7 Agu 2017

Naga Bonar : Kearifan Lokal

Di acara itulah Naga Bonar bertemu dengan sahabat lamanya Lukman, anak HBS yang sekarang telah jadi Menteri Agama.

Naga Bonar :Aku bangga padamu, Lukman. Dulu saat menteri-menteri lain mengundurkan diri dari kabinet karena terpilih jadi anggota DPR, kau tetap pilih selesaikan masa jabatanmu. Padahal cuma tinggal 3 bulan lagi kan ya? Masih untung kau dipilih lagi oleh presiden yang baru. Itu suatu keuntungan buat kau, Lukman! Kau bisa lanjutkan program-program mu yang mungkin waktu itu belum kelar. Satu hal lagi, kau satu-satunya orang yang dipilih jadi Menteri oleh presiden dari 2 kubu yang berseberangan. Kau adalah harapan umat bagi kedamaian dan ketenangan negeri ini.

Lukman :Terimakasih, Bang! Abang sendiri bagaimana kabarnya?

Naga Bonar :Aku seperti yang kau lihat sekarang inilah. Jadi apalah aku, Lukman! Sekolah bambu pun tak tamat. Kau anak HBS.

Lukman :Bersyukurlah, Bang! Abang kulihat masih sehat-sehat aja! Sudah lama sekali ya Bang, kita tak ngopi-ngopi di kedainya si Murad?

Naga Bonar :Itulah, Lukman! Aku sendiri tak tau Kolonel kita itu masih hidup atau sudah dimakan cacing pula macam si bengak Bujang itu. Sudah kularang dia bertempur, eee...

Obrolan terganggu karena ada seorang petugas panitia yang menghidangkan makanan dan minuman di atas meja mereka. Naga Bonar agak curiga melihat minuman tersebut.

Naga Bonar :Hey kau! Minuman apa yang kau hidangkan ini?

Petugas :Ini arak, Pak Tua! Minuman tradisional khas daerah sini.

Naga Bonar :Ehh, kau tahu kan, buat siapa minuman itu kau hidangkan?

Petugas :Yaa taulah aku, Pak Tua! Ini untuk yang terhormat, Menteri Agama kita ini. Ada masalah apa rupanya, Pak Tua?

Melihat suasana mulai agak tak enak, Pak menteri bernama Lukman itu buru-buru coba menetralisir keadaan.

Lukman :Sudahlah, Bang Naga! Tak apa-apa. Ini cuma demi menghormati tradisi dan kearifan lokal.

Naga Bonar :Apa sebetulnya agama kau ini Lukman? Atau jangan-jangan kau sudah murtad pula? Macam si Umar, supir bajai yang mengajariku mengaji selama di tempat anakku Bonaga di Jakarta? Apa kata dunia kalau si Lukman, bekas Mayor yang sekarang jadi menteri agama itu murtad? Bahh...!

Lukman : Yaa, tak begitu lah, Bang! Aku ini Islam. Jangan terlalu serius dalam beragama, Bang! Berlebih-lebihan beragama berpotensi jadi radikal yang mengganggu toleransi beragama di negara kita.

Naga Bonar :Hey Lukman! Tak pernah sholat Jumat nya kau ini kurasa ya?

Lukman :Apa maksud Abang? Tiap Jumat aku sholat Jumat, Bang!

Naga Bonar :Aku ini memang bodoh, Lukman! Aku juga tak sealim kau. Dulu Mak suruh aku sekolah,  aku lari. Disuruhnya aku mengaji, aku mencopet. Tapi aku hapal ayat yang tiap Jumat dibaca khatibnya. Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan Islam. Tak tau, kau Lukman?

Lukman :Ya taulah aku, Bang! Aku sendiri sering jadi khatib Jumat. Ayat itu selalu dibaca khatib tiap khotbah Jumatnya. Sudahlah, Bang! Tak perlulah aku abang ceramahi pula! Aku ini menteri agama, Bang!

Naga Bonar :Itulah! Aku marah, Lukman! Aku marah menteriku dihina. Aku marah ulamaku dinista.

Lukman :Apanya, maksud Abang ini?

Naga Bonar :Kau ini pemimpin sekaligus ulama kami, Lukman! Kau yang mengatur dana zakat, soal-soal terkait ibadah haji dan sebagainya. Kau yang menentukan kapan kita mulai puasa atau lebaran. Jadi kalau ada yang menghidangkan arak di depanmu, itu sama saja berarti dia telah menghina pemimpin kami dan menista ulama kami. Yang begitu kau tak paham, Lukman?

Lukman :Kalau cara pikir abang macam begitu, tak heran aku Abang sampai tembak-tembakan sama si Mariam untuk berebut Kirana dulu.

Naga Bonar :Itu karena dia menghina Makku, Lukman!

Lukman :Yang macam gitu itulah yang berbahaya buat negeri ini, Bang! Cara berpikir seperti abang ini berbahaya bagi stabilitas negara kita, Bang! Kita hidup di negeri majemuk. Penuh keberagaman yang membutuhkan komitmen toleransi.

Naga Bonar :Tingginya bahasa kau, Lukman! Tak ngerti aku.

Lukman :Islam itu rahmatan lil alamin, Bang! Islam yang damai. Islam yang membaur dan menghirmati tradisi, kearifan dan kebudayaan. Islam Indonesia. Islam Nusantara.

Naga Bonar :Islam itu agama yang sempurna, Lukman! Budaya yang mesti ikut agama, bukan sebaliknya. Islamkan Indonesia. Islamkan Nusantara, bukan nusantarakan Islam, paham kau? Aku pulang! Bikin malu aja, kau!

Lukman : (hening)

*Tamat

Related Posts

Naga Bonar : Kearifan Lokal
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.