Halaman

31 Des 2017

Kalender Hijriah v Kalender Masehi

Kenapa merayakan tahun baru Masehi itu tak penting? Bagi saya sederhana saja. Tahun baru Islam jauh lebih presisi. Tahun Islam dihitung berdasar pergerakan bulan dan bumi, sedang tahun Masehi dihitung berdasar jumlah waktu. Yaa detik, menit atau jamnya. Perbedaannya sangat jauh.

Sehari menurut Islam adalah saat matahari terbenam sampai kemudian terbenam lagi. Sehari menurut kalender Masehi adalah 24 jam, yaitu saat jam 00:00 'tengah malam', sampai kembali pada posisi 00:00 'tengah malam' berikutnya. Tengah malam yang saya beri tanda kutip, sebab siapa yang bisa membuktikan bahwa saat itu adalah benar-benar puncak dari malam? Lebih presisi mana dengan kalender Islam yang memulai hari dengan menentukan berdasar posisi start awal dan akhir sebuah proses rotasi bumi? Sebagai bukti paling konkret, bulan purnama saja jatuhnya tepat di pertengahan bulan di kalender Hijriah. Desember ini bulan purnama malah terjadi 2 kali, di awal dan ujung Desember? Lebih akurat mana? Hayyooo...!

Perbedaan itu akan makin besar saat menentukan waktu satu bulannya. Kalender Islam menetapkan awal bulan berdasar posisi start bulan saat berevolusi terhadap bumi. Itulah kenapa jumlah hari tiap bulan tahun Islam sangat fleksible, bisa 29 atau 30 hari. Fleksibel karena di saat bersamaan selain berotasi, di saat bersamaan bumi juga berevolusi mengelilingi matahari. Perhitungan versi kalender Masehi malah sangat absurd. Selain ada bulan yang jumlah harinya 30 dan 31, juga ada 28 hari dan setiap 4 tahun ada yang 29 hari? Bagaimana cara menghitungnya? Apa setiap Februari revolusi bulan terhadap bumi menjadi lebih cepat dari biasanya? Kan aneh, bulan Januari dan Maret bulan mengelilingi bumi selama 31 hari, kenapa di Februarinya cuma dalam 28 hari? Tapi saya sendiri punya penjelasan yang sangat masuk akal soal kekeliruan ini.

Kalender Masehi 'mematok secara pasti' bahwa satu tahun itu adalah 365,25 hari. Dibulatkan menjadi 365 hari plus tiap 4 tahun sekali digenapkan ke atas menjadi 366 hari. Ini sekaligus menjelaskan pemberian nama yang keliru terhadap nama-nama bulan kalender Masehi ini. Dari arti nama September (7), Oktober (8), November (9) atau Desember (10) kita bisa tahu ini adalah keliru. Jika ikut aturan nama, mestinya tahun Masehi dimulai dari bulan Maret dan berakhir di Februari. Itulah kenapa jumlah hari di bulan Februari lebih sedikit, sebab hanya sebagai 'bulan pelengkap' agar tiap tahunnya tetap berjumlah 365 atau 366 hari. Bukti paling telak betapa kacaunya perhitungan kalender Masehi? Tahun 2000 lalu lebaran Idul Fitri terjadi 2 kali, Januari dan Desember 2000. Awal dan ujung tahun. Artinya pada tahun tersebut bumi telah 2 kali melewati titik yang sama saat berevolusi mengelilingi matahari. Mau bantah bagaimana lagi? Hayyooo...!

Kalender Islam jelas lebih akurat. Ini terbukti dengan kondisi cuaca tiap tahun yang menjadi tak menentu karena berpatokan dengan kalender Masehi. Dulu dalam pelajaran IPS generasi saya seperti telah didonktrin bahwa musim hujan di Indonesia itu dimulai dari bulan Oktober dan berakhir di bulan Maret. Musim kemarau sebaliknya, sejak April sampai September. Entah ilmiwan siapa yang mengatakannya begitu. Sekarang semua seperti kacau berantakan. Hujan dan panas datang tak kenal Mei atau November. Jaman Jokowi jadi Gubernur DKI, Jakarta sering banjir di bulan Maret. Kemudian bergeser, mulai di bulan Februari. Akhir-akhir ini puncak banjir mulai mendekati Januari. Dan besok-besok itu akan terus bergeser menuju Desember, November, Oktober dan seterusnya.

Pun begitu dengan musim buah misalnya. Biasanya musim durian terjadi sekitaran bulan Ramadhan. Apakah Ramadhan selalu sama setiap tahun berdasar kalender Masehi? Atau yang paling jelas seperti perayaan Imlek-nya orang Cina, misalnya. Imlek sebetulnya adalah hari panen yang dirayakan masyarakat Cina. Apakah hari raya Imlek selalu sama di tiap tahun Masehi? Tidak!

Musim panen tergantung cuaca. Sedang cuaca tergantung pada posisi dan pergerakan bulan dan bumi terhadap matahari. Dalam hal ini seperti logika saya di atas, jelas kalender Islam lebih akurat. Akibat kekeliruan akurasi kalender Masehi ini, Piala Dunia tahun 2022 di Qatar saja diwacanakan untuk dijadwal ulang, atau malah diganti negara penyelenggaranya. Karena sepakbola berpedoman pada kalender Masehi, mereka baru menyadari kemungkinan tak bersahabatnya cuaca saat turnamen akbar tersebut digelar. Imajinasikan pula bagaimana efeknya jika kita menggunakan kalender Hijriah dalam menentukan jadwal tahunan. Liburan semester misalnya akan bisa disesuaikan dengan libur Ramadhan atau lebaran. Prediksi cuaca yang lebih akurat membuat kita bisa mempersiapkan liburan jauh sebelum hari H. Bookingan ongkos pesawat jauh-jauh hari juga lebih murah, hahaha...!

*Ngigau tahun baruan!

30 Des 2017

Tentang Cover Rekreasi Hati

Wow, PECAAAH...!
Cover Buku Rekreasi Hati Ternyata Jelek Pakai Banget.

Telah 2 orang yang mengatakan bahwa cover buku Rekreasi Hati layak dicacek. Keduanya orang yang layak saya percayai karena berbagai hal. Mereka adalah golongan kutu buku. Mereka juga telah berpengalaman dalam mereview banyak buku, utamanya novel. Integritas mereka sebagai kritikus buku tak saya ragukan. Intinya, opini teman-teman ini layak saya apresiasi, walau saya sendiri bingung bagaimana mesti mensikapinya.

Pemilihan dan pembuatan cover tersebut telah saya rencanakan dengan matang, walau ternyata saya alpa pada beberapa hal. Dan itu juga bukan tanpa sebab. Pertama, walau bercita-cita menulis buku dengan serius, ternyata pada proses awalnya materinya malah telah disusun duluan oleh Dian, model cover (buku pertama) tanpa saya ketahui. Yang pasti karena dia nge-fans (cieee...!) dan menyukai tulisan-tulisan saya, lalu berniat membukukannya. Percaya atau tidak, dia membeli sebuah printer baru untuk mencetaknya. Setelah itu barulah dimulai dinamika pembuatan cover.

Dian tak menguasai digital desain grafis. Saya walau tak mahir-mahir amat, tapi juga tak awam-awam amat pula. Dan sejak awal saya memang telah bertekad akan menjadikan Rekreasi Hati sebagai buku paling indie sedunia. Artinya seluruh proses mulai dari pemilihan materi, edit, desain, cetak, jilid, terbitkan dan jual secara mandiri.

Suatu kali Bebel, seorang temannya posting poto Dian yang sedang membuka blog saya disertai komentar yang menghasut, 'calon model buku Rekreasi Hati'. Ehh, buku belum jadi ternyata cerita telah tersebar kemana-mana. Berhubung materi punya ikatan batin dengan sang calon model kamipun sepakat, buku Rekreasi Hati covernya menggunakan poto model saja. Modelnya sudah ada, tinggal cari atau take fotonya.

Proses ini juga berliku. Berkali-kali take foto gagal melulu. Sampai suatu saat saya 'terlewatkan' 'mengklik tombol jempol' di beberapa postingan foto facebooknya, dia kirim foto tersebut via inbox. Waaah, ini dia yang kami cari selama ini.

Saya larut dalam euphoria kegembiraan. Tak lama lagi buku saya jadi. Ini pula mungkin yang menyebabkan saya (kami) alpa melihat dari perspektif yang lain. Menurut saya covernya itu sudah 'sangat keren sekali'. Tentu ada filosofi dalam setiap simbol. Pun begitu dengan cover Rekreasi Hati.

Cover pertama. Dari segi warna hendak menonjolkan bahwa Rekreasi Hati ditulis dengan nuansa penuh cinta. Poto wanita berjilbab yang sedang membaca mendiskripsikan bahwa besar dan luasnya wawasan tak membutuhkan ongkos yang mahal. Cukup dengan 'membaca' yang ada di dekat-dekat kita saja. Ini sejalan dengan tagline yang menjadi caption cover Rekreasi Hati sendiri. Pemilihan  model covernya karena dia memang berjodoh dengan Rekreasi Hati.

Pun begitu dengan Rekreasi Hati Jilid 2. Pemilihan Rani sebagai model juga semata karena dia memang berjodoh dengan Rekreasi Hati. Dinamika dan drama yang mengiringi proses panjang pembuatannya sangat mempengaruhi materi dalam Rekreasi Hati Jilid ke-2 ini. Dan itu saya rasa telah sangat diwakilkan oleh desain covernya. 'Dominasi warna hijau' pepohonan di tengah terik matahari terasa sangat meneduhkan emosionalnya materi jilid ke-2 ini. Kenapa saya beri tanda kutip? Karena sebetulnya memang tak hijau-hijau amat. Lebih banyak birunya malah. Tapi hijaunya terasa sangat dominan, karena saya merasa mampu bersikap dewasa menghadapi drama rumit dan unik yang mengiringi perjalanan Rekreasi Hati ke-2 ini. Puncaj rumit dan uniknya? Asal tahu saja, proses rilisnya buku ini terpaksa saya undur seminggu. Awalnya saya ingin rilis tanggal 1 Oktober demi menghormati sejarah Rekreasi Hati pertama. Saya pernah deklarasikan 1 Oktober sebagai Hari Rekreasi Hati. Dan entah disadarinya atau tidak, ternyata Dian nikah tepat di tanggal tersebut...???

Si Bebel sendiri sempat mempertanyakan kesan buru-buru dan seakan dengan motivasi balas dendam karena rilisnya yang berjarak cukup dekat dengan hari pernikahan Dian. Padahal demi tak ingin merusak hari bahagianya tersebut, Rekreasi Hati jilid 2 saya saya mundur waktu rilisnya.

Poto wanita berjilbab berdiri di tengah terik matahari menatap ke arah hijaunya pepohonan. Bahwa di tengah kegalauan kita harus tetap berdiri tegak, sebab di depan ada keindahan yang sejuk dan meneduhkan. Bukankah itu filosofi yang sangat keren?

Oke, sekarang ke titik kelirunya. Soal tagline yang dikritik seorang teman.

"tagline garuk-garuk itu merusak keanggunan wanita yang jadi modelnya", kurang lebih begitu katanya.

Belakangan saya pikir pernyataannya benar. Itu saya sadari saat menulis Rekreasi Hati ke-2. Walau saat itu yang dikomentarinya buku pertama, tentu untuk buku kedua dia juga berpendapat yang sama. Dan saya sepakat. Persoalannya adalah saya tak mampu menemukan solusinya. Dah, itu aja! Ohya, mohon diingat lagi bahwa saya bertekad membuat buku paling indie sedunia!

Kekeliruan pemasangan tagline tersebut menjadi makin parah untuk buku ke-2. Saya sampai harus menambahkan beberapa bab baru agar ada kesesuaian tagline dengan materinya. Dan saya pikir di sini saya juga gagal. Dan saya pikir kegagalan mengatasi persoalan ini akan terus berlanjut di jilid-jilid yang berikutnya, hahaha...!

Persoalan idealisme memang akan terus menjadi masalah laten Rekreasi Hati. Saya hanya ingin teguh memegang prinsip, seaneh apapun itu. Termasuk menjadikan Rekreasi Hati sebagai buku paling indie sedunia.

25 Des 2017

Al-Qur'an dan LCT P4

Daya ingat saya sebetulnya (dulu) sangat luar biasa. Saya alumnus LCT P4. Waktu itu kami para peserta diberi buku hapalan soal2 tentang Pancasila, UUD45, sejarah dan lain sebagainya yang terkait dengan tatanan hidup bangsa Indonesia. Saya hapal seluruh butir-butir Pancasila, seluruh ayat dan pasal-pasal dalam UUD45. Saya (kami) hapal buku soal2 tersebut lengkap beserta titik dan komanya. 'Keliru, jika berpikir LCT adalah singkatan dari Lomba Cerdas Cermat. Yang benarnya adalah Lomba Cepat Tepat. Jadi selain cepat, juga dituntut untuk tepat. Jadi terhadap pihak-pihak yang selama ini mengklaim sebagai yang paling Pancasilais, Paling Merah Putih atau Paling Indonesia tersebut, saya cuma bisa menatap iba. Kasihan, delusi stadium akhir.

Saat itu SD kami 'cuma' berhasil menjadi juara 3 se-Sumatera Barat. Saya masih ingat persis, di final kami kalah cepat lawan SD dari Kab. Agam (juara 1) dan Kab. Padang Pariaman (runner-up). Prestasi yang luar biasa sebetulnya, sebab bahkan sejak ditingkat Kecamatan saja kami tak pernah diunggulkan. Sekolah kami adalah debutan, tampil untuk pertama kalinya di ajang rutin tahunan tersebut.

Berbekal pengalaman tersebut, di tingkat lanjutan SMP/MTs, saya diiuktkan lagi mewakili sekolah. Saya yang masih kelas 1, bersama dengan 2 orang kakak kelas. Sangat mendadak. Hari ini ditunjuk, besok pertandingan. Bayangkan mepetnya persiapan, bahkan buku soal2 tersebut tak sempat difoto kopi untuk kami bertiga. Saya yang sudah berpengalaman dipercaya sendirian menghapal buku berisi lebih dari seribuan soal-soal P4, satu malam saja.

Saya ingat betul trik yang kami terapkan saat itu. Saat peserta lain sedang bertanding, kami bertiga mengamati soal2 yang diberikan. Kami tandai halaman2 soal yang sedang dipertandingkan, sampai akhirnya kami bisa meraba-raba soal2 yang mana saja kira2 yang akan menjadi jatah kami di pertandingan. Dasar cerdas, kami berhasil jadi juara 2 tingkat Kecamatan, hahaha...!

Apa sebetulnya yang ingin saya ceritakan?

Terdahulu saya juga pernah menulis bahwa saya hapal dan fasih menyanyikan lagu berbahasa Inggris lengkap dengan segala cengkok, vibra bahkan dengan soul-nya sekalian. Berasa keren aja bisa hapal banyak lagu Barat, hahaha...!

Daya ingat saya sungguh hebat, seperti yang saya deskripsikan di atas. Saya sanggup menghapal satu buku lengkap dengan titik dan komanya. Cita-citanya waktu itu sih ga muluk-muluk. Kalau juara saya akan naik pesawat terbang untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang keluarga saya. Saya juga akan jadi orang pertama diantara kami yang akan pernah menginjak istana negara dan bersalaman dengan Presiden.

Tapi kenapa untuk menghapal satu surat Al-Quran saja, fasih tajwid dan makhraj hurufnya ternyata begitu sulitnya? Saya juga penasaran bagaimana dengan teman-teman sesama alumnus lainnya? Udah hapal berapa juz?

"...karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat (Al-Quran) yang kamu hafalkan" ~ HR Abu Daud dan Tirmidzi.

Duhhh...!

Merdeka (Belum) Seutuhnya

Produk hukum yang kita pakai masih warisan dari penjajahan kolonial Belanda. Ide untuk membuat KUHP sendiri sudah lama dan tak kunjung terwujud hingga saat ini. Penyebabnya tentu banyak sekali.

Pertama karena kualitas DPR kita sendiri. Tak banyak diantara mereka yang berasal dari kampus hukum. Dan selagi pegawai dan staff tiap anggota masih direkrut dari keluarga dan kerabat sendiri, asa peningkatan kualiatas legislasi kita itu terlalu jauh. Maka tak aneh, dari puluhan RUU yang harus mereka bahas tiap tahun, belasan atau malah cuma 4 atau 5 saja yang kemudian bisa ditetapkan menjadi UU.

Berikutnya seperti kata Pak Mahfud bahwa selalu ada 2 kelompok dengan kepentingan yang berbeda dalam setiap pokok RUU yang sedang dibahas. Kelompok liberal yang selalu mengagung-agungkan HAM, yang selalu berpatokan pada Universal Declaration of Human Right New York 1948. Lainnya lagi kelompok partikular, yang selalu menekankan pada nilai-nilai moral, agama dan budaya kita di Indonesia. Seperti persoalan pasal zina dan LGBT belakangan ini, konon bahkan telah dibahas sejak tahun 1963 di DPR dan tak kunjung beres sampai saat ini.

Berikutnya yang mungkin tidak disadari oleh Bapak2/Ibu2 kita di DPR ini adalah tidak tepatnya semangat dan motivasi yang selama ini kita gunakan. Semangat untuk mengganti KUHP warisan penjajah ini mungkin tidak tepat. Perbaiki narasinya.

Indonesia adalah negara yang berdaulat. Indonesia bebas menerapkan hukum sendiri sesuai dengan nilai-nilai moral, agama dan budaya yang kita anut sendiri. Kita negara yang merdeka dari segala macam bentuk penjajahan dalam bentuk apapun, termasuk dalam mengatur kehidupan rakyatnya sendiri. Kita tak boleh dijajah oleh aturan-aturan Barat yang tak mengamodir nilai-nilai ketimuran kita.

Kenapa paham LGBT bisa berkembang pesat di Indonesia? Karena kita bersedia dijajah oleh Barat melalui Universal Declaration of Human Right-nya. Kenapa paham-paham sesat seperti Syiah bisa tumbuh subur di Inonesia. Islam menolak mengakui Syiah. Padahal Indonesia cuma mengakui Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu sebagai agama yang diakui negara? Mestinya negara jika taat konstitusi paham sesat seperti Syiah dan yang lainnya dibasmi donk dari Indonesia? Bila tidak, itu kan berarti negara (pemerintah) sendiri melanggar konstitusi? Bisa di-impeach lho, ini?! Tapi kenapa paham-paham tersebut tetap dibiarkan tumbuh subur tanpa aturan yang solutif dari negara? Karena Indonesia masih dijajah oleh aturan-aturan dari Barat.

Penegakan HAM seperti yang selama ini Barat koar-koarkan juga sama sekali tak lepas dari beragam konflik kepentingan. Barat 'diam saja' terhadap persoalan kemanusian yang dialami etnis Rohingya di Myanmar. Bahkan mengurus masalah kemanusiaan di negara sekecil Palestina saja telah puluhan tahun tak bisa Barat bereskan. Kenapa kita, Indonesia yang menentang segala macam bentuk penjajahan malah tunduk dijajah oleh aturan yang mereka terapkan seenak kepentingan mereka sendiri? Maka saya sangat yakin, jika narasi kemerdekaan dan kedaulatan nilai yang kita kembangkan, saya yakin KUHP versi penjajah bisa dengan segera kita ganti dengan versi sendiri.

22 Des 2017

Cita-cita dan Keyakinan

Segala yang bisa dibayangkan pasti bisa diwujudkan ~ Rekreasi Hati.

Saat Arsenal gagal menjuarai Liga Inggris tahun 2003, pelatih Arsene Wenger mengumpulkan para pemainnya dan bertanya,

"kalian tahu kenapa kita gagal?"

"Anda memberi kami target terlalu besar. Juara tanpa terkalahkan itu mustahil. Target itu membebani kami", jawab Wakil Kapten, Martin Keown.

"Tidak! Itu tidak mustahil. Saya tahu kita mampu melakukannya asal kita yakin bahwa kita memang mampu. Ayo, kita lakukan lagi", tegas sang pelatih.

Dan musim berikutnya, Arsenal berhasil menjuarai Liga Inggris tanpa mengalami satupun kekalahan.

Pada saat pulang kembali ke klub asalnya Feyenoord dia mengatakan akan membawa Feyenoord kembali menjadi juara Liga Belanda,  yang sudah begitu lama tidak pernah berhasil mereka raih lagi.

"...saat itu semua orang menertawakan saya", katanya.

2 tahun kemudian dia pensiun, setelah mengantar Feyenoord menjuarai Liga Belanda sebagai kapten dengan mencetak 3 gol di partai terakhir. Menutup karirnya sebagai pemain dengan capaian sempurna.

"Jika materinya begini, saya yakin Rekreasi Hati akan jadi buku yang keren", kurang lebih begitu cuitan caption link tulisan yang baru saya posting di Facebook.

Padahal tulisan yang saya yakini keren itu baru jadi satu halaman. Tapi saya sangat yakin saya bisa menjadikannya satu buku penuh. Saya terus menulis dan keyakinan itu makin kuat. Mulai percaya diri sesumbar pada Dian bahwa saya akan menulis buku. Begitulah, dia menertawakan saya. Tapi setelah buku tersebut benar-benar jadi, siapa lagi yang berani menyangkalnya?

Proses buku berikutnya penuh liku dan drama. Persoalannya cuma satu, tapi saya sama sekali tak tahu solusi untuk membereskannya. Saya butuh Rani, tapi dia bilang butuh waktu untuk memikirkannya.

"abang yakin 100%, Rani pasti bersedia", janji tekad yang saya sampaikan langsung padanya.

Dan terbukti, Rani bersedia dan buku kedua pun berhasil saya terbitkan.

Cita-cita dan segala target yang saya yakini akan saya capai semuanya berhasil saya raih. Tahun 2016 lalu selain Rekreasi Hati 2 sebetulnya saya juga punya target lain. Saya 'ingin tampil di depan orang banyak'. Ahh, tapi itu nantilah! Saya sendiri memang tak serius mengusahakannya, hehe...!

Tahun inipun sebetulnya saya ingin buat satu buku. Tapi karena memang kurang gigih, tentu saja saya gagal. Tapi yang jelas tahun depan buku tersebut akan saya terbitkan. Dan Rekreasi Hati Jilid 3, Oktober 2019. Dan saya yakin 100% dua target terakhir tersebut bakal terwujud, aamiin...!

Peradilan Bingung

Putusan MK bahwa gugatan soal zina dan LGBT salah alamat itu mengabarkan pada kita fakta yang jauh lebih mengerikan daripada hasil putusan itu sendiri. Bagaimana mungkin mereka memutuskan itu bukan sebagai kewenangan mereka justru setelah 20 kali mereka adakan persidangan? Jika bukan kewenangan mereka, untuk apa mereka sidangkan? Sampai puluhan kali pula? Ini kan mengerikan? Padahal MK lah rujukan terakhir seluruh persoalan perundang-undangan dan konstitusi di negara kita?

Saya sangat heran melihat ada begitu banyak putusan hukum dan peradilan yang saling bertolak belakang dengan putusan peradilan lainnya. Yang ini menyatakan Agung Ketua sah-nya. ARB tak terima, gugat dan menang. Giliran Agung yang tak terima, naik banding dan menang juga. Gantian ARB yang naik banding dan ehh, menang juga! Jadi sebetulnya siapa yang benar dan siapa yang salah?

Salah satu dari keduanya pasti salah dan satu lainnya pasti benar. Jika ternyata ARB adalah ketua yang sah, maka yang menyatakan Agung sebagai ketua yang sah pasti salah.  Ilmu hukum darimana yang menjadi rujukan dan dipakainya? Kenapa hakim yang mengambil rujukan ilmu hukum yang keliru seperti ini bisa diluluskan dan diwisuda oleh kampusnya?

Tentu bukan dosen atau kampusnya yang salah. Ilmu yang mereka terima saat kuliah pastilah ilmu hukum yang sama. Sebab hukum itu ilmu yang pasti. Pasti benar dan pasti salah. Kalau tidak benar berarti salah. Tapi hukum yang telah pasti itu akan menjadi rumit bila telah dicampuri beragam konflik kepentingan. Ada persidangan yang bertahun-tahun, tapi tak kunjung jelas terdakwa ini bersalah atau tidak.

MK dan seluruh pakar hukum wajib instrospeksi diri mereka sendiri. Tak usah mengkambinghitamkan produk hukum yang katanya masih warisan dari kolonial Belanda. Jangan pula menyalahkan DPR yang tak pernah tuntas merumuskan RUU zina dan LGBT yang katanya sudah dibahas sejak tahun 1963 itu. DPR bukan lembaga yang terdiri dari para ahli hukum. Sidang MKD terkait Papa Minta Paham itu sajalah contohnya. Begitu hebohnya, diliput seluruh media berakhir dengan keputusan barang buktinya tidak sah. Lah, kalau tidak sah, lalu apa sebetulnya yang mereka sidangkan?

Mereka tak paham apa yang mereka sidangkan. Tapi yaa tak usah heran juga, sebab MK yang mestinya paling paham soal UU dan konstitusi saja bahkan tak paham dengan tugas dan wewenangnya sendiri, hahaha...!

20 Des 2017

Bodoh Kok Bangga?

Si artis yang baru saja bunuh diri bertemu dengan seorang buruh yang dulu juga bunuh diri saat demo perayaan Hari Buruh. Mereka saling bertukar cerita seputar bunuh diri yang mereka lakukan.

Artis :Perasaan kau setelah bunuh diri gimana, bro?

Buruh :Aku merasa berharga. Aku bangga. Pengorbananku tak sia-sia. Upah buruh naik.

Artis :Ehh, belum tentu juga itu karena pengorbananmu, bro! Bisa saja karena perjuangan rekan-rekan buruhmu yang lain.

Buruh :Maksudmu gimana, heh?

Artis :Maksudku, kau mesti hargai perjuangan juga rekan buruhmu yang lain, donk! Jangan asal klaim itu karena perjuanganmu sendiri!

Buruh :Tapi kalau bukan karena aksi bunuh diriku, belum tentu upah buruh naik kan?

Artis :Oke! Tapi kalau bukan karena kecerdasan diplomasi mereka, upah buruh juga belum tentu naik kan?

Buruh :Yy...yya...yaa, bisa jadi juga! Tapi...

Artis :Jadi upah buruh ini naik karena kecerdasan rekan-rekan dan kebodohan aksi bunuh diri kau itu. Bodoh kok bangga, hahaha...!

Buruh :Kau ini emang brengsek ya! Kau sendiri kenapa bunuh diri? Kudengar kau kan seorang artis terkenal?

Artis :Aku bunuh diri karena merasa sudah tak punya harga diri, bro! Kemana-mana selalu saja dikejar paparazzi dan kamera. Aku capek, tapi tak bisa istirahat dengan tenang. Waktu dan privasiku mereka rampas semua. Belum lagi cibiran dan bullyan dari haters.

Buruh :Tapi kau kan juga banyak fans. Mereka-mereka yang mengidolakan dan menghargai karya-karyamu.

Artis :Itu benar. Saya berterimakasih dan sangat menghargai semua fans saya. Merekalah yang selama ini selalu menghibur dan menyemangati saya.

Buruh :Trus, kenapa kau malah bunuh diri? Itukan artinya kau sama sekali tak menganggap keberadaan mereka yang selalu mendukungmu?

Artis :Ehh, yaa...tak begitu juga! Aku selalu menghargai mereka. Aku selalu melayani permintaan tandatangan atau poto bareng mereka.

Buruh :Ratusan bahkan mungkin ribuan cerpen dan novel FF mereka tulis karena mengagumimu. Kau amat berharga bagi mereka.

Artis :Yaa, aku menghargai itu. Aku tak pernah minta bagian royalti atas karya mereka.

Buruh :Dan kau bunuh diri. Kau sama sekali tak peduli pada begitu banyak orang yang hancur meratapi kematianmu. Kau tak menghargai keberadaan mereka. Kau tahu, ada beberapa diantara mereka yang mau bunuh diri juga. Kau itu hidup mereka. Trus, harga diri macam apa lagi yang mau kau cari?

Artis : (hening)

Buruh :Kau itu bodoh!

Artis : (masih hening)

Buruh :Di Jepang, orang bodoh macam kau ini sudah ditembak mati, hahaha...!

Tiba-tiba Malaikat yang akan menginterogasi mereka menyela.

Malaikat :Sudah! Sudah! Kalian berdua ini sama-sama bodoh!

Artis :Tapi masih mendingan saya, Pak! Saya punya banyak fans!

Buruh :Fans bodoh yang mengidolai orang bodoh. Bodoh kok bangga, hahaha...!

Malaikat :DIAAAAAM...! Emang susah ya, berurusan sama orang bodoh! Jangankan saat masih hidup, sudah mati pun masih saja merepotkan!

*Tamat.

18 Des 2017

Delusi

Berita :Jonghyun Bunuh Diri, K-Poppers Mewek Massal.

Nyo :Masih ga percaya yaa, Allah...!

Den :HAHAHAHA...!

Berita :Jonghyun Donorkan Sebagian Organ Tubuhnya Bagi Yang Membutuhkan.

Nyo :You're really an Angel, Jong!

Den :Mana ada Malaikat bunuh diri, Neeeeeng, hahahaha...!

Nyo :Kau akan masuk sorga, Jong!

Den :Sorga? HAHAHAHA...!

Nyo :Apa sih, kau ini? Dari tadi nyamber aja!

Den :Ehh, ga! Maaf! Lucu aja sih!

Nyo :Ga punya empati! Orang mati kok diolok-olok!

Den :Si YuangHyun itu Tuhannya aja ga dia hargai, kenapa aku harus menghormatinya pula?

Nyo :Dia itu malaikaaat...

Den :Ngerasa kayak malaikat maksudnya kali. Kepedean, hahaha...!

Nyo :Dia akan masuk sorga!

Den :Bunuh diri masuk surga? Hahahaha...! Dia itu mati konyol, bukan mati syahid, Oneeeeeng....!

Nyo :Sudah mati pun masih mau berbuat sesuatu bagi manusia dan orang lain.

Den :Apa hebatnya? Dia kan sudah mati?

Nyo :Jonghyun akan tetap hidup di hatiku.

Den :Lah, situ aja seperti udah ga kuat hidup karena dengar dia mati, gimana sih?

Nyo :DIAAAAAAAM....!

*Tamat

15 Des 2017

Presiden atau Staff RT/RW

Darurat Penegakan Hukum
Darurat Korupsi.
Darurat Ekonomi.
Darurat Moral.
Darurat Budaya.
Darurat Demokrasi.
Darurat Hoax.
Darurat Bully.
Darurat Pangan.
Darurat Miras dan Narkoba.
Darurat Ketahanan Nasional.

Krisis Beras.
Krisis Daging.
Krisis Cabe.
Krisis Garam.
Krisis Listrik.
Krisis Prestasi.

Anehnya, Presiden seperti tak punya sikap sama sekali. Ketimbang memerintahkan jajarannya bekerja maksimal, dia malah sibuk bekerja sendirian tanpa prosedural yang jelas. Bagi-bagi sertifikat, bahkan bagi-bagi sepeda? Apa presiden tak punya job desk dan prosedur kerja sama sekali? Pembagian BLT era SBY yang melibatkan instansi ahli peta dan kaya data seperti Kantor Pos atau Kelurahan saja masih banyak yang keliru sasaran, bagaimana bisa Jokowi bisa melakukannya itu sendirian? Bagaimana cara memahami kerja Presiden Jaman Now Ini?

Fahri Hamzah benar mengatakan bahwa Jokowi ini tak paham persoalan kenegaraan. Tak punya target dan visi misi yang jelas. Berkoar-koar berantas korupsi, tapi tak jelas target final dan program pemberantasan korupsinya. Berkoar-koar memberdayakan maritim dan potensi laut, tapi memindahkan istana negara ke 'tengah hutan'. Berkoar-koar gebuk PKI, tapi Ustadz Alfian Tanjung yang memberi info valid soal PKI malah yang dihukum penjara.

"Demi, NKRI kita,
Demi, Merah Putih kita,
Demi, Bhinneka Tunggal Ika kita".

Tapi penyerang jemaah Idul Fitri dan pembakar mesjid ditraktirnya makan di istana negara. Provokator yang mengancam bunuh orang Islam dalam pidato resmi dilindungi dengan hak imunitas. Malahan minta ulama untuk menentramkan umat. Media tukang hasut, provokator dan penyebar hox malah diberi award sebagai media peduli pendidikan, cuiiiih....!

Presiden yang tak pernah jelas plan dan target kerjanya, tapi segala prestasi mau diklaim. Bantuan beras masyarakat untuk Somalia diklaim sebagai bantuan pemerintah. Bantuan Ormas untuk muslim Rohingya yang teraniaya diklaim sebagai kerja pemerintah.

Hasil diplomasi pemerintahan Jokowi lah yang membuat Rangga berhasil diminta pulang ke Indonesia untuk bertemu kembali dengan Cinta. SBY 2 periode ngapain aja? Jokowi layak menerima nobel perdamaian karena berhasil mendamaikan pertikaian Slash dan Axl Rose sehingga Guns N Roses formasi klasik bisa reunian. Presiden-presiden sebelumnya ngapain aja?

Candi Borobudur yang lupa dicat pemerintahan Samaratunggadewa dan dinasti penerusnya sebentar lagi akan dicat, bekerjasama dengan investor dan tenaga kerja asal Cina dan kemudian akan diresmikan oleh Jokowi. Konon dulu, lautan di dunia ini kering. Jokowi lah yang menciptakan airnya. Alam semesta ini dan seluruh isinya ini memang ciptaan Allah SWT, tapi Jokowi lah yang menggunting pita dan meresmikannya.

Ini Presiden dengan pemerintahan dan kabinet bingung. Beras mahal, rakyat diminta diet. Cabe mahal,  disuruh tanam sendiri. Listrik mahal, cabut meteran. Daging mahal, makan keong saja. Garam langka, masaknya campur keringat saja.

Presiden harusnya perintahkan KPK, usut tuntas E-KTP dalam 6 bulan! Kalau tidak, kalian dibubarkan. Saya akan keluarkan PERPPU pembubaran KPK, karena negara sedang darurat korupsi. Kepada para pimpinan aparat penegak hukum tegaskan,mulau detik ini jika ada rakyat saya yang mendapat ketidakadilan hukum dan sosial, kalian dipecat. Tak ada istilah mengundurkan diri. Kalian digaji negara dari uang rakyat. Kalian tak berhak menerima bayaran dari orang yang kalian dholimi. Tegas!

Kepada para menteri, kalian masing-masing punya anggaran. Gunakan itu secara optimal. Gunakan pegawaimu tepat sasaran. Menteri Pertanian, kamu punya anggaran. Blusukanlah ke pedalaman, cari lahan untuk dibebaskan dan berdayakan masyarakat untuk mengolahnya. Pengangguran akan berkurang, dan swasembada pangan di depan mata. Tugaskan pegawaimu yang sarjana pertanian untuk memberi bimbingan dan penyuluhan! Bagaimana membibit, menanam atau memberi pupuk yang baik dan sejenisnya. Itu tugas sarjana pertanian. Bukan di kantor hanya untuk dimintai tandatangan.

Menteri BUMN, kenapa BUMN kita cuma bisa menjadi calo? Kita punya sumber minyak tapi diekspor untuk diolah dan kemudian kita beli lagi minyak jadinya untuk didistribusikan pada rakyat? Kenapa kita tidak olah sendiri? Ribuan sarjana perminyakan, pertambangan atau perindustrian diwisuda tiap tahun, kemana mereka?

Menteri Pendidikan, Pemuda dan Olahraga? Kenapa kita miskin prestasi di ajang Internasional?  Islandia dengan 300ribu penduduknya berhasil menembus Piala Dunia, kenapa kita dengan sumber daya 1000 kali lipatnya gagal selalu? Kenapa sumber daya manusia kita lemah? Cari penyebab dan solusinya. Benahi, dan bila perlu rombak sistim pendidikan dan pelatihannya, bila ternyata selama ini anti dan tak fokus pada prestasi! 20% APBN kita tiap tahun harus setara dengan kualitas sumber daya yang dihasilkannya.

Seluruh jajaran kabinet mestinya diberi tugas dan target kerja yang jelas. Atau Presidennya sendiri yang memang tanpa visi misi? Berhentilah saja kalau begitu! Jadi staff RT/RW saja, yang bertugas membagikan brosur-brosur sumbangan atau kupon pembagian daging qurban, hahaha...!

14 Des 2017

Fahri Hamzah Adalah Milik dan Hak Rakyat

Fahri Hamzah bukan politisi omong kosong. Dia seorang politisi yang visioner. Bertahun-tahun lantang sendirian berteriak menentang dan meminta KPK dibubarkan saja karena telah menjadi aparat kekuasaan. Dan hari ini terbukti nyata, 3 nama politisi elit PDIP yang sedang berkuasa, hilang dalam surat dakwaan sidang E-KTP dengan terdakwa Setya Novanto.

Sama sekali tak layak untuk meragukan integritas seorang Fahri Hamzah. Andai punya cacat secuil saja, dia pasti telah lama selesai. Konsepnya yang jelas soal pemberantasan korupsi pasti membuat geram para koruptor. Teriakannya menentang KPK membuatnya dibenci kita semua yang anti korupsi. Fahri Hamzah adalah 'musuh semua orang'. Siapa yang akan membelanya? Bahkan partainya sendiri memusuhinya? Hebatnya, sampai sekarang masih hidup saja ini orang. Kekuatan apalagi yang dimilikinya kalau bukan karena dirinya memang 'bersih dari kesalahan'?

Fahri jelas bukan sekedar politisi yang caper untuk sebuah kekuasaan. Dia bahkan sama sekali tak peduli citra, aset terpenting bagi seorang politisi. Sudah pasti ngawur tuduhan yang menudingnya ingin ditarik Golkar sebab selalu terkesan membela Papa. Fahri bukan kutu yang ingin pindah ke lain kepala.

Dan tak usah diragukan pula kecintaannya untuk PKS. Fahri sama sekali tak terlihat panik menjelang tahun-tahun politik begini. Dia pasti butuh partai, kendaraan untuk memperjuangkan aspirasinya. Andai mau, bisa saja dia membuat partai sendiri, dan sudah pasti sejarah politik PKS akan selesai. Dalam beberapa polling belakangan ini, dukungan netizen untuk PKS soal Fahri Hamzah bahkan di bawah 10%.

Keputusan pengadilan yang kembali menetapkan Fahri Hamzah sebagai anggota sah mestinya adalah moment yang pas untuk PKS berbenah. PKS wajib taat hukum dan kembali pada tujuan dasar sebagai partai dakwah. Kan jadi sebuah anomali partai dakwah malah membungkam orang yang bersuara?

Fahri Hamzah mestinya dirangkul, bukan dipukul. Dia mestinya dipeluk, bukan digebuk. Fahri Hamzah sedang onfire. Dia bukan saja milik PKS, tapi dia adalah milik dan hak rakyat. Kan jadi anomali, partai yang (mengaku) berkhitmad untuk rakyat malah mencampakkan milik rakyat? PKS tak bisa mungkir, koalisi PKS dan Gerindra untuk Pilpres 2019 seperti yang dikatakan Hidayat Nur Wahid mencukupi kuota usung Capres 20.18% kursi. Tapi jika koalisi tersebut minus 'kursi karya Fahri' (konon mencapai 3 dari NTB, mohon koreksi jika salah), jika saya tak salah hitung cuma 19.64%. Bisa usung Capres?

9 Des 2017

ILC Perlukah Rerun?

Dialog saya dengan Denny Siregar yang tak pernah dimuat media. Kejadiannya sesaat sebelum Maghrib sore nanti, hahaha...!
Siraul Nan Ebat :Gimana sih perasaannya setelah tampil pertama kali di acara ILC-nya Bung Karni Ilyas?
Densi :Biasa saja! Maksudku, bahwa ada komentar ini itu setelah suatu pernyataan seseorang itu hal yang lumrah. Jangankan aku, ucapan Presiden atau Menteri saja bisa dikomentari, kan?
Siraul Nan Ebat :Abang benar! Sekarang ini dunia dibuat ribut oleh pernyataan seorang Donal Trump. Tapi akibatnya konon sekarang dia terkena gejala stroke? Bisa saja itu ada kaitannya dengan kontroversi yang dibuatnya, kan? Apa abang tak merasakan hal yang sama?
Densi :Itu sih salah rakyat Amerikanya sendiri. Milih presiden kok yang penyakitan, hahaha...!
Siraul Nan Ebat :Padahal itu kan wewenangnya Ketua DPR kita ya? Hahaha...!
Densi :Wkwkwk...! Bisa saja kau ini! Tapi kau benar. Hidup ini harus dijalani dengan gembira. Gembira itu menyehatkan. Ayo ngopi, hahaha...!
Siraul Nan Ebat :Sepakat! Aku ini anak kopi hitam, bukan anak susu sapi, hahaha....! Yok kita ngopi-ngopi di kafe temanku. Acara nobar-nya bentar lagi mau mulai nih!
Densi :Nobar apaan? MU lawan City masih lama. Southampton lawan Arsenal aku malas nontonnya. Ga imbang pasti. Kurang seru!
Siraul Nan Ebat :Bukan Nobar bolaaa! Kita mau nobar ILC, hahaha...!
Densi :Haaaah? ILC kan hari Selasa, bukan hari Minggu begini?
Siraul Nan Ebat :Tayangan ulang minggu lalu, Bang! Sangat seru dan menghibur! ILC Perlukah Rerun, hahahaha....!
Densi : (hening)
*tamat

7 Des 2017

Hikmah dan Syukur

Tanpa mengurangi rasa kagum terhadap sahabat Nabi lainnya, Khalid bin Walid adalah idola saya. Saya mengerti betul apa yang dia rasakan saat menjelang ajalnya.

"...tak ada di tubuhku ini, kecuali bekas tusukan pedang dan senjata musuh. Dan sekarang aku akan mati seperti seperti seekor unta tua...".

Saya merasakan sedih yang luar biasa selalu gagal berpartisipasi dalam kegiatan Aksi Bela Islam. Saya sungguh menyesalkannya. Allah SWT seperti tak pernah memberi saya kesempatan berbuat untuk agama saya. Tapi tentu saja saya salah. Allah itu Maha Adil. Allah Maha Pemberi Petunjuk. Selalu ada hikmah dibalik segala ketentuanNYA. Hikmah yang harus ditemukan agar menimbulkan rasa syukur.

Problem hidup yang komplek mestinya disikapi secara positif. Sebab ternyata hanya dengan picu yang sepele, gejolak yang terjadi bisa saja tak terduga. Orang ini salah mendengar omongan saya. Salah dengarnya mengakibatkan salah ucap. Dan saya tak salah dengar ucapannya. Tak salah dengar, tapi keliru reaksi. Maka keluarlah caruk saya, hahaha...!

Saya paham betul dia cuma salah dengar. Dan saya sangat mengerti bahwa reaksi saya itu keliru. Reaksi keliru yang saya lampiaskan pada orang yang sama sekali tak berkepentingan terhadap persoalan hidup saya. Ternyata saya orangnya reaktif sekali. Itu bisa saja berakibat fatal.

Percaya atau tidak, dalam rangka Aksi Bela Islam saya betul-betul telah membuat 2 buah ketapel. Walau tentu takkan benar-benar saya gunakan, tapi itulah simbol perjuangan saya melawan para penghina, penista dan musuh agama saya. Begitulah sakit hati dan bencinya saya terhadap mereka. Dan apa jadinya, jika saya gagal kontrol emosi, andai saat itu saya beneran ikut Aksi Bela Islam? Perbuatan saya bisa merugikan perjuangan barisan umat Islam.

Saya merenung, mengkaji dan mengaji. Inilah rencana Allah SWT menggagalkan niat saya ikut Aksi Bela Islam. Saya melihat hikmahnya. Saya bersyukur. Allah menyelamatkan saya dari kemungkinan fitnah yang saya buat pada Islam.

Saya merenung, mengkaji dan mengaji lagi. Inilah rencana Allah SWT belum meluluskan keinginan saya mendapatkan Rani. Saya melihat hikmahnya. Saya bersyukur. Allah SWT menyelamatkan kami dari kemungkinan buruk yang akan terjadi gegara ketidakmampuan saya bersikap positif.

Saya merenung, mengkaji dan mengaji lagi. Inilah rencana Allah. Saya melihat hikmahnya. Saya bersyukur...

Saya merenung, mengkaji dan mengaji lagi. Inilah rencana Allah. Saya melihat hikmahnya. Saya bersyukur...

30 Nov 2017

Kafir

Surat Al-Kafirun jelas ditujukan pada orang yang bukan Islam. Yang tidak menyembah apa yang aku (Muhammad SAW) sembah, dan yang menyembah apa yang tidak aku (Muhammad SAW) sembah.

"Tak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa" ~ Al-Baqarah ayat 2.

Terpilihnya pemimpin dholim sebagai imam negara kita, ketidakadilan yang dialami umat Islam, maraknya penistaan agama termasuk yang dilakukan Ahok dan sebagainya itu terjadi karena kuasa Allah SWT dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya. Maka bila kita membaca aneka petunjukNYA, sesungguhnya makar Allah SWT itu Maha Sempurna.

Kita melihat bahwa siapa saja sesungguhnya yang benar berjuang demi umat dan siapa para pejabat penjilat dan pengkhianat. Terhadap kita diperlihatkan dengan tegas dan jelas siapa sebetulnya yang layak kita ikuti dan mana yang mesti kita lawan. Makin jelas siapa lawan dab kawan. Makin terang siapa sebetulnya orang-orang seperti yang dikatakan Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 7 itu,

"Allah telah mengunci hati mereka. Mata dan telinga mereka telah tertutup. Dan bagi mereka adalah azab yang sangat pedih".

Mereka adalah orang-orang yang ingkar (kafir), yang 'percuma diberi peringatan karena mereka tetap takkan beriman', seperti yang dijelaskan pada ayat sebelumnya, Al-Baqarah ayat 6.

Tak ada ayat Al-Quran yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya. Kemurnian dan keagungannya Allah SWT sendiri yang menjaganya. Sampai sekarang belum ada satupun yang mampu menjawab tantanganNYA untuk 'menguji keagungannya'.

Maka surat Al-Kafirun dan Surat Al-Baqarah tersebut jelas tidak saling bertentangan. Orang yang bertaqwa hanya perlu membaca petunjukNYA. Kepada siapa kata-kata 'kafaru' pada ayat 6 Al-Baqarah tersebut? Ayat berikutnya gamblang menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang hatinya telah dikunci, mata dan telinganya telah ditutup. Mereka bukan orang yang beriman, walau mengaku Islam. Abu Bakar assidiq memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, karena dianggap murtad. Jadi jika menolak bayar zakat saja telah murtad, maka (mengaku) muslim yang mati-matian membela penista agama, pelaku penghinaan dan kriminalisasi ulama, dan pejabat yang membuat kebijakan-kebijakan yang anti Islam apakah masih layak disebut sebagai muslim?

"Allah telah mengunci hati mereka. Mata dan telinga mereka telah tertutup. Dan bagi mereka azab yang amat pedih".

*Selamat Siang!

20 Nov 2017

Inti Dakwah

Seribu atau bahkan sejuta muslimah yang melepas jilbabnya takkan sedikitpun mengurangi nilai-nilai Islam. Apalagi bila cuma itu seorang wanita tak penting bernama Rina Nose. Mari kembali pada nilai, dan berhentilah berpegang pada sosok seseorang. Salah kaprah itulah selama ini yang menimbulkan banyak kekacauan pada umat. Berpegang pada manusia itu sangat berpotensi berujung pada pengkultusan, pemujaan yang berakhir pada laku sirik. Itu dosa yang tak bakal dianulir Allah SWT.

Umar bin Khattab yang karena begitu cinta dan memujanya sampai pernah 'mengancam bunuh' semua orang yang mengatakan Nabi Muhammad SAW telah mati. Abu Bakar assiddiq lah yang menyelamatkan dan menyadarkannya dari bahaya syirik.

"Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Dan barang siapa yang menyembah Allah SWT, maka sesungguhnya DIA tak pernah mati".

Pelajaran dari Abu Bakar itulah pula yang menyebabkan Umar memecat panglima perang kebanggaan Islam Khalid bin Walid. Umar bin Khattab sangat mengkhawatirkan rusaknya aqidah umat sebab terlalu memuja dan menyanjung kehebatan Khalid sebagai panglima perang.

Kita umat Islam punya banyak PR yang jauh lebih penting ketimbang mempersoalkan seorang yang tak penting. Bersatunya umat Islam itu penting. Tapi meluruskan mereka yang bengkok itu jauh lebih mendesak. Percuma kuat di dunia nyata, bila di akhiratnya tak semua selamat. Inti dakwah bukanlah mengajak bersatunya umat, tapi menyampaikan kebenaran.

Selamat Pagi...!

17 Nov 2017

Maafkan Saya, Papa!

Selama ini saya menetapkan standar yang tinggi atas sesuatu yang disebut lucu. Saya tidak memfollow satu pun akun para komedian di media sosial yang saya gunakan. Saya juga tak merasa perlu-perlu amat nonton tipi yang belakangan ini banyak menampilkan para pelawak dan komedian sebagai pengisi acaranya. Menurut saya 'tak satu pun' diantara mereka yang layak disebut komedian.

Saya tak setuju ada situasi saling aniaya dianggap sebuah kelucuan. Saya tak suka ada tertawa yang mengiringi sebuah panggilan jelek seperti 'muka comberan', apalagi 'sebutan nama binatang' yang ditujukan pada seseorang terkait dengan kekurangan fisiknya. Itu bukan lelucon, tapi penghinaan.

Saya tak suka 'lawakan genit', lelucon mesum. Saya paling anti pelawak yang menggunakan materi agama bukan untuk syiar, tapi untuk melecehkannya. Dan maaf, di Indonesia saya tak (belum) menemukan seorang pun yang memenuhi standart-standart yang saya sebutkan di atas.

Para pelawak inilah yang telah merusak selera humor orang Indonesia. Seorang yang pendek, berhidung pesek atau yang perutnya bulek adalah objek lucu-lucuan di grup WA. Apa lucunya? Demi Allah, saya tak melihatnya?

Si jomblo dibully? Oke-oke saja, sebagai hiburan? Tapi jika telah sampai pada topik kapan nikah, malam Jum'at, sunnah rasul dan sebagainya? Sadar diri saja, bebas dosa ga selama pacaran? Nikahnya karena cinta atau sebab disandera zina?

"Aku udah yang ke-2, lu satu aja belum?", dan ditimpali dengan emoji-emoji penghasut tawa.

Lah, yang pertama cerai dianggap lucu? Dan dibanggakan pula? Itu namanya tak tau diri! Pernikahan gagal dianggap lucu? Kan lucu? Hahaha...!

Apa yang lucu dari kata sunnah rasul? Mengolok-olok agama? Iya banget!

Saya pribadi sering mengalami olok-olok begitu. Tak ada masalah, sebab bagi saya mudah saja menemukan kegembiraan, dibalik aneka hinaan dan atau bully yang saya terima. Saya ladeni saja sepanjang saya pikir mampu menjaga komitmen takkan pernah menyinggung perasaan orang lain. Saya berhenti, jika terlihat mulai mengarah pada menghina orang lain atau mengolok-olok ajaran agama. They're so nothing...!

Saya bangga pada fakta bahwa seanti-antinya saya dengan Jokowi-Ahok dan fanboys-nya, tak sekalipun saya pernah menyebut mereka sebagai kodok, kecebong dan sebagainya. Saya bangga saat seorang teman yang saya kenal cuma di Facebook mengatakan bahwa buku saya tak ada tandingnya. "ngakak beradab", katanya.

Saya bangga bisa tetap menjaga etika dalam berkarya. Saya bangga tetap bisa berkarya dan bergembira dengan berpegangteguh pada komitmen dan cara saya sendiri.

Dan sebebetulnya saya telah menahan diri takkan mengolok-olok seorang yang tertimpa musibah, seperti yang sedang dialami Papa sekarang ini. Saya mengerti betapa tak eloknya menertawai derita orang lain. Saya tahan diri untuk tak mentwit atau posting suatu yang lucu soal Papa yang kecelakaan tersebut. Soal kecelakaan yang dialaminya saya twit dan posting seada dan sewajarnya saja, awalnya.

Yaa, awalnya saja. Sebab makin lama saya menahan diri, malah membuat saya menderita sendirian. Hampir semua orang yang ada di TL Facebook dan Twitter saya bergembira dengan twit dan postingannya. Semua terhibur dengan musibah yang dialami papa. Bahkan akun-akun portal berita mainstream sekalipun turut memprovokasi kegembiraan para followernya dengan ikut-ikutan posting lucu-lucuan seputaran musibah papa tersebut. Akun sipil awam biasa sampai akun selebriti dan tokoh ternama. Akun pribadi sampai akun official resmi lintas kepentingan dan kompetensi. Saya merasa aneh sendiri bila tak mengikuti gembira kolosal begini. Maka maafkanlah saya, Papa! Saya tak tahan menderita sendirian, hahaha...!

Cepat sembuh, Papa...!
Diundang Pak Jokowi ke Medan, kan?

15 Nov 2017

Kalah Jargon

Sebagai bangsa besar yang kaya manusia, sumber daya alam dan pengalaman sejarahnya, adalah menyedihkan kenapa Indonesia masih saja tergolong negara berkembang, kalau ogah disebut negara terbelakang. Salah satu dugaan penyebabnya menurut saya adalah miskin dan kelirunya prinsip hidup yang dianut bangsa kita. Motivasi dan target hidup yang minimalis.

Jerman terkenal dengan slogan uber allez-nya. Bangsa yang selalu berkoar sebagai bangsa dan ras nomor satu. Amerika yang selalu berlagak sebagai negara pemimpin. Atau Jepang yang terkenal dengan prinsip kemandirian dan menghormati waktunya. Konon para wartawan peliput Piala Dunia 2002 di Jepang dulu sempat heran saat sejam jelang kick off pertandingan final, 'stadion masih lengang'. Masyarakat Jepang tak sudi membuang 60 menitnya yang berharga itu hanya untuk sekedar menunggu pertandingan dimulai.

"Waktu adalah uang", prinsip Jepang yang telah sangat kita akrabi selama ini.

Sebaliknya dengan prinsip minimalis ala bangsa kita. Ketika Yamaha mengkampanyekan 'Semakin Di Depan' dan 'Selalu Terdepan'-nya, kita masih saja ngotot dengan 'Biar Lambat Asal Selamat'. Biarlah telat, daripada tidak sama sekali. Cinta tak harus memiliki? Beh, justru demi masa lalu yang indah dan demi mimpi tentang akhir yang bahagia itulah kenapa cinta harus saling memiliki. Pejuang cinta, tapi segitu aja menyerah? Indak kayu, janjang dikapiang.

Baranak ampeeeek...eeek..., Den nanti juo wowowo, den nanti juo.

Pokoknya RANI Harga Mati, Merdekaaaaa...! Hahaha...!

Belakangan malah ada malah yang jargon target yang sangat minimalis. Asal bukan Jokowi atau yang penting bukan Ahok. Padahal ini tak lagi sekedar urusan pribadi seperti soal asmara tadi. Ini soal siapa yang akan menjadi pemimpin yang akan mengurus kehidupan suatu bangsa? Masak targetnya minimalis begitu? Yang penting bukan Ahok? Asal bukan Jokowi? Duhh...!

Motivasi minimalis begitu juga akan diikuti oleh usaha yang minimalis yang berujung pada hasil yang minimalis pula. Padahal jika kita merujuk pada mahirnya urang awak dalam berpetatah-petitih, sangat banyak pelajaran yang bisa kita petik. Orang Minang bahkan terhimpit pun maunya di atas, terkurung pun maunya di luar.

"Cuma di Sumatera Barat satu-satunya daerah yang tak pernah di temui ada rumah yang benar-benar mewah dan rumah benar-benar reyot" ~ Indra J Piliang.

Lamak di awak, katuju di urang. Itu adalah semangat untuk menjadi sempurna?

Ohya, sebetulnya hanya hendak mengingatkan bahwa kita khususnya umat Islam di Indonesia jangan sampai lengah dengan euphoria persatuan Islam. Sebab jargon-jargon persatuan umat yang dimunculkan selama ini potensial membuat kita lalai dan melupakan bahwa menyatukan umat yang berserak itu memang penting, tapi meluruskan mereka yang tersesat jauh lebih mendesak.

"...seluruhnya masuk neraka, kecuali yang mengikutiku dan sahabatku" ~ Nabi Muhammad SAW.

Percuma bersatu di dunia, bila di akhiratnya tetap saja terpisah.

13 Nov 2017

Paras Hukum Kita

Ditetapkannya kembali Setya Novanto sebagai tersangka oleh KPK adalah bukti bahwa aparat hukum BOLEH SEENAKNYA saja melanggar hukum dan tak perlu taat hukum. Tak pernah ada sanksi yang diterima KPK atas kesalahannya yang terbukti di pra peradilan yang diajukan Novanto.

Berapa banyak terjadi kasus salah tembak, salah tangkap, salah hukum bahkan rekayasa dan ciptakan kasus, aparat pelakunya masih saja dibayar dan digaji oleh negara. Tak pernah ada istilah kriminal bagi aparat pelanggar hukum. Aparat hujum yang melanggar hukum disebutnya menyalahi kode etik atau pelanggaran prosedur. Hukumannya pun jika ada hanya sebatas mutasi, doank! Sampai saat ini gerombolan aparat preman yang menembak mati orang yang baru pulang dari mesjid hanya karena diduga teroris masih rutin menerima gaji tiap bulannya dari negara. Apa sanksi yang mereka terima? Dana kompensasi bagi korban pun juga pakai anggaran dari APBN.

Benar atau salahnya Setya Novanto itu soal lain. Saya setuju jika di pengadilan terbukti dia korupsi, hukum saja seberat-beratnya. Hukuman potong rambut atau cukur bulu ketiaknya misalnya, siapa tahu dengan itu kesaktiannya bisa hilang. Tapi yang lebih pentingnya adalah, aparat hukumnya sendiri harus lebih dulu bersih hukum. Sebab, kelakuan KPK ini bukan yang pertama kali.

KPK dinyatakan bersalah di praperadilan yang diajukan Novanto. Sebelumnya, KPK juga pernah terbukti bersalah saat mentersangkakan Budi Gunawan. KPK selaku aparat hukum telah berbuat seenaknya tanpa pernah diberi sanksi sama sekali. Akibatnya kelakuan tersebut selalu saja mereka lakukan lagi dan berulang.

Novanto atau BG bisa saja memang salah. Tapi yang pasti mereka telah didholimi. BG batal jadi Kapolri, sedang Novanto sendiri jadi cengeng dan sakit-sakitan. Kan itu buat malu bangsa? Ketua Wakil rakyat kok penyakitan? Hahaha...!

*Ngigau siang

11 Nov 2017

Fanfic Atau Bukan?

Dulu saya sangat skeptis terhadap para penulis fanfic. Apalagi sejak demam K-Pop melanda Indonesia. Saya sebetulnya paham bahwa teman-teman penulis tersebut cuma bermaksud membuat semacam album cerita para idolanya. Yang saya 'sesalkan' adalah kenapa dengan kemampuan menulis begitu rupa mereka tidak menciptakan saja sendiri tokoh dalam ceritanya. Sayang banget, kan? Tapi sudahlah! Itu telah berlalu. Sekarang saya justru sedang cemas memikirkan tulisan-tulisan saya sendiri. Apakah saya termasuk salah seorang diantara mereka, fanfictioners? Hadduh...!

Sebetulnya dulu saya telah membaca banyak hal soal fanfic. Saya pernah mengomentari sebuah tulisan yang membahas tuntas soal fanfic. Mulai dari apa itu fanfic dan segala macam jenisnya, sampai pada persoalan hukum yang mungkin bisa menjerat penulis ataupun penerbitnya. Dalam berbagai banyak tulisan mengenai fanfic selalu saja berujung pada novel, atau paling tidak cerpen. Dan sampai beberapa waktu lalu saya masih belum menyadari bahwa saya mungkin saja adalah juga seorang penulis fanfic. Kecurigaan saya muncul setelah berdiskusi dengan teman sesama penulis yang juga banyak tahu tulisan-tulisan saya. Dan menurutnya saya adalah juga seorang fanfictioner, duhhh...!

Selama ini saya sama sekali tak pernah merasa sebagai seorang penulis fanfic. Saya bukan penggemar Guns N Roses atau Bon Jovi. Band rock idola saya itu Def Leppard. Saya juga bukan fans Peterpan, Wali apalagi Kangen Band. Saya Die Hard-nya Ribas. Saya koleksi lagu Ona Sutra juga justru setelah tulisan yang membullynya itu selesai saya tulis.

Jika fanfic adalah semacam tribut untuk idola maka sudah jelas saya bukan seorang fanfictionis/ner sih? Saya tak pernah menulis cerita fiksi dengan tokoh para personel Def Leppard dan juga Ribas. Lagipula mana mungkin saya nge-fans dengan manusia cengeng lagi penyakitan seperti Setya Novanto, hahaha...!

Entahlah! Tapi ada sangat banyak perbedaan antara fanfic dan tulisan-tulisan dialog imajiner saya. Fanfic normalnya hanyalah sebuah cerita fiksi hiburan biasa. Tapi dalam perspektif pribadi, karya-karya dialog imajiner seperti yang biasa saya buat adalah satu metode baru temuan sendiri (?) dalam menyampaikan suatu peristiwa atau informasi. Selain karena request-an teman, biasanya saya menulis cerita dialog imajiner tersebut setelah membaca suatu berita. Berita tersebut kemudian saya tulis ulang dengan gaya sendiri dengan mengkombinasikan dan mengaduk-aduknya dengan berita-berita lain dalam format dialog imajinatif. Itulah salah satu sebab kenapa saya tak mau menyamarkan atau memelintir sosok yang sedang saya tulis. Walau caranya aneh, tapi saya hanya sedang menulis berita. Saya ingin menginformasikan bahwa Guns N Roses formasi klasik akan reunian. Bahwa Jon Bon Jovi baru saja membeli sebuah kondominium mewah. Bahwa ternyata Ratu Atut ditahan KPK tepat sehari setelah masa iddahnya berakhir. Lalu kenapa namanya mesti saya samarkan? Saya juga lihat media seperti New York Time menulisnya Bon Jovi, bukan Bon Kopi misalnya? Maka walau jauh dari etika jurnalistik, karya-karya dialog imajiner itu saya anggap hanyalah sebagai sebuah tulisan informatif bermuatan kritik sosial, budaya, politik ataupun entertainment. Walau....

Walau...

Ahhh....!

6 Nov 2017

Teman Saya Itu

Sebetulnya dia sama sekali tidak termasuk ke dalam barisan artis cewek favorit saya. Saya minta pertemanan Facebook dengannya juga bisa dibilang kecelakaan biasa. Saya berteman di Facebook dengan banyak artis dan orang film teman dekatnya. Dan begitu namanya disodorkan Facebook sebagai orang yang mungkin saya kenal, langsung saya klik saja tombol add as friendsnya. Dan diterima. Itulah bagusnya jadi artis tak terkenal. Teman Facebooknya tak banyak, jadi masih ada slot buat saya menjadi teman Facebooknya, hahaha...!

Tapi kemudian kami jadi akrab. Di Twitter kami juga saling follow. Dialah teman selebritis terdekat saya, walau sebatas di dunia maya belaka. Dan boleh bangga donk, kalau dia sering mensyen saya duluan, sekadar beri selamat ulangtahun atau ucapan selamat berhari raya. Saya bahkan punya alamat dan nomor teleponnya segala, hehehe...!

Dan terus terang dia adalah seorang wanita yang multi talenta. Tak cuma pandai berakting, dia juga seorang penulis. Penulis beneran, walau baru menerbitkan satu judul buku saja. Tak seperti artis lain yang menulis perjalanan hidupnya, teman saya ini seorang penulis novel. Dan bila melihat aneka testimoni dan kutipan-kutipan bukunya saya yakin sekali novel karyanya itu keren. Saya memang belum punya bukunya, untuk suatu alasan yang sulit saya beberkan di sini.

Dia sudah beli buku Rekreasi Hati saya yang pertama, dan saya yakin dia telah baca dan menyukainya. Setidaknya dia sering like postingan saya di Facebook, terutama yang berkaitan dengan Rekreasi Hati. Perkara kenapa dia ogah beri testimoni dan beli Rekreasi Hati 2 inilah yang sampai beberapa saat tadi masih jadi misterinya.

Walau hubungan di sosmed kami lebib akrab dari yang bisa dibayangkan, saling support karir masing-masing, nyatanya di dunia nyata kami buta satu sama lain. Kemaren dia posting launching usaha terbarunya: jualan makanan online. Waaah, keren sekali rupanya teman saya ini. Multi talenta sekali. Saat saya tanya, dia bilang dia hobi masak juga. Saya pikir kami juga bisa akrab di dunia nyata. Sama-sama punya banyak keahlian. Dan saya juga kan mantan koki di sebuah kafe bangkrut, haha...!

Tapi begitulah. Saya jadi tertarik mengenal teman ini lebih jauh lagi. Googling, dan saya menemukan hal menarik yang membuat saya pucat, kekurangan ion. Ternyata suaminya adalah kerabat seorang yang saya tulis bobroknya di buku Rekreasi Hati.

Duh,...!

3 Nov 2017

Den dan Papa

Den :Pejabat publik kok cengeng?

Papa :Maksud kau apa, heh?

Den :Meme aja diributin!

Papa :Mereka semua, pembuat, pengunggah dan penyebarnya itu tak punya hati. Tak punya empati. Orang sakit kok digituin?

Den :Udah cengeng, penyakitan pula!

Papa :Diam kau!

Den :Tadi tiap ditanya hakim kok jawabnya lupa melulu?

Papa :Lupa ya karena ga ingat. Bengak kali kau ini!

Den :Tapi beneran, Papa tak pernah terima aliran duit E-KTP?

Papa :Ga (ketus)

Den :Ga pernah atau ga ingat?

Papa :Ga pernah, paham kaaaaau...?

Den :Yakin ga pernah? Coba diingat-ingat lagi, deh!

Papa :Apa lagi yang mesti kuingat? Kan sudah kubilang aku tak pernah terima aliran dari proyek sialan tersebut.

Den :Tapi Papa kan pelupa?

Papa :Trus apa salahnya orang lupa? Tuhan aja maklumi orang yang lupa, kok!

Den :Tapi yang bapak hadapi tadi itu kan hakim, bukan Tuhan?

Papa : (hening)

Den :Yang begini kok dipercaya jadi wakil rakyat sih? Sebagai Ketua pula! Udah cengeng, penyakitan, pelupa pula? Bisa bangkrut nih, negara kita!

Papa : (hening dan melotot)

*Tamat

29 Okt 2017

Neraka Sudah Dekat (Lagi)

Malaikat :Orang sesat macam kau ini tempatnya bukan di surga, tau?

Said Aqil :Tapi... Saya ini Ketua PBNU, Pak! Pengikut saya banyak.

Malaikat :Justru itu, mereka semua sesat gara-gara kau! Ayoo, ikut aku! Kuantar kau ketemu Malik (Malaikat Penjaga Neraka).

Said Aqil :Begini, Pak! Dengar dulu! Setan aja banyak yang ikut saya, Pak!

Malaikat :Yaa iyyalah! Orang sesat macam kau ini emang temannya setan.

Said Aqil :Ehh,maksud saya! Maksud saya, setan aja bisa saya ajak sholat! Saya bisa ajak mereka jadi jemaah sholat saya, Pak! Keren, kan?

Malaikat :HAAAH...!? (melongo, tak percaya).

Setelah hening sejenak.

Malaikat :Bagaimana cara kau mengajak setan sholat berjamah?

Said Aqil :Itulah gunanya melonggarkan shaff sholat, Pak! Jadi setan juga bisa ikut aholat bersama kita.

Malaikat :Waaah, kau ini betul-betul sesat rupanya! Siapa Tuhanmu?

Said Aqil :Waaah, Bapak ini hobi bercanda juga rupanya. Pakai nanya siapa Tuhanku segala. Saya ini pengikut Kyai Hasyim Asyari, Pak!

Malaikat :Hasyim Asyari? (bingung lagi). Emang dia siapa?

Said Aqil :Dia itu pendiri NU, Pak! Ormas Islam terbesar di negara muslim terbesar, Indonesia, Pak!

Malaikat :Ohya?! Yang mana orangnya?

Said Aqil :Yang itu, Pak! (menunjuk ke arah beberapa orang yang sedang menuju surga).

Malaikat :Yang mana? (masih tak mengenali).

Said Aqil :Yang itu, Pak! Yang jenggotan.

Malaikat :HAAAH! Yang itu? Kalau gitu kau memang tak layak masuk surga.

Said Aqil :Maksudnya, Pak?

Malaikat :Kau kan yang bilang yang jenggotan itu orang goblok?

Said Aqil :Ehh, yaa...anu, Pak! Tapi...!

Malaikat :Maliiiik...! Anggotamu satu lagi nih...! (memanggil malaikat Malik).

*Tamat.

28 Okt 2017

Bid'ah Hasanah? No Way!

Lalu apakah Imam Ini atau Imam Itu orang sesat? Saya tak pernah bilang begitu. Saya juga tak berani menuduh begitu. Saya bahkan cenderung berfikir bahwa yang sesat adalah para pengikut yang gagal memahami kata atau tulisannya. Dan ini bisa terjadi karena kesalahan sang Imam sendiri yang tak 'menjaga ucapannya'. Misalnya soal adanya bid'ah hasanah.

Imam Ini mengatakan ada bid'ah hasanah. Dia memberi contoh bahwa Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf atau Abu Hurairah pernah melakukan suatu amalan yang tak pernah dilakukan Nabi. Tak ada yang keliru dari contoh yang diberikannya. Yang keliru adalah pendengar yang kemudian mensyiarkan ulang, bahkan walau dengan kata-kata yang sama persis. Kenapa?

Sang Imam 'mungkin tak salah' saat tak menceritakan bahwa Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf atau Abu Hurairah adalah para sahabat Nabi. Murid dan yang mendengarkannya saat itu tentu tahu, dan sang Imam merasa tak perlu lagi memberi tahu. Persoalannya adalah ketika kisah itu terus diulang-ulang sampai berabad berikutnya. Bahwa ada bid'ah hasanah berikut contoh yang pernah dilakukan oleh sahabat Nabi. DILAKUKAN OLEH SAHABAT NABI. Rujukannya kemudian berhenti pada sang Imam yang menceritakannya. Ini berbahaya.

Bahaya pertama pengkultusan yang merusak aqidah. Tapi yang ingin saya bahas adalah bahaya berikutnya, potensi sesatnya umat. Walau redaksinya sama persis, tapi pemahaman pemirsanya bisa sangat berbeda. Sahabat Nabi yang mana pernah melakukan tahlilan, yassinan dan sebagainya. Ini bukan bicara hasanah dan tidaknya. Ini adalah soal bahwa kita hanya diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah dan sahabatnya.

"...seluruhnya masuk neraka. Kecuali yang mengikutiku dan sahabatku", kata Nabi Muhammad SAW.

Tapi kata Imam Ini kan boleh bid'ah hasanah?

Tuh kan, mentoknya di Imam Ini?

Kesalahan si Imam adalah ucapannya yang menyatakan bahwa ADA BID'AH HASANAH, bukan bahwa 'BID'AH BOLEH, ASAL PERNAH DILAKUKAN SAHABAT NABI'.

"...seluruhnya masuk neraka. Kecuali yang mengikutiku dan sahabatku", kata Nabi Muhammad SAW.

Note: Sampai saat ini seluruh ceramah soal bid'ah yang saya dengar selalu mentok merujuk pada Imam Ini atau Imam Itu, bukan pada bahwa Sahabat Ini atau Sahabat Itu pernah melakukannya, hiiiks.. :(

25 Okt 2017

My Wonderfull Life Lagi

Saya punya banyak keluarga dan saudara angkat di Batam. Di Bengkong saya tinggal di rumah seorang teman SMK saya. 8 tahunan tinggal di rumahnya tentulah dia bukan sekedar teman biasa buat saya. Saya kenal dengan banyak famili mereka yang di kampung atau yang tinggal di lain daerah.

Di situ saya bertetangga pula dengan seorang cewek badung lagi cantik bernama Sari yang akrab dipanggil Amoy yang juga telah saya anggap sebagai adik sendiri. Setiap kali jalan bareng cowok, pengakuan pada orangtuanya adalah main ke rumah saya (rumah keluarga angkat saya yang lainnya lagi) di Seraya Atas. Saya adalah abangnya setiap kali dia bolos sekolah.

"Bang, tandatangani surat sakit Amoy donk!", katanya.

Dulu dia sering berkomentar di postingan Facebook saya. Suatu kali seorang teman MTs saya saat di kampung bertanya di kamar pesan, kenapa saya sepertinya begitu akrab dengan Sari alias si Amoy tersebut. Ternyata teman saya itu adalah sepupu dari Si Amoy, hahaha...!

Percakapan chatting kami makin seru dan panjang. Topik utama tentu saja membicarakan betapa bandel dan badung sepupunya itu. Ketika beralih cerita ke masa kecilnya yang ternyata di Batam saya kaget. Walau MTs di kampung dan sekelas dengan saya, SD ternyata dia sekolah di Batam dan sekelas dengan teman sekelas SMK saya yang di atas. Betapa ajaibnya hidup saya, hahaha...!

Allah SWT memberi saya pengalaman hidup yang indah. Lalu nikmat hidup seperti apalagi yang hendak saya ingkari?

23 Okt 2017

Pemerintahan Teroris dan Hoax

Lagi-lagi pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bersifat memaksa. Setelah sebelumnya mengancam 'menghentikan pelayanan terhadap'  segala jenis administrasi bagi masyarakat yang tidak menjadi anggota BPJS, sekarang semua pengguna jasa telekomunikasi diwajibkan meregistrasi ulang kartu prabayarnya dan divalidasi sesuai nomor induk kependudukan. Bijak tapi memaksa. Bagaimana kalau saya tidak setuju misalnya?

Saya punya banyak alasan untuk tidak setuju. Pertama, provider penyedia layanan telekomunikasi saja 'tak pernah mempermasalahkannya'. Berikutnya, alasan pemerintah mengeluarkan peraturan itu sendiri.
Alasan pertama yang dipakai adalah untuk mencegah terorisme? Pemerintah menuduh rakyatnya sendiri sebagai teroris? Pemerintah macam apa ini? Sangkaan saya, Peraturan Menteri No 12 tahun 2016 yang efektif diberlakukan akhir Oktober ini seperti 'ancaman' yang dikirim Kominfo via sms ini adalah untuk memata-matai rakyatnya sendiri. Sangkaan saya ini dipertegas oleh alasan pemerintah berikutnya, memberantas hoax.

Dua alasan ini sangat ironi mengingat bahwa selama ini justru pemerintah yang telah menteror rakyatnya sendiri dengan segala macam kriminalisasi ulama dan aktivis. Pemerintah sendiri adalah produsen hoax dengan aneka jenis klaim prestasinya yang terbukti dusta. Presiden malah sangat ramah terhadap penyebar hoax dengan berkali-kali mentraktir mereka makan di Istana Negara. Ustadz Alfian Tanjung yang memberi info A1 soal PKI ditangkap. Emak-emak menulis kritis di dunia maya ditangkap. Si Kodat, teroris yang pidato resmi di dunia nyata malah dibiarkan begitu saja.

Alasan ngawur berikutnya adalah untuk 'meroketkan ekonomi'. Transaksi non tunai perbankan lebih aman, dan segala jenis penyaluran bantuan lebih mudah, katanya. Padahal pengalaman saya menunjukkan bahwa pihak bank lah yang paling sering 'menjual' nomor telepon nasabahnya, termasuk untuk kepentingan penipu dan penipuan. Memudahkan penyaluran bantuan tunai? Ini maksudnya pemerintah mau menyebarkan nomor-nomor telepon kepada pihak lain? Begitu? Mending kayak presiden aja sekalian. Bekerja tanpa mekanisme yang jelas. Bagikan sertifikat dan sepeda sendirian, hahaha...!

22 Okt 2017

My Wonderfull Life


Suara tipinya bila malam, terdengar sampai di rumah saya. Begitu dekatnya jarak rumah kami. Bila perlu, komunikasi antar kami cukup dengan saling berteriak dari dalam kamar di rumah masing-masing. SD dan MTs kamipun di sekolah yang sama. Pun begitu di MDA-nya. Maka baik di rumah atau juga di sekolah, kami selalu bertemu muka.

Tapi hubungan pertemanan kami tak bisa dibilang baik. Dia adalah teman cewek yang paling menyebalkan dalam pandangan saya. Pun begitu sebaliknya. Di matanya saya adalah cowok yang sama sekali tak asyik diajak berteman. Nyaris setiap pertemuan ada saja materi yang akan kami pertengkarkan. Bukan pertengkaran mulut biasa, kadang malah terjadi perang fisik, dan saling berbalas pukulan. Hingga tiba saatnya saya melanjutkan ke SMK di Batam, sementara dia lanjut SMA nya tetap di kampung.

Jauh-jauh merantau di Batam, ehh gurunya malah tetangga saya sendiri, Uni dari teman cewek saya tadi. Hidup saya ajaib, kan? Tunggu dulu, ceritanya belum selesai.

Tetangga saya tersebut mulai mengajar pada saat saya kelas dua SMK. Yaah, walau tepatnya 'tak pernah benar-benar jadi guru saya', bagaimanapun dia adalah guru di sekolah saya. Dia mengajar di jurusan yang berbeda dengan saya. Seingat saya dia cuma pernah mengajar sekali, itupun karena mengisi kekosongan kelas karena sekolah kami yang baru berumur setahun tersebut memang masih kekurangan guru. Selain itu kami cuma pernah sekelas kala ujian Catur Wulan, saat dia kebagian giliran menjadi pengawas di kelas saya.

Satu kali, teman cewek saya tersebut 'main-main' ke Batam. Kakaknya tinggal di guest house sekolah karena guru-guru baru yang rata-rata berasal dari luar daerah memang sementara waktu diberi fasilitas tempat tinggal di guest house sekolah. Beberapa kali dia terlihat main-main di sekolah. Teman-teman tentu saja tahu bahwa saya adalah tetangganya di kampung. Anak SMK dari jenis STM tentu bisa kita bayangkan sendiri ghirah mereka begitu melihat makhluk Tuhan dari jenis manusia cewek. Entah beneran dia cantik atau tidak, tapi teman-teman saya terlihat 'begitu anarki' saat melihatnya. Kalau dibanding keseluruhan teman cewek satu sekolah saya yang cuma belasan orang itu, barangkali benar teman kampung saya ini jadi terlihat lebih menonjol. Tapi yang pasti buat saya dia tetap seorang 'musuh lama' yang kebetulan saja bertemu di suatu kota. Tapi ternyata cerita tak sampai di situ saja.

Tamat sekolah di kampung ternyata dia ikut menyusul kakaknya tersebut, merantau di Batam. Itu saya ketahui belasan tahun kemudian, ketika dunia sedang demam Facebook. Kami memang berteman di Facebook, dan dari pengakuannya dia juga telah belasan tahun merantau di Batam. Setiap diundang mengunjunginya saya tak pernah datang. Saya ini seniornya jika soal merantau. Jadi mesti dia yang duluan mendatangi saya, hahaha...!

Tapi akhirnya keingingan saling bertemu dua orang 'musuh lama' ini kesampaian juga. Lebaran tahun kemaren kami ternyata sama-sama mudik, hahaha...! Merantau di daerah yang sama, nyatanya bertemu di kampuang jua. Di rumahnya sedang ada acara aqiqahan. Ternyata aqiqahan anaknya. Dan mau tahu, ternyata suaminya adalah teman SMK saya di Batam, hahaha...!

Masya Allah, Allahu Akbar...!

19 Okt 2017

Dengan Ilmu

Kenapa ada anak-anak bandel? Kenapa tangisnya tak bisa dihentikan? Kenapa ada orang yang seakan tak bisa dinasehati?

Kenapa sulit sekali menasehati seorang berhenti merokok, berjudi, narkoba dan mabuk-mabukan?

Kenapa sulit sekali memberantas balap liar?

Kenapa korupsi tak bisa dibasmi?

Kenapa saya masih saja gagal mendapatkan Rani? Hahaha...!

Kenapa dengan kuota jumlah pertemanan di Facebook yang nyaris full, atensi like atau komentar di postingan promo-promo jualanmu cuma 1,2,3,4 atau 5 orang saja? Padahal banyak akun alay yang entah menulis apa banjir like dan komentar?

Ceramah tetap dilakukan. Ulama-ulama tetap berdakwah. Bahkan di sosial media sekarang setiap menitnya selalu ada postingan-postingan yang menyeru pada kebaikan. Pesan-pesan dakwah seorang Habib Rizieq yang berada jauh di Arab sana, hanya dalam hitungan detik bisa kita terima di depan mata kita sendiri. Bahkan bukan cuma manusia yang masih hidup, rekaman suara syiar dakwah ulama seperti Almarhum Zainuddin Mz saat masih hidup pun masih sering kita simak hingga saat ini. Tapi kenapa akhlak dan moral umat sekarang masih saja menjadi satu persoalan serius?

Kenapa...???

"Man aradad dunya faalaihi bil ilmi,
Man aradal akhirat faalaihi bil ilmi,
Man arada huma faalaihi bil ilmi".

Selamat Sore...!

18 Okt 2017

Menyikapi Bid'ah

Sebetulnya Islam tegas sekali menyatakan bahwa bid'ah itu adalah segala hal baru yang tak pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW pun telah berkata bahwa di akhir jaman nanti umat Islam akan terpecah menjadi 72 golongan yang semuanya akan masuk neraka, kecuali yang mengikutinya, dan sahabatnya. Mestinya ini adalah batasan yang tegas cara kita dalam memandang bid'ah atau tidaknya satu perkara.

"Pada hari ini telah KUsempurnakan untukmu agamamu, dan tlah KUcukupkan atasmu nikmatKU dan AKU ridha Islam menjadi agamamu" ~ Al-Maidah ayat 3.

"Kutinggalkan untukmu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selamanya jika kamu berpegangteguh kepadanya, yakni Al-Quran dan Hadist ~ Sabda Rasul.

Laku bid'ah terjadi karena hidup di jaman dan daerah yang berbeda membuat penafsiran masing-masing kepala juga tidak sama, termasuk soal ayat-ayat Al-Quran dan juga hadist tentunya. Tapi untuk soal ini, petunjuk selanjutnya juga telah jelas bahwa jika kita memiliki keraguan terhadap penjelasan isi Al-Quran dan hadist adalah dengan berijtihad, merujuk pada kesepakatan ulama. KESEPAKATAN ULAMA, bukan pada kitab ini atau itu sebab kitab yang untuk kita imani cuma Al-Quran. Juga bukan berdasar pada Imam Ini atau Imam itu, sebab kita cuma disuruh mengikuti Rasulullah SWT dan sahabatnya.

Tapi petunjuk pamungkas yang mungkin bisa kita gunakan dalam menyikapi bid'ah adalah anjuran nabi Muhammad SAW sendiri,

"Jika ragu, tinggalkan!".

17 Okt 2017

Pajak dan Matematika Celana Dalam

Mahal atau murah itu relatif memang. Saya biasa beli celana dalam dengan harga 40 sampai 70an ribu per 3pcs-nya. Itupun kadang ada bonus odol gigi atau sisir kutunya. Normalnya dengan mandi 2x sehari maka tiap hari saya butuh 2 buah celana dalam.

Sebagai warga negara yang baik dan mentaati himbauan hemat air dan listrik dari pemerintah, saya mencuci celana dalam tersebut sekali tiap minggunya. Itu berarti sedikitnya saya butuh 15 celana dalam tiap minggunya. 14 celana dalam kotor untuk dicuci, plus 1 untuk saya pakai, saat yang lainnya sedang dicuci. Artinya lagi, anggaran yang saya butuhkan tiap minggu untuk celana dalam adalah sekitar 200 sampai 350ribu rupiah.

Dari penjelasan Ditjen Pajak dan ketetapan pemerintah bahwa penghasilan 11ribu perhari tidak tergolong miskin, sudah pasti bahwa celana dalam yang saya gunakan termasuk dalam gologan barang mewah yang wajib dilaporkan dalam SPT untuk dibayar pula pajaknya. Saya tentu bukan tergolong miskin. Kebutuhan rokok saya saja tiap harinya mencapai 15ribu rupiah. Tapi dengan standar penghasilan perhari 11ribu, maka penghasilan perminggu adalah 77ribu, sementara untuk keperluan celana dalam saja mencapai 200 sampai 350ribu, celana dalam saya sebagai orang kaya pasti termasuk barang mewah. Maka saya mesti laporkan dalam SPT secara detil mengenai celana dalam saya. Merk, harga, tahun pembuatan serta kondisi terakhir. Bahkan bila perlu bukti potonya sekalian, hahaha...!

16 Okt 2017

Diselamatkan Citra

Awalnya mereka mengincar seorang pengendara motor yang kemudian nekad menerobos lampu merah. Selanjutnya, dua orang polisi tersebut melihat mangsa lain yang dijamin juga empuk. Pasangan muda-mudi yang mungkin belum resmi yang berhenti tepat di depan saya. Mau kabur tak mungkin, sebab kami berhenti pas di tengah-tengah barisan mobil yang berbaris di samping kiri dan kanan, tengah menunggu lampu hijau menyala.

Saya yang berhenti tepat di belakang awalnya kurang ngeh, apa kesalahan yang mereka lakukan. Ooo, rupanya si cewek yang dibonceng tidak mengenakan helm. Waaah, sasaran empuk nih! Pasti jauh lebih produktif ketimbang mesti berurusan dengan pemuda botak yang kabur tadi.

Sambil tersenyum munafik polisi tersebut menyapa si cowok, meminta diperlihatkan SIM dan STNK motornya. Ada, dan polisi tersebut meminta mereka mengikutinya ke pos, untuk membereskan persoalannya. Saya sendiri bisa menduga ending dari persoalan tersebut. STNK akan dikembalikan dengan barteran uang sedikitnya 150an ribu rupiah.

Pertama persoalan gengsi. Melihat tampilan sang cewek yang cantik, rasanya si cowok ogah bernegosiasi alot dengan si polisi. Berikutnya,  negosiasi dilakukan di 'sarang macan' dan disaksikan pula oleh polisi-polisi macan lainnya. Metode intimidasi pengecut ala polisi tanah air kebanyakan.

Tapi yang ingin saya ceritakan sebetulnya adalah, bagaimanapun citra tetap dibutuhkan untuk menyelimuti bobrok yang tak kasat mata. Andai saja saat itu si cewek yang dibonceng juga mengenakan helm, tentu keadaannya bisa beda. Andai saja yang saat itu saya bertindak gugup, keadaan juga berbahaya. Karena bila ternyata saat polisi tersebut juga memeriksa saya, maka si polisi bisa saja untung besar, karena saya memang sedang 'punya uang', tapi tak punya SIM, dan tak memegang surat-surat kendaraan tersebut, hahaha...!

15 Okt 2017

Kita Pancasila

Sekelompok pelajar melapor ke polisi bahwa seorang siswi teman sekolahnya diperkosa seorang preman yang biasa nongkrong di dekat sekolah mereka. Sang preman yang diperiksa polisi menyangkalnya dan karena memang cukup disegani sebagai preman dengan banyak kenalan polisi dia tak pernah ditangkap. Keluarga dan teman-teman korban akhirnya menumpahkan kekesalan mereka lewat media sosial masing-masing.

Gerah karena selalu diumbar dituduh memperkosa, beberapa kerabat pelaku akhirnya melaporkan balik seorang pelajar, sahabat terdekat korban yang curhatan pilu di medsosnya telah memantik rasa iba banyak kalangan. Sang sahabat dilaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Sementara sang preman yang 'merasa biasa saja karena punya banyak kenalan polisi' berulangkali kemudian dilaporkan atas perkara yang sama, pemerkosaan.

Tapi aparat hukum dan pengadilan tetap bekerja secara maksimal. Sang preman yang akhirnya terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perkosaan, divonis penjara selama 15 tahun.

Sementara sahabat korban yang dilaporkan juga telah menjalani proses sidang di pengadilan. Dia akhirnya juga divonis hukuman 15 tahun penjara, persis sama dengan vonis yang diterima pemerkosa sahabatnya. Keberatan atas vonis yang dijatuhkan pengadilan, diapun mempertanyakannya. Mana ada vonis 15 tahun hanya untuk kasus pencemaran nama baik? Akhirnya dari Jaksa Agung diapun memperoleh jawaban yang 'melegakan'.

"Karena kasusnya berkaitan dengan sang preman, makanya hukumannya juga harus sama. Biar ada keseimbangan hukum".

Ini baru Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, hahaha...!
Kita Indonesia! Kita Pancasila!

11 Okt 2017

Lagu Barat dan Ayat Al-Quran

Saya hapal dan bisa menyanyikan sekitar 50an lagu-lagu Def Leppard. Saya juga hapal 20an lagu-lagu Bon Jovi, juga Bryan Adams. Ditambah belasan lagu-lagu Guns N Roses dan beberapa lagu rock barat lainnya. Termasuk juga lagu Father and Son milik Eric Clapton yang diresikel ulang secara apik oleh grup band rock Indonesia Power Slave. Ada juga lagu berbahasa Inggris karangan mereka sendiri yang juga salah satu lagu favorit saya, Find Our Love Again. Jika ditotal saya bisa menyanyikan dengan fasih lebih dari 100 judul lagu barat dari jenis rock.

Dengan genre yang lebih soft, saya juga hapal sekitar 30an lagu-lagu Roxette, belasan lagu-lagu Michael Learn To Rock dan beberapa judul dari penyanyi pop lainnya. Saya bahkan bisa menyanyikan lagu She Grey-nya Ribas dengan sepenuh hati, padahal saya sama sekali tak tahu lirik sebenarnya walau sudah bertahun-tahun mengubek-ubek Google, hahaha...!

Jika ditotal secara keseluruhan saya percaya bisa dengan fasih menyanyikan sekitar 150an lagu berbahasa Inggris tanpa melirik teks liriknya sama sekali.

Saya seakan bisa melihat apa yang dikisahkan oleh Bon Jovi dalam Right Side Of Wrong-nya. Saya bisa merasakan suasana saat Joe Elliot dan kawan-kawan Def Leppardnya nya menciptakan Have U Ever Needed Some One So Bad atau Bringin' On A Heartbreak-nya. Saya tau betapa hancurnya Jascha Richter saat menyanyikan 25 Minutes-nya MLTR.

I find her standing in front of the church.
The only place in town where I didn't search.
She looks so happy in her weddingdress,
But she's crying while she's saying this...

Boy I've missed your kisses all the time, but this 25 minutes too late.
Though you travelled so far boy I'm sorry, your are 25 minutes too late.

Saya pribadi merasakan banyak manfaat dari koleksi lagu-lagu barat yang saya miliki. Apalagi dari jenis musik rock. Itu sangat membantu membangkitkan ghirah saya dalam menjalani hidup. Bayangkan semangat saya saat meneriakkan I Wanna Touch U atau Pour Some Sugar On Me-nya Def Leppard. Bahwa saya hanya kalah dalam satu game. Yang penting itu mengakhiri kompetisi sebagai pemenang.

It's just a game that I just can't win,
But I gotta have you, Ran...!
Yeah, I gotta get a fix on you

(Have U Ever Needed Someone So Bad ~ Def Leppard ft Siraul Nan Ebat)

Tapi saya sungguh sedih menyadari fakta berikutnya. Saya bisa dapatkan spirit dari lagu-lagu seperti Raise Your Hands-nya Bon Jovi atau Dead Horse-nya Guns N Roses, tapi sama sekali tak merasakan ghirah yang sama dari ayat-ayat Al-Quran. Saya masa bodoh aja saat Al Quran bilang 'ittaqullah haqqa tuqatih wala tamu tunna illa wa antum muslimun', tapi langsung semangat saat Per Gessle bilang 'Let's go buy an ice cream an hot magazine, get your green because life is so very simple it's just like sya la la la'. Saya hapal ratusan lagu berbahasa Inggris, tapi menghapal satu surat Al-Quran saja begitu susahnya. Dan fakta yang lebih menyakitkan saya adalah saya telah belajar bahasa Arab sejak kelas 1 SD, sementara bahasa Inggris saya kenal baru 6 tahun kemudian, begitu saya masuk SMP, hiiiks...!

*Astagfirullahaladzim...!

10 Okt 2017

Jon Bon Jovi dan Meikarta

Dan hari ini, sehari setelah bertemu sang gitaris Richie Sambora, saya bertemu pula dengan komandannya, Jon Bon Jovi, vocalist band terkenal Bon Jovi. Dia yang terlebih dulu melihat saya dan langsung mendamprat,

Jon Bon Jovi :Ehh, kau ngomong apa aja sama si Richie? Kayaknya dia marah betul sama aku?

Siraul Nan Ebat :Biasa aja, Bang Jon! Dia cuma kesal minta naik gaji ga disetujui karena alasan lagi krisis, tapi kemaren Bang Jon malah beli kondominium mewah di NYC. Yaa, jadi marah dia.

Jon Bon Jovi :Loh apa urusannya? Lagipula waktu itu aku kan cuma minta dia bersabar. Nunggu Disnaker umumkan nilai UMK baru. Dianya aja yang ga mau sabar, merajuk tak mau lanjutkan tur dan malah minta resign. Aku beli kondo itu juga kan pakai duitku sendiri. Bukan ngorup uang kas Bon Jovi?

Siraul Nan Ebat :Dia mungkin sensian, Bang Jon! Ekonomi kan sedang sulit. Bang Jon malah buang-buang duit buat beli kondo semahal itu. Padahal di Meikarta ada hunian paling modern sedunia harganya cuma ratusan juta aja.

Jon Bon Jovi :Meikarta? Paling modern sedunia? Cuma ratusan juta? Di mana itu?

Siraul Nan Ebat :Yaa di Indonesia lah, Bang Jon!

Jon Bon Jovi :Hunian paling modern maksudnya itu gimana?

Siraul Nan Ebat :Di Meikarta semua sudah dilengkapi teknologi yang belum pernah ada di dunia, Bang Jon! Bahkan jendelanya aja sudah pakai teknologi layar sentuh.

Jon Bon Jovi :Ahh, jangan ngarang kau!

Siraul Nan Ebat :Bodo amat sih, kalau Bang Jon tak mau percaya! Aku bisa apa?

Jon Bon Jovi :Emang harganya cuma ratusan juta begitu?

Siraul Nan Ebat :Iyyaaa, Bang Jon!

Jon Bon Jovi :Kok bisa ya, murah segitu? Itu rumah liar?

Siraul Nan Ebat :Yaa bisa jadi iyya, atau bisa juga tidak, Bang Jon!

Jon Bon Jovi :Maksud kau gimana nih?

Siraul Nan Ebat :Itu perumahan belum ada ijinnya, Bang Jon!

Jon Bon Jovi :Sialan kau, rumah liar kau tawarkan sama aku!

Siraul Nan Ebat :Itu bukan rumah liar, Bang Jon! Itu perumahan sah! Pengembangnya aja Lippo Group!

Jon Bon Jovi :Tak berijin kau bilang sah? Otakmu malfungsi, yah?

Siraul Nan Ebat :Ijinnya sedang diurus, Bang Jon! Berarti legal. Sama aja kayak senjata berat yang diimpor polisi itu. Juga sah, sebab ijinnya sedang diurus.

Jon Bon Jovi :Emang ngeselin ya, ngomong sama kau ini?

Siraul Nan Ebat :Bang Jon bukan orang pertama yang bilang gitu, Bang Jon! Udah banyak, hahaha...!

Jon Bon Jovi :Heran juga aku! Kenapa sih orang-orang nyebelin macam kau ini ga ditangkap aja ya, sama polisi?

Siraul Nan Ebat :Emang ada orang ditangkap karena nyebelin?

Jon Bon Jovi :Tukang kritik macam kau ini harusnya tinggal di penjara, tau? Richie tadi juga bilang kau habis-habisan jelek-jelekin Presiden.

Siraul Nan Ebat :Yaaah, Bang Jon! Aku cuma nulis, Bang Jon! Si Kodat yang pidato resmi provokator biasa aja tuh? Indonesia negara demokrasi, Bang Jon! Mau ngancam-ngancam bahkan ngebacok aman-aman aja tuh! Asal tetap Pancasilais, haha...!

Jon Bon Jovi :Udah ahh! Tiap ketemu kau pasti migrain aku kambuh.

Siraul Nan Ebat :Laki kok penyakitan?

Jon Bon Jovi :Apa kau bilang?

Siraul Nan Ebat :Ehh, ga Bang Jon! Aku cuma mau nanya. Si Tomi dan Gina apa kabarnya sekarang.

Jon Bon Jovi :Udah cerai (ga ikhlas banget tampangnya ngejawab. Masam)

Siraul Nan Ebat :Cerai? Emang mereka kenapa, Bang Jon?

Jon Bon Jovi :Karena si Tomi selalu makan BengBengnya langsung. Padahal papa si Gina setujunya BengBeng dingin, paham kauuuuu? Bah....! (ngeloyor pergi).

*Tamat.

Richie Sambora dan Anti Jokowi

Baru saja saya bertemu mantan gitaris Bon Jovi, Richie Sambora. Langsung saja saya sok akrab dan memperkenalkan diri sebagai teman baik Jon Bon Jovi, sang vocalist band legendaris tersebut. Dan hasilnya kami sempat ngobrol panjang lebar soal karirnya, Bon Jovi dan tentu saja soal politik. Berikut, transkip dialog imajinatif kami.

Siraul Nan Ebat :Jadi beneran nih, mau ikut manggung bareng Bon Jovi di malam penganugerahan Rock N Roll Half Of Fame?

Richie Sambora :Yaa mau, donk! Udah kangen juga mainin lagi 'Living On A Prayer' sama 'Wanted Dead Or Alive', hahaha...!

Siraul Nan Ebat :Tapi waktu itu kok kenapa resign dari Bon Jovi?

Richie Sambora :Jenuh! Show terakhir yang aku ikuti 18.5 bulan di 52 negara, bukan 52 tempat ya! Putriku bilang 'aku butuh ayah', dan dia harus mulai pergi ke sekolah. Keluarga jauh lebih penting di atas uang dan segalanya.

Siraul Nan Ebat :Loh, bukannya resign karena Jon tak menyetujui permintaan kenaikkan gaji Bang Rich?

Richie Sambora :Siapa yang bilang begitu? Kau ini contoh orang yang kebanyakan nonton Halo Selebriti, haha...!

Siraul Nan Ebat :Tapi itu Jon sendiri yang bilang ke saya waktu itu. Bukan dengar dari orang lain.

Richie Sambora :Sialan! Ember juga mulutnya si Jon! Tidak...tidak...! Aku cuma ingin lebih punya waktu buat keluarga. Lain tidak!

Siraul Nan Ebat :Tapi nyatanya kan tetap sibuk di musik dan bahkan juga bikin album solo?

Richie Sambora :Tentu saja. Aku ini musisi, tentu saja kerjaku bermusik. Tapi sudah pasti tak sesibuk saat main bersama Jon, Bryan dan Torres di Bon Jovi. Tau sendiri kan, padatnya jadwal Band sebesar Bon Jovi?

Siraul Nan Ebat :Kemaren waktu Bon Jovi ke Indonesia katanya Bang Rich mau ikut, kok ga jadi?

Richie Sambora :Aku sebetulnya ingin sekali ikut. Sayangnya jadwal tak bisa dikondisikan. Aku sudah terikat kontrak manggung di tempat lain.

Siraul Nan Ebat :Kami sangat kecewa sekali lho, Bang Rich! Kehadiran Bon Jovi lengkap bersama Richie Sambora pasti sangat positif bagi Indonesia. Presiden kami saja sampai yakin ekonomi Indonesia akan meroket, begitu tau Bon Jovi akan reunian dengan Richie Sambora.

Richie Sambora :Aku dan Bon Jovi juga tentunya menyesal sekali. Kami minta maaf. Tapi memang politik butuh musik, film atau olahraga untuk memenangkannya, haha...! Makanya kau pintarlah sikit! Jangan mau dibohongi begitu saja, haha...! Oh ya, betewe, gimana penampilan Bon Jovi waktu itu?

Siraul Nan Ebat :Aku ga nonton, Bang Rich!

Richie Sambora :Loh, kenapa kau tak nonton? Kecewa karena aku ga ikut main ya? Haha...!

Siraul Nan Ebat :Jon juga sudah pernah bertanya begitu. Intinya aku kecewa Bon Jovi tak mau pakai Apoy Wali atau Doddy Kangen Bang sebagai additional guitar menggantikan Bang Rich! Aku sih yakin banget ini ada sangkut pautnya dengan politik.

Richie Sambora :Hah?! Kaitan bagaimana maksudmu?

Siraul Nan Ebat :Musisi-musisi anti Jokowi sudah sulit punya panggung sekarang, Bang Rich!

Richie Sambora :Oh ya?

Siraul Nan Ebat :Yoik! Ahmad Dhani, Ribas atau Andhika, vocalist Kangen Band itu anti banget sama Jokowi. Saya aja dulu milih Prabowo juga karena si Andhika Kangen Band tersebut juga dukung Prabowo.

Richie Sambora :Kalau gitu cocok lah...! Dan sekarang aku paham kenapa aku waktu itu tak jadi ikut main di Indonesia.

Siraul Nan Ebat :Maksudnya?

Richie Sambora :Yaa cocok! Jokowi dan si Jon itu sama-sama pencitraan dan hobi nipu.

Siraul Nan Ebat : ??? (bingung maksimal)

Richie Sambora :Sebelum manggung di Indonesia katanya Bon Jovi turut prihatin pada persoalan Gazza. Ehh, besok-besoknya malah manggung di Israel! Itu kan pencitraan namanya? Kuciang aia juo paja tu. Aku minta naik gaji katanya waktu itu situasi sedang tak memungkinkan! Ehh, kemaren malah beli kondominium baru di NYC. Itu kan nipu namanya? Cocok banget kan, orang tu bedua? Hahaha...!

Siraul Nan Ebat :Trus hubungannya sama Richie Sambora tak ikut manggung di Indonesia?

Richie Sambora :Loh, kau masih tak paham juga? Aku tak suka aksi tipu-tipu dan pencitraan. Aku juga anti Jokowi. Kan kau sendiri tadi yang bilang kalau musisi-musisi anti Jokowi tak lagi punya panggung di Indonesia?

*Kemudian hening :)

8 Okt 2017

Di Belakang Rekreasi Hati Part 4

Tapi kami berdua juga sudah saling paham resiko yang bakal dihadapi. Ada perbedaan mendasar menggunakan Dian dan Rani. Bersama Dian saya bisa 'merdeka' menulis namanya di Facebook. Meski mempunyai banyak mutual friends, tapi seluruhnya adalah orang yang tak pernah saya kenal di dunia nyata. Saya mengenal beberapa teman terdekatnya, tapi sebatas teman di sosmed biasa. Dian juga mengenal beberapa teman saya, tapi juga sebatas teman dunia maya. Relationship pertemanan kami semua hanya karena saling penasaran siapa saya dan siapa Dian. Walau juga alumni Labtech, ternyata saat itu tak ada di friendlist kami mutual friend anggota Labtech. Ini membuat saya merdeka menulis namanya tanpa rasa khawatir.

Ini sangat berbeda dengan Rani. Seluruh mutual friendlist Facebook adalah orang yang benar-benar kami kenal di dunia nyata. Ini sangat menyulitkan. Kami berdua telah menyadari ini jauh sebelumnya. Itulah kenapa saya butuh waktu berbulan-bulan untuk mempertimbangkannya. Dan saya juga yakin itulah pula alasan Rani menolak saat pertama kali saya minta kesediaan menggunakan namanya. Resikonya horror bullyan, hahaha...!

Dan benar saja, begitu saya lakukan test the water, pajang draft sampul Rekreasi Hati terbaru, terjadi histeria massa. Rani saja sampai tak berani nongol di Facebook, walau telah dimensyen berkali-kali, hahaha...!

Sebetulnya ini gaya publish yang keren. Tapi itulah pula persoalannya. Saya juga butuh menjaga privasi, tak ingin bermasalah dan menciptakan masalah bagi siapapun teman-teman wanita saya. Apalagi terhadap orang-orang yang kepadanya saya menaruh hati, kan? Hahaha...!

Dan saya konsisten terhadapnya. Walau selalu menulis nama Dian, tapi saya tak pernah melakukan mensyen atau menandai namanya dalam postingan Facebook saya.  Kalaupun misalnya ada, itu hanya saya lakukan di kolom komentar atau dalam tag ramai-ramai. Selain itu saya juga menulis tidak seperti ejaan namanya yang sebenarnya. Saya menulis Dian, sedang yang bernama Dian dalam list Facebook saya begitu banyaknya.

Tapi lain soalnya jika saya menulis nama Rani. Seluruh warga Facebook langsung tahu Rani mana yang saya maksud. Apa jadinya bila ternyata Rani juga sedang punya cowok, sedang saya masih dalam proses merebutnya, hahaha...! Saya menghargai kebutuhan privasi mereka. Bahkan sangat menghargai. Rani (dan juga Dian) jika detil mengamati mestinya juga menyadari itu. Bahkan untuk sekadar sms atau WAan saja saya pilih waktu dimana saya duga dia sedang free. Minggu, hari libur atau diatas jam 9an malam, saat Rani mungkin telah pulang kuliah. Atau lepas tengah malam, saat saya yakin Rani telah tidur dengan harapan akan dibaca dan dibalas setelah Subuh. Saya sangat menghargai kebutuhan waktu dan privasinya.

Berikutnya lagi soal chemistry. Dengan Dian chemistry-nya terasa lebih klop sebab saya menulis awalnya tanpa diketahuinya. Dian baru tahu soal itu setelah salah satu 'tulisan ajaib' tersebut. Tulusnya lebih berasa karena saya benar-benar menulis tanpa merasa perlu dia ketahui. Ini perbedaan yang sangat kontras jika saya menulis soal Rani.

Betapapun misalnya saya serius mencintai Rani, tulisan-tulisan saya akan tetap berasa modusnya. Yaa karena itu tadi. Saya telah meminta ijin Rani sebelum menulis namanya. Bisa saja misalnya saya dulu juga diam-diam menulis tentangnya, tapi orang-orang akan langsung bisa mendeteksinya. Ini saya pikir lebih bahaya lagi. Apa jadinya kalau Rani bukannya setuju, tapi malah marah? Lebih gawat, kan? Rekreasi Hati mungkin akan mati permanen, sebab saya cuma melihat Rani lah satu-satunya solusi persoalan Rekreasi Hati.

Jadi terhadap teman yang bertanya kenapa Rani tak pernah saya tampilkan di Facebook, inilah jawabannya. Jangankan Rani, saya sendiri tak cukup berani membayangkannya. Saya dan Rani ingin sama-sama bahagia, bukan sama-sama menderita, walau saya juga berharap Rani bersedia membagi bahagia dan deritanya bersama saya, hahaha...!

Di Belakang Rekreasi Hati Part 3

Persoalan cover selesai, selanjutnya persoalan sang ikon. Putri Penggaruknya itu siapa? Siapa yang paling tepat menggantikan Dian?

Kehadiran Dian saat itu juga sangat tepat, walau tetap sambil membonceng persoalan lain. Tepat, karena saya berhasil mengkonfirmasi persoalan kami berdua. Tapi sekaligus persoalan baru. Begitu saya luluskan permintaan pertemanannya, diikuti pula oleh permintaan pertemanan dari cowoknya, hahaha...! Yang lebih ajaib lagi, saya pernah cek profilnya. Mutual friend saya dengannya cuma dua orang. Mau tahu siapa? Dian dan Rani, hahaha...! Ajaib banget kan, drama hidup saya. Ohh God, thanks for giving me the beatifull life stories. NikmatKU yang mana lagi yang hendak kau dustai, hai manusia yang terlahir bernama Asrul Khairi...? Itu nama sudah sangat berjodoh dengan wanita yang terlahir bernama Khairani Eka Putri, hahaha...!

Beberapa hari sebelum minta kesediaan Rani untuk dijadikan model cover, saya bertemu lagi dengan teman pertama (ingat part 1). Pertanyaan yang waktu itu diulanginya lagi.

"Gimana, Bang? Kapan buku keduanya?", katanya.

"Aku belum tanya Rani, kira-kira dia mau ga ya, potonya aku pakai?", apa boleh buat, saya mesti jawab kan?

"Pasti mau, Bang! Aku dah bilang abang mau pakai namanya, dia kayaknya girang banget", jawabnya.

Jawaban ini akhirnya buat saya mantap. Perhatikan pernyataan saya dan tanggapan si teman. Saya tak tahu apa persis yang dikatakannya pada Rani. Saya tak tahu persis bagaimana Rani menanggapinya. Tapi saya ingat sekali pernyataan saya. Kami bertiga bisa saja saling telah salah paham, saling keliru memberi atau menangkap informasi. Tapi saya tegaskan bahwa saya sama sekali tak pernah  minta pakai nama Rani. Lah, saya minta potonya aja ga (belum) berani, apalagi minta ijin gunakan namanya?

Tapi jawaban si teman tadi buat saya yakin bahwa Rani pasti bersedia saya pakai di Rekreasi Hati. Yaa, poto dan sekaligus namanya. Tapi semua mesti ada prosesnya. Minta potonya ternyata tak sulit, tapi minta namanya saya butuh nyali yang sangat besar. Dan Rani sangat tahu berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk memupuk keberanian meminta kesediaannya. Saya minta potonya pertengahan Juni dan baru sekitar awal September berani minta namanya. Itu juga terdorong waktu yang kepepet target rilis buku kedua paling lambat 2 tahun setelah buku yang pertama. Dan begitu saya minta namanya, Rani menolak, hahaha...!

Rani tahu persis bagaimana prosesnya. Saya bahkan tegaskan langsung padanya bahwa saya percaya 100% dia akan bersedia. Dan terbukti kan, Ran? Haha...!

Di Belakang Rekreasi Hati Part 2

Pertengahan Juni 2016, 4.5 bulan setelah poto itu diupload barulah saya berani meminta kesediaan Rani menggunakannya sebagai model Rekreasi Hati. Tapi hidup saya sepertinya telah identik dengan drama-drama yang menarik untuk dinikmati. Setelahnya berturut-turut terjadi peristiwa yang menggoyahkan keimanan saya, hahaha...!

Peristiwa pertama Si Anu (ingat solusi teman kedua seperti yang saya tulis di part 1) juga posting poto yang tak kalah kerennya. Ini persoalan yang serius. Si Anu ini teman akrab Rani, juga suka ngadu-ngadu saya dan Rani. Apa jadinya bila saya malah gunakan dia sebagai model. Bisa terjadi perang jambak-jambakan, donk! Kan saya bakal naik gengsi bila ada 2 orang cewek sahabatan perang gegara seorang cowok bernama Siraul Nan Ebat, wkwkwkwk...! Dan celakanya begitu saya survey, Dian malah lebih suka poto si Anu.

Dian?

Yaa, itu peristiwa kedua. Dian muncul lagi dan membuat konflik baru, hahaha...! Dian muncul lagi minta konfirmasi pertemanan. Sebetulnya dia telah muncul di awal Juni, tapi sebagai lelaki yang pegang teguh komitmen, walau langsung saya konfirmasi, saya sama sekali ogah memulai kontak kecuali dia yang manggil duluan.

Saya sudah minta persetujuan Rani dan disetujuinya. Sekarang muncul saingan baru yang ternyata adalah teman dekatnya sendiri. Kan bisa kacau. Celakanya, Dian malah mendukungnya pula. Tapi berikutnya terjadi lagi peristiwa yang akhirnya membuat saya jadi fix menggunakan Rani.

Seorang teman lain posting poto, dan sama persis dengan poto si Anu. Poto Rani dan kedua lainnya itu memang identik, wanita berjilbab yang membelakangi kamera sehingga tak menampilkan rupa pemiliknya. Saat minta ijin Rani, saya juga butuh terlebih dahulu bertanya itu potonya beneran atau cuma comot poto orang lain di internet. Pun begitu mestinya dengan poto si Anu dan teman satunya lagi tersebut. Dan upload poto ketiga yang sama persis dengan poto kedua membuat saya fix jatuhkan pilihan pada poto pertama. Rani lah ternyata the special one tersebut, hahaha...! Itu buktinya, Ran! You're the real my special one.

*Entar dilanjut part berikutnya

7 Okt 2017

Di Belakang Rekreasi Hati Part 1

Selain Dian dan Rani hanya ada 2 orang yang mungkin bisa saya jadikan teman curhat terkait persoalan Rekreasi Hati. Orang yang mengenal saya, Dian, Rani dan Rekreasi Hati tentu saja. Beberapa hari setelah Rani posting poto tersebut saya bertemu dengan seorang diantaranya.

"Bang, buku kedua kapan mau rilis nih?", katanya memulai percakapan.

Saya memang tak pernah curhat terhadap siapapun terkait permasalahan Rekreasi Hati dengan siapapun. Takkan mungkin ada yang mengerti persoalannya sebab sungguh rumit, bahkan hanya untuk sekadar dipaparkan. Tapi seperti yang telah saya katakan di atas, dialah satu diantara hanya dua orang yang tahu kami dan juga pasti tahu segala persoalannya. Pertanyaannya di atas saya yakin hanya sekedar minta konfirmasi dari saya.

"Itulah! Materi udah jadi. Tapi covernya ga nemu-nemu, sedang Dian sulit sekali dihubungi. Ehh tapi kemaren aku lihat Rani posting poto keren. Cocok amat kayaknya."

"Udaaah, ga usah repot-repot mikirin Dian. Pake Rani aja".

"Kayaknya Rani emang jodoh Rekreasi Hati Potonya keren-keren semua"

Tak dilebih-lebihkan, tapi poto-poto Rani emang sudah lama saya incar, jaga-jaga kalau saya dan Dian gagal.  Banyak yang keren-keren, hanya aja belum ketemu yang sreg, sampai akhirnya Rani posting poto yang satu itu.

Dan beberapa hari berikutnya, saya bertemu dengan seorang yang lainnya pula. Selain teman yang pertama tadi, kerabat yang ini juga mungkin yang paling tau persoalan saya. Dia kenal baik Dian, sekaligus teman dekat Rani. Pertanyaannya sama,

"Bang, buku kedua kapan?", katanya.

"Masih nyari-nyari cover", jawab saya ringkas.

"Pakai Rani atau Anu aja. Abang kan suka sama anak-anak Labtech", katanya lagi sambil tertawa ngikik, seolah-olah dia juga tahu persoalan yang saya hadapi.

Perbedaan kedua teman tersebut adalah, yang pertama mungkin sangat tahu bahwa Rani memang solusi dari persoalan Rekreasi Hati. Sedang teman satunya lagi, walau dia juga mungkin tahu persoalannya, tapi saya duga dia cuma sekedar menjodoh-jodohkan saya dan Rani (maaf kalau ternyata keliru). Dia cukup sering melakukannya, hahaha...!

Tapi akibat solusi yang mereka sodorkan sangat nyata bedanya saya rasakan. Solusi dari teman pertama buat saya optimis, bahwa the special one itu memang Rani. Solusi dari teman kedua malah buat saya jadi lebih optimis lagi, jangan-jangan memang Rani nih orangnya, hahaha...!

Tapi buruknya juga ada, walau senang bukan main, saya sekaligus jadi takut menggunakan Rani. Suer, itulah kenapa saya butuh lebih dari 4 bulan hanya untuk sekedar meyakinkan diri, apakah orang itu memang Rani. Sejak potonya itu diupload, saya rajin melototi TL teman-teman yang lain, siapa tahu ada yang lebih keren ketimbang Rani. Ada...?

Bisa dibilang ada, tapi bisa juga dikatakan tidak. Kenapa? Di post berikutnya saja yaa?

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...