11 Nov 2017

Fanfic Atau Bukan?

Dulu saya sangat skeptis terhadap para penulis fanfic. Apalagi sejak demam K-Pop melanda Indonesia. Saya sebetulnya paham bahwa teman-teman penulis tersebut cuma bermaksud membuat semacam album cerita para idolanya. Yang saya 'sesalkan' adalah kenapa dengan kemampuan menulis begitu rupa mereka tidak menciptakan saja sendiri tokoh dalam ceritanya. Sayang banget, kan? Tapi sudahlah! Itu telah berlalu. Sekarang saya justru sedang cemas memikirkan tulisan-tulisan saya sendiri. Apakah saya termasuk salah seorang diantara mereka, fanfictioners? Hadduh...!

Sebetulnya dulu saya telah membaca banyak hal soal fanfic. Saya pernah mengomentari sebuah tulisan yang membahas tuntas soal fanfic. Mulai dari apa itu fanfic dan segala macam jenisnya, sampai pada persoalan hukum yang mungkin bisa menjerat penulis ataupun penerbitnya. Dalam berbagai banyak tulisan mengenai fanfic selalu saja berujung pada novel, atau paling tidak cerpen. Dan sampai beberapa waktu lalu saya masih belum menyadari bahwa saya mungkin saja adalah juga seorang penulis fanfic. Kecurigaan saya muncul setelah berdiskusi dengan teman sesama penulis yang juga banyak tahu tulisan-tulisan saya. Dan menurutnya saya adalah juga seorang fanfictioner, duhhh...!

Selama ini saya sama sekali tak pernah merasa sebagai seorang penulis fanfic. Saya bukan penggemar Guns N Roses atau Bon Jovi. Band rock idola saya itu Def Leppard. Saya juga bukan fans Peterpan, Wali apalagi Kangen Band. Saya Die Hard-nya Ribas. Saya koleksi lagu Ona Sutra juga justru setelah tulisan yang membullynya itu selesai saya tulis.

Jika fanfic adalah semacam tribut untuk idola maka sudah jelas saya bukan seorang fanfictionis/ner sih? Saya tak pernah menulis cerita fiksi dengan tokoh para personel Def Leppard dan juga Ribas. Lagipula mana mungkin saya nge-fans dengan manusia cengeng lagi penyakitan seperti Setya Novanto, hahaha...!

Entahlah! Tapi ada sangat banyak perbedaan antara fanfic dan tulisan-tulisan dialog imajiner saya. Fanfic normalnya hanyalah sebuah cerita fiksi hiburan biasa. Tapi dalam perspektif pribadi, karya-karya dialog imajiner seperti yang biasa saya buat adalah satu metode baru temuan sendiri (?) dalam menyampaikan suatu peristiwa atau informasi. Selain karena request-an teman, biasanya saya menulis cerita dialog imajiner tersebut setelah membaca suatu berita. Berita tersebut kemudian saya tulis ulang dengan gaya sendiri dengan mengkombinasikan dan mengaduk-aduknya dengan berita-berita lain dalam format dialog imajinatif. Itulah salah satu sebab kenapa saya tak mau menyamarkan atau memelintir sosok yang sedang saya tulis. Walau caranya aneh, tapi saya hanya sedang menulis berita. Saya ingin menginformasikan bahwa Guns N Roses formasi klasik akan reunian. Bahwa Jon Bon Jovi baru saja membeli sebuah kondominium mewah. Bahwa ternyata Ratu Atut ditahan KPK tepat sehari setelah masa iddahnya berakhir. Lalu kenapa namanya mesti saya samarkan? Saya juga lihat media seperti New York Time menulisnya Bon Jovi, bukan Bon Kopi misalnya? Maka walau jauh dari etika jurnalistik, karya-karya dialog imajiner itu saya anggap hanyalah sebagai sebuah tulisan informatif bermuatan kritik sosial, budaya, politik ataupun entertainment. Walau....

Walau...

Ahhh....!

Related Posts

Fanfic Atau Bukan?
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.