14 Agu 2017

Behind the Stories

Banyak juga ternyata yang menyukai karya-karya dialog imajiner ala Rekreasi Hati. Ada yang bertanya bagaimana cara saya dapat ide untuk menulisnya. Entahlah, tapi mungkin proses menulisnya bisa  saya ceritakan. Mudah-mudahan bisa membantu, hehe...!

Dialog-dialog imajiner itu saya tulis spontan, tak sampai satu jam untuk menjadikannya utuh. Tapi satu hal yang pasti, sebelum menulis saya selalu membaca berita terkini, soal apa saja. Tujuannya sebagai 'automark' agar 'karya masterpiece' saya tidak bisa diklaim sebagai karya orang lain, hehe...!

Berikutnya observasi tokoh. Tujuan utamanya memberi nyawa pada cerita. Saya mesti sangat mengenal siapa saja tokoh yang terlibat. Baik yang terlibat langsung, ataupun sekedar yang jadi topik dialog. Suatu kali seorang teman minta dibuatkan tulisan dengan kata 'legenda'. Saat itu saya sedang di perjalanan bermobil bersama paman saya yang penggemar dangdut. Musik player di mobil sedang memutar lagu-lagu Ona Sutra, seorang legenda dangdut Indonesia. Sampai di rumah coba nulis sambil dengar musik seperti biasa. Pas di lagu It's My Life-nya Bon Jovi tiba-tiba saja dapat ilham. Band ini juga legend. Waah, bakal seru nih kalau Ona Sutra dan Bon Jovi diaduk-aduk. Maka tak sampai sejam kemudian, teman yang request pun puas, permintaannya terkabul dengan hasil gemilang, haha...!

Karya terakhir saya 'Naga Bonar 3' menjadi sangat mudah karena saya mengerti betul semua tokohnya. Saya sudah ratusan kali tonton film Naga Bonar. Saya bahkan hapal seluruh dialog di filmnya (kecuali yang pakai bahasa Belandanya), hahaha...!

Satu hal yang paling sulit adalah menjaga agar dialog pembicaraan berimbang tanpa merusak karakter si tokoh. Sulit memerankan karakter 2 orang (atau lebih) yang sangat berbeda di satu waktu yang sama. Yang berbicara memang mereka, tapi seluruh pikirannya kan dari saya? Maka pemilihan tokoh utama di sini menjadi soal yang sangat penting. Walau band rock favorit saya sebetulnya Def Leppard. Tapi yang jadi fanfic saya malah Bon Jovi atau Slash, hiiiks! Musisi lokal idola saya Ribas, tapi materi fanfic saya malah Kangen Band, wkwkwk...!

Dalam cerita bersama Jon Bon Jovi (vocalist), inti cerita sebetulnya adalah Richie Sambora yang baru saja dipecat sebagai gitaris. Berulangkali saya coba dengan Richie, tapi ga pernah dapat feel-nya. Ketemu 'taste'nya malah bersama sang vocalist, Jon Bon Jovi. Cerita berikutnya begitu lagi. Inti cerita masih soal sang gitaris Richie Sambora. Kali ini soal dia mau reunian dengan Bon Jovi. Coba lagi dengan Richie, masih gagal. Balik temui Jon, juga gagal. Ehh, tiba-tiba dengar kabar baru dari Guns N Roses. Slash sang gitaris baikan dengan Axl Rose sang vocalist. Belum sempat coba dialog dengan Axl, karena dialog dengan Slash ternyata sukses. Membahas reunian Richi Sambora dan Bon Jovi, hahaha...!

Terakhir, biasanya sebelum menulis saya telah punya 'kalimat penutup yang tepat'. Ini sebetulnya mudah saja. Di kost-an dan bahkan ditempat saya bekerja dulu saya dikenal sebagai rajanya penggalauan, hahaha...! Tapi sebetulnya juga susah sekali, hahaha...! Membuat kalimatnya memang mudah, tapi mesti ditujukan pada orang yang tepat. Mencari orang yang tepat itulah yang sulit. Di situlah pentingnya dialog butuh sosok yang tepat.

Dalam blognya, Wahyu HS, penulis skrip Sinetron Para Pencari Tuhan mengakui kesulitannya menyelesaikan jilid pertama sinetron tersebut, khususnya kisah seputar Ayya dan Azzam. Kedua tokohnya tersebut sama-sama pintar, cerdas dengan pemahaman agama yang sama pula kuatnya. Karakter mereka berdua sudah terlanjur melekat dan kuat. Bagaimana membuat ending yang tepat tanpa merusak karakter salah satunya?

Kalimat penutupnya sudah ketemu,"kalau dikumpulin, air matanya bisa dipakai buat mandi".

Tapi itu bukanlah kalimat cerdas yang bisa dipakaikan untuk sosok seperti Ayya atau Azzam. Kalimat ini cocoknya untuk Udin. Solusinya? Karena tak bisa menyelesaikan lewat Udin, si penulis pilih ganti kalimatnya.

"Andai syariat membolehkan, kupakai airmatamu untuk berwudhu".

Persoalan seperti itulah yang membuat saya mengganti Richie dengan Jon, atau Jon dengan Slash dan sebagainya. Kisah Valentino Rossi di seri terakhir tahun 2016 itu menarik buat siapa saja. Valentino Rossi adalah nama yang sering diketik di kolom pencarian Google. Tapi kisahnya malah lebih klop saat saya menulisnya bersama Jorge Lorenzo, haha...!

*Dah ahh, selamat berkarya...!

Related Posts

Behind the Stories
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.