22 Okt 2018

Beda

Seorang teman pernah bertanya dari mana saya bisa mendapatkan ide-ide, analogi dan quote-quote nyeleneh ala Rekreasi Hati. Entahlah! Tapi pribadi saya sendiri pun memang sukar ditebak, termasuk oleh keluarga dan kerabat sendiri. Saya terbiasa berpikir beda, sebab selera saya juga lain dari yang lainnya.

Sebagai penggemar musik rock, koleksi lagu saya bukan hits-hitsnya Guns N Roses, Metallica atau Bon Jovi misalnya. Saya die hardnya Def Leppard. Untuk musik yang lebih soft, saya tak mengoleksi Michael Learn To Rock atau Roxette. Tapi saya punya album-album solo Per Gessle. Ada yang kenal siapa orang ini? Saya yakin 'tidak'.

Ketika dalam negeri sedang booming Element, Caffein, Jikustik atau Sheila On 7, saya mengkoleksi lagu-lagunya RC Formation. Dalam folder musik pop lokal saya tak bakal dijumpai lagu-lagunya Ungu, Ada Band atau Peterpan. Adanya album solo Icha Jikustik, Velocity dan Ribas, lengkap dengan lagu-lagunya dalam versi demo yang masih kasar.

Saya belajar membumi dari Izzy Stradlin dan Vivian Campbell yang tidak saya dapat dari Slash atau Phil Collen. Pelajaran idealisme bukan saya dapat dari Eross, melainkan dari Ribas. Belajar rendah hati pada Billy Costacurta, bukan dari Paolo Maldini. Belajar prinsip hidup dari Prie GS, tidak dari Tere Liye.

Pun demikian dengan tokoh, pahlawan atau atlet idola saya juga berbeda dengan yang lain. Walau tentu saya mengagumi sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Ali bin Abi Thalib. Tapi spirit berjuang demi agama lebih saya dapat dari Khalid bin Walid. Tentu saja saya menghormati Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro atau Sultan Hasanuddin. Namun semangat seorang Sentot Alibasya lah yang sangat menginspirasi saya. Haryanto Arbi, Ardy Wiranata atau Taufik Hidayat adalah pahlawan olahraga yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Tapi dari Hermawan Susanto lah saya belajar tulus berbuat demi negara.  

Belajar dari guru yang berbeda, memandang dari sudut yang tidak sama tentu menghasilkan wawasan dan pola pikir yang lain pula. Dari situlah saya bisa menulis dengan tema-tema yang anti mainstream dan orisinil ala Rekreasi Hati. 

Maka jadilah Napoleon Jomblo. Bagaimana saya Menggugat Siti Nurbaya, Kalender Masehi atau Garuda Khayalan dan banyak lagi yang lainnya. Itu jelas sangat orisinil dan belum pernah seorangpun membicarakan apalagi menulisnya. Dan kelak Insya Allah bila berjalan sesuai harapan, Rekreasi Hati akan menjadi buku yang berpengaruh dan paling dicari di Indonesia, aamiin...!


Related Posts

Beda
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.