Halaman

4 Sep 2021

Tema

Sinetron Para Pencari Tuhan mempunyai ciri dan keistimewaan yang tak dimiliki oleh sinetron (juga karya tulis yang lainnya) yaitu soal tema cerita. Sinetron ini, tiap episodenya seperti antologi cerpen dari beberapa penulis dengan tema yang sama, lalu dikumpulkan menjadi sebuah novel. Sulit,  tapi istimewa. 


PPT mempunyai ide utama, kisah panjang perjalanan hidup para tokohnya selama 14 tahun. Atau 15, karena sempat absen pada tahun 2019. Ada kisah perjalanan hidup Bang Jack dan Trio Chelsea-Barong-Juki. Ada kisah jatuh bangun keluarga Pak Jalal, Udin dan Asrul. Dan tentu saja kisah roman Azzam, Ayya dan Kalila. Kisah Trio Pak RW, RT dan bendahara. Plus, kisah seputar rumah tangga Ustadz Ferry. Semakin tahun berjalan, semakin banyak pula mengisahkan karakter-karakter yang lainnya. 


Berikutnya ada juga kisah jangka menengah. Kisah ini konfliknya tuntas setiap tahun. Ada pula kisah pendek yang tuntas setiap episodenya. Dan di sinilah letak istimewanya PPT. Tiap kisah pendek tersebut dibarengi pula beberapa kisah mini, TAPI DENGAN TEMA YANG SAMA. Misal hari ini temanya tentang ikhlas, maka semua kisah yang dialami setiap tokohnya seputaran soal keikhlasan. Hebatnya, sama sekali tak merusak plot cerita panjang dan menengahnya. Adegan dan kisah mini sebagai tempelan dibuat alami. Tak ada plot hole, malah makin menguatkan ide ceritanya. 


Salah satu contoh terbaik, episode 10 PPT jilid satu, temanya tentang sabar. Terdapat 28 scene. Kerennya, keseluruhan scene menggambarkan situasi yang menuntut sikap sabar. 28 scene itu menyatu dan membangun beberapa kisah utama. 


Pertama kisah jangka panjang pendek antara tokoh Ayya dan Azzam. Episode kali ini diakhiri (sementara) dengan kegagalan Azzam mempraktekkan ajaran menjadi seorang laki-laki yang romantis. 


Berikutnya kisah jangka pendek, perjalanan trio Juki-Barong-Chelsea mengunjungi Mak Juki. 


Berikutnya lagi, kisah jangka pendek Udin dan Asrul. Asrul dalam rangka mencari uang untuk makan keluarganya. Sementara Udin berjuang mencari uang sewa kontrakan. 


Kisah mini? Ada! Misalnya pertengkaran Pak Ustadz dan Bu Ustadz. Pak Ustadz yang (masih) ngambek karena tak diberi ijin syuting. Sebaliknya Bu Ustadz marah karena mendengar suaminya menyebut kata poligami. Sebagai tempelan? Tidak! Karena adegan tersebut berlanjut dengan kedatangan Azzam. Maka sekarang nyambung dan bergeser menjadi kisah Azzam. Dan lagi, scene tersebut juga masih berkaitan langsung dengan kisah episode terdahulu. Artinya, kisah mini tersebut adalah puzzle dari kisah panjang bertahun tokoh Ayya dan Azzam, juga Pak Ustadz dan istrinya. 


Selain scene, juga tak ada tokoh tempelan. Mulai dari Bonte, Bang Uyan atau Pak Jalal. Semuanya menampilkan pesan tema episode ini. Satu scene yang menampilkan tokoh Maulana sebagai tukang es keliling misalnya. Selain sabar, satu kata penting dalam episode ini adalah romantis. Dan itulah peran Maulana. Maulana lah yang mengatakan bahwa Azzam harus menjadi seorang yang romantis, untuk merebut hati Ayya. 


Bahkan di ujung episode, juga tampil seorang wanita. Tampil doang, tak berkata apa-apa. Tapi tanpa kata bukan berarti diam tanpa arti. Ayya sedang melayani pembeli kolaknya. Azzam datang dan melanjutkan pertengkaran mereka. Dan diamnya si pembeli kolak itu adalah salah satu penting dalam episode ini. Sabar. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Convenient Marriage

Gambar nyomot di Goodreads Elizabeth, Charlotte dan Horatia adalah putri dari keluarga Winwood. Lizzy, si sulung terkenal sangat cantik. Cha...