30 Sep 2017

Open Mic

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...!

Demi, NKRI kita!

Demi, merah putih kita!

Demi, Bhinneka Tunggal Ika kita!

RANI Harga Mati, Merdekaaaa...!

Sebelumnya saya mau klarifikasi dulu. Banyak teman pembaca karya-karya dialog imajinatif saya yang menganjurkan saya untuk ikutan acara Stand Up Comedy.

"Lucu", katanya.

"Saya pikir juga begitu. Banyak sih memang yang bilang begitu", jawab saya demi tidak mengecewakannya. Dan karena itulah sekarang saya ada di sini.

Halo perkenalkan, nama saya Raul!
Asli saya orang baik-baik. Asal saya dari keluarga baik-baik. Sejak sekolah dulu saya aktif berorganisasi. Karir tertinggi saya adalah sebagai Ketua Kelas dan dipecat karena terbukti merekayasa buku absen. Tahun berikutnya saya maju lagi di pemilihan dan cuma meraup 1 suara. Itupun saya duga suara saya sendiri.

Selain itu saya adalah juga seorang mantan calon Ketua OSIS. Saya gagal terpilih karena kampanye hitam dari para pesaing saya. Katanya Ketua OSIS harus warga Batam asli. Sedang saya kan tak punya KTP Batam. Umur saya waktu itu baru 16 tahun.

Saya juga mantan anggota Pramuka Siaga. Upacara Senin Pagi di sekolah dulu saya juga aktif berpartisipasi, terutama bila jadwal pelaksananya adalah kelas kami. Jabatan rutin saya waktu itu adalah pendamping pembina upacara dengan jobdesk membawakan map merah jambu (cieee) naskah Pancasila. Mengingat ini kadang saya merasa sedih.

Cerita awalnya saat gladi resik. Saya jadi komandan upacara. Tapi karena saya orangnya pendiam, maka saya dianggap tak bisa jadi pemimpin upacara.

"Ngomong aja susah, gimana mau teriak 'Siaaaap Graaaak!', alasannya.

Saya batal jadi komandan. Pangkat diturunkan, jadi MC. Dan lagi-lagi saya dikriminalisasi. Katanya daripada mubazir, saya jadi pembawa naskah Pancasila saja.

Katanya logat saya aneh. Tak cocok jadi orang yang didengarkan. Jadi pengikut dan pendengar saja. Itulah mungkin sebabnya kenapa saya jadi begitu pintar, ya?

Sudah logatnya aneh, cempreng pula katanya. Aneh okelah, saya bisa terima. Saya kan memang anak pendatang, baru datang merantau dari keluarga baik-baik. Tapi cempreng?

Hey, saya ini pernah jadi vokalis band gagal lho! Iya benar, suer! Saya pernah bentuk 2 band dengan keduanya saya jadi vocalist, hanya karena suka sekali lagu I'll Be Alright-nya Per Gessle. Tau ga lagunya? Dan saya tebak, untuk tau siapa Per Gessle aja kalian pasti butuh Google, ya kan? Tapi jujur saya akui kalau jam manggung kami memang tak banyak, tapi kami puas sekali mainnya. Seingat saya waktu itu kami cuma sewa 2 jam di tempat biasa, Genta blok N nomor 9. Saya ingat betul. Waktu itu saya yang nraktir teman-teman yang lain bayar sewanya, sebab panen cabe saya laku keras. Habis diborong semua oleh teman-teman sekelas.

Ohya, di sini ada yang masih jomblo? Banyak pasti ya? Sama, saya juga masih jomblo? Jadi jomblo itu susah ya? Apalagi mesti tabah pula. Tapi tenang aja, selain saya dan kita, Megawati atau Presiden Prancis juga jomblo kok! Tapi yaa jangan sampai kesenangan dulu pula! Saya sudah punya incaran. Namanya Rani. Aslinya orang baik-baik. Asalnya dari keluarga baik-baik. Jadi kalian semua para jomblo, termasuk Megawati dan Presiden Perancis, tak usah mimpi bakal jadian sama saya. Rani aja sampai sekarang masih belum bisa-bisa dapetin saya. Pokoknya demi Merah Putih, demi Bhinneka Tunggal Ika, RANI harga mati, Merdekaaaa....!

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu...!

Related Posts

Open Mic
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.