22 Agu 2017

Khatib Jumat, Sekular dan Liberalisme

Berhasil membalik situasi seperti yang diperlihatkan Pak Gubernur tersebut, kemampuan inilah mestinya dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin yang mengendalikan, bukan pemimpin boneka dan sekedar wayang belaka. Pemimpin yang membuat nyaman warga, bukan yang menteror dan berlaku laiknya diktator. Pemimpin yang kharismatik dan berwibawa, yang segala titahnya dilakukan dan bicaranya didengarkan.

Pun begitu dengan ulama. Saya sedih sekali menemui kenyataan bahwa seribuan kali sholat Jumat di kota metro seperti Batam ini, 80an persen diantaranya saya ketiduran saat khatib Jumat sedang menyampaikan khutbahnya. Beberapa kasus bisa jadi karena faktor kelelahan. Tapi saya lebih ke arah dugaan bahwa saya memang tertidur karena entahlah, hahaha...!

Tapi yang pasti sang khatib gagal menarik minat saya. Bukan karena materi ceramah yang membosankan, sebab bagaimanapun hal yang itu-itu saja pun banyak yang masih gagal saya pahami sampai saat ini. Bagaimana mungkin saya mesti mendengar orangtua bicara seperti 'bicara sendirian'. Saya sendiri ragu apakah dia paham yang keluar dari mulutnya sendiri.

Menjadi khatib Jumat di kota seperti Batam ini sangat mudah. Bermodal 50an ribu untuk membeli buku 'Kumpulan Khotbah Jumat' belaka seorang bisa menjadi khatib Jumat berbayar. Lumayan, seminggu minimal 150an ribu bisa dikantongi hanya dengan naik mimbar dan membaca buku tersebut.

Saya sama sekali tak permasalahkan buku tersebut. Orator sekaliber Bung Karno atau Abraham Lincoln sekalipun juga sering pidato pakai naskah. Tapi sangat terang perbedaannya. Soekarno atau Lincoln gunakan naskah sebagai pedoman agar pidatonya terstruktur, tetap dalam jalur dan tak melebar kemana-mana. Kenapa khatib Jumat tak menggunakan trik serupa?

Anak kecil sekalipun akan ketiduran bila ibunya membacakan sebuah buku cerita. Apalagi saya? Saya tak tahan menghadapi orang bicara tanpa melihat kepada lawan bicaranya. Demi Allah, saya ngantuk mendengar seorang tua berkacamata membaca sebuah buku yang kadang dari satu kalimat belum utuh lompat ke kalimat tak utuh lainnya karena terlewatkan satu baris. Bagaimana saya bisa paham apa yang dibicarakannya?

Ini persoalan yang Maha Serius. Bagaimana mungkin ada khatib Jumat yang gagap membaca ayat seperti

"...ittaqullah  haqqatuqatih wala tamutunna illa wanntum muslimun".

Itu adalah ayat yang rutin (saya rasa wajib ya?) dibaca seorang khatib Jumat. Tapi karena khatib kita ini sudah tua, berkacamata dan terlalu fokus membaca, akhirnya lupa bahwa dia sendiri hapal ayat tersebut luar kepala.

Apa salahnya misal si khatib hapal dulu materi ceramah di pagi harinya. Tak mesti dihapal juga mestinya, cukup dipelajari dan diingat-ingat saja struktur materinya. Dan buku tersebut boleh saja tetap digunakan, tapi cukup sebagai konsep belaka.

Ikatan muballigh mestinya melihat ini sebagai persoalan yang serius. Indonesia sangat kekurangan ulama yang berkharisma dan didengarkan. Sementara pihak sekulr dan liberal selalu memiliki kader-kader yang kemampuan berbicaranya mumpuni. Tak heran orang seperti Nusron, Ulil, Sahal atau Abu Janda punya banyak pengikut fanatik. Walau banyak argumentasinya yang bisa diperdebatkan, faktanya kemampuan berbicara sangat terlatih karena mereka memang terlatih untuk itu. Islam layak khawatir. Jika anak-anak seperti AFI atau Tsamara bisa mereka rangkul, latih dan jaga, kaum sekuler dan liberalisme punya banyak masa depan penerus Aqil Siraij atau Qurais Shihab dan sebagainya, hiiiks...!

Related Posts

Khatib Jumat, Sekular dan Liberalisme
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.