17 Nov 2017

Maafkan Saya, Papa!

Selama ini saya menetapkan standar yang tinggi atas sesuatu yang disebut lucu. Saya tidak memfollow satu pun akun para komedian di media sosial yang saya gunakan. Saya juga tak merasa perlu-perlu amat nonton tipi yang belakangan ini banyak menampilkan para pelawak dan komedian sebagai pengisi acaranya. Menurut saya 'tak satu pun' diantara mereka yang layak disebut komedian.

Saya tak setuju ada situasi saling aniaya dianggap sebuah kelucuan. Saya tak suka ada tertawa yang mengiringi sebuah panggilan jelek seperti 'muka comberan', apalagi 'sebutan nama binatang' yang ditujukan pada seseorang terkait dengan kekurangan fisiknya. Itu bukan lelucon, tapi penghinaan.

Saya tak suka 'lawakan genit', lelucon mesum. Saya paling anti pelawak yang menggunakan materi agama bukan untuk syiar, tapi untuk melecehkannya. Dan maaf, di Indonesia saya tak (belum) menemukan seorang pun yang memenuhi standart-standart yang saya sebutkan di atas.

Para pelawak inilah yang telah merusak selera humor orang Indonesia. Seorang yang pendek, berhidung pesek atau yang perutnya bulek adalah objek lucu-lucuan di grup WA. Apa lucunya? Demi Allah, saya tak melihatnya?

Si jomblo dibully? Oke-oke saja, sebagai hiburan? Tapi jika telah sampai pada topik kapan nikah, malam Jum'at, sunnah rasul dan sebagainya? Sadar diri saja, bebas dosa ga selama pacaran? Nikahnya karena cinta atau sebab disandera zina?

"Aku udah yang ke-2, lu satu aja belum?", dan ditimpali dengan emoji-emoji penghasut tawa.

Lah, yang pertama cerai dianggap lucu? Dan dibanggakan pula? Itu namanya tak tau diri! Pernikahan gagal dianggap lucu? Kan lucu? Hahaha...!

Apa yang lucu dari kata sunnah rasul? Mengolok-olok agama? Iya banget!

Saya pribadi sering mengalami olok-olok begitu. Tak ada masalah, sebab bagi saya mudah saja menemukan kegembiraan, dibalik aneka hinaan dan atau bully yang saya terima. Saya ladeni saja sepanjang saya pikir mampu menjaga komitmen takkan pernah menyinggung perasaan orang lain. Saya berhenti, jika terlihat mulai mengarah pada menghina orang lain atau mengolok-olok ajaran agama. They're so nothing...!

Saya bangga pada fakta bahwa seanti-antinya saya dengan Jokowi-Ahok dan fanboys-nya, tak sekalipun saya pernah menyebut mereka sebagai kodok, kecebong dan sebagainya. Saya bangga saat seorang teman yang saya kenal cuma di Facebook mengatakan bahwa buku saya tak ada tandingnya. "ngakak beradab", katanya.

Saya bangga bisa tetap menjaga etika dalam berkarya. Saya bangga tetap bisa berkarya dan bergembira dengan berpegangteguh pada komitmen dan cara saya sendiri.

Dan sebebetulnya saya telah menahan diri takkan mengolok-olok seorang yang tertimpa musibah, seperti yang sedang dialami Papa sekarang ini. Saya mengerti betapa tak eloknya menertawai derita orang lain. Saya tahan diri untuk tak mentwit atau posting suatu yang lucu soal Papa yang kecelakaan tersebut. Soal kecelakaan yang dialaminya saya twit dan posting seada dan sewajarnya saja, awalnya.

Yaa, awalnya saja. Sebab makin lama saya menahan diri, malah membuat saya menderita sendirian. Hampir semua orang yang ada di TL Facebook dan Twitter saya bergembira dengan twit dan postingannya. Semua terhibur dengan musibah yang dialami papa. Bahkan akun-akun portal berita mainstream sekalipun turut memprovokasi kegembiraan para followernya dengan ikut-ikutan posting lucu-lucuan seputaran musibah papa tersebut. Akun sipil awam biasa sampai akun selebriti dan tokoh ternama. Akun pribadi sampai akun official resmi lintas kepentingan dan kompetensi. Saya merasa aneh sendiri bila tak mengikuti gembira kolosal begini. Maka maafkanlah saya, Papa! Saya tak tahan menderita sendirian, hahaha...!

Cepat sembuh, Papa...!
Diundang Pak Jokowi ke Medan, kan?

Related Posts

Maafkan Saya, Papa!
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.