8 Jun 2015

Sejarah Presiden dan Gajah

Bahwa sejarah itu sangat penting telah dikabarkan dengan sangat telak oleh insiden Blitar bergetar beberapa waktu lalu. Tak tanggung-tanggung seorang Presiden dari negara sebesar Indonesia jadi ‘korbannya’ sebab abai terhadap sejarah. Lalu mestikah kita menyalahkan, apalagi sampai mem-bully pemimpin sendiri?

Tahan dulu, sebab beliau sendiri adalah salah seorang korban. Salah seorang, sebab faktanya sangat banyak ternyata yang pernah telah, sedang dan akan jadi korban dari sejarah yang diabaikan. Korbannya bisa siapa saja, tanpa pandang bulu status social, jabatan dan gelar akademis. Bahkan konon, gajah saja ogah terpeleset pada lobang yang sama untuk kedua kalinya. 

“Pengalaman adalah guru terbaik”, kata orang-orang bijak.

Itu tentang sejarah. Acuh terhadap pengalaman, abai terhadap sejarah sama saja dengan mengundang kebodohan. Padahal perintah pertama bagi umat Islam adalah perintah untuk belajar. Tiga kali seruan ‘Iqra’ adalah bentuk penegasan  bahwa umat Islam mesti jauh dari kebodohan. Kata sindiran semacam ‘afala ta’qilun’ atau afala tatafakkarun adalah termasuk yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an. Perintah untuk berfikir dan menggunakan akal.

Kemerdekaan pers yang diproklamirkan aktivis reformasi tahun 1998 silam sebenarnya sangat membuka peluang bangsa untuk maju dan menjauh dari kebodohan. Sayangnya begitu pers merdeka, mereka malah berkhianat dan balik menjajah rakyat. Berita-berita plastic dan informasi menyesatkan melulu mereka sodorkan ke telinga dan mata audiensnya yang tentu saja memperparah level kebodohan masyarakat. 

Padahal beberapa waktu sebelumnya, beberapa saksi sejarah mulai gerah dan berani beberkan  fakta yang disembunyikan dan dibelokkan penguasa dan yang punya kepentingan. Mulai terdengar suara sumbang tentang Supersemar atau peristiwa percobaan kudeta G30S/PKI. Aksi heroic Soeharto di Serangan Umum 1 Maret 1949 pun mulai disebut-sebut sebagai pencitraan belaka yang pada puncaknya kegerahan massa akhirnya timbullah peristiwa reformasi itu.

Reformasinya memang berjalan, tapi jangan kira pihak-pihak yang berkepentingan tak bersiap sebelum dan sesudahnya. Itulah kenapa pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dihapuskan. Berlanjut kemudian pada pelajaran PMP dan PPKn. Akibatnya apa? Bangsa tetap terbelenggu oleh kebodohan akibat sejarah yang tak pernah coba diluruskan. Sebaliknya, media-media penguasa dan kepentingan terus tebarkan kebencian terhadap pihak-pihak dan sosok yang masih peduli terhadap nasib sejarah bangsa. Lihatlah apa yang dialami FPI misalnya, terus diberitan dengan citra buruk. Padahal sesungguhnya, merekalah sosok pahlawan penting reformasi. FPI adalah salah satu unsur PAMSWAKARSA, pasukan sipil yang bertugas mengamankan Sidang Istimewa MPR saat reformasi kejatuhan Soeharto silam. 

Aturan internasional, militer tak boleh perang dengan sipil. 1 peluru yang dilepaskan aparat terhadap massa demonstran adalah akses bagi masuknya intervensi asing. Indonesia akan jadi seperti Mesir atau Irak sekarang. Pemerintahannya dibentuk asing yang dipimpin Amerika, dan rakyat-rakyat yang kritis akan dituding sebagai pemberontak dengan bantuan media-media besar milik mereka. 

Beruntunglah kita masih punya tokoh2 yang tulus membela NKRI, yang paham gelagat asing yang sudah bersiap di Australia. Bersama TNI/POLRI mereka susun rencana, bentuk pasukan sipil yang terdiri dari santri-santri pesantren dan ormas Islam lainnya, termasuk FPI. Jadi kalaupun terjadi clash, itu adalah sipil vs sipil. NKRI tetap terjaga utuh, sebab tak ada alasan bagi asing untuk masuk.

Selain FPI, pribumi juga mereka pojokkan. Tahukah kamu? Sampai sekarang tak pernah jelas siapa saja etnis Cina yang jadi korban perkosaan di Mei bersejarah tersebut. Ada? Sangat absurd, sebab nyatanya sampai sekarang tak ada seorangpun yang melapor ke pihak berwajib. Padahal imam mereka di Jakarta sekarang adalah etnis mereka, Ahok. 

Selain itu, Islam yang kekuatannya bangkit di penghujung era Pak Harto terus dirusak citranya. Lihat apa yang dialami PKS, yang suka dan tidak mesti diakui sebagai partai paling solid di Indonesia. Dihancurkan langsung di pucuk pimpinannya.

Memasuki era sosmed, perang kepentingan tak pernah berhenti. Media-media tetap bungkam terhadap suara-suara sumbang yang peduli bangsa (dan Islam). Kapitan Pattimura itu muslim yang taat. Tapi seperti apakah kita mengenalnya selama ini? Tak ada yang coba meluruskan seperti apa sebenarnya sosok Cut Nya’ Dien, orang terakhir yang angkat senjata terhadap penjajahan sebelum kemerdekaan. Pasca Cut Nya’ Dien ditangkap 1905, itulah saat Belanda utuh berkuasa di Indonesia, 1908. Benarkah sosok yang selama ini kita kenal itu Cut Nya’ Dien? Seperti juga Nyi Ageng Serang? Masa’ ahli agama tak pakai jilbab?

“Cut Nyak Dien, berjilbab atau tidak, adalah pahlawan dan contoh perempuan yang mengungguli zamannya sendiri. Dirinya, menjadi contoh perempuan emansipatoris yang mendobrak budaya feodal patriarkis.” tulis berita Tribunnews.

”Jilbaban atau tidak, beliau tetep pahlawan besar dan saya pikir bisa menginspirasi wanita-wanita dr generasi ke generasi,” tambahnya mengutip cuitan seorang netizen sekuler demi menyampaikan misi liberalisme dan pluralismenya.

Pahlawan sejati bangsa mereka hitamkan. Benarkah Gajah Mada yang bersalah dalam peristiwa Perang Bubat? Kenapa sosok seperti Sentot Prawiradirja Alibasya tak pernah diangkat jadi Pahlawan Nasional? Sebaliknya, sosok gadis penulis diary seperti Kartini mereka agung-agungkan sebagai Pahlawan Nasional. 

Kita sudah lupa dengan pelajaran sejarah. Apa tujuan penjajah datang ke Indonesia. Gold, Gospel dan Glory, bukan? Mereka tak sekadar berjualan dan cari kejayaan saja. Mereka juga berdakwah agama mereka. 

Pemerintah yang disandera kepentingan pun tak kuasa terhadapnya. Media-media Islam dibredel, sedang media provokator seperti IslamToleran dibiarkan. Sosok-sosok pahlawan anti korupsi seperti Trio Macan sampai 2 kali dibunuh dan terakhir dikriminalisasi, penjara. Terakhir, cuitannya tentang Dahlan Iskan pun terbukti, bukan? Trio Macan dikriminalisasi sebab membongkar konspirasi busuk donaturnya sendiri, pihak Telkom. Ayoo, mana dulu yang membully Obor Rakyat….?

Selama pemerintah tak peduli akan sejarah, jangan harap kualitas manusia Indonesia jadi lebih baik. Tak belajar dari sejarah saja adalah bencana. Apalagi belajar dari sejarah yang keliru. Sejarah yang keliru akan menjebak generasinya untuk berada dalam lingkaran kekeliruan yang membelit siapa saja, termasuk sekaliber Presiden sekalipun. Dan saya sama sekali tak bangga punya Presiden yang soal belajar saja kalah dengan seekor gajah, hahaha….!

Selamat Pagi…!

Related Posts

Sejarah Presiden dan Gajah
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.