Halaman

25 Des 2018

Naga Bonar : Rahmat Natal


Naga Bonar         :Beginilah jadinya, kalau segala sesuatu diserahkan pada yang bukan ahlinya.

Lukman                :Maksud, Abang?

Naga Bonar         :Si Maryam itu pencopet, kan?

Lukman                :Mantan, Bang! Mantan pencopet! Macam Abang juga!

Naga Bonar         :Iya, mantan pencopet! Nah, kenapa mantan pencopet bisa diangkat jadi staff ahli Menteri Peridustrian dan Perdagangan? Keahlian si Maryam itu kan mencopet, bukan berdagang?

Lukman                :Mungkin karena dia jago diplomasi, Bang! Jago melobi, maka dipercaya sebagai staff ahli menteri.

Naga Bonar         :Staff ahli! Ahli, cuiiiih! Ahli apaan yang bisa menyimpulkan harga telor naik karena Piala Dunia? Ahli apaan yang solusi mengatasi jatuhnya harga kelapa sawit adalah dengan menggantinya jadi perkebunan petai dan jengkol? Jengkel saya!

Lukman                :Abang iri ya, sama si Maryam?

Naga Bonar         :Iri? Kenapa aku harus iri? Aku tersinggung. Aku marah, Lukman! Aku marah karena pemimpin seenaknya saja menyuruh mengganti kebun kelapa sawitku jadi kebun jengkol atau kebun petai. Padahal kau sendiri kan tahu, bagaimana berharganya kebun kelapa sawit itu buatku.

Lukman                :Kelapa sawit harganya jatuh, Bang!

Naga Bonar         :Bukan soal harga yang kupermasalahkan, Lukmaaaan! Bahhhh! Tapi nilai kebun itu sendiri. Di kebun kelapa sawit itu Bonaga, anakku kubesarkan sendirian karena Kirana emaknya mati waktu melahirkannya. Di kebun itu dia menghabiskan masa kanak-kanaknya, menemani aku, bapaknya, alumni copet yang mencoba jadi manusia yang lebih baik dengan berkebun. Kelapa sawit itu pula yang menyekolahkan Bonaga sampai ke Inggris, agar dia juga jadi lebih baik ketimbang aku bapaknya, kau, si Maryam atau si bengak Bujang itu. Nahhhh, kini bisa-bisanya mereka menyuruh kebun kelapa sawit diganti jadi kebun petai atau jengkol?

Lukman                :Bang, kita ini sahabatan sejak kecil. Karena kesibukan pribadi, kita jadi jarang bertemu. Apa tak bisa, kesempatan langka ini kita gunakan untuk ngobrol yang ringan-ringan saja? Perasaan, tiap ketemu abang aku dapat omelan melulu? Ini aku bisa pulang kampung juga karena kebetulan libur, Bang! Alhamdulillah, rahmat Natal!

Naga Bonar         :Astagfirullah! Ngucap, Kau, Lukman! Rahmat Natal katamu?

Lukman                :Loh, emang salah? Natal itu bukan semata soal kelahiran, tapi juga mengenai kehidupan Yesus yang penuh hikmat. Ia datang membawa rahmat. Kata-katanya tak membakar kesumat, tapi mendatangkan selamat. Nasehatnya tidak.... (keburu dipotong Naga Bonar)

Naga Bonar         :Sersan Mayor Lukman Hakim Syaifuddiiin....!

Lukman                :Siap, Jendral!

Naga Bonar         :Kalau kau masih mengoceh juga, kuturunkan pangkat kau jadi Prajurit. Paham, KAAAAAUUUUUUU....! Bahhhh!

Lukman                : (diam)


***



11 Des 2018

Reuni Aksi Bela Islam 212

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! 

Reuni Aksi Bela Islam 212 adalah bukti kesempurnaan Islam sebagai agama. Kita yang hadir di sini, hari ini adalah bukti bahwa benarlah nyata Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ini adalah aksi pertunjukan akhlak mulia sebagai umat Islam. 

Lihat betapa cerah dan cerianya wajah saudara-saudara kita non muslim yang turut hadir di sini. Mereka kita beri karpet khusus bukan karena Islam berlaku diskriminatif. Prabowo atau Anies Baswedan datang belakangan? Selain wudhu mesti ikut antrian, sholatnya pun tak bisa di barisan shaff terdepan. Dalam Islam semua manusia adalah sama di hadapanNYA. Maka mereka, saudara-saudara kita non muslim itu adalah orang-orang yang kita beri prioritas perlindungan dari kita umat Islam yang mayoritas. Umar bin Khattab sendiri yang akan menggunakan pedangnya, bila Amru bin Ash selalu gubernur tidak melindungi Yahudi miskin yang jadi warganya. 

Itulah akhlak Islam yang selama ini selalu dituding intoleran. Islam telah mengajarkan cara memuliakan binatang, jauh sebelum aktivis-aktivis pecinta dan pelindung binatang bersuara. Betapa agungnya perlakuan kita terhadap sesama makhluk Allah SWT. Ranting tiada yang patah, rumput tiada yang terinjak sebab bahkan lobang semut sekalipun Islam perintahkan untuk kita lindungi.

Mereka menolak syariah. Tapi tak kuasa mengelak bahwa mereka butuh dana umat, dana zakat, dana haji dan sebagainya. Bukti bahwa Islam adalah solusi. Jawaban atas segala persoalan negeri ini ternyata ada pada Islam. 

Ekonomi negara kolaps? Reuni 212 adalah bukti hebatnya ekonomi Islam sebagai solusi. Pengusaha kelas atas seperti agen travel, penjualan tiket pesawat, bis, hotel atau pengusaha katering, sampai pada tukang siomay, penjual atribut, tukang ojek dan abang parkir semua kebagian berkah. Bayangkan bila negara mampu memberdayakan dan mengelola potensi ekonomi Islam, ekonomi Indonesia akan real meroket. 

"Ketuhanan Yang Maha Esa," kata sila pertama Pancasila.

Lalu kita umat Islam yang dituduh merongrong Pancasila? Kalau bukan Islam ibu kandungnya, apa mungkin begitu bunyi Pancasila?

Kitalah penjaga Pancasila sesungguhnya. Reuni 212 adalah rangkuman bukti Pancasila yang kita rawat dan jaga. Ketuhanan Yang Maha Esa. Tahajjud dan Subuh dengan jamaah terbanyak yang pernah ada. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Yang buta dibimbing, yang lumpuh dituntun dan yang beda diperlakukan sama. Bersatu dalam keragaman. Tertib sesuai kesepakatan dan semua dalam nuansa syahdu, ceria dan cerah dalam kegembiraan? Lalu Pancasila yang mana yang akan kita kudeta?

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!








4 Des 2018

ILC : Pasca Reuni 212

Begini, Bang Karni!

Prabowo tentu saja beruntung, atau lebih tepatnya diuntungkan, atau lebih tepatnya lagi bisa diuntungkan dengan (suksesnya) Reuni Aksi Bela Islam 212 ini. Dengan catatan, Prabowo bisa mengelola potensi keuntungan tersebut. Lebih tepatnya lagi, bila Prabowo mau dan mampu mengelolanya. Kenapa? Sebab saya khawatir Prabowo tak mampu.

Sebelum ini sudah pernah ada aksi serupa dan Prabowo gagal memaksimalkannya. Membelot nya Yusril (dan PBB juga?) adalah karena kegagalan Prabowo menampung aspirasinya. Harus dijadikan pelajaran. Sebagai parpol tentu tak boleh abstain dalam Pilpres (Demokrat abstain di Pilpres 2014, karena belum ada aturannya?). Sejak awal telah tersirat Yusril dan PBB mendukung Prabowo. Tapi apa pernah mereka diajak diskusi merumuskan konsep koalisinya? Bahkan saat Deklarasi di KPU saja saya tak melihat Koalisi mengajak PBB. Terang saja sebagai parpol mereka pindah dukungan. Dan ini harus jadi pelajaran.

Bagi Jokowi sebetulnya inilah momen paling tepat untuk mengangkat elektabilitasnya. Bahkan inilah saat paling tepat bagi pemerintah untuk unjuk wibawa di panggung dunia. Andai jadi Jokowi, hal pertama yang akan saya lakukan adalah instruksikan seluruh media untuk mem-booming-kan Reuni Aksi Bela Islam 212.

Saya akan katakan pada dunia agar jangan macam-macam dengan Indonesia. Saya punya jutaan pejuang yang siap mati demi Indonesia. Saya akan panggil pemimpin Cina misalnya.

"Anda kalau tidak bisa menghentikan produksi dan pengiriman narkoba ke negara saya, silahkan panggil pulang Duta Besar Anda!"

"Singapur, Anda mau jemput sendiri Dubes anda,  atau ekstradisi koruptor2 buronan kami dari negara anda?"

Saya akan datangi sidang umum PBB dan berpidato, "Saya mewakili seluruh rakyat Indonesia malu menjadi anggota PBB. Organisasi besar berisi negara-negara besar dengan cita-cita besar perdamaian dunia. Tapi membereskan konflik di negara kecil seperti Palestina, Suriah atau Myanmar saja bertahun-tahun tak kelar-kelar. Kami keluar dari PBB!"

Apa tidak shock negara-negara besar seperti Amerika, Inggris, Cina atau Rusia tersebut? Apa tidak kagum negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar atau Turki? Apa tidak hormat negara-negara berkembang atau negara-negara kecil lainnya?

Kita pernah punya sejarah sebagai pemimpin dunia. Indonesia lah pencetus dan pemimpin Gerakan Non-Blok Blok, Asia Afrika termasuk ASEAN. Indonesia pernah memboikot Piala Dunia dan Olimpiade. Bahkan Indonesia mampu menciptakan event tandingannya. Dan momen Reuni 212 ini adalah saat paling tepat mengulang sejarah tersebut.

Kembalikan jati diri Indonesia sebagai negara besar dan pemimpin dunia. Indonesia negara penting. Sebagai negara dengan jumlah muslimnya yang terbesar di dunia, Indonesia dengan Islamnya adalah negara terpenting di dunia. Muslim Indonesia lah yang dimaksud berbagai ayat Al-Quran dan Hadist sebagai Islam akhir jaman. Ujung tombak kebangkitan dan kejayaan Islam dari Timur itu siapa lagi kalau bukan kita, muslim Indonesia? Kitalah pengibar panji-panji hitam, ar-rahmah tersebut. Memangnya siapa lagi?


Melalui Reuni Aksi 212 ini umat Islam khususnya telah membuktikan kesiapannya untuk berjuang demi agama dan negara. Tinggal bagaimana para pemimpin menggerakkan dan mewujudkannya. Siapapun mereka, Jokowi atau Prabowo. Saat ini Jokowi punya peluang besar jadi pemimpin dunia, sayang sekali kenapa dia pilih jadi petugas partai.

Dah, segitu aja Bang Karni!

"Pemimpin itu mengarahkan, bukan menunggu arahan," kata Siraul Nan Ebat, penulis buku Rekreasi Hati.

Kita rehat sejenak!

***




30 Nov 2018

Maulid Nabi, Perlukah?

"Kapankah Nabi Muhammad SAW dilahirkan?" Tanya Pak Ustadz.

Ada yang menjawab 12 Rabiul Awal Tahun Gajah.  Ada pula yang menjawab 12 Rabiul Awal 571 Masehi. Dan kedua jawaban itu sebetulnya keliru.

Tahun Gajah hanya sekedar julukan, sebab pada tahun tersebut terjadi sebuah peristiwa penting. Pasukan bergajah Abrahah menyerang  kota Mekah hendak menghancurkan Ka'bah. Ini seperti kita di Indonesia menyebut tahun 2019 sebagai tahun Pemilu atau tahun 1945 sebagai tahun Kemerdekaan. Orang Cina menyebut tahun 2016 sebagai tahun Monyet atau Siraul Nan Ebat menyebutnya sebagai Tahun Para Penggaruk.

Sementara jawaban 12 Rabiul Awal 571 Masehi juga tidak tepat. Ini menunjukkan ketidakkonsistenan kita umat Islam. Jika tanggal dan bulannya menggunakan kalender Hijriyah, kenapa tahunnya memakai Masehi?

Saya pernah menulis, membuktikan betapa jauh melesetnya perhitungan kalender Masehi dan betapa sempurnanya akurasi kalender Hijriyah. Tapi soal menetapkan waktu tepatnya kelahiran Nabi Muhammad SAW jelas tak mungkin sebab kalender Hijriyah baru dimulai setelah peristiwa hijrah.

12 Rabiul Awal 53 QH (Qobla Hijriyah)?

Yaa, tetap ga bisa, donk! Kan ga mungkin ada tanggalan dan nama bulannya sebelum tahunnya itu sendiri ada?

Yang paling mungkin adalah menyebut bahwa Nabi Muhammad SAW lahir 53 tahun sebelum peristiwa hijrah, walau dapat angka 53 itu sendiri pedomannya juga masih pakai hitungan Masehi. Tetap tidak konsisten? Itu salah satu bukti bahwa sebetulnya umat Islam 'tak perlu merayakan' Maulid Nabi☺

***

28 Okt 2018

Wasiat Naga Bonar

Naga Bonar :Sekarang pesan untukmu, Witan!

Witan           :Siap, Opung!

Naga Bonar :Berapa umurmu sekarang?

Witan           : 20 hari yang lalu saya masih 16 tahun, Opung! Sekarang berarti...

Naga Bonar :Ahhh... Kau ini sama saja seperti si Bonaga anakku atau si Monita calon menantuku itu.                         Bicara berputar-putar macam mencari ketiak ular saja. Tapi cocok!

Witan           :Cocok apanya, Opung?

Naga Bonar :Kau kenal Sentot Alibasya?

Witan           :Kenal betul tidak, Opung! Tapi saya tahu dia pahlawan kita.

Naga Bonar :Kau benar, Witan! Tak banyak orang yang mengenalnya. Dia pahlawan kita, walau negara                       belum pernah mengakuinya.

Witan           :Kenapa bisa begitu, Opung?

Naga Bonar :Aku tak tahu, Witan! Mungkin karena dia terlalu sibuk berjuang demi negara, sampai lupa                       berjuang demi dirinya sendiri.

Witan           :Maksudnya, Opung?

Naga Bonar :Dia sudah pergi ke medan perang waktu seumuran kau ini, Witan. Itulah kenapa tadi                              kubilang cocok. Belanda terlalu takut padanya. Banyak komandan mereka yang stress                              sampai bunuh diri karena siasat perangnya. Dia akhirnya dicurangi, ditangkap dan                                  dibuang kesana kemari sampai akhirnya meninggal jauh dari kampungnya. Besar                                  kemungkinan waktu itu dia masih jomblo. Maka tak ada keturunan yang bisa                                          memperjuangkan gelar pahlawan untuknya.

Witan           :Memangnya gelar pahlawan itu harus diperjuangkan ya, Opung?

Naga Bonar :Bukan begitu maksudku, Witan! Di luar negeri siasat perang terornya tersebut dipelajari                         dengan detil. Bahkan sampai dibukukan segala. Musuh menghormatinya, memberinya                             julukan hebat, Napoleon Jawa. Lalu kenapa kita bangsanya sendiri seolah tak mau tahu?

Witan           :Begitu ya, Opung?

Naga Bonar :Kau tahu kenapa hari ini kita peringati sebagai Hari Sumpah Pemuda, Witan?

Witan           :Karena 90 tahun yang lalu para pemuda dari berbagai daerah telah bersumpah, Opung!

Naga Bonar :Kau benar. Tapi perlu kau tahu pula. Hampir seabad sebelum itu Sentot Alibasya juga                             telah melakukan dan membuktikannya langsung.

Witan           :Ohya?

Naga Bonar :Setelah menangkapnya di ujung Perang Diponegoro, Belanda mengirimnya ke Padang                             untuk menumpas kaum Paderi. Kau tahu, dia malah bekerjasama dengan nenek moyang si                      bengak Bujang itu melawan Belanda. Padahal waktu itu sedang panas-panasnya sentimen                      anti Jawa di Sumatera. Nah, Sentot memberangus sentimen itu dengan sama-sama                                 berjuang mengusir Belanda. Jadi dia itu sungguh layak jadi Pahlawan Nasional, Witan!

Witan          :Iya! Saya mengerti, Opung!

Naga Bonar :Melihatmu saat ini Witan, aku seperti merasakan langsung kehadiran beliau di hadapanku.                      Kau pakai semangat mudanya itu, Witan! Jangan kau tiru pula Siraul Nan Ebat itu!

Witan           :Siraul Nan Ebat itu siapa lagi, Opung?

Naga Bonar :Ahh, orang tak penting. Satu kampung juga sama si Bujang. Dan bengaknya sama pula.                         Waktu seumuranmu, menjadi Ketua Kelas saja dia dipecat.

Witan           : (bingung)

Naga Bonar :Sudahlah! Dia itu sangat tak penting. Yang penting sekarang kau lanjutkan cita-cita dan                         perjuanganku dulu.

Witan           :Apa itu, Opung?

Naga Bonar :Dulu Jepang menjajah negara kita. Dan yang berhasil kulakukan cuma mencopet arloji                         komandannya yang waktu itu sedang mabuk. Setelah kita merdeka anakku si Bonaga                             malah mengajaknya bekerjasama mengelola kebun kelapa sawitku. Aku tak suka. Tapi                             lagi-lagi yang bisa kulakukan cuma mencopet arlojinya. Dan sekarang Jepang datang lagi                      ke Indonesia. Kali ini giliranmu. Tugas ini sekarang kuserahkan padamu.

Witan           :Opung menyuruhku mencopet arloji Jepang?

Naga Bonar :Usir Jepang itu dari Indonesia, Witaaaan...! Bahhhh!

Witan           :Maksud Opung?

Naga Bonar :Kalahkan Jepang! Buktikan bahwa Indonesia lah sesungguhnya komandan Asia.                                     Indonesia lah pemimpin Asia. Indonesia lah juara dan macan Asia. Kalau nanti kau cetak                         gol lagi, cari aku di lapangan tempat kita biasa main dulu. Ada hadiah untukmu.

Witan           :Hadiah apa, Opung! Jersey Christiano Ronaldo macam yang Opung kasih buat Tulus                             waktu itu?

Naga Bonar :Bukan! Hadiah spesial karena kau mampu usir Jepang dari Indonesia. Arloji Jepang teman                       kerja anakku si Bonaga yang kucopet waktu itu ingin kuwariskan untukmu.

Witan: (melongo)

***

22 Okt 2018

Beda

Seorang teman pernah bertanya dari mana saya bisa mendapatkan ide-ide, analogi dan quote-quote nyeleneh ala Rekreasi Hati. Entahlah! Tapi pribadi saya sendiri pun memang sukar ditebak, termasuk oleh keluarga dan kerabat sendiri. Saya terbiasa berpikir beda, sebab selera saya juga lain dari yang lainnya.

Sebagai penggemar musik rock, koleksi lagu saya bukan hits-hitsnya Guns N Roses, Metallica atau Bon Jovi misalnya. Saya die hardnya Def Leppard. Untuk musik yang lebih soft, saya tak mengoleksi Michael Learn To Rock atau Roxette. Tapi saya punya album-album solo Per Gessle. Ada yang kenal siapa orang ini? Saya yakin 'tidak'.

Ketika dalam negeri sedang booming Element, Caffein, Jikustik atau Sheila On 7, saya mengkoleksi lagu-lagunya RC Formation. Dalam folder musik pop lokal saya tak bakal dijumpai lagu-lagunya Ungu, Ada Band atau Peterpan. Adanya album solo Icha Jikustik, Velocity dan Ribas, lengkap dengan lagu-lagunya dalam versi demo yang masih kasar.

Saya belajar membumi dari Izzy Stradlin dan Vivian Campbell yang tidak saya dapat dari Slash atau Phil Collen. Pelajaran idealisme bukan saya dapat dari Eross, melainkan dari Ribas. Belajar rendah hati pada Billy Costacurta, bukan dari Paolo Maldini. Belajar prinsip hidup dari Prie GS, tidak dari Tere Liye.

Pun demikian dengan tokoh, pahlawan atau atlet idola saya juga berbeda dengan yang lain. Walau tentu saya mengagumi sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Ali bin Abi Thalib. Tapi spirit berjuang demi agama lebih saya dapat dari Khalid bin Walid. Tentu saja saya menghormati Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro atau Sultan Hasanuddin. Namun semangat seorang Sentot Alibasya lah yang sangat menginspirasi saya. Haryanto Arbi, Ardy Wiranata atau Taufik Hidayat adalah pahlawan olahraga yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Tapi dari Hermawan Susanto lah saya belajar tulus berbuat demi negara.  

Belajar dari guru yang berbeda, memandang dari sudut yang tidak sama tentu menghasilkan wawasan dan pola pikir yang lain pula. Dari situlah saya bisa menulis dengan tema-tema yang anti mainstream dan orisinil ala Rekreasi Hati. 

Maka jadilah Napoleon Jomblo. Bagaimana saya Menggugat Siti Nurbaya, Kalender Masehi atau Garuda Khayalan dan banyak lagi yang lainnya. Itu jelas sangat orisinil dan belum pernah seorangpun membicarakan apalagi menulisnya. Dan kelak Insya Allah bila berjalan sesuai harapan, Rekreasi Hati akan menjadi buku yang berpengaruh dan paling dicari di Indonesia, aamiin...!


20 Okt 2018

Ipung

Di periode awal KBM, yakni di pertengahan tahun 80an ada seorang membernya yang rutin menulis sebuah cerbung berjudul Ipung. Ceritanya belum kelar, tapi keburu diminati penerbit. Maka jadilah Ipung 1 dengan ending yang masih menggantung. Penulisnya yang buntu ide kemudian hiatus, menghilang selama hampir 20 tahun.

Memasuki milenium baru beliau aktif lagi menyambung cerbungnya. Bayangkan rumitnya. Ipung generasi awal yang masih bersepeda ontel dan menggunakan telpon umum dilanjutkan pada era handphone kamera. Jadilah Ipung 2 yang disusul Ipung 3 yang dibuat utuh (lengkap dengan seri 1 dan 2) dengan judul 'Hidup Ini Keras, Maka Gebuklah!' pada jaman Android. Tapi tetap dengan ending menggantung, sebab menurut penulisnya Ipung akan dibuat sampai seri ke-7.

Saya bukan penikmat novel, tapi saya suka beli buku. 10an tahun terakhir sudah 500an judul buku yang saya beli. Segala jenis, tapi cuma 2 dari jenis novel, salah satunya tentu saja Ipung versi utuh tersebut di atas.

Apa istimewanya saya mengoleksi Ipung, padahal endingnya juga masih menggantung? Sebab seorang penulis novel yang hebat tidak cuma mengandalkan ending.

Selamat Malam!




15 Sep 2018

Sepenggal Tulisan Buat Eross

Semalaman timeline Facebook saya dipenuhi postingan tentang Sheila on 7. Saya bukan penggemar mereka, jadi maaf saya tak ikut menonton acara tersebut. Tapi saya adalah pengagum Eross. Bagi saya Eross adalah songwriter terbaik kedua di Indonesia, setelah Ribas๐Ÿ˜Š

Eross penulis yang serba bisa. Dia mampu menulis lagu mendidik bagi anak-anak. Lagu yang mengajarkan anak-anak bersikap positif terhadap gelap. Jangan Takut Akan Gelap. Itu jelas bukan lagu pembodohan atau kosong seperti Diobok-obok atau Kebelet Pipis, Mama!

Eross menulis theme movie yang keren untuk film Naga Bonar. Melihat Dengan Hati yang dinyanyikan secara apik oleh Deddy Mizwar. Lagu yang mengajak kita merenung dan mengingat sejarah agar tidak lupa dan mengkhianatinya.

Berhenti sejenak dan lihat ke belakang,
Semua yang telah negeri ini berikan.
Ingatlah,
Ingatlah akan langkah di depan,
Beralas pengorbanan masa lalu.

Dan siapa pula yang tak kenal lagu nasionalis Bendera. Lagu yang sejak kehadirannya seolah menenggelamkan Kebyar-kebyar nya Gombloh. Lagu yang dipopulerkan band Cokelat, tapi Eross lah penciptanya.

Dan selain lagu Bendera tersebut, Eross juga mampu menulis laku ikonik keren lainnya. Siapa tak kenal Sephia, yang sampai saat ini masih dianggap sebagai hymne pelakor sepanjang sejarah๐Ÿ˜‚. Orang tak tahu siapa itu Yolanda atau Juminten. Tapi siapa tak kenal Sephia?

Ribas, penulis favorit saya memang 'jarang menulis lagu'. Dia mengakui itu semua karena Eross.

"Saya berulangkali harus merombak dan membongkar ulang lagu-lagu saya, karena malu bila didengar Eross," katanya.

6 Sep 2018

Rekreasi Hati and Friends

Banyak sekali memang romantikanya punya karya pribadi, termasuk bagi penulis seperti saya ini. Ada teman yang beli. Alhamdulillah, mereka menghargai karya saya. Tak sekedar menghargai, mereka mengapresiasinya juga. Beberapa orang malah ada yang membayar sampai 2 kali lipat dari harga yang saya berikan. 

Tak banyak memang teman (dekat) yang beli Rekreasi Hati. Tak masalah. Tanpa maksud justifikasi, rata-rata mereka bukan golongan pembaca buku, apalagi maniak beli buku. Tapi yang mengharukan ada juga diantaranya yang tetap membeli, walaupun sekedar untuk dikoleksi, bukan untuk dibaca. Rekreasi Hati dijadikan sebagai perekat, bahwa dengan ini kami adalah sahabat. Alhamdulillah!

Ada pula yang minta gratis, alhamdulillah, mereka menganggap saya seperti sahabat, saudara atau kerabat sendiri. Tak ada yang perlu dipersoalkan. Mereka menganggap saya sahabat. Itu harus diapresiasi. Mereka layak diber gratis, tis.

Tapi yang aneh dan menyebalkan itu memang sahabat atau saudara yang minta gratis tanpa mengerti saya ini membuat buku ini pakai pikiran, tenaga dan ongkos pribadi. Minta gratis sekedar untuk dikoleksi. Dibaca saja tidak, apalagi dibantu promosi. Karya yang saya buat dengan segala drama dan romantikanya itu dianggap sebagai prasasti sejarah saja. Bahwa jika kelak Siraul Nan Ebat itu beneran terkenal, saya adalah sahabat dan saudara dekatnya. Saya punya buku-bukunya, dikasih gratis begitu saja. Ehh, itu beneran teman? Beneran saudara?

"Mantap, Kawan! Kirimlah satu, nanti aku bantu promosikan!"

Saya kenal teman ini. Tapi saya belum pernah tahu apakah dia artis, selebritis atau tokoh berpengaruh. PeDe sekali, sampai saya malah ragu memberinya gratis. Benar-benar sangat berpengaruhkah teman ini?

Itulah kenapa saya lebih suka memberi gratis pada 'orang asing'. Teman dunia sosmed yang terhadapnya masing-masing kami tidak saling kenal. Mereka biasanya justru lebih militan dongkrak karya-karya saya.

Yang terakhir dan tak kalah menyebalkannya adalah teman yang memang atas beberapa hal layak diberi gratis. Saat minta dia bilang, "Bang, buatku mana?"

Dan setelah diberi dia bilang, "Makasih yaa, Oom!"

๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ




5 Sep 2018

Naga Bonar : Speaker Adzan

Naga Bonar :Lukman, kudengar kau mau membela perempuan penista agama itu ya?

Lukman       :Ahh, dari mana pula Abang dengar?

Naga Bonar :Iya apa tidak?

Lukman       :Iya, Bang! Cuma mau bersaksi, tidak mau membela.

Naga Bonar :Apa rupanya bedanya?

Lukman       :Hakim telah gegabah memberi vonis, Bang! Menurutku...

Naga Bonar :Menurut hukum, Lukman! Bukan menurut kau, Bah! 

Lukman       :Justru itu, Bang! Hakim mengabaikan UU pasal...

Naga Bonar :Aku tak minta kau bicara UU, Lukman! Aku cuma mau bertanya, kau membela si penista                      agama itu atau tidak?

Lukman      :Bang, kita harus adil pada siapa saja! Nama tengahku sendiri Hakim. Nama itu amanah,                         Bang!

Naga Bonar :Amanah? Lalu kenapa si Dompet Buruk itu memakai nama wanita yang suci: Maryam.                          Padahal dia itu pencopet?

Lukman        :Itu soal dialah! Aku cuma mau bersikap adil.

Naga Bonar   :Adil? Adil yang bagaimana yang kau maksud?

Lukman         :Bang, wanita itu sendiri korban...

Naga Bonar   :Korban? Dia itu pelaku penista agama, Lukmaaaaan! Arrrrrgh...๐Ÿ˜ˆ

Lukman       :Makanya dengar dulu aku selesai ngomong. Abang suka sekali memotong omongan                              orang. Dia itu terganggu volume speaker adzan, Bang! Itu kan artinya dia korban?

Naga Bonar  :Kau ini sepertinya alergi sekali dengar suara adzan, Lukman! Sudah macam Iblis saja                               kau.

Lukman          :Apanya maksud Abang nih?

Naga Bonar     :Iblis itu menderita dengar suara adzan, Lukman! Kau mau membela Iblis? Apa                                         maksudnya kau kirim edaran soal aturan speaker adzan itu?

Lukman           :Kan sudah kubilang aku cuma mau berlaku adil.

Naga Bonar    :Berlaku adil terhadap Iblis? Kau jangan munafik begitulah, Lukman! Sama si Bengak                             Bujang itu saja kau tak bisa berlaku adil.

Lukman           :Maksud abang?

Naga Bonar     :Dia merasa kau tidak adil terhadapnya.

Lukman           :Apanya maksud abang ni? Sumpah, aku benar-benar tidak tau, Bang!

Naga Bonar     :Si Murad yang pedagang kopi itu saja kau kasih pangkat Kolonel, padahal kopinya                                 bukan kopi nomor 1. Si Barjo, bekas guru yang dipecat karena tak pernah masuk tapi                             tetap terima gaji kau kasih Letnan Kolonel. Kau sendiri Mayor. Nah Si Bengak itu cuma                         kau kasih Kopral. Tega sekali kau! Jauh-jauh dia merantau dari Padang Panjang cuma                         dikasih Kopral. Sekarang kau pula sok-sok mau berlaku adil pada perempuan yang macam                           iblis itu.

Lukman             :Alamaaak, soal itu lagi! Bang, si Bujang sudah mati. Sudah dimakan cacing dia.

Naga Bonar       :Dia mati karena marah sama kau, Lukman. Dia tak mau dikasih pangkat Kopral.                                     Karena itu dicurinya seragam Jendralku lalu menyerang Belanda di Parit Buntar.

Lukman            :Bang, abang ini sebenarnya mau ngomong apa? Itu masa lalu, Bang! Ayo move on!                            Masa' abang kalah sama si Maryam. Dia itu sekarang sudah jadi staff ahli Menteri,                                 Bang!

Naga Bonar     :Nah, itulah! Aku sebetulnya bangga terhadap kau, Lukman! Dulu dagang beras kau                             laku. Kau pernah turun pangkat, dari Mayor menjadi Sersan Mayor. Tapi sekarang kau                                 sudah jadi Menteri. Tapi sejak jadi menteri inilah aku jadi betul-betul kecewa. Kenapa                             kau sampai buat aturan speaker adzan itu? Kenapa, hah?

Lukman         :Aturan itu bukan aku yang buat, Bang! Aturan itu sudah ada sejak 40 tahun yang lalu.                             Aku sekedar mengingatkan saja, bahwa soal itu sudah ada aturannya.

Naga Bonar :Lalu kenapa tidak ada aturan speaker untuk konser musik, di bandara, mall, untuk                                 kampanye dan lain-lainnya. Adzan itu mengingatkan kita akan janji Allah SWT. Kau itu                        jadi Menteri karena Presiden waktu kampanye itu koar-koar janjinya pakai speaker,                                 Pahaaaam! Nah, kenapa itu tidak ada aturannya?

Lukman         : (hening)

Naga Bonar :Kalau waktu itu dia kampanye tak pakai speaker, kau ini sekarang takkan jadi menteri,                          Lukman! Tak ada yang mau dengar koar-koarnya itu.

Lukman         :Iya, Bang!

Naga Bonar :Kau selalu bilang mau berlaku adil. Nah itu ustadz favoritku dipersekusi dimana-mana                         kenapa tak kau bela? Padahal dia orang kampung kita juga?

Lukman     :Makanya abang itu kalau nonton tipi jangan cuma Halo Selebriti. Tonton juga program                             berita lainnya. Aku sudah tegaskan, bahwa keselamatan beliau harus terjamin.

Naga Bonar : Lah, buktinya dia merasa diintimidasi sampai batalkan banyak jadwal ceramahnya. Heran                     aku! Katanya Aku Pancasila, toleran, demokrasi, liberal dan sebagainya. Tapi jangankan                         untuk nulis apalagi ngomong, mau dengar pengajian aja payah.

Lukman         :Tak ada yang larang pengajian, Bang!

Naga Bonar   :Diam, kau! Mau kuturunkan lagi pangkat kau? Kuturunkan pangkat kau jadi prajurit baru                         tau rasa kau!

Lukman         : (diam)

Naga Bonar     :Kecewa. Betul-betul aku kecewa sama kau, Lukman! Ada yang bubarkan pengajian,                             yang membubarkan yang kau bela. Ada yang divonis menista agama, ehh malau kau                             bela pula. Padahal yang dinista agamamu. Kau ini pemeluk agama yang aneh, Lukman!

Lukman             :Islam bukan agama yang aneh, Bang!

Naga Bonar     :Lukman, kau itu Menteri Agama! Jadi yang kau bela agama, bukan penistanya. Paham                           kau, Bah! Bikin malu saja kau! Sudah, pergilah kau, sana!

Lukman             :Sebentar dulu, Bang! Abang mau kemana?

Naga Bonar         :Aku mau nonton. Sialan, sudah mau habis pula ini siarannya.

Lukman             :Emang abang mau nonton apa?

Naga Bonar         :Halo Selebriti.

*kemudian hening

***

4 Sep 2018

ILC Mantan Napi Korupsi

Begini, Bang Karni!

Tak boleh ada orang yang dihukum 2 kali atas satu kesalahannya. Itu dholim. Bahkan bila suatu proses eksekusi macet, hal tersebut tak boleh diteruskan. Misal ada seorang terkena hukuman gantung. Begitu dilaksanakan ternyata talinya, si terhukum tak boleh digantung ulang. Atau misalnya tembakan eksekutor meleset, eksekusi juga tak boleh diulangi. 

Bahkan bagi terpidana mati, sebetulnya eksekusi harus langsung dilakukan begitu vonis dijatuhkan. Yang bersangkutan tak boleh dipenjara dulu, apalagi sampai bertahun-tahun sebelum eksekusi dilaksanakan. Jika dihukum mati, maka eksekusi mati itu adalah hukumannya, sedang dipenjara itu adalah pendholiman terhadapnya. 

Dan terkait tema kita malam ini, layakkah mantan napi koruptor nyaleg sikap saya tentu saja boleh selama memenuhi syarat. Bila tak ada aturan yang dilanggar maka yang bersangkutan boleh saja mencalonkan diri. Kita tak bisa melarang seseorang terkait haknya.

Tapi kita sebagai pemilih juga punya hak dan juga tak bisa dilarang terkaitnya. Dia berhak mencalon, dan kita juga berhak tidak memilihnya, sesederhana itu. Bahwa dia pernah korupsi itu soal hukum. Bahwa dia tak punya malu maka mencalon lagi itu soal moral

"Negara menegakkan hukum,
Agama menegakkan moral.
Hukum itu memaksa,
Moral itu menghimbau.
Jangan dibalik, nanti anarkis" ~ Fahri Hamzah.

Bila negara disenergikan dengan baik dengan agama, demokrasi dan politik negara kita akan semakin baik. Sayangnya itulah pula yang tidak terjadi. Malah yang kerap terjadi presiden justru membenturkan agama dengan negara. Malah presiden sendiri ingin agar agama dan negara dipisah. Akhirnya dunia politik Indonesia dikuasai oleh orang-orang yang 'tak beragama'.

Secara moral seorang mantan napi itu mestinya malu untuk mencalon lagi. Tapi karena 'tak bermoral', PeDe aja lagi. Ini buruk.

Bila partainya bermoral, mustahil mereka mau memajukan sang mantan napi. Tapi bila partai tersebut memang diisi oleh orang-orang yang tak bermoral, tentu saja yang akan mereka ajukan adalah yang tak bermoral pula. Sebab selain tak bermoral, yang mereka milikipun juga cuma orang-orang yang tak bermoral. Ini buruk sekali.

Tapi yang paling buruk sekali adalah bila calon pemilihnya juga tak bermoral. Bila terpilih artinya artinya yang terpilih adalah orang tak bermoral, yang dicalonkan oleh orang-orang tak bermoral dan dipilih pula oleh orang-orang yang tak bermoral.

Calonnya tak punya malu. Dicalonkan oleh partai yang tak punya malu. Dipilih pula oleh orang-orang yang tak tau malu. Alangkah memalukannya negeri ini.

Dah, gitu aja Bang Karni!

"...seperti bulu ketiakku. Dicukur numbuh lagi, dibiarkan makin menjadi, kata Siraul Nan Ebat dalam bukunya Rekreasi Hati"

Kita rehat sejenak.



























1 Sep 2018

Selamat Menulis

Saya ingin jadi penulis terkenal? Tentu saja! Tapi menjadi beneran terkenal atau tidak saya tak pernah peduli. Saya menulis bukan untuk popularitas atau mengejar kekayaan. Best seller atau tidak itu cuma soal angka-angka penjualan. Itu tak bicara kualitas, tapi kuantitas. Itulah kenapa saya putuskan menjadi penulis mandiri. Menulis, mencetak, menerbitkan dan bahkan menjual  buku saya sendiri.

Penerbit takkan bisa membuat saya kaya dari buku-buku yang saya tulis. Tapi penerbit dengan tim marketing profesionalnya bisa saja membuat saya jadi terkenal, diundang sebagai pembicara dan nara sumber di berbagai acara dan diskusi. Dan itu semua tentu berujung pada peningkatan taraf hidup saya menjadi lebih mapan. Tapi sekali lagi, bukan itu semua yang saya cari.

Saya tentu saja ingin terkenal, kaya, jadi idola dan pusat perhatian massa. Tapi jika karena menulis saya jadi terkenal, telah lebih banyak penulis yang jauh lebih terkenal. Bila karena menulis saya bisa kaya, ternyata jauh lebih banyak pula penulis yang lebih kaya. Malah ternyata tak perlu jadi penulis bila sekedar ingin jadi idola dan pemantik histeria massa. Cukup install Tik Tok di hape, dan jadilah Bowo Alpenliebel.

Jadi apa istimewanya? Padahal menjadi istimewa itulah kebutuhan saya. Sebab dengan menjadi biasa saja ternyata hidup saya juga hanya menjadi biasa saja. Tak ada yang bisa saya andalkan. Kaya tidak, rupawan juga bukan. Bahkan mendapatkan cinta seorang Rani saja ternyata saya tak bisa. Saya butuh menjadi istimewa, agar punya nilai yang bisa jadi kebanggaan dan bisa pula diandalkan.

Walau cuma di socmed, tapi saya cukup akrab dengan Indra J Piliang. Seorang penulis indie yang mengklaim sebagai paling produktif se-Indonesia. Tapi dia pribadi angkat topi dan mengakui saya sebagai penulis paling indie sedunia. Seluruh proses bukunya saya kerjakan sendirian. Dan itu jelas sangat bisa saya banggakan.

Saya merasa istimewa dan punya nilai diri. Tak mudah memang. Sebagai penulis mandiri saya tentu mesti banyak belajar soal menjadi penulis yang baik. Tapi sekali lagi saya harus jadi yang istimewa. Saya tak ingin sekedar jadi penulis yang baik. Penulis yang baik itu editor. Saya ingin jadi penulis yang hebat. Penulis yang hebat itu pemikir. Levelnya beda jauh.

Saya ingin dobrak stigma bahwa penulis haruslah yang bisa menulis. Tidak! Penulis cuma harus bisa berpikir. Jika pikiranmu besar, tulisan ala cakar ayam pun akan dibaca orang. Lihat saja tulisan dokter!

"Don't judge a book by it's cover," katanya.

Tapi, "bila ada isi, maka tak bercover pun tak mengapa," kata Prie GS pula.

Isi dari sebuah tulisan jelas lebih penting ketimbang jelek cakepnya tulisan itu sendiri. Menjadi cantik atau ganteng jelas kalah penting ketimbang menjadi manusia itu sendiri. Maka jika saya telah jadi manusia, ganteng atau jelek tidak lagi menjadi suatu persoalan.

Itulah kenapa saya ngotot menjadi penulis mandiri. Saya merasa lebih merdeka dalam berkarya. Jika gagasan saya bisa menarik pembaca, maka soal tata aturan kepenulisan tak lagi jadi persoalan penting. Yang akan membaca buku saya adalah pembaca, bukan editor. Dan bila karena membaca ini akhirnya ada yang jadi penulis mandiri pula, itu adalah kebanggaan berikutnya buat saya.

Selamat menulis!

31 Agu 2018

Pasangan Ideal

Semua mungkin sepakat bahwa keindahan hidup dan kebahagiaan akan hadir dari pasangan yang ideal. Tapi jelas keliru bila menganggap bahwa pasangan ideal itu adalah duo ganteng dan cantik. Sangat keliru, sebab perjalanan bersama yang nyaman itu adalah bila kanan berpasangan dengan kiri. Keseimbangan sosial terwujud dari membaurnya yang kaya dengan yang miskin. Kolaborasi mutual si pintar dan si bodoh akan menghasilkan kemajuan bersama.

Bratt Pit dan Jennifer Aniston beruntung sempat mengalami masa pernikahan. Duo ganteng cantik ini sempat dianggap sebagai pasangan paling ideal di era entertainment dan pertelevisian. Akhir kisah mereka? Perceraian dengan bumbu pengkhianatan. Tragis?

Tapi lebih tragis lagi nasib duo Rose dan Jack Dawson. Kisah indah mereka cuma berlangsung dalam hitungan jam. Sebagaimana yang dikisahkan dalam film Titanic, Jack akhirnya mati beku, demi memberi peluang selamat buat Rose. Jack berakhir tenggelam dalam kejamnya dingin Lautan Atlantik. 

Duo ini memang dianggap sebagai salah satu yang paling ideal di jamannya. Mereka banyak dipasangkan dalam beberapa film berikutnya. Dan dalam kehidupan nyata, faktanya mereka juga tak pernah berujung dalam satu bangku pelaminan. Mereka cuma hidup bersama dalam persahabatan, bukan hidup ideal dalam suatu perkawinan.

"Rabu Ganteng, Kamis Cantik," kata BliBliCom.

Itulah kenapa ganteng dan cantik beriringan, tapi tidak berjodoh. Jadi bagaimana, Ran? Jadian yok๐Ÿ˜‚




20 Agu 2018

Menjawab Postingan Anti Sales Kecap

Walau bukan postingan saya, tapi saya akan jawab satu-persatu postingan anti sales kecap yang sedang viral tersebut. Siapa bilang harga BBM, listrik dan sembako tak bisa dibuat murah? 

"Dengan memberi lagi subsidi seperti jaman 2 periodenya SBY?," kata mereka sinis.

Inilah dangkalnya kincia-kincia mereka. Kenapa tidak paham bahwa banyak cara lain. Saya pribadi yakin mampu, setidaknya mengerti apa yang akan saya lakukan untuk mewujudkannya. Tentu saja, bila saya adalah presiden. Maka dukung donk, saya dan Rani๐Ÿ˜Š

Perkuat Pertamina dan PLN. Selama ini mereka peran Pertamina atau PLN tak lebih sebagai calo atau kasir belaka. Sumber minyak mentah yang kita punya dikeruk dan diekspor keluar untuk diolah kemudian dibeli lagi oleh Pertamina untuk dijual lagi pada industri lokal dan rakyat. Dan jahatnya, kita direndahkan dengan menyebut jatah yang dialokasikan untuk rakyat disebut sebagai subsidi. Padahal UUD1945 pasal 33 mengamanatkan secara jelas bahwa bumi, air, dan segala yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.

Perkuat dan buat Pertamina jadi lebih mandiri. Selain punya minyak mentah, kita juga punya kekayaan sumber daya manusianya. Ratusan, malah mungkin ribuan sarjana perindustrian, perminyakan dan pertambangan diwisuda tiap tahun kenapa tidak dioptimalkan? Rekrut mereka dan kita bisa mengolah dan mengelola hasil bumi sendiri. Bila tetap sebagai calo atau kasir seperti selama ini mana bisa Pertamina atau PLN menentukan harga sendiri? Dan ini juga berlaku bagi segenap BUMN dan perusahaan negara lainnya. Telkom, Telkomsel atau TVRI selama ini selalu saja disuntik dana pemerintah untuk sewa satelit dan segala tetek bengek lainnya. Negara juga seolah tak punya kuasa apa-apa dalam menguasai luasnya langit Indonesia. 

Sembako murah juga bukan soal yang tak mungkin. Kementrian Pertanian punya anggaran dan sumberdaya manusia. Ribuan sarjana pertanian, perikanan atau peternakan itu jangan cuma ditugaskan duduk di kantor sebagai staff administrasi saja. Optimalkan kan donk, secara tepat guna! Beri mereka anggaran, suruh cari dan bebaskan lahan. Berdayakan masyarakat untuk mengolahnya. Dan para sarjana tersebut tinggal beri penyuluhan bagaimana cara membibit, menanam yang baik sesuai keilmuwan yang mereka punya. Jangankan impian swasembada, jumlah pengangguran juga akan berkurang drastis. Dan dengan koordinasi yang optimal dalam kabinet, siapa yang berani sangkal sembako tak bisa dibuat murah. 

Koordinasi itulah tugas presiden. Koordinasikan kementrian pertanian dengan yang terkait lainnya. Dengan Kementrian perindustrian, perdagangan dan, perhubungan dan pemerintah daerah. Siapa bilang sembako tak bisa dibuat murah?

Tapi begitulah kalau presidennya hampa gagasan. Gunting pita dan memukul gong itu bukan prestasi. Apalagi sampai diklaim sebagai prestasi sendiri. Itu bukan prestasi presiden, tapi prestasi mandor proyek. Kesana kemari bagi-bagi sepeda dan sertifikat itu bukan kerja presiden. Itu kerjaannya staff RT atau staff RW. Apa mau dikata, begitulah nasib kita punya presiden kosong๐Ÿ˜ข

Dah dulu ya!
Dah mau Subuh, hahaha...!

30 Jul 2018

Tawaran Menulis Naga Bonar

Bagaimana reaksi saya bila diminta menulis Naga Bonar ke-3, misalnya?

Kemungkinan pertama saya akan menolaknya. Di kepala saya lansung terbayang segala macam kesulitannya. Mulai dari ide tema, alur dan plot cerita sampai pada segala kebutuhan observasinya. Soal biaya dan segala macam perijinan yang mungkin saja dibutuhkan, mengingat kebiasaan saya selama ini selalu menggunakan karakter orang lain sebab merasa tidak mampu menciptakan karakter sendiri. Belum lagi ketakutan dibebani kesuksesan yang diraih Naga Bonar sebelumnya. Imajinasi  tersebut menganjurkan saya untuk menolaknya.

Tapi kemungkinan berikutnya, bisa saja saya menerimanya. Toh, saya pernah coba-coba menulisnya dan setidaknya menurut saya sangat berhasil. Banyak yang menyukainya๐Ÿ˜Š. Saya merasa mampu. Saya yakin sangat mengenal Naga Bonar. Untuk keperluan observasi misalnya, saya punya novel Naga Bonar 2. Saya bahkan hapal 'seluruh dialog' di film Naga Bonar pertama. Ditambah bayangan akan berkarir di layar kaca (๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚) dan segala imajinasi keindahan lainnya seperti misalnya saya akan lebih mudah mendapatkan Rani. Itu semua pasti menghasut saya menerima tawaran tersebut.

Keputusan saya ternyata cukup berdasar imajinasi. Saya menolak karena takut tidak mampu, walau belum tentu juga saya akan berhasil. Belum tentu berhasil itu yang meyakinkan bahwa saya tidak akan mampu. Saya akan gagal, dan beneran gagal karena tawaran tersebut saya tolak. Bingung? Bodo amat, haha...!

Sebaliknya, saya terima bila yakin saya sanggup, walau belum punya ide sama sekali. Wah, untuk hal sebesar itu ternyata saya tak membutuhkannya. Pokoknya sign MOU dulu, ide belakangan. Ini menakjubkan. Ada penjual dan pembeli ide yang bertransaksi walau barangnya itu sendiri belum ada. Cuma modal percaya belaka. Ide ternyata bukan hal yang penting bagi yang percaya pada kemampuan.

Entah apa yang terjadi bila deadline mendekat, sementara ide tak kunjung didapat. Tapi faktanya begitu saatnya tiba, ide itupun selalu saja muncul entah dari mana. Hidayah itu selalu ada. Untuk itulah manusia diberiNYA akal. Maka bila ada yang mengaku belum mendapat hidayah, butuh ditinjau lagi itu dia berakal atau tidak๐Ÿ˜Š.

Akankah saya berhasil menyelesaikan proyek tersebut? Belum tentu! Tapi yang pasti kesediaan menerima tawaran tersebut akan memaksa saya untuk menuntaskannya. Kita bisa digagalkan imajinasi sendiri, tapi juga bisa berhasil karena dipaksa tekad pribadi. Persoalannya cuma satu: tawaran menulis Naga Bonar ke-3 tersebut cuma misal.

PS: Dan mestinya Rani mengerti bahwa untuk mendapatkannya saya tak perlu harus menulis Naga Bonar, kan?


26 Jul 2018

Saya Tahu Karena Saya Kenal

Saya selalu mempelajari detil terhadap segala yang saya sukai. Ini membuat segala berjalan sesuai intuisi saya. Final Liga Champions paling terkenal, musim 1998/1999 yang dimenangkan Manchester United misalnya. Saat itu saya memprediksi MU akan menang bila memasang duet striker Tedy Seringham dan Ole Gunnar Solkjaer.

Kick-off, ternyata seperti dugaan banyak pengamat, manager Alex Fergusson memasang duet Dwight Yorke dan Andy Cole. Maka saya langsung prediksi. Bayern Muenchen akan menang bila free-kick diambil Mario Basler. Dan tepat sekali, Super Mario mencetak gol melalui free-kick terkenalnya.

Saya bukan penggemar Bayern Muenchen. Alasannya ideologis, Bayern adalah klub Jerman, sementara Jerman adalah musuh abadi Belanda, negara jagoan saya di sepakbola. Maka apa boleh buat, di finak bersejarah tersebut saya terpaksa dukung MU, rival Arsenal, klub favorit saya, hahaha...

Pertandingan memasuki saat-saat akhir. Saya terus berharap MU segera memainkan Seringham dan Solkjaer, dan skor akan berbalik. Alhamdulillah, pesan saya didengar Sir Alex. 2 pemain tersebut akhirnya sukses membalikkan keadaan. MU akhirnya meraih musim bersejarahnya, treble winner.

Ini bukan cerita bualan kosong. Saya punya teman-teman sebagai saksinya. Oke, itu cuma prediksi satu pertandingan. Bagaimana dengan durasi yang lebih panjang?

Tahun 1994, saya masuk MTsN. Punya teman sesama penggila bola juga. Si Cuix, teman saya ini pemain favoritnya Steve McManaman. Saat itu usia sang pemain 22 tahun. Sedang pemain jagoan saya adalah Clarence Seedorf, saat itu baru berusia 18 tahun. Saat ini mungkin seperti Egy, Witan atau Saddil Ramdhani. 

Hampir tiap ada jadwal bola saya nonton bareng bersama teman baru ini. Dan sejarah akhirnya membuktikan. Karir Steve McManaman, pemain jagoan teman saya ini berakhir di tahun 2005 saat dia berusia 31 tahun, bermain sebagai pemain medioker di Manchester City yang juga klub medioker (saat itu).

Sedangkan pemain favorit saya Clarence Seedorf jelas sulit sekali dicari tandingannya. Meski akhir karirnya juga di klub 'antah berantah', Botafogo (Brasil), dia pensiun sebagai pemain terbaik musim itu. Dia dijuluki sebagai pemain sejuta rekor sebab banyaknya rekor dan gelar juara yang dipersembahkannya bagi klub. Satu-satunya pemain yang paling pernah menjuarai Liga Champions bersama 3 klub berbeda. Gelar juara Championnya bahkan mengalahkan jumlah gelar juara yang diraih sebuah klub seperti Ju entus๐Ÿ˜‚

Belanda adalah negara penghasil superstar bola dunia. Tapi siapakah pemain mereka yang paling banyak bermain di kompetisi Eropa? Bukan Johan Cruyff atau Marco van Basten. Juga bukan Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Robald Koeman atau Dennis Berkamp. Dia adalah Clarence Seedorf, pemain idola saya, hehe.. 

Saudara-saudara saya sekarang tak berani buru-buru membully saya bila Arsenal sedang ketinggalan, karena mereka akhirnya menyadari bahwa prediksi saya 'selalu benar', Arsenal akan membalikkan keadaan, sepanjang peluit panjang belum ditiup wasit. Arsenal jagoannya membalik prediksi, hehehe...

Karena saya mengenal Mario Basler sebagai jagoan free-kick. Seringham dan Solkjaer adalah super sub. Seedorf adalah pemain yang supel dan Arsenal adalah tim yang punya mental pantang menyerah sebelum benar-benar kalah. Saya tahu karena saya benar-benar mempelajari segalanya terhadap apa yang saya sukai.

Itulah, Ran! Kenapa saya yakin berjodoh dengan Rani? Karena saya mempelajari segala sesuatu tentangnya. Dan selama ini intuisi saya jarang keliru, hehehe... ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

21 Jul 2018

Pengantar Dari Alfred Hitchock

Agak malas juga aku sebetulnya memperkenalkan penulis yang mengaku hebat ini. Tapi karena dia bersedia membayar dengan sebagian hasil dari royalti buku ini maka aku bersedia saja menuliskan kata pengantar untuknya, walau sebetulnya aku agak pura-pura sibuk belakangan ini. Sudah seminggu terakhir ini aku tidak nonton Halo Selebriti.

Baiklah! Sebelumnya kuperingatkan saja padamu. Jika kau berharap akan membaca kisah-kisah misteri, buanglah saja buku ini. Baiknya kau baca Trio Detektif saja! Tapi kuingatkan juga, mau kau buang atau tidak itu terserah kau sajalah. Aku cuma memberi pengantar saja, sebab aku dibayar untuk itu.

Penulisnya bernama Siraul Nan Ebat, setidaknya begitulah pengakuannya padaku. Dia mengaku waktu kecil di kampung dulu pernah jadi idola cilik. Melanjutkan SMK di Batam dan pernah dipecat sebagai Ketua Kelas karena memanipulasi buku absen. 

Buku ini ditulisnya karena cinta dan sakit hati. Cinta pada siapa dan sakit hati pada siapanya, kau bacalah saja nanti sendiri ya! Pokoknya buku ini benar-benar lain daripada yang lain. Ide-idenya benar-benar fresh dan orisinil. Sudahlah ya! Aku beneran sibuk nih! Cucianku numpuk.

ALFRED HITCHOCK


17 Jul 2018

SD-ku Dulu dan Kini

Dengan keyword 'Jorong Sarjana' di Google hasil pertama yang ditampilkan adalah sebuah artikel Kompasiana berjudul Ampang Gadang Jorong Sarjana di Lima Puluh Kota. Ampang Gadang yang dimaksud adalah Jorong, kampung kelahiran saya yang tepatnya adalah Jorong Ampang Gadang, Kenagarian VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten 50 Kota. Artikel yang menulis bahwa Jorong Ampang Gadang adalah Jorong Sarjana karena minimal dalam sebuah keluarga terdiri dari 2 orang sarjana dari sekitar 3000 warganya yang tinggal di kampung ataupun merantau di berbagai pelosok nusantara. Walau saya adalah salah seorang produk gagalnya (cuma tamatan STM☺), tapi saya bangga menjadi warganya. Isi artikel tersebut membuat saya bangga sebagai warganya.

Di sini ada 2 Sekolah Dasar, SD Inpres dan SDN 4 Ampang Gadang. Saya sendiri adalah alumni SDN 4 tersebut. Di era 90an SD ini adalah salah satu SD favorit se-Kabupaten 50 Kota. Berbagai prestasi level Kabupaten, Propinsi bahkan tingkat Nasional hampir tak pernah luput dari capaian. Padahal di era CBSA tersebut kompetisi antar sekolah jelas tak sepadat di era internet sekarang ini. Selain kejuaraan olahraga, paling ada lomba Bidang Studi dan lomba cepat tepat P4. Tiap tahun minimal SD kebanggaan saya ini setidaknya selalu menjadi wakil Kabupaten 50 Kota untuk berlaga di tingkat Propinsi Sumatera Barat. Siraul Nan Ebat, tentu saja menjadi salah satu bagian dari sejarah emas tersebut, hehehe☺.

Berlebihan? Rasanya tidak. Bahkan saya yakin generasi saya adalah salah satu produk terbaiknya. Saya masih ingat persis, NEM terendah kami waktu itu adalah 36.72. Berarti nilai terendah ujian terakhir kami adalah 7.3 (kurang lebih). Nilai terendah ya, bukan nilai rata-rata. Saya yakin sulit menemukan tandingan nilai generasi kami.

Di masa jaya tersebut, rata-rata tiap kelas mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 diisi oleh 24 orang siswa. Tentu tidak merata persis. Tapi dengan jumlah tersebut, rasio jumlah murid dan gurunya sangat ideal. Tidak terlalu banyak, namun juga tidak terlalu sedikit. Jumlah tersebut membuat guru bisa mengeluarkan potensi yang ada secara optimal. Dan outputnya adalah murid-murid yang sarat prestasi, seperti yang telah saya tuliskan di atas.

Sedikit jomplang bila dibandingkan dengan SD Inpres-nya. Satu kelas cuma diisi oleh 5 sampai 8 orang saja. Tak jarang malah ada yang cuma 2 atau 3 orang siswa. Dan maaf saja bagi teman-teman alumninya, dengan aura kompetisi yang konstan, bagi kami anak SDN, mereka cuma siswa-siswa pinggiran. Mereka yang gagal diterima di SD kami, maka terpaksa terima nasib sekolah di sana. Sekali lagi maaf ya☺.

Tapi itu dulu. Dulu sekali teman-teman. Sekarang kondisinya sangat mengenaskan. Jorong Ampang Gadang yang dikenal sebagai penghasil sarjana itu sekarang nyaris tak punya SD lagi. Saya telah bertanya pada banyak orang. Dengan margin error mencapai 200%, informasi yang saya terima murid SD kebanggaan saya tersebut sekarang cuma 5 orang. Bahkan informasi terakhir tadi, yang 2 orangpun karena yang tahun kemaren tidak lulus? Silahkan yang punya data mohon divalidasi. Ini mengerikan. Ada apa ini?

Parahnya lagi, SD Inpres juga tak lebih baik. Sebelum kelulusan lalu saya dapat informasi muridnya keseluruhan cuma 15 orang. 3 kelas kosong. Kemana bocah-bocah jorong ini sekarang bersekolah? Masihkah Ampang Gadang jadi penghasil sarjana di masa depan? Wallahu 'alam๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...