7 Okt 2017

Di Belakang Rekreasi Hati Part 1

Selain Dian dan Rani hanya ada 2 orang yang mungkin bisa saya jadikan teman curhat terkait persoalan Rekreasi Hati. Orang yang mengenal saya, Dian, Rani dan Rekreasi Hati tentu saja. Beberapa hari setelah Rani posting poto tersebut saya bertemu dengan seorang diantaranya.

"Bang, buku kedua kapan mau rilis nih?", katanya memulai percakapan.

Saya memang tak pernah curhat terhadap siapapun terkait permasalahan Rekreasi Hati dengan siapapun. Takkan mungkin ada yang mengerti persoalannya sebab sungguh rumit, bahkan hanya untuk sekadar dipaparkan. Tapi seperti yang telah saya katakan di atas, dialah satu diantara hanya dua orang yang tahu kami dan juga pasti tahu segala persoalannya. Pertanyaannya di atas saya yakin hanya sekedar minta konfirmasi dari saya.

"Itulah! Materi udah jadi. Tapi covernya ga nemu-nemu, sedang Dian sulit sekali dihubungi. Ehh tapi kemaren aku lihat Rani posting poto keren. Cocok amat kayaknya."

"Udaaah, ga usah repot-repot mikirin Dian. Pake Rani aja".

"Kayaknya Rani emang jodoh Rekreasi Hati Potonya keren-keren semua"

Tak dilebih-lebihkan, tapi poto-poto Rani emang sudah lama saya incar, jaga-jaga kalau saya dan Dian gagal.  Banyak yang keren-keren, hanya aja belum ketemu yang sreg, sampai akhirnya Rani posting poto yang satu itu.

Dan beberapa hari berikutnya, saya bertemu dengan seorang yang lainnya pula. Selain teman yang pertama tadi, kerabat yang ini juga mungkin yang paling tau persoalan saya. Dia kenal baik Dian, sekaligus teman dekat Rani. Pertanyaannya sama,

"Bang, buku kedua kapan?", katanya.

"Masih nyari-nyari cover", jawab saya ringkas.

"Pakai Rani atau Anu aja. Abang kan suka sama anak-anak Labtech", katanya lagi sambil tertawa ngikik, seolah-olah dia juga tahu persoalan yang saya hadapi.

Perbedaan kedua teman tersebut adalah, yang pertama mungkin sangat tahu bahwa Rani memang solusi dari persoalan Rekreasi Hati. Sedang teman satunya lagi, walau dia juga mungkin tahu persoalannya, tapi saya duga dia cuma sekedar menjodoh-jodohkan saya dan Rani (maaf kalau ternyata keliru). Dia cukup sering melakukannya, hahaha...!

Tapi akibat solusi yang mereka sodorkan sangat nyata bedanya saya rasakan. Solusi dari teman pertama buat saya optimis, bahwa the special one itu memang Rani. Solusi dari teman kedua malah buat saya jadi lebih optimis lagi, jangan-jangan memang Rani nih orangnya, hahaha...!

Tapi buruknya juga ada, walau senang bukan main, saya sekaligus jadi takut menggunakan Rani. Suer, itulah kenapa saya butuh lebih dari 4 bulan hanya untuk sekedar meyakinkan diri, apakah orang itu memang Rani. Sejak potonya itu diupload, saya rajin melototi TL teman-teman yang lain, siapa tahu ada yang lebih keren ketimbang Rani. Ada...?

Bisa dibilang ada, tapi bisa juga dikatakan tidak. Kenapa? Di post berikutnya saja yaa?

Related Posts

Di Belakang Rekreasi Hati Part 1
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.