Halaman

10 Nov 2015

Pahlawan Olahraga

Tadi saya sempat update status bahwa Pahlawan Olahraga saya adalah pebulutangkis Hermawan Susanto. Waktu itu saya baru pertama kali buka twitter sekilas dan terbacalah tweet Detikcom yang sedang ajak tweeple berbagi ‪#‎PahlawanOlahraganya‬

Kemudian saya baca Koran Sindo, ada ulasan Menpora Imam Nachrowi tentang Pahlawan Olahraga juga, dan dia memilih Susi Susanti, juga pebulutangkis sebagai pahlawannya. Waktu itu saya juga masih belum ngeh bahwa ada yang aneh, sebab saya juga belum ‘full buka twitter’.

Nah, tengah malam ini karena saya tak bisa tidur saya pun scrolling down TL twitter sampai jauh. Dan betapa kagetnya saya ketika hampir semua media mainstream ajak pembaca berpartisipasi memilih Pahlawan Olahraga favoritnya. Aneh…? Tentu saja! Setidaknya saya menangkap keganjilan itu. Ini pasti punya maksud tertentu. Yaa…! Saya 100% SANGAT YAKIN.

Ini penggiringan opini. Kemana arahnya? 

Tanpa mengurangi rasa hormat dan bangga saya terhadap seluruh legenda bulutangkis kita, mulai dari era Rudy Hartono, Christian Hadinata dan kawan-kawan, generasi Susi Susanty, Alan Budikusuma, Hermawan Susanto, Haryanto Arbi, Ardy Wiranata sampai kepada rombongan Taufik Hidayat semuanya adalah pahlawan bulutangkis Indonesia yang sudah harumkan nama Indonesia ke seluruh dunia. Wajib kita hormati. Tapi yang aneh adalah, kenapa mereka kembali nge-hits tahun ini…?

Kenapa seluruh media mainstream muat berita bertemakan Pahlawan Olahraga? Padahal sudah jelas dunia olahraga kita sungguh jauh dari prestasi sejak lama, kecuali bulutangkis.

Yaa, bulutangkislah jawabannya. Kesitulah memang pikiran kita digiring. Tujuannya apa? Tentu saja agar kita selalu menghormati para pahlawan bulutangkis kita. Cermati deh, siapa saja mereka! Kenali baik-baik!

Ingatan saya pun kembali pada upacara perayaan kemerdekaan 17 Agustus kemaren. Nama Maria Felicia Gunawan, sang pembawa bendera pusaka jadi pembicaraan di mana-mana. Seluruh media mainstream mengulas tentang sosoknya. Social media pun diramaikan tentang profilnya. Saat itu juga saya sudah merasakan keanehan, persis seperti kecurigaan saya saat ini tentang pahlawan olahraga.

Tiap tahun ada hari Pahlawan, kenapa tahun ini sorotannya seperti focus pada Pahlawan Olahraga. Tiap tahun ada upacara 17 Agustusan, kenapa si pembawa bendera pusaka tahun ini seperti begitu spesialnya…? Seluruh media mainstream mengulas profilnya. Kenapa…?

Media sudah terlalu lebay. Segala yang berlebihan itu tidak baik. Apalagi jika sejatinya memang sudah tidak baik. Semakin banyak oplasnya, semakin terang terlihat plastiknya. Makin tebal make-upnya, makin terlihat rupa aslinya. Makin tinggi monyet memanjat, makin terang bokongnya terlihat.

Sejak awal kepemimpinan Jokowi, sudah terlihat keberpihakannya pada Cina. Mulai dari Solo, ternyata mobil Esemka yang digadang-gadangnya adalah mesin buatan Cina. Lanjut ke DKI, TransJakarta ternyata juga barang rekon dari Cina. Isu pembelian 1500 kapal dari Cina. Kunjungan pertama usai dilantik adalah ke Cina. 10 juta lapangan kerja yang dijanjikan saat kampanye ternyata juga buat buruh migrant asal Cina. Seluruh proyek infrastruktur era Jokowi diserahkan ke Cina, sapu bersih. Silahkan saja browsing. Termasuk proyek Kereta Cepat yang sampai buat Jepang marah karena tak dilibatkan.

Makin banyak kebijakan yang pro Cina akan makin terlihat Cina-nya. Maka jangan salahkan jika saya juga mencurigai bahwa Proyek Pahlawan Olahraga dan Pembawa Bendera Pusaka itu demi makin mengibarkan dan mengabarkan bahwa Cina memang punya kredibilitas untuk dipercaya, sebab Susi Susanti cs dan Maria Felicia Gunawan si pembawa bendera pusaka itu adalah juga Cina, hiiiiiks….!

Bakalan kena pasal ‪#‎HateSpeech‬ nih, hahaha....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...