clash, itu adalah sipil vs sipil. NKRI tetap terjaga utuh, sebab tak ada alasan bagi asing untuk masuk.

Selain FPI, pribumi juga mereka pojokkan. Tahukah kamu? Sampai sekarang tak pernah jelas siapa saja etnis Cina yang jadi korban perkosaan di Mei bersejarah tersebut. Ada? Sangat absurd, sebab nyatanya sampai sekarang tak ada seorangpun yang melapor ke pihak berwajib. Padahal imam mereka di Jakarta sekarang adalah etnis mereka, Ahok. 

Selain itu, Islam yang kekuatannya bangkit di penghujung era Pak Harto terus dirusak citranya. Lihat apa yang dialami PKS, yang suka dan tidak mesti diakui sebagai partai paling solid di Indonesia. Dihancurkan langsung di pucuk pimpinannya.

Memasuki era sosmed, perang kepentingan tak pernah berhenti. Media-media tetap bungkam terhadap suara-suara sumbang yang peduli bangsa (dan Islam). Kapitan Pattimura itu muslim yang taat. Tapi seperti apakah kita mengenalnya selama ini? Tak ada yang coba meluruskan seperti apa sebenarnya sosok Cut Nya’ Dien, orang terakhir yang angkat senjata terhadap penjajahan sebelum kemerdekaan. Pasca Cut Nya’ Dien ditangkap 1905, itulah saat Belanda utuh berkuasa di Indonesia, 1908. Benarkah sosok yang selama ini kita kenal itu Cut Nya’ Dien? Seperti juga Nyi Ageng Serang? Masa’ ahli agama tak pakai jilbab?

“Cut Nyak Dien, berjilbab atau tidak, adalah pahlawan dan contoh perempuan yang mengungguli zamannya sendiri. Dirinya, menjadi contoh perempuan emansipatoris yang mendobrak budaya feodal patriarkis.” tulis berita Tribunnews.

”Jilbaban atau tidak, beliau tetep pahlawan besar dan saya pikir bisa menginspirasi wanita-wanita dr generasi ke generasi,” tambahnya mengutip cuitan seorang netizen sekuler demi menyampaikan misi liberalisme dan pluralismenya.

Pahlawan sejati bangsa mereka hitamkan. Benarkah Gajah Mada yang bersalah dalam peristiwa Perang Bubat? Kenapa sosok seperti Sentot Prawiradirja Alibasya tak pernah diangkat jadi Pahlawan Nasional? Sebaliknya, sosok gadis penulis diary seperti Kartini mereka agung-agungkan sebagai Pahlawan Nasional. 

Kita sudah lupa dengan pelajaran sejarah. Apa tujuan penjajah datang ke Indonesia. Gold, Gospel dan Glory, bukan? Mereka tak sekadar berjualan dan cari kejayaan saja. Mereka juga berdakwah agama mereka. 

Pemerintah yang disandera kepentingan pun tak kuasa terhadapnya. Media-media Islam dibredel, sedang media provokator seperti IslamToleran dibiarkan. Sosok-sosok pahlawan anti korupsi seperti Trio Macan sampai 2 kali dibunuh dan terakhir dikriminalisasi, penjara. Terakhir, cuitannya tentang Dahlan Iskan pun terbukti, bukan? Trio Macan dikriminalisasi sebab membongkar konspirasi busuk donaturnya sendiri, pihak Telkom. Ayoo, mana dulu yang membully Obor Rakyat….?

Selama pemerintah tak peduli akan sejarah, jangan harap kualitas manusia Indonesia jadi lebih baik. Tak belajar dari sejarah saja adalah bencana. Apalagi belajar dari sejarah yang keliru. Sejarah yang keliru akan menjebak generasinya untuk berada dalam lingkaran kekeliruan yang membelit siapa saja, termasuk sekaliber Presiden sekalipun. Dan saya sama sekali tak bangga punya Presiden yang soal belajar saja kalah dengan seekor gajah, hahaha….!

Selamat Pagi…!