Halaman

4 Agu 2017

Saya Butuh Menulis dan Kebelet

Awal mula saya 'menulis' hanya karena melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh guru di sekolah. Ada hukuman bila tak dilaksanakan. Dan pada proses selanjutnya ada dinamika unik yang saya rasakan soal menulis, khususnya menulis di blog sampai jadi buku yang diterbitkan sendiri.

Kadangkala saya menulis semaunya. Bila mau, saya menulis. Bila malas, yaa tak menulis, hahaha...!

Pada momen tertentu saya jadikan menulis sebagai suatu kewajiban. Bahwa bulan ini saya harus posting sekian tulisan. Proses melaksanakannya tak mudah. ada saja hambatannya. Bisa malas, bunti ide, tapi yang jelas sibuk bukan suatu alasan yang bisa dibenarkan. Kecuali mungkin bila quota habis, hahaha...!

Malas apakah suatu problem besar? Ternyata tidak. Sebab solusinya jelas dan tegas: lawan! Buntu ide itu soal remeh, sebab yang penting cuma menulis dan ada tulisannya.

Sekarang entah kenapa saya mulai merasakan bahwa saya butuh menulis. Menulis adalah suati kebutuhan. Saya punya nilai hidup dengan menulis. Dan pada saat menulis telah menjadi kebutuhan, saya mulai merasa gelisah bila tak menulis. Saya takut fans, Para Penggaruk meninggalkan saya, hahaha...!

Berikutnya lagi, saya takut Rani kabur kalau saya tak lagi menulis. Terus terang saja, saat ini saya baru berhasil membuatnya menyukai tulisan-tulisan saya. Padahal yang saya mau, Rani menyukai saya, bukan sekedar tulisan belaka, hahaha...!

Terakhir, saya ngeri bila saya kehilangan kemampuan menulis, jika saya jarang menulis. Padahal saya butuh menulis dan harus tetap menukis, sebab dengan menulislah saya punya nilai hidup di dunia.

Manusia butuh sesuatu agar punya nilai. Kuncinya ternyata dengan menjadikan sesuatu iti sebagai suatu kebutuhan. Atlet tak wajib berlatih. Dia butuh berlatih. Maka bila si atlet menjadikan berlatih sebagai satu kebutuhannya, dia akan jadi atlet yang bernilai.

Yang lain pun begitu pula. Pemusik butuh bermusik. Guru butuh mengajar, pekerja butuh bekerja dan sebagainya.

Bernilai di dunia bernilai pula di akhirat. Kuncinya ternyata juga sama. Jadikan sholat, mengaji, puasa dan sebagainya sebagai kebutuhan, maka itu akan bernilai di akhirat. Menjadikan segala kewajiban dan perintah agama menjadi suatu kebutuhan itu juga punya dinamika unik.

Awalnya puasa cuma ikut-ikutan karena orangtua juga puasa. Sholat juga cuma karena diperintah orangtua dan takut dipukul bila tak melakukannya. Ehh tapi bila sholat dijadikan suatu kebutuhan, bukan lagi sekedar kewajiban, entah bagaimana 'ada saja paksaan' untuk melakukannya.

Kaset pengajian sebelum waktu sholat sudah diputar. Saya masih cuek. Tapi ketika tiba-tiba sampai di Surat Al-Baqarah ayat 6-7,

"Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka. Kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman"

"Allah mengunci hati mereka. Penglihatan dan pendengaran mereka telah tertutup. Bagi mereka azab yang amat pedih"

Saya terdiam. Jangan-jangan saya yang dimaksud ayat ini? Ambil wudhu', dan segera sholat. Saya bersyukur sekaligus takut. Saya bersyukur mengenal ayat tersebut dan bersyukur Allah SWT 'menegur' dengan cara yang tepat. Saya takut, bagaimana bila di masa depan saya lupa, tak lagi kenal ayat tersebut. Saya takut tak lagi terbiasa sholat. Saya takut terlupa ayat dan bacaannya bila sering meninggalkannya.

Saat nyenyak-nyenyaknya tidur, saya terbangun kebelet pipis. Mau ditahan, udah kebelet. Tidak ditahan, mata masih mengantuk. Lanjut tidur, ini kebelet beneran, hahaha...!

Ehh, tapi akhirnya saya sadar. Saya bersyukur dan sekaligus takut. Bersyukur, saya dibangukan dari tidur karena sudah waktunya sholat Subuh. Saya takut di masa depan Allah SWT cuek dan membiarkan saya terus terlelap ditinggalkan Subuh. Maka biarlah sekarang saya butuh kebelet, jika karenanya saya bisa laksanakan sholat Subuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...