Halaman

21 Agu 2017

Rokok dan Penceramah Yang Terlambat

Saya 'mengenal' ustadz ini paling baru sebulanan terakhir. Itupun via Youtube, saat seorang kerabat menunjukkan betapa menariknya ceramah sang ustadz. Maka begitu seorang teman menginformasikan sang ustadz akan mengadakan ceramah di kota kami, saya 'tak terlalu ngeh'. Tapi begitu seorang teman lagi ngajak 'nobar' ceramah sang ustadz, saya langsung meng-iyakan. Alasannya sedikit melankolis. Ini pasti panggilan hati, tak elok mengabaikannya. Saya takut bila nanti saya tak bisa lagi mendengar panggilan serupa. Saya ngeri bila hati saya nantinya 'benar-benar' mati. Ngeriii...!

Saya sampai di lokasi tepat waktu. Tepat dalam artian, sesuai dengan waktu yang di-informasikan panitia, setelah sholat Isya. Saya langsung menuju barisan depan, mencari posisi yang nyaman. Jamaah ceramah makin membludak, dan saya terjebak di barisan depan. Sementara sang penceramah yang ditunggu, benar-benar masih harus ditunggu.

Panitia mulai gelisah, bukan karena sang ustadz batal ceramah, tapi menghadapi kesabaran jamaah. Bayangkan, betapa sabar pun ternyata bisa menjadi satu persoalan, termasuk sabar salam beribadah, menunggu kedatangan sang penceramah. Ehh, tapi bisa jadi pula mungkin tidak. Panitia cuma gelisah menghadapi jamaah seperti saya. Persoalannya, jemaah seperti saya ini mungkin terlalu banyak.

Grup nasyid pengisi waktu menunggu telah kehabisan list lagu. Sang MC coba bersolusi, ajak jamaah shalawatan sembari menunggu kedatangan sang penceramah, yang ternyata juga saling menunggu dengan para pejabat daerah. Sayang ajakan sang MC tak mendapat sambutan antusias jemaah. Alunan shalawat dtimpali omelan jamaah yang tak sabaran seperti saya.

Saya memang telah marah betul. Saya buru-buru datang ke sini hanya untuk dengar ceramah sang ustadz, bukan untuk mendengar pidato Walikota atau Gubernur atau pejabat lainnya. Mengetahui bahwa jemaah mesti menunggu pula kedatangan mereka, betapa menyebalkannya. Mau marah saja rasanya. Tapi mau marah bagaimana? Pada siapa? Kenapa mesti marah? Kan saya datang ke sini dengan niat ibadah?

Telah satu setengah jam saya menunggu, terjebak di barisan depan. Padahal saya sangat ingin merokok. Atau jangan-jangan kemarahan saya ini bukan karena telatnya rombongan penceramah, tapi karena rokok?

Duhhhh... :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...