Halaman

4 Des 2018

ILC : Pasca Reuni 212

Begini, Bang Karni!

Prabowo tentu saja beruntung, atau lebih tepatnya diuntungkan, atau lebih tepatnya lagi bisa diuntungkan dengan (suksesnya) Reuni Aksi Bela Islam 212 ini. Dengan catatan, Prabowo bisa mengelola potensi keuntungan tersebut. Lebih tepatnya lagi, bila Prabowo mau dan mampu mengelolanya. Kenapa? Sebab saya khawatir Prabowo tak mampu.

Sebelum ini sudah pernah ada aksi serupa dan Prabowo gagal memaksimalkannya. Membelot nya Yusril (dan PBB juga?) adalah karena kegagalan Prabowo menampung aspirasinya. Harus dijadikan pelajaran. Sebagai parpol tentu tak boleh abstain dalam Pilpres (Demokrat abstain di Pilpres 2014, karena belum ada aturannya?). Sejak awal telah tersirat Yusril dan PBB mendukung Prabowo. Tapi apa pernah mereka diajak diskusi merumuskan konsep koalisinya? Bahkan saat Deklarasi di KPU saja saya tak melihat Koalisi mengajak PBB. Terang saja sebagai parpol mereka pindah dukungan. Dan ini harus jadi pelajaran.

Bagi Jokowi sebetulnya inilah momen paling tepat untuk mengangkat elektabilitasnya. Bahkan inilah saat paling tepat bagi pemerintah untuk unjuk wibawa di panggung dunia. Andai jadi Jokowi, hal pertama yang akan saya lakukan adalah instruksikan seluruh media untuk mem-booming-kan Reuni Aksi Bela Islam 212.

Saya akan katakan pada dunia agar jangan macam-macam dengan Indonesia. Saya punya jutaan pejuang yang siap mati demi Indonesia. Saya akan panggil pemimpin Cina misalnya.

"Anda kalau tidak bisa menghentikan produksi dan pengiriman narkoba ke negara saya, silahkan panggil pulang Duta Besar Anda!"

"Singapur, Anda mau jemput sendiri Dubes anda,  atau ekstradisi koruptor2 buronan kami dari negara anda?"

Saya akan datangi sidang umum PBB dan berpidato, "Saya mewakili seluruh rakyat Indonesia malu menjadi anggota PBB. Organisasi besar berisi negara-negara besar dengan cita-cita besar perdamaian dunia. Tapi membereskan konflik di negara kecil seperti Palestina, Suriah atau Myanmar saja bertahun-tahun tak kelar-kelar. Kami keluar dari PBB!"

Apa tidak shock negara-negara besar seperti Amerika, Inggris, Cina atau Rusia tersebut? Apa tidak kagum negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar atau Turki? Apa tidak hormat negara-negara berkembang atau negara-negara kecil lainnya?

Kita pernah punya sejarah sebagai pemimpin dunia. Indonesia lah pencetus dan pemimpin Gerakan Non-Blok Blok, Asia Afrika termasuk ASEAN. Indonesia pernah memboikot Piala Dunia dan Olimpiade. Bahkan Indonesia mampu menciptakan event tandingannya. Dan momen Reuni 212 ini adalah saat paling tepat mengulang sejarah tersebut.

Kembalikan jati diri Indonesia sebagai negara besar dan pemimpin dunia. Indonesia negara penting. Sebagai negara dengan jumlah muslimnya yang terbesar di dunia, Indonesia dengan Islamnya adalah negara terpenting di dunia. Muslim Indonesia lah yang dimaksud berbagai ayat Al-Quran dan Hadist sebagai Islam akhir jaman. Ujung tombak kebangkitan dan kejayaan Islam dari Timur itu siapa lagi kalau bukan kita, muslim Indonesia? Kitalah pengibar panji-panji hitam, ar-rahmah tersebut. Memangnya siapa lagi?


Melalui Reuni Aksi 212 ini umat Islam khususnya telah membuktikan kesiapannya untuk berjuang demi agama dan negara. Tinggal bagaimana para pemimpin menggerakkan dan mewujudkannya. Siapapun mereka, Jokowi atau Prabowo. Saat ini Jokowi punya peluang besar jadi pemimpin dunia, sayang sekali kenapa dia pilih jadi petugas partai.

Dah, segitu aja Bang Karni!

"Pemimpin itu mengarahkan, bukan menunggu arahan," kata Siraul Nan Ebat, penulis buku Rekreasi Hati.

Kita rehat sejenak!

***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...