Halaman

30 Jul 2018

Tawaran Menulis Naga Bonar

Bagaimana reaksi saya bila diminta menulis Naga Bonar ke-3, misalnya?

Kemungkinan pertama saya akan menolaknya. Di kepala saya lansung terbayang segala macam kesulitannya. Mulai dari ide tema, alur dan plot cerita sampai pada segala kebutuhan observasinya. Soal biaya dan segala macam perijinan yang mungkin saja dibutuhkan, mengingat kebiasaan saya selama ini selalu menggunakan karakter orang lain sebab merasa tidak mampu menciptakan karakter sendiri. Belum lagi ketakutan dibebani kesuksesan yang diraih Naga Bonar sebelumnya. Imajinasi  tersebut menganjurkan saya untuk menolaknya.

Tapi kemungkinan berikutnya, bisa saja saya menerimanya. Toh, saya pernah coba-coba menulisnya dan setidaknya menurut saya sangat berhasil. Banyak yang menyukainya😊. Saya merasa mampu. Saya yakin sangat mengenal Naga Bonar. Untuk keperluan observasi misalnya, saya punya novel Naga Bonar 2. Saya bahkan hapal 'seluruh dialog' di film Naga Bonar pertama. Ditambah bayangan akan berkarir di layar kaca (😂😂😂) dan segala imajinasi keindahan lainnya seperti misalnya saya akan lebih mudah mendapatkan Rani. Itu semua pasti menghasut saya menerima tawaran tersebut.

Keputusan saya ternyata cukup berdasar imajinasi. Saya menolak karena takut tidak mampu, walau belum tentu juga saya akan berhasil. Belum tentu berhasil itu yang meyakinkan bahwa saya tidak akan mampu. Saya akan gagal, dan beneran gagal karena tawaran tersebut saya tolak. Bingung? Bodo amat, haha...!

Sebaliknya, saya terima bila yakin saya sanggup, walau belum punya ide sama sekali. Wah, untuk hal sebesar itu ternyata saya tak membutuhkannya. Pokoknya sign MOU dulu, ide belakangan. Ini menakjubkan. Ada penjual dan pembeli ide yang bertransaksi walau barangnya itu sendiri belum ada. Cuma modal percaya belaka. Ide ternyata bukan hal yang penting bagi yang percaya pada kemampuan.

Entah apa yang terjadi bila deadline mendekat, sementara ide tak kunjung didapat. Tapi faktanya begitu saatnya tiba, ide itupun selalu saja muncul entah dari mana. Hidayah itu selalu ada. Untuk itulah manusia diberiNYA akal. Maka bila ada yang mengaku belum mendapat hidayah, butuh ditinjau lagi itu dia berakal atau tidak😊.

Akankah saya berhasil menyelesaikan proyek tersebut? Belum tentu! Tapi yang pasti kesediaan menerima tawaran tersebut akan memaksa saya untuk menuntaskannya. Kita bisa digagalkan imajinasi sendiri, tapi juga bisa berhasil karena dipaksa tekad pribadi. Persoalannya cuma satu: tawaran menulis Naga Bonar ke-3 tersebut cuma misal.

PS: Dan mestinya Rani mengerti bahwa untuk mendapatkannya saya tak perlu harus menulis Naga Bonar, kan?


26 Jul 2018

Saya Tahu Karena Saya Kenal

Saya selalu mempelajari detil terhadap segala yang saya sukai. Ini membuat segala berjalan sesuai intuisi saya. Final Liga Champions paling terkenal, musim 1998/1999 yang dimenangkan Manchester United misalnya. Saat itu saya memprediksi MU akan menang bila memasang duet striker Tedy Seringham dan Ole Gunnar Solkjaer.

Kick-off, ternyata seperti dugaan banyak pengamat, manager Alex Fergusson memasang duet Dwight Yorke dan Andy Cole. Maka saya langsung prediksi. Bayern Muenchen akan menang bila free-kick diambil Mario Basler. Dan tepat sekali, Super Mario mencetak gol melalui free-kick terkenalnya.

Saya bukan penggemar Bayern Muenchen. Alasannya ideologis, Bayern adalah klub Jerman, sementara Jerman adalah musuh abadi Belanda, negara jagoan saya di sepakbola. Maka apa boleh buat, di finak bersejarah tersebut saya terpaksa dukung MU, rival Arsenal, klub favorit saya, hahaha...

Pertandingan memasuki saat-saat akhir. Saya terus berharap MU segera memainkan Seringham dan Solkjaer, dan skor akan berbalik. Alhamdulillah, pesan saya didengar Sir Alex. 2 pemain tersebut akhirnya sukses membalikkan keadaan. MU akhirnya meraih musim bersejarahnya, treble winner.

Ini bukan cerita bualan kosong. Saya punya teman-teman sebagai saksinya. Oke, itu cuma prediksi satu pertandingan. Bagaimana dengan durasi yang lebih panjang?

Tahun 1994, saya masuk MTsN. Punya teman sesama penggila bola juga. Si Cuix, teman saya ini pemain favoritnya Steve McManaman. Saat itu usia sang pemain 22 tahun. Sedang pemain jagoan saya adalah Clarence Seedorf, saat itu baru berusia 18 tahun. Saat ini mungkin seperti Egy, Witan atau Saddil Ramdhani. 

Hampir tiap ada jadwal bola saya nonton bareng bersama teman baru ini. Dan sejarah akhirnya membuktikan. Karir Steve McManaman, pemain jagoan teman saya ini berakhir di tahun 2005 saat dia berusia 31 tahun, bermain sebagai pemain medioker di Manchester City yang juga klub medioker (saat itu).

Sedangkan pemain favorit saya Clarence Seedorf jelas sulit sekali dicari tandingannya. Meski akhir karirnya juga di klub 'antah berantah', Botafogo (Brasil), dia pensiun sebagai pemain terbaik musim itu. Dia dijuluki sebagai pemain sejuta rekor sebab banyaknya rekor dan gelar juara yang dipersembahkannya bagi klub. Satu-satunya pemain yang paling pernah menjuarai Liga Champions bersama 3 klub berbeda. Gelar juara Championnya bahkan mengalahkan jumlah gelar juara yang diraih sebuah klub seperti Ju entus😂

Belanda adalah negara penghasil superstar bola dunia. Tapi siapakah pemain mereka yang paling banyak bermain di kompetisi Eropa? Bukan Johan Cruyff atau Marco van Basten. Juga bukan Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Robald Koeman atau Dennis Berkamp. Dia adalah Clarence Seedorf, pemain idola saya, hehe.. 

Saudara-saudara saya sekarang tak berani buru-buru membully saya bila Arsenal sedang ketinggalan, karena mereka akhirnya menyadari bahwa prediksi saya 'selalu benar', Arsenal akan membalikkan keadaan, sepanjang peluit panjang belum ditiup wasit. Arsenal jagoannya membalik prediksi, hehehe...

Karena saya mengenal Mario Basler sebagai jagoan free-kick. Seringham dan Solkjaer adalah super sub. Seedorf adalah pemain yang supel dan Arsenal adalah tim yang punya mental pantang menyerah sebelum benar-benar kalah. Saya tahu karena saya benar-benar mempelajari segalanya terhadap apa yang saya sukai.

Itulah, Ran! Kenapa saya yakin berjodoh dengan Rani? Karena saya mempelajari segala sesuatu tentangnya. Dan selama ini intuisi saya jarang keliru, hehehe... 😙😙😙

21 Jul 2018

Pengantar Dari Alfred Hitchock

Agak malas juga aku sebetulnya memperkenalkan penulis yang mengaku hebat ini. Tapi karena dia bersedia membayar dengan sebagian hasil dari royalti buku ini maka aku bersedia saja menuliskan kata pengantar untuknya, walau sebetulnya aku agak pura-pura sibuk belakangan ini. Sudah seminggu terakhir ini aku tidak nonton Halo Selebriti.

Baiklah! Sebelumnya kuperingatkan saja padamu. Jika kau berharap akan membaca kisah-kisah misteri, buanglah saja buku ini. Baiknya kau baca Trio Detektif saja! Tapi kuingatkan juga, mau kau buang atau tidak itu terserah kau sajalah. Aku cuma memberi pengantar saja, sebab aku dibayar untuk itu.

Penulisnya bernama Siraul Nan Ebat, setidaknya begitulah pengakuannya padaku. Dia mengaku waktu kecil di kampung dulu pernah jadi idola cilik. Melanjutkan SMK di Batam dan pernah dipecat sebagai Ketua Kelas karena memanipulasi buku absen. 

Buku ini ditulisnya karena cinta dan sakit hati. Cinta pada siapa dan sakit hati pada siapanya, kau bacalah saja nanti sendiri ya! Pokoknya buku ini benar-benar lain daripada yang lain. Ide-idenya benar-benar fresh dan orisinil. Sudahlah ya! Aku beneran sibuk nih! Cucianku numpuk.

ALFRED HITCHOCK


17 Jul 2018

SD-ku Dulu dan Kini

Dengan keyword 'Jorong Sarjana' di Google hasil pertama yang ditampilkan adalah sebuah artikel Kompasiana berjudul Ampang Gadang Jorong Sarjana di Lima Puluh Kota. Ampang Gadang yang dimaksud adalah Jorong, kampung kelahiran saya yang tepatnya adalah Jorong Ampang Gadang, Kenagarian VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten 50 Kota. Artikel yang menulis bahwa Jorong Ampang Gadang adalah Jorong Sarjana karena minimal dalam sebuah keluarga terdiri dari 2 orang sarjana dari sekitar 3000 warganya yang tinggal di kampung ataupun merantau di berbagai pelosok nusantara. Walau saya adalah salah seorang produk gagalnya (cuma tamatan STM☺), tapi saya bangga menjadi warganya. Isi artikel tersebut membuat saya bangga sebagai warganya.

Di sini ada 2 Sekolah Dasar, SD Inpres dan SDN 4 Ampang Gadang. Saya sendiri adalah alumni SDN 4 tersebut. Di era 90an SD ini adalah salah satu SD favorit se-Kabupaten 50 Kota. Berbagai prestasi level Kabupaten, Propinsi bahkan tingkat Nasional hampir tak pernah luput dari capaian. Padahal di era CBSA tersebut kompetisi antar sekolah jelas tak sepadat di era internet sekarang ini. Selain kejuaraan olahraga, paling ada lomba Bidang Studi dan lomba cepat tepat P4. Tiap tahun minimal SD kebanggaan saya ini setidaknya selalu menjadi wakil Kabupaten 50 Kota untuk berlaga di tingkat Propinsi Sumatera Barat. Siraul Nan Ebat, tentu saja menjadi salah satu bagian dari sejarah emas tersebut, hehehe☺.

Berlebihan? Rasanya tidak. Bahkan saya yakin generasi saya adalah salah satu produk terbaiknya. Saya masih ingat persis, NEM terendah kami waktu itu adalah 36.72. Berarti nilai terendah ujian terakhir kami adalah 7.3 (kurang lebih). Nilai terendah ya, bukan nilai rata-rata. Saya yakin sulit menemukan tandingan nilai generasi kami.

Di masa jaya tersebut, rata-rata tiap kelas mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 diisi oleh 24 orang siswa. Tentu tidak merata persis. Tapi dengan jumlah tersebut, rasio jumlah murid dan gurunya sangat ideal. Tidak terlalu banyak, namun juga tidak terlalu sedikit. Jumlah tersebut membuat guru bisa mengeluarkan potensi yang ada secara optimal. Dan outputnya adalah murid-murid yang sarat prestasi, seperti yang telah saya tuliskan di atas.

Sedikit jomplang bila dibandingkan dengan SD Inpres-nya. Satu kelas cuma diisi oleh 5 sampai 8 orang saja. Tak jarang malah ada yang cuma 2 atau 3 orang siswa. Dan maaf saja bagi teman-teman alumninya, dengan aura kompetisi yang konstan, bagi kami anak SDN, mereka cuma siswa-siswa pinggiran. Mereka yang gagal diterima di SD kami, maka terpaksa terima nasib sekolah di sana. Sekali lagi maaf ya☺.

Tapi itu dulu. Dulu sekali teman-teman. Sekarang kondisinya sangat mengenaskan. Jorong Ampang Gadang yang dikenal sebagai penghasil sarjana itu sekarang nyaris tak punya SD lagi. Saya telah bertanya pada banyak orang. Dengan margin error mencapai 200%, informasi yang saya terima murid SD kebanggaan saya tersebut sekarang cuma 5 orang. Bahkan informasi terakhir tadi, yang 2 orangpun karena yang tahun kemaren tidak lulus? Silahkan yang punya data mohon divalidasi. Ini mengerikan. Ada apa ini?

Parahnya lagi, SD Inpres juga tak lebih baik. Sebelum kelulusan lalu saya dapat informasi muridnya keseluruhan cuma 15 orang. 3 kelas kosong. Kemana bocah-bocah jorong ini sekarang bersekolah? Masihkah Ampang Gadang jadi penghasil sarjana di masa depan? Wallahu 'alam😢😢😢

Selamat Menempuh Hidup Baru, Bung Mantap!

Hari ini saya terkenang 2 minggu yang lalu, acara Ngopi Bareng Fahri Hamzah Jilid 21 di Padang. Salah satu dari sekian sesi yang unik karena dibuka dengan mengheningkan cipta dengan instrumen lagu gugur bunga (?) Baru setelah itu dilanjut dengan lagu Indonesia Raya.

Acara ini memang sudah lama saya tunggu-tunggu. Tak seluruhnya saya sepakat dengan opini-opini beliau, tapi saya memang ingin langsung merasakan semangat kebangsaannya. Aura dan semangat positif, sebagaimana halnya yang saya rasakan kala menonton konser seorang legenda seperti Iwan Fals, walau dia bukanlah penyanyi favorit saya. Saya ingin ketularan semangat positif dari seorang Fahri Hamzah, itu saja.

Salah benar opininya abaikan saja. Yang pasti saya sama sekali tak meragukan integritasnya. Anti mainstream. Politisi yang sepertinya sama sekali tak butuh imej dan citra positif. Sendirian dia menyuarakan pembubaran KPK. Itu suara yang pasti memprovokasi semua yang anti korup untuk mem-bully-nya. Andai cacat secuil saja pasti sudah lama orang ini selesai. Siapa yang akan membelanya? Bahkan partainya saja memusuhinya?

Seorang yang begitu teguh dalam prinsip dan cita-citanya. Bukan politisi yang agresif bermanuver demi kekuasaan.

"Bagaimana bisa berjuang untuk orang lain, bila pada cita-cita dan idealisme sendiri tidak setia", begitu kurang lebih tanggapannya saat diusulkan netijen bergabung dengan PBB-nya Yusril Ihza Mahendra.

Fahri Hamzah, satu-satunya (menurut saya) politisi yang mengerti apa itu lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Paham batas tugas kepartaian dan jabatan publik. Tipe pemimpin yang berani mengambil keputusan. Sebagai pribadi dia menolak PT 20%. Tapi sebagai Ketua DPR, beliau berani ketuk palu menerima dan memutuskannya, walau dengan resiko bully bahkan dari para pendukungnya sendiri. Bayangkan saat itu jika turut egonya pribadi. Sidang akan deadlock, dan Presiden sangat mungkin akan mengeluarkan PERPPU Pemilu yang mungkin saja jauh dari prinsip-prinsip demokrasi. Cuma pemimpin dan negarawan sejati yang berani ambil sikap seperti ini.

Acara ngopi bareng ini menunjukkan peran nyatanya sebagai public educator.

"Berapa APBN Kota Padang"?, suatu pertanyaan pembuka yang mengagetkan peserta ngopi.

Fahri mengajarkan kita melek politik dan Indonesia. Maka kemudian di setiap orasinya kita akan berdebat soal penegakan hukum, bertengkar pikir soal pemberantasan korupsi dan sebagainya. Bandingkan, perdebatan seperti apa kiranya yang akan dilahirkan dari narasi dan pertanyaan 'sebutkan nama-nama ikan' ala Jokowi?

Ngopi Bareng Fahri adalah bukti betapa tulusnya seorang Fahri berbuat demi bangsa. Tulus demi bangsa, demi apalagi? Hari ini adalah batas akhir pendaftaran Bacaleg untuk Pileg 2019, dan tak satupun partai yang mendaftarkan Fahri sebagai calonnya. Artinya, periode yang akan datang Indonesia dipaksa kehilangan seorang politisi terbaiknya😢

Selamat Menempuh Hidup Baru, Bung Mantap✊
Mengheningkan cipta, mulai😢









4 Jul 2018

Diplomasi Warna

Melihat traffick light berwarna merah, para pengguna kendaraan bermotor akan berbaris rapi, berhenti. Bila kuning yang menyala semua bersiaga. Dan semuanya kompak pula bergerak bila lampu hijau yang menyala. Semua paham perintah dan aturannya, walau hanya disampakan melalui lampu yang berwarna. Ada anak-anak yang tak berani pulang hanya karena warna merah yang mendominasi raportnya.

Warna adalah penyampai pesan yang efektif. Itulah kenapa pengenalan terhadap warna bagi kanak-kanak lebih didahulukan ketimbang pengenalannya terhadap huruf dan angka. Walau belum bisa baca tulis dan berhitung, tapi dalam bermain game anak-anak tahu bahwa bila warnanya merah berarti situasi sedang gawat. Amunisi mungkin telah menipis dan stok nyawa mungkin telah habis.

Pada tingkatan berikutnya warna bahkan menjadi identitas suatu kelompok, kaum dan bangsa.

"Demi, Merah Putih," kata orator-orator bangsa Indonesia.

Maka ada yang mengaku nasionalis sejati, hanya karena selalu bèrkata cinta Merah Putih. Ada yang kemudian diduga LGBT karena selalu menyukai warna-warninya pelangi. Dan tentu saja ada yang dianggap norak karena gagal mempadu-padankan warna dalam tampilan kesehariannya.

Maka setiap manusia takkan pernah lepas dari warna. Semua orang punya warna favorit. Walau tak jelas asal muasalnya, seperti semua orang sepakat bahwa pink adalah warna cinta. Kombinasi warna merah yang berani (berkorban) dengan warna putih yang suci bersih itulah saya duga penyebabnya. Dan warna itulah warna favorit kaum hawa, mulai dari remaja sampai pada emak-emak separuh tua.

Itulah saya kira kenapa saat ini pemerintah mengganti warna hijau tabung gas 3 kg menjadi warna pink. Diplomasi melalui istilah seperti mengganti kata naik harga menjadi penyesuaian harga, penertuban harga, reformulasi tarif dan lain semacamnya mungkin sudah tidak mempan. Maka layaknya dicoba alternatif lainnya, diplomasi warna. Tabung gas warna pink diharap lebih diterima kaum emak-emak sebagaimana cintanya mereka pada warna pink ☺

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...