26 Jul 2018

Saya Tahu Karena Saya Kenal

Saya selalu mempelajari detil terhadap segala yang saya sukai. Ini membuat segala berjalan sesuai intuisi saya. Final Liga Champions paling terkenal, musim 1998/1999 yang dimenangkan Manchester United misalnya. Saat itu saya memprediksi MU akan menang bila memasang duet striker Tedy Seringham dan Ole Gunnar Solkjaer.

Kick-off, ternyata seperti dugaan banyak pengamat, manager Alex Fergusson memasang duet Dwight Yorke dan Andy Cole. Maka saya langsung prediksi. Bayern Muenchen akan menang bila free-kick diambil Mario Basler. Dan tepat sekali, Super Mario mencetak gol melalui free-kick terkenalnya.

Saya bukan penggemar Bayern Muenchen. Alasannya ideologis, Bayern adalah klub Jerman, sementara Jerman adalah musuh abadi Belanda, negara jagoan saya di sepakbola. Maka apa boleh buat, di finak bersejarah tersebut saya terpaksa dukung MU, rival Arsenal, klub favorit saya, hahaha...

Pertandingan memasuki saat-saat akhir. Saya terus berharap MU segera memainkan Seringham dan Solkjaer, dan skor akan berbalik. Alhamdulillah, pesan saya didengar Sir Alex. 2 pemain tersebut akhirnya sukses membalikkan keadaan. MU akhirnya meraih musim bersejarahnya, treble winner.

Ini bukan cerita bualan kosong. Saya punya teman-teman sebagai saksinya. Oke, itu cuma prediksi satu pertandingan. Bagaimana dengan durasi yang lebih panjang?

Tahun 1994, saya masuk MTsN. Punya teman sesama penggila bola juga. Si Cuix, teman saya ini pemain favoritnya Steve McManaman. Saat itu usia sang pemain 22 tahun. Sedang pemain jagoan saya adalah Clarence Seedorf, saat itu baru berusia 18 tahun. Saat ini mungkin seperti Egy, Witan atau Saddil Ramdhani. 

Hampir tiap ada jadwal bola saya nonton bareng bersama teman baru ini. Dan sejarah akhirnya membuktikan. Karir Steve McManaman, pemain jagoan teman saya ini berakhir di tahun 2005 saat dia berusia 31 tahun, bermain sebagai pemain medioker di Manchester City yang juga klub medioker (saat itu).

Sedangkan pemain favorit saya Clarence Seedorf jelas sulit sekali dicari tandingannya. Meski akhir karirnya juga di klub 'antah berantah', Botafogo (Brasil), dia pensiun sebagai pemain terbaik musim itu. Dia dijuluki sebagai pemain sejuta rekor sebab banyaknya rekor dan gelar juara yang dipersembahkannya bagi klub. Satu-satunya pemain yang paling pernah menjuarai Liga Champions bersama 3 klub berbeda. Gelar juara Championnya bahkan mengalahkan jumlah gelar juara yang diraih sebuah klub seperti Ju entusπŸ˜‚

Belanda adalah negara penghasil superstar bola dunia. Tapi siapakah pemain mereka yang paling banyak bermain di kompetisi Eropa? Bukan Johan Cruyff atau Marco van Basten. Juga bukan Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Robald Koeman atau Dennis Berkamp. Dia adalah Clarence Seedorf, pemain idola saya, hehe.. 

Saudara-saudara saya sekarang tak berani buru-buru membully saya bila Arsenal sedang ketinggalan, karena mereka akhirnya menyadari bahwa prediksi saya 'selalu benar', Arsenal akan membalikkan keadaan, sepanjang peluit panjang belum ditiup wasit. Arsenal jagoannya membalik prediksi, hehehe...

Karena saya mengenal Mario Basler sebagai jagoan free-kick. Seringham dan Solkjaer adalah super sub. Seedorf adalah pemain yang supel dan Arsenal adalah tim yang punya mental pantang menyerah sebelum benar-benar kalah. Saya tahu karena saya benar-benar mempelajari segalanya terhadap apa yang saya sukai.

Itulah, Ran! Kenapa saya yakin berjodoh dengan Rani? Karena saya mempelajari segala sesuatu tentangnya. Dan selama ini intuisi saya jarang keliru, hehehe... πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™

Related Posts

Saya Tahu Karena Saya Kenal
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.