30 Mar 2019

Naga Bonar : Lukman dan KPK

Naga Bonar : Lukman dan KPK

Naga Bonar     : Naaaah! Apa kubilang? Kena juga Kau akhirnya kan, Lukman? Bengak, Kau!

Lukman           : Bang, jangan keras-keras! Nanti didengar orang. Malulah aku, Bang!

Naga Bonar     : Lukman! Aku dulu juga pencopet. Tapi aku tak mencopet milik rakyat. Yang kucopet                             itu dompet atau arloji punya Jepang. Sudah lupa Kau pesan Bang Pohan, hah? Jangan                              Kau curi uang rakyat! Rakyat ini sudah susah, masih Kau copet juga!

Lukman           : Aku tak korupsi macam yang Abang pikir. Kalau memang ada, yaa laporkan saja!

Naga Bonar     : Lah, itu yang dalam amplop di laci kantor, Kau?

Lukman           : Itu honor selama Aku jadi menteri, Bang! Halal semua itu uangnya!

Naga Bonar     : Aku tidak bodoh, Lukman! Sejak kapan gaji menteri dibayar pakai Dollar, hah?

Lukman           : (diam)

Naga Bonar     : Kau ini memang bengak, Lukman! Sudah berapa kali kuperintahkan Kau mundur? Tapi                           Kau bilang jabatan itu amanah. Kusuruh Kau dagang beras lagi, Kau malah dagang                                  jabatan. Sekarang, mati lah, Kau!

Lukman            : Aku belum tersangka, Bang! Masih sebagai saksi. Diperiksa juga belum!

Naga Bonar      : Kalau sudah hamil, itu tandanya mau beranak, Lukman! Paham, Kau? Bahhh...!

Lukman            : Ehh, sudah pandai cakapnya, Abang sekarang?

Naga Bonar      : Aku serius, Lukman! Bangkit nanti malaria Kau dalam penjara, Bengak!

Hening sesaat ....

Naga Bonar      : Sudah Kau siapkan tempat tidurnya?

Lukman             : Hah? Tempat tidur? Abang mau menikah? Jadi pengganti kak Kirana sudah ada,                                     Bang?    Siapa?

Naga Bonar      : Bukan tempat tidur buat aku, Lukmaaaan! Tak ada yang bisa menggantikan Mak Si                                  Bonaga itu di hatiku.

Lukman             : Jadi, tempat tidurnya buat apa?

Naga Bonar      : Yaa, buat Kau tidur dalam penjara lah, Bahhh! Ya Allah, bengak kali lah kawan kau                                 ini, Bujaaaaaaang! Haaaaah!

*tamat
***

12 Feb 2019

ILC : Potret Hukum Indonesia

ILC : Potret Hukum Indonesia

Begini, Bang Karni! 

Nyata atau tidaknya intervensi politik terhadap hukum kita tidak tahu. Tapi melihat prakteknya, kita melihat betapa kacaunya logika hukum akhir-akhir ini. Suka atau tidak, terima atau tidak kita bisa melihat dan merasakannya. Dan wajar saja bila ada, malah banyak dugaan bahwa hukum kita telah diintervensi kepentingan politik. 

Sulit menolak persepsi publik bahwa hukum ikut berpolitik. Celakanya, media justru ikut-ikutan pula. Bukannya mengontrol dan mengawal proses hukum, tak jarang malah media sendiri yang menjadi hakimnya. 

Kita bisa melihat misalnya ketika politisi dari oposisi tersandung perkara, tanpa tedeng aling-aling media sebut nama lengkap dan partai asalnya. Bila perlu lengkap dengan segala 'kisah kelam masa silam' dan persoalan pribadi rumah tangganya. 

Sebaliknya bila hal yang terjadi pada pihak pemerintah. Media mati-matian membelokkan opini, bila itu terkait pihak pro pemerintah. Kepada pihak yang bersuara membela misalnya akan disematkan cap: pakar hukum. 

Publik dipaksa menerima logika hukum yang jungkir balik. Perkara Ahmad Dhani misalnya, langsung diproses tanpa banyak urusan administrasi yang rumit. Atas perkara yang mirip, laporan penghinaan terhadap Alumni 212 yang dilakukan Ebenezer, pendukung pemerintah ditolak. 

Polisi menerapkan standar ganda. Polisi minta surat kuasa dari Presidium 212. Apakah polisi juga minta surat kuasa pendukung penista agama pada laporan kasus Ahmad Dhani. Menarik juga itu untuk kita ketahui, siapa yang menandatanganinya. 

Seorang Jack yang entah siapa, begitu melaporkan seseorang langsung diproses. Sebaliknya, laporan-laporan seorang Wakil Ketua DPR seperti Fadli Zon, tak satupun yang ditindaklanjuti. Clue yang ditangkap publik adalah, yang satu pendukung, sedang seorang lagi oposisi pemerintah. 

Dan logika hukum yang jungkir balik tersebut terus berulang. Saya ingin membuat simulasi logika hukum polisi dalam menegakkan hukum. Jika logikanya seperti yang terjadi dengan kasus chat Habib Rizieq, siapa yang akan ditangkap polisi bila kejadiannya seperti di bawah ini? 

Saya membuat cerita mesum dengan istri Kapolri dalam laptop pribadi. Cerita tersebut diupload teman saya ke Facebook. Nah, siapa yang akan ditangkap polisi? 

A. Saya
B. Teman saya
C. Istri Kapolri

Dah, segitu aja Bang Karni! 

"Jangan banyak bicara tak penting, apalagi ngomong ayam ... ayam ... ehh, ayam," kata fans buku Rekreasi Hati. 

Kita rehat sejenak! 

***




30 Jan 2019

Udang Yang Marah

Udang Yang Marah

Di Twitter tadi malam ada 2 berita yang cukup menarik perhatian saya. Ketika mengetik tanda pagar dan huruf 'S', dua hestek yang muncul di peringkat paling atas adalah 'Save Rocky Gerung', disusul 'Save Udang'. Keduanya masuk list trending topic. 

Saya tertarik pada dua objek utamanya, Rocky Gerung dan Udang. Pertama Rocky Gerung, yang saat ini bagi sebagian orang dianggap sebagai ikon akal sehat. Sebagai liberalis beliau mampu menerjemahkan dengan baik apa itu kebebasan. Bukan seperti kaum yang mengklaim liberal, tapi melarang yang lain mendengar pengajian. Rocky Gerung adalah 'deklarator' Monas sebagai Monumen Akal Sehat.

Berikutnya udang, yang selama ini kita sepakati sebagai ikon kedunguan. Udang itu dungu. Dia sedang marah. Dan begitulah memang kalau si dungu marah. 

"Yang waras ngalah," kata stiker angkot. 

Tapi yang dimarah rupanya tak waras. Bukannya mengalah, malah membesar-besarkannya. Semua orang diberitahu, bahwa dia sedang dimarahi si dungu. Sampai pendarahan segala, walau memang tak sampai benjol-benjol macam bakpau. 

Bagi saya ini sangat menyentil situasi yang sedang kita hadapi hari-hari ini. Perang akal sehat melawan kedunguan. Rocky Gerung sebagai pejuang akal sehat sedang dihadapkan pada sebuah delik yang membangkitkan nalar publik. 

Di saat bersamaan ada seekor udang yang sedang marah. Sangat menggelikan dan menggelitik. Sebab bagaimanapun, walau udang, dia masih punya otak. Tapi walau punya otak, tetap saja namanya otak udang. Karena otak udang, makan marahnya pun pada otak kosong. Sebab hanya otak kosong yang membesar-besarkan kemarahan seekor udang. 

Jadi saya ingin bertanya, diantara mereka semua itu, siapa yang paling ingin anda selamatkan? Ga usah jawab, kasih kisi-kisinya aja! 

***

 

22 Jan 2019

ILC : Siapa Menang Debat Capres

ILC : Siapa Menang Debat Capres


Begini, Bang Karni!

Seperti yang saya katakan di ILC 2 minggu lalu, negara diberi amanat oleh UUD45 salah satunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka wajib hukumnya bagi penyelenggara negara untuk taat dan menunaikannya. Tidak saja karena mereka diberi amanat, tapi juga karena untuk tugas itu mereka telah dibayar oleh rakyat. Dan melihat debat kemaren, sebagai rakyat kita layak cemas, malu bahkan merasa jijik.

Kita layak cemas melihat bagaimana penyelenggaranya mengurus negara. Dan akan makin cemas bila melihat kualitas calon pengurus berikutnya.

Saya sendiri heran kenapa KPU tidak bersedia transparan, membuka hasil test kesehatan para kandidat. Rakyat berhak tahu bukan saja soal wawasan, tapi juga soal kesiapan dan kemampuan calon pemimpinnya.

Sebelum debat saya melihat beredarnya poto seorang kandidat sholat Maghrib berjamaah, namun beliau menggunakan kursi. Pesan logisnya, diantara seluruh jemaah, secara fisik beliau adalah yang paling lemah. Saya membayangkan bagaimana nanti beliau bicara, berpidato dalam forum internasional yang durasinya sudah pasti jauh lebih panjang.

Kecemasan berikutnya terhadap kemampuan para kandidat memahami konteks. Pertanyaan soal kebangsaan, tapi jawabannya bicara persoalan satu partai. Jika 5 tahun lalu seluruh persoalan negara dijanjikan beres dengan kartu, maka kali ini akan dibereskan dengan Tol. Apapun soalnya, jawabnya TOL ... LOL

Calon lainnya tak kalah buruk. Bahkan saya menyangsikan apakah yang bersangkutan tahu atau tidak apa itu debat. Ogah berbicara karena tak tega? Hey, debat itu adu kepala, bukan adu perasaan, Jendraaaaal, arrrrrrgh!

Ini mencemaskan. Jangan sampai bila terpilih kelak, penjahat dan para koruptor mendatanginya membawa bekal butuh dikasihani. Apa jadinya hukum dan independensi presiden bila para penjual dan pengkhianat negara menghadapnya menawarkan rasa iba?

Padahal melalui debat inilah sebetulnya kita ingin meraba isi kepala para kandidat. Rakyat butuh melihat ide dan solusi mereka menangani persoalan bangsa. Kita pernah jadi bangsa besar, dihormati dan disegani. Gerakan Non-Blok Blok, Konferensi Asia-Afrika, ASEAN dan lainnya lahir dari ide dan pikiran besar para pemimpin pendahulu kita. Kita ingin tahu bagaimana cara calon penerusnya mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai pemimpin dunia.

Dunia luar sibuk dengan riset perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Bagaimana pemimpin mereka bersikap dan bersiap menghadapi tantangan global. Dan alangkah menjijikkannya ketika kita di Indonesia masih saja diberi suguhan seorang calon pemimpin potong rambut, atau memanjat pagar yang ada tangganya. Perdebatan ilmiah seperti apa yang akan dihasilkan bila pelajaran yang diberikan calon pemimpin adalah tentang nama-nama ikan?

Bangsa ini takkan pernah cerdas bila dalam memilih pemimpin pedomannya adalah siapa yang didukung Iwan Fals, Slank, Rhoma Irama atau Andhika Kangen Band. Tak penting siapa yang didukung TGB, UAS, Yusuf Mansyur atau Habieb Rizieq. Pendidikan politik mestinya mengajarkan rakyat agar memilih berdasar program kerja, bukan karena siapa mendukung siapa.

Pilpres dengan segenap rangkaiannya adalah hajatan besar bangsa. Hajatan besar sebuah negara besar lagi penting yang tentu saja akan menjadi perhatian dunia. Lalu perhelatan seperti apa yang kita dan dunia lihat dalam sesi debat kemaren?

Sangat memalukan! Bagaimana mungkin kompetisi adu pikiran calon pemimpin soalnya diberikan dulu? Sudah begitu boleh mencontek pula. Sudah boleh mencontek ketahuan pula. Sudah mencontek dan ketahuan, disiarin dan dipamerkan pula ke seluruh dunia.

Maka bila kepada saya ditanya siapa yang menang debat Capres, saya tidak tahu. Tapi bila pertanyaannya adalah siapa yang dipermalukan dalam debat Capres? Jawabnya jelas: Indonesia.

Walau begitu, sebagai rakyat kita mesti tetap berupaya memperbaiki nasib bangsa. Setidaknya dengan akal sehat dan kewarasan yang kita punya, jangan sampai yang bodoh berkuasa karena dipilih oleh orang-orang gila.

Dah, segitu aja, Bang Karni!

"Seperti e'ek kucingku, meresahkan dan melulu termaafkan," kata Siraul Nan Ebat dalam bukunya Rekreasi Hati.

Kita rehat sejenak!

8 Jan 2019

ILC : Menguji Netralitas KPU

ILC : Menguji Netralitas KPU

Begini, Bang Karni!

Dagelan Pilpres (khususnya) ini sebetulnya telah menjelaskan pada kita bahwa negara telah gagal. Pameran kebodohan melulu dipertontonkan para penyelenggara negara. Padahal tegas sekali, bahwa salah satu tugas negara yang diamanatkan oleh UUD45 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ajaibnya, presiden selaku kepala negara seperti tak berbuat apa-apa. Padahal mestinya, presiden lah ujung tombak pelaksana amanat tersebut, sebab beliau kepala negaranya.

Selama 4 tahun ini Jokowi bertindak bukan sebagai presiden, tapi sebagai calon presiden. Itulah kenapa saat negara ribut karena penistaan agama, persekusi ulama dan intoleransi beragama, dia malah main tebakan nama-nama ikan. Ketika orang-orang bicara soal narkoba, pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, dia asyik buat vlog nyanyi, sulap, latihan tinju atau adu panco. Harusnya dia bicara soal ekonomi, ehh malah sibuk bagi-bagi sepeda.

Itulah yang ditampilkan kepada publik. Media tak lagi berfungsi sebagai mulut rakyat, tapi sebagai juru kampanye sang petahana. Pameran kebodohan dipelintir sebagai wujud merakyat dan kesederhanaan. Aparat negara dikerahkan menjadi tim pemenangan. Maka aparat seperti Polri, bahkan Bawaslu dan KPU dengan tak sungkan-sungkan berpose mesra bersama petahana.

Kemaren kita dipaksa percaya bahwa kotak kardus sama kuatnya dengan alumunium. Hari-hari ini kita dipaksa memahami bahwa uji kompetisi bagi calon kepala negara tak lebih penting ketimbang ujian bagi anak SD. Segala daya diupayakan agar petahana mulus melanjutkan kekuasaannya.

Maka saya takkan heran bila beberapa hari ke depan kita kembali melihat aturan konyol lainnya. Misalnya, berhubung kedua pasang calon tak mungkin dipaksa test baca Al-Qur'an, ogah pula ikut debat visi-misi, acaranya akan diganti jadi lomba menyanyi. Bisa nyanyi lagu Indonesia Raya. Tapi bisa juga salah satu hit terkini: Jainuddin Ngacir Bro.

Tapi jika KPU memang serius ingin memenangkan petahana, saya punya usul yang lebih menarik. Debatnya diganti jadi lomba menyanyi, tapi cukup diwakilkan pada tim pendukung masing-masing Capres. Maka rakyat akan bisa menyaksikan pertunjukan spektakuler 5 tahunan. Pertarungan para legenda musik Indonesia. Tim Jokowi mungkin bisa diwakili oleh Iwan Fals, Slank dan Anggun C. Sasmi. Sementara Tim Prabowo akan diwakili oleh Ahmad Dhani dan Andhika Kangen Band.

Dah, segitu aja, Bang Karni!

"Tak perlu mengajari monyet menggaruk. Dia tahu caranya," kata Siram Nan Saat dalam bukunya Rekreasi Hati.

Kita rehat sejenak! 
 
***

6 Jan 2019

Penulis Terkenal

Penulis Terkenal

Agar dikira penulis keren, maka rajinlah saya memberi kritik dan saran di komunitas tersebut. Agar dikira keren beneran, saya juga posting tips menulis. Agar dikira benar-benar keren, maka tips tersebut juga harus temuan saya sendiri. 

Maka saya posting lah trik bagaimana membuat 'tulisan anti copas'. Semacam memberi automark pada tulisan sendiri agar tak bisa diklaim pihak lain. Karena temuan sendiri, maka yang saya bedah tentu tulisan sendiri pula. Apalagi ditambah pula dengan profil yang menampilkan poto buku karya sendiri, maka sempurnalah pencitraan saya sebagai penulis keren yang benar-benar keren beneran. 

Maka mulailah banyak permintaan pertemanan  dari lingkup sesama pecinta literasi. Mulai ada inbox pertanyaan seputar kepenulisan. Bahkan banyak yang mulai memanggil saya dengan sebutan 'Kak', layaknya panggilan fans terhadap idola. 

Yaa, saya sudah jadi idola. Penulis terkenal. T-E-R-K-E-N-A-L. Dan tahukah kamu siapa penulis terkenal itu? Yaitu: orang-orang seperti Tere Liye, Andrea Hirata dan tentu termasuk pula saya sendiri. 

Banyak yang mengira Tere Liye itu seorang cewek. Pasha Ungu juga tahunya Andrea Hirata seorang cewek. Jangankan 'orang lain', bahkan teman di friend list sendiri banyak yang memanggil saya, 'Mbak'. Sebab begitulah memang penulis terkenal, hahaha...! 

Di awal-awal saya masih rajin mengklarifikasi. "Saya ini cowok, Nisanak!"

Tapi begitulah takdirnya terkenal, sering direpotkan oleh berbagai kerepotan yang sebetulnya tak perlu direpotkan. Di Amerika atau Rusia orang-orang sedang sibuk seminar tentang bagaimana caranya hidup di bulan. Kenapa kita di Indonesia masih saja memperdebatkan seorang Siraul Nan (mengaku) Ebat? Maka akhirnya saya biarkan saja, walau ternyata karena memang terkenal ada saja yang mengenali saya. 

"Capek! Masa' tiap komentar saya mesti klarifikasi?", jawab saya ketika seorang teman mempertanyakannya. 

Entah di mana letak kekeliruan saya. Bahkan seluruh info di profil Facebook seluruhnya saya setting publik. Lengkap, seluruh postingan, data jenis kelamin, tempat, tanggal, bulan dan tahun lahir, domisili, sekolah, tempat kerja bahkan nomor telpon seluruhnya jelas. Kecuali e-mail, itupun karena saya menggunakan milik teman yang juga dipakainya untuk keperluan sosmed yang lain. 

Meski jarang, tapi saya juga pernah posting poto sendiri. Poto kiriman teman, yang menandai saya juga diset untuk publik. Postingan saya selama karir di Facebook rasanya juga LAKI BANGET. 

Entahlah! Dunia maya memang maya. Sebaliknya, dunia nyata itu memang nyata. Yang jelas saya nyata hidupnya di dunia nyata, dan nyata laki-lakinya. Dunia maya? Bodo' amat! Saya pamit off sebentar, ya! Halo Selebriti sudah mau mulai. Mohon do'a restunya🙏🙏

1 Jan 2019

Kompetisi Merebut Karya Sendiri

Kompetisi Merebut Karya Sendiri

Beberapa hari yang lalu saya ikut event menulis yang diselenggarakan seorang teman. Benar, selama ini saya ogah ikut-ikutan event menulis, yang biasanya berujung dengan diterbitkannya naskah-naskah terbaik menjadi buku fisik. Teman-teman tentu telah mengerti alasannya, bukan? 

Tapi yang sekali ini beda. Ini cuma event for having fun, tanpa ada maksud untuk dibukukan. Apalagi tujuannya juga mulia, dakwah. Bukan dakwah biasa, sebab temanya terkait dengan momen spesial, Reuni Aksi Bela Islam 212 jilid II. Dan yang paling istimewanya lagi, saya berkesempatan memenangkan hadiah utama yang salah satunya adalah sepaket buku karya saya sendiri, hahaha.... 

Awalnya sekedar ingin berbagi buku Rekreasi Hati. Euforia (Reuni) Aksi Bela Islam benar-benar menggugah ghirah. Semua orang berlomba posting moment-moment yang mengetarkan jiwa seputaran peristiwa tersebut. Rugi sekali rasanya bila saya tak punya kontribusi apa-apa dalam mensyiarkannya. 

Paket buku Rekreasi Hati saya sumbangkan sebagai salah satu hadiahnya. Tapi Mak, ehh Mbak Panitia meminta lebih. Saya diminta ikut sekalian sebagai peserta lomba. Okelah, hitung-hitung mencoba tantangan serius. Kali ini tulisan saya akan dinilai oleh juri. Oleh juri, sodara-sodara! Juri yang tentunya bukan orang sembarangan, yeeeeey! 

Jujur saya gentar sebetulnya. Mbak penyelenggaranya terbilang cukup dihormati sebagai penulis. Kumpulan penulis keren ada dalam daftar dan jaringan pertemanannya. Langganan juara berbagai kompetisi menulis, primadonanya para penerbit dan sejenisnya. Bisa-bisa saya cuma hadir sebagai pelengkap kegembiraan mereka belaka. 

Itu pun masih ditambah pula dengan kengerian pribadi. Seminggu sebelumnya keponakan saya, siswi kelas IX berhasil naik podium sebagai juara 3 kompetisi menulis remaja tingkat nasional. Apa jadinya bila saya, oom atau mamaknya (istilah Minang) ini ikutan kompetisi menulis iseng, cuma hadir sebagai juru sorak para kampiun belaka. 

Tapi baiknya, itu pula yang menyemangati saya. Ini peluang unjuk pamer bahwa tulisan saya juga setara dengan karya mereka. Ini kesempatan untuk membuktikan koar-koar saya selama ini bahwa Rekreasi Hati saya terbitkan sendiri bukan karena tak layak terbit. Tulisan, ide dan pikiran saya terlalu berharga untuk diberi harga. Dan percaya atau tidak, sebelum pengumuman pemenang di grup keluarga saya sudah berani berkoar. Saya akan menang dan berhasil merebut hadiahnya, yakni buku karya saya sendiri, hahaha...