27 Jan 2018

Nilai Diri

Walau terkesan asal-asalan, buku Rekreasi Hati itu punya konsep yang jelas dan telah saya persiapkan dengan matang. Nama Siraul Nan Ebat telah saya gunakan sejak tahun 2007 di seluruh akun media sosial. Mulai dari jaman Friendster sampai era Twitter sekarang ini. Bahkan jika teman-teman ada yang punya akun di Goodreads, silahkan saja cari nama Siraul Nan Ebat. Walau jarang update, tapi setidaknya bila sedang mood sesekali saya juga pernah review buku di sana. Dalam kehidupan nyata, nama itu telah saya gunakan sejak tahun 2005 saat masih suka nulis di buku, sebab saya baru memasuki era digital blog tahun 2007.

Begitu bertekad serius menulis buku sekitar tahun 2010, Siraul Nan Ebat dan Rekreasi Hati saya kampanyekan di mana-mana. Teman kost atau kawan-kawan di tempat kerja sangat mengenal 2 hal tersebut. Meja dan bangku kerja, dinding, asesoris dan barang, baik milik pribadi ataupun milik perusahaan yang terhadapnya saya diberi hak pakai seperti pena, kotak peralatan atau buku penuh tempelan masking tape bertuliskan Siraul Nan Ebat dan Rekreasi Hati. Saya pernah diomeli bagian request peralatan, sebab pena atau marker  habis tinta, atau buku yang saya kembalikan untuk ditukar dengan yang baru selalu saja ada coretan-coretan tersebut. Itu jauh sebelum buku benar-benar saya terbitkan. Mereka telah mengenal Siraul Nan Ebat dan Rekreasi Hati. Alam bawah sadar mereka akan segera tahu bahwa kapan dan dimanapun kelak jika mendengar kata 'Siraul Nan Ebat' atau 'Rekreasi Hati', mereka akan ingat bahwa yang sedang dibicarakan tersebut adalah saya. Siapa sekarang artis, seniman atau penulis yang berani mempromosikan dirinya sendiri saat belum punya karya? Cuma saya sendiri, penulis calon buku terkenal Rekreasi Hati, hahaha...!

Kenapa Rekreasi Hati saya terbitkan mandiri? Jika saya sodorkan ke penerbit, Rekreasi Hati akan jadi Maha Karya dunia literasi Indonesia (time will tells you), dan saya akan terkenal. Walau dari penerbit saya mungkin 'takkan dapat apa-apa', tapi saya akan diundang dan jadi pembicara dimana-mana. Ekonomi saya akan menanjak dan saya akan terkenal. Berkencan dengan siapapun takkan pernah jadi persoalan yang serius. Tapi bukan itu semua yang saya cari.

Bila saya kaya karena menulis, pasti lebih banyak penulis yang lebih kaya dari saya. Apa hebatnya?

Bila saya terkenal karena menulis, banyak pula penulis lain yang lebih terkenal dibanding saya. Apa hebatnya?

Bila karena itu jadi mudah berkencan dengan siapa saja yang saya mau, tanpa jadi penulis pun orang lain bisa melakukannya. Apa hebatnya?

Saya tak butuh jadi orang kaya untuk tetap menikmati hidup. Bila mau, buku Rekreasi Hati layak dihargai jauh lebih mahal. Beberapa pembeli ada kok, yang membayar sampai 2x lipat dari harga yang saya tetapkan. Terimakasih saya buat mereka semua. Tapi saya tetap teguh pada prinsip sendiri, BUKU BAGUS HARUS MURAH.

Raditya Dika terkenal dengan banyak karya-karyanya. Tapi bukan satu dua orang yang mengkomparasikan saya dan Radit. Bahkan tak cuma dengan Radit atau Alit, ada yang membanding-bandingkan saya dengan budayawan terkenal seperti Remy Silado atau Prie GS.

Akses menggaet wanita lebih mudah? Saya tak ingin wanita yang paham bahwa saya artis. Saya ingin yang mengerti bahwa dia akan berkencan dengan Siraul Nan Ebat. Dan saya ingin wanita keren itu adalah Rani :) Tak mudah? Tentu saja! Tak ada yang mudah bagi orang yang punya prinsip. Jangankan Rani, orang lain, keluarga sekalipun yang selalu bersedia membantu dalam hal apapun banyak yang salah paham bahwa saya selalu memegang teguh nilai yang saya yakini.

Persoalan nilai inilah yang saya perjuangkan dalam hidup. Tak ada yang bisa saya banggakan bila karena menulis saya jadi kaya, terkenal dan digila-gilai wanita. Banyak penulis lain seperti itu. Tapi apakah ada penulis yang terkenal karena menerbitkan bukunya sendiri? Indra J Piliang bolehlah mengklaim sebagai penulis indie paling produktif di Indonesia, dan saya mengakuinya. Tapi dia sendiri mengaku hormat, kala saya mengklaim sebagai penulis paling indie sedunia. Mulai dari cetak, jilid sampai jual juga sendiri. Itu kebanggaan yang takkan bisa ditukar dengan apapun.

Open PO buku terbaru Radit bisa saja mencapai ratusan pemesan di hari pertama. Buku debut saya yang ancur-ancuran saja dipesan 120 orang (fix jadinya 100), di hari pertama. Pemesan buku Radit adalah fansnya. Pemesan Rekreasi Hati? Dari 120 orang itu tak seorangpun yang saya tahu siapa pemesan sesungguhnya, karena yang memasarkannya juga bukan saya. Dari mana mereka mengenal saya? Buku debut lho ini! Kerenan mana donk, saya atau Radit?

Jika Rekreasi Hati diterbitkan oleh penerbit maka saya sama saja dengan mereka. Mereka terkenal karena penerbit dan punya tim marketing yang profesional. Saya berusaha dikenal karena usaha sendiri. Menjadi beneran terkenal atau tidak bagi saya bukan satu persoalan. Saya tak butuh popularitas. Saya tak butuh angka-angka penjualan. Itu hanya menampilkan kuantitas, belum tentu kualitas. Sepopuler dan seterkenal apapun, mereka tak punya kebanggaan seperti yang saya miliki, bangga pada nilai diri sendiri.

Kita rehat sejenak, haha...!

Related Posts

Nilai Diri
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.